Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.129 Ketiduran


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


“Nah, sekarang giliran nemenin aku makan siang, ya,” ujar Ezra, setelah dia menjalankan mobilnya kembali.


Ayu yang sedang menyandar santai setelah memakan rujak, langsung menegakkan tubuhnya dan mengingat janjinya tadi.


‘Ya ampun, aku kenyang banget, gimana ini?’ Ayu berpikir, alasan apa yang tepat agar tak makan siang lagi.


“Mas, gimana kalau kita jalan-jalan dulu? Perut aku masih kenyang banget.” Ayu melihat Ezra dengan tidak enak.


Ezra melirik Ayu sekilas, sebenarnya dirinya sudah lapar sejak tadi. Namun, sepertinya dia harus bersabar lagi untuk dapat mengisi perut.


“Memang mau jalan ke mana, hem?” tanya Ezra.


“Terserah, ke mana aja, yang penting jalan dulu,” ujar Ayu.


“Ke mall, mau?” tanya Ezra.


Ezra berpikir, biasanya wanita suka pergi ke mall dan menghabiskan waktu di sana.


Ayu menggeleng, “Aku gak mau ke tempat yang ramai,” tolak Ayu.


“Kita jalan aja, gak usah mampir,” tambahnya lagi.


Ezra mengangguk, dia mengendarai mobilnya menyusuri jalanan siang ini yang terasa sangat terik.


Ayu menyetel radio yang ada di dashboard mobil, mencari lagu yang tepat untuk menemani mereka berdua saat ini.


Dia menemukan lagu melayu yang saat itu sedang banyak disukai orang.


Lagu dari Andra Respati dan Eno Viola menjadi pilihan Ayu saat ini.


...Didalam lubuk hatiku ...


...Hanyalah ada dirimu...


...Tak akan pernah terganti ...


...Hanya kamu sampai mati...


Ezra melihat Ayu sekilas, kenapa lirik itu terasa seperti isi di dalam hatinya saat ini.


Ayu menyandarkan punggungnya, menikmati suasana perjalanan kali ini, dengan ditemani lagu yang terasa sangat mewakili hati.


...Hadirmu dalam hidupku...


...Lengkapi kekuranganku ...


...Bahagiaku bersamamu...


...Tetaplah jadi milikku...


...Bahagiaku bersamamu...


...Tetaplah jadi milikku...


Ayu tersenyum menatap Ezra yang tengah fokus mengendarai mobilnya, biasanya dia hanya mendengar penggalan lirik ini, terasa sangat menyentuh, maka dari itu dia memilih lagu ini. Ini seperti permintaan hatinya untuk sang suami.


...Aku berjanji padamu sayang...


...Dirimu kasih aku halalkan ...

__ADS_1


...Percayalah pada diriku sayang...


...Dengan bismillah kau ku halalkan...


Ezra tersenyum saat mendengar lirik ini. 'Ah, aku sudah menghalalkannya untukku,' bangganya dalam hati. Salah satu tangannya meraih tangan Ayu yang dan menaruhnya di pangkuannya, sesekali ia menciumnya, sambil terus fokus pada jalan di depannya.


...Jaga diriku usah siakan ...


...Hanya dirimu aku harapkan...


...Tuntun diriku ke jalan tuhan...


...Bersamamu syurga aku rasakan...


Menutup mata perlahan, dengan posisi wajah mengadap pada suaminya. Di dalam hati dia berharap, Ezra bisa menjadi imam yang baik, untuk dirinya hingga akhir usia.


...Cintaku padamu...


...Kasihku padamu...


'Dari mana dia tahu lagu ini? Kenapa sangat mewakili perasaanku padanya saat ini?' Ezra melihat Ayu yang tersenyum padanya, tangannya terulur meraih kepala Ayu lalu mendekatkannya dan mencium sekilas kening istrinya. "Aku mencintaimu," bisiknya kemudian.


Lagu terus bergulir, memberikan efek romantis yang begitu terasa di dalam mobil, Ayu terhanyut oleh suasana itu, hingga perlahan dia terlelap dalam tidurnya.


