Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.147 Naik Motor


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


Ezra masih dalam perjalanan menuju ke kantor bersama dengan Ayu yang sudah merengek ingin ikut dengan suaminya itu, setelah tadi mengantarkan Naura ke sekolah terlebih dahulu.


"Sayang, kamu beneran mau ikut aku ke kantor, gak mau istirahat tas di rumah, atau aku antar ke rumah mama, gimana?" tanya Ezra begitu hati-hati. Tangannya menggenggam lembut tangan Ayu, dengan sesekali ia kecup mesra.


Ayu menatap suaminya itu dengan alis bertaut juga mata yang mulai berkaca-kaca. Ezra mendesah pasrah saat istrinya mulai bersiap untuk menumpahkan air matanya.


"Mas, gak suka ya aku ikut ke kantor? Ya udah anterin u pulang aja," ujar Ayu sambil menunduk dalam. Seperti biasa di dalam hati dia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan rasa kecewanya.


"E–eh, gak gitu maksud aku, sayang. Aku hanya khawatir saja sama kamu, kalau kamu ikut aku ke kantor, di sana kan gak senyaman di rumah." Ezra bahkan sampai menghentikan laju mobilnya demi merayu sang istri.


"Maaf, sanyang. Aku gak bermaksud menyakiti hatimu," sesal Ezra, menarik tubuh Ayu pada dekapannya, dia memegang sering dibuat kerepotan oleh mood sang istri yang sangat cepat berubah, bahkan dalam satu waktu yang sangat berdekatan.


Namun, Ezra menikmati semua itu, dia tak pernah merasa kesal ataupun marah, bila Ayu sedang dalam mode menyebalkan, dia dengan telaten menuruti semua keinginan sang istri, hingga Ayu selalu merasa nyaman.


Ezra tahu kalau Ayu juga merasa tersiksa dengan perubahan hormon yang membuatnya seperti itu, apa lagi dengan perut yang semakin besar, pasti itu juga sangat tidak nyaman, untuk istrinya itu.


Ezra mengurai pelukannya, saat sudah memastikan kalau Ayu lebih tenang. Menangkup wajah istrinya itu, dengan ibu jari mengelus pelan pipi yang terlihat semakin temem itu. Mata keduanya saling bertaut dengan begitu dalam, menyelami rasa cinta di hati masing-masing.


"Aku senang kamu mau ikut ke kantor, karena dengan begitu aku bisa langsung menjagamu dan memastikan keadaanmu dengan mataku sandiri, sayang. Bahkan aku mau sekali membawa kamu kemanapun aku pergi setiap hari. Tapi, terkadang aku juga khawatir kamu akan merasa tidak nyaman atau bahkan kelelahan bila terus mengikutiku bekerja," jelas Ezra panjang lebar.


Satu tetes air mata lolos begitu saja, membasahi lengan Ezra yang masih berada di pipi istrinya, bukan karena bersedih, hanya rasa bahagia dan terharu dengan nikmat Tuhan yang kini tengah diberikan keadanya.


"Maaf," satu kata itu terlontar dari mulut bergetar Ayu.


"Tidak ada yang salah, sayang. Tidak perlu meminta maaf, okey?" Ezra memberikan kecupan lembut di kening, kemudian beralih pada kedua kelopak mata yang basah, lalu ujung hidung dan berakhir pada bibir lembut Ayu.


"Baiklah, kita ke kantor sekarang ya," ujar Ezra lagi, sambil menegakkan kembali tubuhnya, bersiap untuk mulai menyetir kembali.


Drrt ... Drrt ....


Baru saja Ezra akan menginjak pedal gas lagi, saat ponselnya bergetar menandakan ada yang menelepon.


Kening Ezra berkerut dalam saat melihat nomor tak dikenal yang ada di layarnya, satu panggilan dia abaikan begitu saja, tanpa berniat untuk mengangkatnya.


"Siapa, Mas?" tanya Ayu.


