Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.250 Salah Naik Taksi


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Lewat tengah malam, Keenan baru saja menginjakkan kakinya di bandara ibu kota. Dengan langkah lebarnya, dia berjalan cepat keluar dari pintu penerbangan dalam negeri.


Di luar, sudah ada Gino, yang bertugas untuk menjemput Keenan. Dia langsung menghampiri salah satu majikannya itu.


“Mana kunci mobilnya.” Keenan menengadahkan tangannya.


Gino mengernyit mendengar permintaan Keenan. Akan tetapi, meskipun begitu dia menyerahkan kunci mobilnya.


“Biarkan aku yang menyetir,” ujar Keenan, sambil mendahului Gino masuk ke dalam mobil.


“Tapi, Pak ....” Perkataan Gino terputus begitu saja, saat melihat Keenan sudah masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Keenan mengendari mobil dengan kecepatan tinggi. Suasana dini hari, membuat jalanan yang mereka lewati terasa lengang, hingga membuat Keenan semakin mudah memacu laju kendaraannya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai oleh Keenan, sudah terparkir di depan rumah Ezra. Dengan langkah cepat, dia masuk ke dalam. Menaiki anak tangga untuk menemui sang kakak di lantai dua.


“Bagaimana, Kak. Apa sudah ada kabar?” tanya Keenan, begitu dia membuka pintu ruangan kerja Ezra.


Ezra dan Alvin yang masih berada di dalam ruangan itu, mengalihkan perhatiannya pada lelaki yang baru saja datang itu.


Keenan berjalan menghampiri keduanya, dia duduk di samping Alvin, dengan sorot mata meminta penjelasan dari kakaknya.


“Kami belum menemukan petunjuk, hanya saja kami sudah menemukan sopir taksi yang seharusnya membawa Riska sore tadi,” jelas Ezra.


Ternyata tadi sore, Riska sempat mengirimkan tangkapan layar dari ponselnya, mengenai sopir taksi yang dia tumpangi pada Ayu.


Setelah menerima informasi dari istrinya, Ezra pun bergerak cepat untuk mencari keberadaan sopir taksi online, dan mobil dengan nomor polisi yang sama.


Mereka sudah berhasil menemukannya beberapa saat setelah menerima perintah dari Ezra. Akan tetapi, dia mengaku tidak pernah membawa Riska, dirinya memang datang ke alamat tersebut, setelah menerima pesanan taksi dari nomor Riska.


Namun, saat dirinya sampai, Riska sudah pergi menggunakan mobil lain.

__ADS_1


Dari semua keterangan yang diberikan oleh sopir taksi online itu pun, Ezra dan Alvin menyimpulkan kalau Riska telah masuk ke dalam mobil yang salah.


Anak buah Ezra dan Keenan yang biasa ditugaskan untuk mengawasi Riska pun, ternyata kehilangan jejak setelah sekitar sepuluh menit mengikuti mobil taksi yang ditumpangi oleh Riska.


“Lalu di mana sopir itu sekarang?” tanya Keenan, terlihat terburu-buru.


“Kami masih mengawasinya. Apa kamu tidak mempunyai seseorang yang bisa dicurigai dalam kasus ini?” Ezra bertanya dengan menatap wajah adiknya serius.


Keenan tampak berpikir, sejak tadi dia mempunyai dua orang yang dicurigai dalam kejadian ini. Akan tetapi, dirinya sendiri belum yakin kalau mereka adalah salah satu pelakunya.


“Sebenarnya aku memiliki seseorang yang dicurigai. Tapi, aku masih ragu,” jawab Keenan.


“Siapa?” tanya Ezra langsung.


Alvin pun senantiasa memperhatikan percakapan antara adik kakak itu. Karena, dirinya memang sudah tidak memiliki ide lain.


“Alana, adik dari Aluna. Saat kami berlibur di Bali, kami hampir saja terserempet motor. Setelah aku mencari tau, ternyata itu adalah orang suruh Alana,” jelas Keenan, mengingat kejadian di Bali.


“Kenapa kamu tidak pernah berbicara hal ini denganku? Sekarang setelah seperti ini, baru kamu meminta tolong. Bukannya sudah pernah aku bilang, jangan pernah menganggap musuh itu gampang ... karena, kita tidak tau bagaimana dia sebenarnya, dan sebesar apa dia membenci kita.” Ezra tampak mengusap wajah kasar, merasa kesal pada adiknya sendiri.