Ezra yang menyadari lengan Ayu yang lemas, memalingkan wajahnya menatap Ayu yang kini tengah tertidur.


'Sepertinya, jalan-jalan ini harus segera berakhir,' gumamnya dalam hati, dia menepikan mobilnya, lalu menurunkan sandaran kursi Ayu, agar istrinya itu merasa nyaman.


Ayu yang merasa terusik sedikit membuka matanya sekilas sambil bergumam. "Sudah sampai ya, tunggu sebentar, aku ngantuk."


Ezra tersenyum, lalu mencuri sedikit kecupan di bibir ranum istrinya. "Belum, tidur saja lagi," jawabnya lembut.


Kembali menegakkan tubuhnya sambil terkekeh geli, saat ia merasa tengah dikerjai oleh istrinya saat ini. 'Sepertinya aku akan makan siang di rumah kali ini,'


'Beginikah rasanya menemani istri yang sedang mengidam, kenapa terasa sangat menyenagkan?' gumamnya dalam hati.


Dulu saat Dira tengah hamil Naura, dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga tak ada waktu untuk memenuhi keinginan mengidamnya.


Ada terbersit perasaan bersalah di dalam dirinya, saat mengingat masa itu. Menghembuskan napas kasar, lalu melajukan mobil menuju ke arah pulang.


Beberapa saat kemudian Ezra sudah memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah. Dia keluar terlebih dahulu, lalu mengitari mobil untuk mencapai pintu penumpang depan.


Bi Yati yang sudah siap menyambut kedatangan sang majikan, langsung mengambil tas Ayu yang diulurkan oleh Ezra padanya.


"Ibu kenapa, Pak?" tanyanya, saat ia melihat Ayu menutup mata.


"Dia hanya tertidur. Tolong siapkan makan siang untuk saya ya, Bi," ujar Ezra, sebelum menggendong Ayu.


"Baik, Pak," jawab Bi Yati.


"Sudah sampai ya, Mas?" gumam Ayu setelah berada di gendongan sang suami, menegakkan kepalanya sekilas sambil berusaha membuka matanya yang terasa sangat lengket, lalu kembali bersandar nyaman di dada Ezra, tangannya melingkar pada tengkuk sang suami.


Ezra terkekeh pelan, mendapati sikap istrinya yang baru saja ia lihat siang ini. "Iya, kalau masih mengantuk tidur saja lagi," jawabnya kemudian.


"Hem." Ayu menggumam dan kembali terlelap di dalam gendongan sang suami. Mungkin saat itu dia merasa sedang bermimpi.


Bi Yati mengikuti langkah lebar Ezra menuju lantai dua, membukakan pintu kamar lalu menaruh tas Ayu di atas meja.


Ezra membaringkan tubuh sang istri di atas ranjang mereka berdua, membenarkan kaki istrinya lalu menyelimuti tubuh Ayu sampai sebatas dada. Perlahan ia buka kerudung yang menutup kepala sang istri.


"Emhh," gumam Ayu, memiringkan tubuhnya menghadap Ezra, sepertinya wanita itu sedikit merasa terganggu.


"Ssh," desis Ezra, seperti sedang menenangkan seorang anak yang tidurnya terganggu.


"Saya permisi ke dapur dulu, Pak," ujar Bi Yati. Di dalam hati, Bi Yati begitu bersyukur bisa melihat perubahan sikap sang majikan kepada istrinya. Ezra yang sekarang terlihat lembut dan begitu penyayang, kepulangannya saat ini, sudah menunjukan kalau Ezra sudah tidak lagi terlalu mementingkan pekerjaannya, dibandingkan keluarga seperti dulu.

__ADS_1


Ezra mengangguk, sebagai jawaban. Dia kembali menatap wajah tenang istrinya, memberikan sedikit ciuman di kening dan bibir, lalu menegakkan tubuhnya kembali.


Lelaki itu berjalan menuju ke arah balkon, untuk menghubungi Keenan, memberi tahu adik sekaligus asistennya itu, kalau dirinya tidak akan kembali ke kantor hari ini.