"Gak tau, nomor baru ... mungkin orang iseng, biarkan saja lah," acuh Ezra, meneruskan menyetir mobilnya menuju kantor.


Namun panggilan itu kembali mengganggu pasangan suami istri itu, karena panggilan itu terus berulang, hingga akhirnya Ayu mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo," sapa Ayu, dengan tatapan mata melihat ke arah suaminya.


.


Di tempat lain, Keenan yang tengah berusaha menghubungi Ezra melalui ponsel warga karena ponselnya dan Riska tertinggal di mobil, mulai terlihat gelisah karena tak juga mendapatkan jawaban.


"Gimana?" untuk yang kesekian kalinya Riska bertanya.


"Gak dijawab juga," jawab Keenan dengan begitu resah.


"Terus gimana dong? Masa kita nikah gak ada orang yang tau, nanti mau jelasin gimana sama keluarga aku juga Bang Ken, kalau kita pulang?" tanya Riska.


"Tenang dulu, aku coba sekali lagi ya, kalau sampe ini gak dijawab juga, aku terpaksa harus telepon Kak Ayu atau Mama," ujar Keenan.


Matanya melebar saat mendengar suara perempuan yang begitu dia kenal di ujung telepon. "Kak Ayu yang angkat," bisiknya pada Riska.


"Hah, kok bisa? Terus gimana dong?" jawab Riska dengan suara pelan.


Keenan tampak terdiam beberapa saat, hingga suara Ayu kembali menyadarkannya. Dengan canggung Keenan berusaha mengeluarkan suaranya.


"Ha–halo, A–Asalamualaikum, Kak," gugup Keenan.


"Keenan?" ujar Ayu setelah menjawab salam Keenan.


Ezra yang memang memperhatikan Ayu, kini menautkan alisya, saat sang istri menyebutkan nama adiknya. Lalu memerintahkan untuk menghidupkan pengeras suara di ponselnya.


"I–iya, Kak. Ini aku Keenan ... Kak Ezra ada gak?" tanya Keenan.


"Aku di sini, Ken. Ada apa kamu menghubungiku memakai nomor lain?" Ezra langsung berbicara, dengan pandangan masih fokus pada jalanan di depannya, karena suasana sedang padat.


"Kak, bisa tolong aku gak? Aku dan Riska terjebak di perkampungan warga, mereka mau menikahkan kami nanti siang," ujar Keenan tanpa basa-basi lagi.


Ayu dan Ezra melebarkan matanya, mendengar perkataan Keenan, mereka saling memandang kembali, dengan ekspresi bingung bercampur cemas, di kapala sudah penuh dengan pikiran tak karuan tenang adik dan asisten Ayu itu.


"Dinikahkan bagaiman? Memang kalian berbuat apa? Awas saja kalau kamu berani merusak anak gadis orang, Ken!" ujar Ezra, dengan suara tegas. Genggaman tangan di setir mobil pun terlihat semakin mengencang, meluapkan emosi yang kini tengah ia tahan agar tak terlihat oleh Ayu.


"Enggak, Kak. Aku tidak mungkin melakukan itu, terlebih kepada Riska," jawab Keenan, kemudian mulai menceritakan apa yang telah terjadi kepadanya dan Riska semalam tadi.


"Ya sudah, kamu share lokasi sekarang, biar Kakak ke sana sekarang juga," perintah Ezra.


"Baik, Kak. Terima kasih." Keenan berucap sebelum menutup teleponnya.


Menghembuskan napas lega, setelah mendengar keputusan sang kakak. Berjalan untuk mengembalikan ponsel di tangan pada pemiliknya.


Sedangkan di mobil Ezra mempercepat laju mobilnya, dengan Ayu yang berusaha menghubungi ibu dari Riska.

__ADS_1


Air mata sudah menetes dengan pupil bergoyang. Entah bagaimana reaksi wanita paruh baya itu, jika mendengar kabar mengejutkan tentang anak sulungnya itu.


Ayu hanya berharap kalau di samping ibu Riska ada orang lain lagi, untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan.


