Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.217 Meneruskan Acara


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


"Hah! Mau ngapain, Abang, ke apartemen?" tanya Riska, dengan mata yang melebar.


"Meneruskan acara kita lah, memang apa lagi? Bukannya dari tadi pagi kamu udah shalat lagi ya, berarti udah pergi dong tamu bulanannya?" ujar Keenan, dengan gaya santainya, sambil memasang sabuk pengaman.


Riska terdiam, dia berusaha mencerna perkataan Keeenan.


'Acara apa? Bukannya makan siang kita udah selesai?' gumam Riska dalam hati.


'Tunggu, tadi dia bilang tamu bulanan?'


Riska bahkan harus berfikir keras untuk memecahkan perkataan Keenan. Hingga akhirnya dia melebarkan matanya, begitu mengerti arti semua itu.


'Apa ini? Baru juga diglendotin begitu, dia udah nagih yang lain lagi' Riska bingung sendiri, menyadari permintaan Keenan karena sikap manjanya di dalam restoran.


"Ih, aku gak mau. Kan abang udah tau, kalau aku harus nemenin orang fitting baju di butik," ujar Riska, memberi alasana.


Keenan mulai menjalankan mobilnya, keluar dari area restoran.


"Memang, gak ada yang bisa gantiin kamu sementara? Kan cuma fitting, bukan desain." Keenan melirik Riska dengan tatapan memohon.


Riska memalingkan wajah, dalam hati dia merasa enggan untuk pulang ke apartemen. Akan tetapi, melihat wajah melas suaminya, dia juga tidak tega.


Sebenarnya tamu bulanannya sudah berhenti sejak kemarin, hanya saja, karena kemarin Keenan pulang terlambat, jadi dia tidak melihat Riska sedang mengerjakan shalat isya.


'Ya ampun, gimana ini?' gumam Riska dalam hati.


"A–da sih ... tapi–"


"Nah, kalau begitu kita ke apartemen dulu!" Keenan berkata dengan wajah sumringah.


"Mana, sini ponsel kamu?" Keenan menengadahkan salah satu tangannya di depan Riska.


"Buat apa?" tanya Riska, menatap Keenan dengan menyelidik.


"Sini, aku pinjam dulu ponsel kamu, nanti kamu juga tau, sayang," jawab Keenan.


Riska pun akhirnya mau menyerahkan ponsel miliknya kepada sang suami.


Keenan langsung mencari nama salah satu karyawan butik kakak iparnya itu. Lalu meneleponnya.


"Eh, Abang, telepon siapa?" tanya Riska begitu mendengar nada sambung, dari ponselnya.


"Mba Sekar, aku mau nyuruh dia gantiin kamu," ujar Keenan, dengan ponsel di telinga yang berlawanan dari Riska.


Tak menunggu lama, telepon itu pun tersambung.

__ADS_1


"Halo, Mba Sekar. Tolong dampingi pelanggan yang mau fitting baju, Riska ada kepentingan mendadak, jadi gak bisa balik lagi ke butik," ujar Keenan langsung.


Riska melebarkan matanya, saat mendengar perkataan suaminya, dia berusaha untuk merebut ponselnya.


"Abang, kembaliin ponsel aku," ujar Riska, dia melepaskan sabuk pengaman dan mencondongkan tubuhnya untuk meraih ponselnya di tangan Keenan.


Akan tetapi, Keenan dengan cekatan mengalihkannya dan memutus sambungan teleponnya begitu saja, tanpa mau mendengar jawaban dari lawan bicaranya.


"Yah, sudah terpurus, gimana dong?" ujar Keenan dengan ponsel yang diperlihatkan pada Riska, akan tetapi tetap tak menyerahkannya.


"Abaang! Ih, dasar nyemeblin." Riska memukul pundak Keenan, dia masih mencoba mengambil ponsel miliknya.


"Akh, sakit, sayang," keluh


Keenan.


"Biarin, siapa suruh jadi orang nyebelin banget," ujar Riska, dengan kesal.


Keenan terkekeh, dia kemudian memasukkan ponsel milik Riska ke dalam saku celana bagian depan.


"Coba ambil kalau berani," ujar Keenan dengan senyum penuh kemenangan.


Riska menatap celana Keenan, dia bergidik saat melihat ponselnya berada di sana. Degan gerakan kasar dia memalingkan wajahnya.


"Aku akan memberikanmu hadiah, jika kamu berani mengambil ponsel di saku celanaku," ujar Keenan lagi, menggoda istrinya.