Setelah selesai, dia memilih keluar dari kamar dan melihat Naura yang juga masih tertidur. Menghampiri anak sulungnya itu, Ezra memilih duduk di sisi ranjang, mengusap rambut Naura dengan begitu lembut. Ketukan di pintu yang sengaja ia buka lebar, mengalihkan perhatiannya.


"Pak, makan siangnya sudah siap." Bi Yati tampak berdiri di depan pintu.


Ezra mengangguk, "Sebenatar lagi saya turun," ucapnya kemudian.


"Baik, Pak," Bi Yati kemudian pamit jatuh kembali ke bawah.


Ezra menatap kembali wajah sang anak, di dalam hati ada rasa bersalah, saat mengingat dirinya yang dahulu kurang memperhatikan keluarga, asyik dengan pekerjaan dan hobi bersama teman-temannya.


Menghembuskan napas berat, lalu mengecup kening Naura lama. Ezra keluar dari kamar itu, menuju meja makan dan menyantap hidangan itu sendiri.


Kalau tak terlalu lapar, mungkin dia tidak akan mau makan sendiri seperti sekarang, sayangnya sejak pagi tadi dia belum makan apa pun lagi, hanya secangkir kopi saat dirinya rapat bersama klien di luar, sebelum bertemu Ayu.


...........


Ayu menggeliatkan tubuhnya, saat merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Dia berusaha mengumpulkan kembali nyawa di dalam tubuhnya, mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Pandangan yang ia lihat pertama kali adalah wajah lelap sang suami yang kini berada di sampingnya. Ayu yang masih setengah sadar, langsung duduk dengan wajah terkejut.


"Astagfirullah! Aku kesiangan?!" ujarnya sedikit meninggikan suaranya.


Ezra yang baru beberapa waktu terlelap dan merasa masih mengantuk mengerutkan kening sambil menatap sayu sang istri.


"Ada apa, sayang?" tanyanya, dengan suara parau khas bangun tidur.


"Mas kita kesiangan ya?" linglung Ayu sambil hendak beranjak dari tempat tidur.


Ezra menahan tangan Ayu, lalu beringsut duduk menyandar di kepala ranjang. "Enggak, sayang. Kamu kan memang sedang tidur siang," jawab Ezra.


Ayu menatap suaminya, alisnya beraut berusaha mengingat kembali kejadian yang terjadi sebelumnya, lalu matanya tertuju pada jam dinding yang menunjukan pukul tiga sore.


Ezra menarik tubuh Ayu untuk lebih merapat padanya. "Sekarang kamu harus diberi hukuman karena tidak menepati janji," ujar Ezra, sambil menyusupkan wajahnya pada cewek leher sang istri.


"Janji?" Ayu masih berusaha mengingat, hingga dirinya tersadar kalau Ezra belum makan siang.


"Mas, maafin aku, aku ketiduran. Mas udah makan belum? Aku siapin sekarang ya?" cerocosnya, menatap wajah Ezra dengan perasaan bersalah.


Cup


Satu kecupan di bibir berhasil Ezra curi. "Aku sudah makan, sayang. Tapi kenapa sekarang aku merasa lapar lagi ya?"


Ayu menautkan alisnya, menatap wajah suaminya bingung. "Lapar lagi? Ya udah aku siapkan dulu ya," Ayu hendak beranjak dari tempat tidur lagi, saat Ezra kembali mengeratkan pelukannya.


"Bukan makanan itu yang aku inginkan?" bisik Ezra, tepat di depan telinga Ayu.


"Lalu?" Ayu yang masih dalam mode polos setelah bangun tidur belum menyadari keinginan suaminya.


"Aku mau makan yang lain." Ezra sedikit menegakkan tubuhnya, tangannya menangkup wajah bingung sang istri.


"Aku mau ini," lanjutnya sebelum nyatakan bibir mereka berdua. Salah satu tangannya beralih menahan tengkuk Ayu, untuk semakin memperdalam permainannya. Sedangkan tangan satunya menahan pinggang Ayu yang terasa semakin melemas.


...🌿...


Apa yang terjadi selanjutnya, aku rasa sudah pada tau semuanya ya🤭🙈


...🌿...


...Bersambung...


 

__ADS_1


__ADS_2