Beberapa saat kemuidan, Ayu bisa bernapas lega, setelah memastikan tidak terjadi apa-apa pada ibu Riska, walau pada awalnya dia bisa mendengar dengan jelas suara tangis bercampur panik dari mulut wanita paruh baya itu.


Selesai dengan ibu Riska, Ayu beralih pada kedua mertuanya dan juga Pak Gino yang harus menjemput Naura di sekolah, untuk menggantikannya.


Sama dengan ibu Riska, Nawang juga terdengar terkejut akan apa yang dialami oleh putra bungsunya itu. Akan tetapi Ayu terus menerus menenangkan mertuanya itu, hingga akhirnya Nawang menyerahkan semua masalah ini pada Ayu dan Ezra, karena dirinya sedang berada di luar kota, untuk menghadiri acara salah satu teman arisannya.


Setelah melewati berbagai masalah di jalan yang masih tampak padat, menjelang siang Ayu dan Ezra menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Keenan, di sana juga sudah ada dua orang warga yang menjemput keduanya.


"Kakak dari Keenan?" tanya salah satu warga yang berusia lebih tua dari Ezra.


"Betul. Perkenalkan, saya Ezra dan ini istri saya Ayunindia," ujar Ezra sambil menjabat kedua lelaki di depannya.


"Saya Boni dan ini Tono, kami yang akan membawa kalian kepada adik Anda," sopan lelaki yang bernama Boni itu.


"Mari, kita harus menggunakan motor, karena kami blum memiliki akses jalan mobil untuk sampai ke kampung," imbuhnya lagi.


Ezra mengernyit dalam saat mendengar perkataan Boni. Mana bisa dia melepaskan Ayu berboncengan dengan lelaki lain di depan matanya sendiri, bahkan di belakangnya pun dia tidak kan pernah rela.


"Pak, bisa saya mengendarai salah satu motor itu sendiri, istri saya tidak bisa berdekatan dengan lelaki lain," ujar Ezra.


Boni dan Toto saling pandang sesaat, kemudian Toto menyerahkan kunci motornya pada Ezra.


"Silakan, kami akan menuntun kalian dari depan," ujar Toto.


"Terima kasih." Ezra kemudian menuntun sang istri menuju motor matic yang terparkir, membantu istrinya naik dan duduk dengan nyaman. Tak ada helm sebagai pelindung, kedua lelaki itu tak ada yang membawa alat pelindung untuk pengendara motor itu.


Walaupun dia khawatir dengan kondisi Ayu yang sedang hamil besar. Akan tetapi, dia juga tidak mungkin meninggalkan istrinya itu di sini sendirian. Jadi dengan terpaksa ia harus membawa istrinya menggunakan motor.


"Pegangan erat-erat ya, sayang. Maaf aku harus membawamu memakai motor seperti ini," sesal Ezra sebelum mulai mengendarai motor itu.


"Mas, apa kamu lupa aku ini siapa, sebelum menikah sama kamu? Naik motor, ojek, kendaraan umum, bahkan berjalan kaki, sudah menjadi keseharianku sebelum memiliki mobil sendiri, jadi tidak usah berkata begitu lagi ya. Aku gak suka," ujar Ayu, dia melingkarkan tangannya di perut Ezra, kepalanya ia sandarkan di punggung suaminya itu.


"Bukannya begini lebih romantis?" tanya Ayu, dengan kekehan kecil di akhir perkataannya.


Ezra tersenyum sambil memulai menarik gas motor di tangan kanannya, benar juga apa kata istrinya itu, ini memang terasa romantis, dia merasakembali pada masa muda, mungkin masa putih abu-abu, atau perkuliahan.


"Benarkah? kamu suka?" tanya Ezra, dia mengelus pelan punggung tangan Ayu yang berada di peruttnya,.


"Heem, aku suka," jawab Ayu, untuk sesaat keduanya melupakan masalah Keenan dan menikmati perjalanan menuju perkampungan tempat Keenan dan Riska berada.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2