“Baik, Pak,” jawab Alvin, langsung kembali fokus pada laptop di depannya.


“Benar hanya satu orang saja yang kamu curiga? Ingat, sekarang istrimu sedang dalam bahaya. Jangan pernah menganggap gampang suatu masalah dengan orang lain, walau itu kecil sekalipun.” Ezra memastikan kembali perkataan adiknya.


“Sebenarnya ada seseorang lagi yang mengganggu pikiranku. Tapi, aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari orang itu,” ujar Keenan, dengan nada ragu.


“Siapa? Coba kamu ceritakan lebih jelas, agar kita bisa mencari Riska lebih jauh,” ujar Ezra.


“Sebenarnya beberapa hari yang lalu, aku dan Rio sempat mendapati seseorang yang sedang memperhatikan butik, di saat di sana hanya ada Riska. Dia terlihat mencurigakan. Tapi, saat aku mencari tau tentangnya, dia hanyalah seorang pegawai biasa dan tidak ada hubungannya dengan Riska maupun Alana, ” jelas Keenan, mengingat kembali kejadian di butik beberapa hari yang lalu dan laporan dari anak buahnya.


“Astaga, Keenan. Kenapa kamu baru bilang semua ini padaku? Padahal sudah sangat jelas, kalau ada yang mencurigakan di sekitar istrimu,” geram Ezra.


“Kamu mempunyai sesuatu yang bisa kita jadikan sebagai alat untuk mencari taunya lebih dalam?” Ezra tampak sedikit mendesak adiknya.


Keenan menyerahkan foto yang sempat ia ambil dan juga nomor polisi mobil, juga mengirimkan berkas yang pernah anak buahnya laporkan padanya.

__ADS_1


Ezra tampak memeriksa dengan jelas semua laporan itu, dia tahu kalau selama ini fokus Keenan memang sedang terbagi. Menjadi seorang wakil direktur utama dari sebuah perusahaan besar, dengan beberapa cabang dan juga banyak kolega, bukanlah hal yang mudah. Ezra pun bisa mengerti semua itu.


Keenan pun ikut melihatnya kembali dengan lebih teliti. Apa mungkin ada sesuatu celah yang ia lewatkan, hingga menimbulkan masalah seperti ini. Walaupun ternyata sulit untuk fokus, dia terus saja teringat pada istrinya yang entah sedang berada di mana.


“Akh, brengsek!” sungut Keenan, setelah dia berusaha cukup lama, dia masih belum bisa fokus pada masalah yang ada.


Dia berdiri dan hendak melangkah menuju ke luar. Akan tetapi, suara Ezra langsung menghentikan langkahnya.


“Mau ke mana kamu, Ken?” tanya Ezra, melirik tajam pada adiknya itu.


“Aku mau mencari istriku, “ jawab Keenan, melihat wajah tegas sang kakak.


“Ke mana? Memang kamu sudah tau di mana keberadaan istrimu, hah?” sarkas Ezra.


Keenan menatap wajah Ezra dengan perasaan yang tak menentu.


“Jangan bodoh, Ken. Buat apa kamu habiskan waktu dengan mencari orang tanpa tau arah. Lebih baik kamu diam di sini dan bantu kita menemukan pelakunya ... lagi pula, sudah ada anak buah kita yang mencari di luar,” tegas Ezra.


Dia tahu perasaan Keenan saat ini sedang tidak baik-baik saja, kehilangan orang yang kita cintai bukanlah hal yang bisa dianggap mudah. Akan tetapi, dia juga tak mau adiknya itu menjadi bodoh dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Bahkan sekarang orang yang harus mereka hadapi pun tidak tahu siapa.


Keenan terdiam, dia menurunkan pandangannya dengan tatapan prustasi, duduk kembali di samping Alvin dan memilih untuk diam.


Ezra menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Kembali fokus pada laptop di depannya, sambil sesekali menghubungi anak buahnya, untuk memberikan informasi yang dia temukan.


Malam itu, hampir semua penghuni rumah itu tak ada yang tidur. Termasuk Ayu yang juga tak dapat tidur di kamarnya, dia terus terpikirkan nasib asisten sekaligus adik iparnya itu.


...🌿...


Maaf ya, kemarin aku gak up, lagi kurang enak badan.


...🌿...


...Bersambung


...

__ADS_1


__ADS_2