Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.95 Berlian dan sampah


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


“Keduluan lagi kamu, Nak.” Ambu menepuk bahu anak lelakinya, setelah memastikan mobil Ezra keluar dari padepokan.


Galang melihat ibunya dengan senyum getir, kemudian merangkul tubuh wanita kesayangannya itu untuk masuk ke dalam rumah bersama-sama.


“Aku sudah ikhlas saat dulu Ayu lebih memilih Radit, Ambu. Selama aku berada di luar negri, aku terus berusaha untuk menghilangkan perasaan lebih yang ada di dalam hatiku untuk Ayu, dan sekarang Aku benar-benar hanya menganggap Ayu sebagai adikku, Ambu. Tidak untuk yang lain!” tegas Galang, dengan senyum menghiasi wajahnya.


Ambu menghembuskan napas lega, ia takut anaknya ini kembali patah hati, lalu memutuskan pergi lagi, seperti saat Ayu menikah dengan Radit dulu.


“Ambu selalu berdoa semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang baik dan tulus, juga bisa menerima kamu dan keluarga kita apa adanya,” ucap Ambu, mengusap rambut Galang.


“Amiin, terima kasih karena Ambu tidak pernah memaksa atau mendesak Galang untuk cepat menikah. Galang masih senang begini, bisa manja sama Ambu, jahilin Ayu atau membantu kegiatan Kak Rea, tanpa ada yang akan cemburu.” lelaki dewasa itu menyusupkan kepalanya pada cewek leher ibunya.


“Hei, ngapain kamu sama istrinya Abah?!” Abah yang baru saja masuk, langsung menatap tajam anak lelakinya yang sedang bermanfaat dengan sang istri.


“Abah, ini kan juga Ambunya Galang!” debat Galang semakin menyusupkan wajahnya.


“Ish, kamu ini sudah gede, udah gak pantes manja gitu sama Ambu. Makannya cepat cari calon istri, biar kamu gak manja sama istri Abah terus!”


Dengan teganya Abah langsung menyingkirkan Galang dari rangkuman istrinya, kemudian membawa Ambu masuk ke kamar.


“Ayo, Ambu ... badan Abah sakit, habis berlatih sedikit tadi sama calon suaminya Ayu. Kayaknya butuh di pijat ini,” ucapnya, sambil menarik Ambu dari samping Galang.


“Halah, dasar aki-aki gak sadar umur, sama anak aja masih cemburuan!” cebik Galang, memilih merebahkan tubuhnya di sofa.


“Biarin, iri bilang bos! Hahaha!” Abah berteriak meledek anak lelakinya itu, dengan meniru perkataan Ayu sore tadi.


“Abah, ih! Seneng banget sih ngegodain anaknya!” terdengar suara Ambu, memperingatkan Abah.


Galang mendengus kesal, mendengar ejekan dari ayahnya itu, memilih untuk menutup matanya dengan tangan.


 


.........


 


Di tempat lain, lebih tepatnya di dalam mobil milik Ezra, kini kedua sejoli itu tengah sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Ezra yang memilih jatuh fokus pada jalanan di depannya, sedangkan Ayu memilih untuk melihat ke arah sisi.

__ADS_1


“Kita makan malam dulu yuk, lapar nih!” ucap Ezra, menoleh sekilas pada wanita di sampingnya.


Ayu menegakkan duduknya, beralih memandang Ezra, kemudian mengangguk.


“Kamu tau resto yang enak gak sekitar sini?” tanya Ezra lagi dengan senyum tersungging.


“Aku gak tau, tapi kata Kak Rea, ada restoran khas sunda yang lumayan enak di depan, aku juga belum pernah mampir sih!”  ucap Ayu, dengan kening berkerut halus, tanda sedang berpikir.


“Ya udah, kita ke sana aja, nanti kamu tunjukin jalannya ya!” ucap antusias Ezra.


Ayu mengangguk.


Sebenarnya Ezra tidak terlalu lapar, hanya saja dia tahu kalau Ayu tidak akan mau makan malam berdua dengannya jika tidak berkata seperti itu.


Sikap Ayu yang tidak terbiasa bersama dengan lelaki, membuatnya tahu kalau setiap kali mereka berdua, Ayu akan selalu merasa canggung, dan lebih menjaga jarak dengannya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai oleh Ezra sudah terparkir di sebuah rumah makan yang lumayan besar, namun terlihat sederhana dengan arsitektur dominan menonjolkan suasana pedesaan.


“Wah, kalau kita ke sini siang, pasti akan lebih indah lagi dari ini,” ucap Ezra saat mereka berdua baru saja keluar dari mobil.


Ayu mengedarkan pandangannya, cahaya lampu temaram yang menghiasi berbagai macam opname khas pedesaan terasa indah dan nyaman untuk di pandang.


“Selamat datang.”


Sapaan ramah dari karyawan resto yang menyambut keduanya, dengan pakaian adat khas sunda, membuat kesan ramah dan pedesaan semakin kental terasa.


Ternyata di sana ada berbagai macam tempat duduk, dari yang  autdor yang bergaya seperti saung-saung di pisah, lesehan, hingga kursi biasa dan ada juga yang lebih privat berada di lantai dua resto.


Ayu mengedikkan bahunya, ia sendiri tak terlalu memedulikan tempat makan, yang penting bersih dan nyaman, itu sudah cukup untuk Ayu.