"Gak, aku gak butuh hadiah," ujar Riska, duduk bersandar dengan pandangan menatap lurus ke depan.


"Beneran nih, gak mau coba ambil dulu?" tanya Keenan lagi.


"Ish, Abang! Berisik banget sih!" cebik Riska.


Tawa Keenan akhirnya meledak, melihat wajah istrinya yang bersemu merah.


'Kamu memang diciptakan hanya untukku, Riska. Hanya kamu yang bisa membuatku merasa bahagia dan tertawa, tanpa perlu melawak atau berusaha bersikap lucu di depannku' gumam hati Keenan.


Dia kembali fokus pada jalanan di depannya, yang terlihat cukup lengang, hingga membuat perjalanan mereka lancar dan lebih cepat untuk sampai di apartemen.


Riska tak lagi bisa menahan gugupnya saat mobil Keenan mulai memasuki area aparteman.


'Astaga kenapa aku gugup begini, padahal ini kan cuman pulang ke apartemen?' gumam hati Riska.


Keenan menghentikan mobilnya di tempat parkir khusus, dia langsung turun dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Silakan istriku," ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk membantu Riska turun.


Riska menggeleng samar, melihat Keenan yang terlihat sangat berlebihan. Akan tetapi dia juga melayani keinginan suaminya itu.


Mereka berjalan menuju lift, dengan Keenan yang seakan tak mau melepaskan Riska. Tangan lelaki itu terus berada di pinggang istrinya, tanpa berniat melepaskannya walau hanya sedetik saja.


.

__ADS_1


.


Beberapa saat yang lalu, dia restoran, Alana menatap kepergian dua orang itu, dengan tangan yang mengepal begitu erat.


'Kamu tidak boleh bahagia sampai kapanpun!'


Tatapan yang sejak tadi terlihat ramah dan penuh dengan senyum, kini berubah menjadi tajam dan penuh dendam. Raut wajahnya pun terlihat begitu kelam.


"Lana, kamu apa-apaan sih, kenapa kamu bersikap begitu pada istri Keenan?" tanya Aryo. Dia sengaja menyebut nama istrinya, untuk memberi tahu kalau dirinya sedang serius.


Alana mengalihkan pandangannya pada sang suami, dia tersenyum miring.


"Bersikap apa? Memang apa yang salah dari sikapku?" tanya Alana dengan gaya polos, dan raut wajah yang berubah drastis.


"Kamu seperti orang yang tidak menyukai Riska, sepertinya Keenan juga tersinggung dengan sikap kamu. Apa lagi saat kamu mengungkit tentang pekerjaan istrinya," ujar Aryo, mencoba menjelaskan.


"Ah, mungkin itu karena mereka saja yang terlalu sensitif. Aku tidak bermaksud apa-apa kok," jawab Alana.


Aryo menatap Alana, dia seperti sedang melihat orang lain saat ini.


"Benarkah?" tanya Aryo, yang langsung diangguki oleh Alana.


"Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyinggung mereka. Kamu percaya sama aku kan, honey?" tanya Alana, dengan wajah memohon.


Ayo menatap istrinya, kemudian mengangguk.


"Baiklah, aku percaya padamu. Tapi, lain kali, tolong kamu lebih menjaga sikap juga omongan, aku tidak mau kejadian ini terulang kembali," ujar Aryo, tegas.


"Iya, aku janji," jawab Alana.


"Honey, lebih baik kita juga pulang saja, kasihan anak-anak menunggu kita lama." Alana berkata dengan nada manja.


Aryo mnegangguk, dia kemudian mengangkat tangan, untuk memaggil pelayan.


Aryo meminta tagihan pembayaran untuk makan siang kali ini, akan tetapi, ternyata semua itu sudah dibayar oleh Keenan.


"Maaf, Tuan, semua tagihan untuk meja ini, sudah dibayar oleh teman Anda," ujar pelayan.


Aryo sempat mengernyit saat mendengar jawaban pelayan, akan tetapi, kemudian dia mengangguk dengan senyum tipis.


"Heh, mentang-mentang orang kaya, dia seenaknya membayar makanan orang lain," sinis Alana, bergumam sendiri.


Aryo kembali melihat Alana, saat gumaman istrinya itu, sempat terdengar lirih di telinganya.


Namun, sedetik kemudian dia menggeleng pelan, menghilangkan rasa mengganjal dihatinya.


Mereka pun akhirnya memilih untuk keluar dari restoran itu, dan kembali ke rumah.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2