
...Happy Reading...
...❤...
Beberapa saat kemudian mobil yang di kendarai oleh Ezra, sudah sampai di depan rumah sederhana milik ayu.
Ayu berjalan masuk menuju rumah saat ia sudah melihat mobil milik Ezra melaju pergi meninggalkan rumahnya.
Tanpa dia sadari lelaki itu telah mengobati sedikit luka, yang di sebabkan oleh pertemuannya dengan Larry.
Menghebuskan napas kasar, sambil membantingkan tubunya ke atas tempat tidur.
Untung saja tadi dirinya sempat mampir dulu ke salah satu masjid, untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
menutup matanya merasakan sesak yang masih saja terasa di dalam dadanya.
Wanita itu terdiam dengan mata menerawang, menatap langit-langit rumah yang berwarna putih bersih.
Ingatannya kembali pada kenangan masa lalunya dengan keadaan keluarga yang masih utuh.
Flash back
''Hore ayah pulang!" gadis kecik yang tak lain adalah Ayu, berjingkrak ria sambil berlari menyambut kedatangan cinta pertamanya.
"Ndi, jangan lari-lari sayang!" terdengar teriakan sang ibu yang memperingatinya.
"Uh, putri kesayangan Ayah. Lagi apa sayang?" Larry langsung menyambut kedatangan sang anak dan membawanya ke dalam gendongannya.
Tawa renyah penuh kebahagiaan terdengar nyaring dari mulut mungil gadis kecil itu.
Senyum teduh dari wajah cantik Puspa mengembang sempurna, mengambil tas kerja yang tergeletak begitu saja, kemudian mencium lengan sang suami.
Ayu melihat tatapan penuh cinta dari mata sepasang suami istri itu, satu kecupan mendarat di kening perempuan yang merupakan ibunya.
Ayu yang belum mendapatkannya memajukan bibirnya, cemburu dengan kemesraan kedua orang tuanya.
"Kamu ini, Dek ... Dek. Masih aja cemburu sama ibu sendiri." Ansel yang baru saja turun menggoda adik perempuannya.
Semua itu tak ayal membuat Ayu semakin merengut, tangannya ia lingkarkan di leher cinta pertamanya itu.
"Biarin! Ini 'kan Ayahnya Ndi!" gadis kecil itu menelusupkan wajahnya di dalam dada bidang sang ayah.
"Kak, jangan godain adeknya terus ah," suara lembut terdengar tegas, meringankan anak sulunya.
Flash back off
Air mata itu mengalir begitu saja, Ayu mengambil bantal guling yang ada di dekatnya. Memeluk erat, merangkul seperti seorang anak yang ketakutan dan kesepian.
Mulutnya menggigit kuat bantal guling itu, meredam suara isakan yang tak bisa ia hentikan.
__ADS_1
"Ibu, Ndi kangen," gumamnya.
"Bagaimana ini Bu, Apa yang harus Ndi lakukan?"
Hatinya bimbang, menimbang apa yang harus ia lakukan kepada ayahnya itu. Tindakan apa yang tidak akan membuatnya merasa bersalah. Tetapi, juga tidak akan menambah luka yang sudah ada.
Tangisan itu tak berhenti hingga akhirnya wanita itu terlelap, dalam keadaan masih meneteskan air matanya.
Di lantai bawah, Ansel baru saja datang. Setelah kondisi di rumah sakit sudah terkendali.
"Di mana Nindi?" tanyanya pada Bi Yati.
"Neng Nindi, ada di kamarnya, Den. Sejak pulang bersama Den Ezra, Neng Nindi gak ada keluar kamar," jelas Bi Yati.
"Tapi Nindi baik-baik aja kan, Bi?" tanya Ansel
"Tadi waktu pulang, wajahnya kayak orang abis nangis, Den."
"Ya udah, makasih ya, Bi. Aku mau liat Nindi dulu ke atas." kata Ansel, sebelum melangkah menaiki tangga.
Sampai di depan kamar adiknya itu, Ansel mengetuk pintu perlahan. Tetapi tak ada jawaban dari dalam.
Dengan sedikit keraguan, Ansel memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamar Ayu.
Gelap, hanya ada cahanya lampu tidur yang menyala temaram.
Berjalan perlahan, hingga tidak menimbulkan suara. Dia melihat, wanita itu tertidur dengan posisi meringkuk seperti seorang bayi, membelakangi sorot lampu.