“Bagaimana kalau kita  ke sana saja, sepertinya di sana lebih indah pemandangannya?” tanya Ezra lagi, tangannya menunjuk ke area luar di mana di sana terdapat saung-saung yang berada di atas sebuah danau buatan.


“Ya udah kamu ke sana duluan ya, aku mau ke toilet dulu,” titah Ezra.


Ayu mengangguk, lalu melangkah meninggalkan Ezra yang masih berdiri di tempat yang sama melihatnya berjalan.


Lelaki itu baru beranjak dari tempatnya saat, Ayu sudah duduk manis di tempat mereka makan, nanti.


“Wah wah wah, ternyata ada yang dapat mangsa baru ya, setelah membuat anakku gak punya apa-apa!”


Tiba-tiba saja beberapa orang perempuan paruh baya menghampiri Ayu yang baru saja duduk di tempat itu.


Ayu mematung melihat mantan mertuanya bersama dengan teman arisannya, sudah mengelilinginya.


“I-ibu?” gumam Ayu dengan suara yang sangat kecil.

__ADS_1


Tangannya terulur hendak meraih lengan Sari, namun, dengan cepat wanita paruh baya itu menjauhkannya.


“Enak sekali kamu ya, setelah cerai dengan anakku, langsung dapet laki-laki lain!” cibir Sari, melihat Ayu dengan pandangan hina.


“Jeng, hati-hati kalau ketemu sama wanita modelan kayak gini, bisanya cuman bikin susah suami aja, giliran suaminya udah gak punya apa-apa, eh dia nyari yang lebih kaya lagi!” ucap Sari, memutar balikan fakta.


Ayu menundukkan kepalanya, tangannya mengepal kuat, menahan gejolak amarah yang ada di dalam hatinya.


Selama ini dia mengira Sari sudah berubah, setelah Radit dan Mala terpuruk.


Namun, ternyata semua itu tidak membuatnya jerawat sama sekali.


“Ih, gak nyangka banget ya, cantik-cantik ternyata benalu dalam rumah tangga, gak pantes tau gak, kamu pakai pakaian kayak gini!” cibir salah satu teman Sari, dengan tangan menarik kerudung Ayu.


“Apa-apaan ini, siapa kalian? Berani mengganggu calon istriku!” Ezra yang baru saja datang dari toilet, langsung menghampiri Ayu.


“Oh, jadi sekarang lelaki ini yang jadi mangsa berikutnya!” ucap santai Sari tanpa rasa bersalah sedikit pun.


“Hati-hati sama wanita ini, Mas. Dia itu pasti cuman mau morotin harta kamu aja, sama kayak apa yang dia lakuin sama anak aku!” ucapnya lagi, beralih pada Ezra.


“Ibu, stop! Aku tidak pernah mengambil sepeser pun harta milik anak ibu, aku meninggalkannya karena dia yang lebih dulu berselingkuh dan menikah sirih dengan sahabatku sendiri. Wanita mana yang sanggup bila harus diduakan tanpa adanya keadilan di dalamnya, Bu!” Ayu mulai tersulut emosi, karena terus di sudutkan.


“Apa ibu lupa semua itu? Bukankah ibu sendiri yang merestui pernikahan mereka dan menampung menantu kesayanganmu itu?!” ucap Ayu, membalikkan keadaan.


“Kalau mang sekarang kondisi Bang Radit, sedang terpuruk seperti apa yang ibu katakan, aku ikut berdua atas semua itu, tapi, aku mohon jangan lagi ganggu kehidupanku yang baru. Karena aku juga tidak mengganggu kalian semua.”


Tak ada satu pun air mata yang jatuh dari manik indah itu, Ayu membalas semua perkataan pedas dari mantan mertuanya itu, dengan tegas, tanpa ada riak kesedihan ataupun penyesalan di dalam wajahnya.


“Oh, jadi ini mertua yang sudah menyia-nyiakan berlian seperti kamu,  demi sampah permodelan yang sudah di jamah banyak orang itu,” Ezra berdiri di samping calon istrinya, menatap remeh Sari.


Ternyata mulut Ezra tak kalah pedasnya dari Keenan, keduanya sangat pintar membuat lawan bicaranya tertekan.


“Ck ck ck ... lebih baik ibu ganti dulu kaca mata itu, biar bisa melihat mana yang wanita baik dan mana wanita sampah. Jangan hanya karena dia sudah mengandung benih anakmu terus kamu menerimanya begitu saja! Sudah jelas dia melakukan sesuatu yang di larang dalam agama, kok malah di dukung!” ucap Ezra panjang lebar.


Sari yang sudah tidak tahan dengan perkataan dari Ezra dan Ayu, memilih untuk pergi begitu saja, dengan wajah memerah dan tangan mengepal menahan malu.


Ayu menatap Ezra dengan mata yang sudah penuh dengan kaca.


“Ssh sudah, tidak usah dipikirkan perkataannya barusan, dia hanya sedang mencari pelampiasan karena kegagalan yang anaknya terima.” Ezra mengelus pundak Ayu, lalu mengajaknya duduk kembali.


‘Sialan tuh nenek-nenek, ngapain juga pake ketemu di sini!’ umpat Ezra dalam hati.


 


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung ...


__ADS_2