"Maafkan Kakak, Dek. Kakak belum bisa merubah pemikiran ayah." Ansel berdiri di samping ranjang adiknya, menatap sendu, wajah yang begitu mirip dengan ibu nya itu.
Rasa bersalah kini, kembali merasuk ke dalam dirinya. Merasa menjadi seorang kakak yang tidak berguna, bahkan tidak bisa menjaga adiknya sendiri.
Beberapa saat Ansel berada di kamar Ayu, Menghela napas berat dengan tangan terulur, mengusap rambut puncak kepala adiknya, sebelum akhirnya berbalik melangkah keluar.
Ayu, wanita itu membuka matanya, setelah mendengar suara pintu di tutup. Dirinya terbangun saat mendengar gumaman kecil dari mulut Ansel. Tetapi, memutuskan untuk tetap memejamkan mata,
"Maaf kak, kehadiranku malah menjadi beban untukmu." Ayu bangun, menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
Satu bulir bening kembali menetes. Emosinya sangat tidak stabil kali ini, entah mengapa, sangat mudah untuknya meneteskan air mata, jika itu tentang orang yang di sayanginya.
Melihat jam yang ternyata sudah larut malam, Ayu turun dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
...❤...
Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah rumah besar yang sudah terasa sepi, karena hampir semua penghuni telah masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Ezra, lelaki dengan status duda satu anak itu, duduk di kursi balkon kamarnya berteman secangkir kopi.
Di depannya, terdapat laptop yang masih terlihat menyala.
Semilir angin malam yang terasa semakin dingin menusuk tulang, menerpa tubuhnya yang hanya menggunakan kaos tipis.
__ADS_1
Menutup laptop saat di rasa pekerjaannya sudah selesai, dia berjalan menuju sisi pagar balkon.
Berdiri dengan tatapan lurus, melihat taman belakang rumah, tempat di mana ibu dan juga anaknya sangat senang menghabiskan waktu.
Sinar dari lampu taman, membuat suasana terasa berbeda. Pikirannya tertuju pada beberapa hari yang lalu, saat dirinya baru saja tau kalau yang menguntit Ayu adalah mantan tetangga wanita itu, saat masih tinggal bersama ibunya.
Dia di bayar oleh Larry untuk mengawasi semu gerak-gerik Ayu, dan melindunginya. Tetapi sayang, insiden di vila waktu itu, luput dari pengawasannya.
Dia bercerita kalau dirinya sudah di bayar sejak satu tahun yang lalu. Itu berarti Larry sudah menemukan Ayu semenjak saat itu.
Lelaki itu juga berkata, selain dia ada lagi yang suka mengawasi wanita itu secara diam-diam. Tetapi dia hanya sesekali datang, lalu kemudian pergi lagi.
Beberapa kali, dia memergoki orang itu. Tetapi sayang, dia tidak bisa mengenalinya.
"Sesulit inikah, untuk mencintai kamu?" gumamnya pelan.
Huftth ....
Menghela napas kasar dengan mata tertutup, kepalanya menengadah ke atas.
"Segila inikah aku mencintainya?"
Rasa asing yang terus saja menghantui di setiap langkahnya. Hingga tak bisa mengontrol dirinya sendiri, bila sedang berada dekat dengan raganya.
"Baiklah, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu, menjadi pelindung di dalam setiap harimu, walau tanpa kamu sadari kehadiranku."
Tekad Ezra sudah sangat bulat, dia bukan lagi lelaki muda yang sedang di mabuk cinta. Dirinya sudah dewasa untuk mengerti apa arti cinta sesungguhnya, dan itu yang ingin ia berikan pada wanita yang telah merebut tahta di dalam hatinya.
Mencintai tanpa mengharap balas, walau rasa ingin memiliki masih sering terlintas.
Menyayangi tanpa diketahui, senyap. Namun pasti.
Tak dipungkiri ego masih menyelimuti hati.
Tetapi sebisa mungkin akan ku tepis, hingga makin menipis.
Tertelan dalam rasa cinta dan kasih sayang yang tak bisa aku tahan.
Sampai ujung penantian, aku yakin, kita bisa tersatukan.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Eh, kenapa jadi gak jelas begini akhirnya ya🤔 Maafkan aku yang gak jelas ini ya🤭🤭
Terima kasih ya, yang masih setia matengin sambungan cerita akyu🙏🥰🥰
Udah ah, hari ini segini dulu ya, sampai jumpa di bab berikutnya 👋😘😘
__ADS_1