Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.249 Banjir


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤️...


Keenan dan Rio kini sedang berjalan pulang dari mesjid. Ternyata semuanya tak sesuai dengan rencana, mereka berdua pulang bersama-sama dengan para bapak-bapak yang lain, hingga tak ada kesempatan untuk Keenan berbicara berdua dengan adik iparnya itu.


Entah karena apa, mereka tampak tertarik dengan keberadaan Keenan di kampung itu, hingga para lelaki paruh baya itu seakan saling berlomba mendekati Keenan.


Rio mencebik kesal, saat melihat orang orang kampung bersikap sok akrab dengan kakak iparnya itu, hingga saat mereka sudah sampai di depan rumah, dia langsung berpamitan sambil menarik lengan Keenan masuk ke dalam rumah.


"Permisi, Pak," ujar Keenan, sambil berjalan mengikuti langkah sang sadik ipar.


"Ada apa sih, Yo?" tanya Keenan, saat mereka sudah berada di halaman rumah.


"Gak apa-apa, cuma kesel aja, liat Kak Keenan direbutin sama bapak-bapak tadi," jawab Rio.


"Maksudnya? Mereka kan hanya menyapa aku, wajar kan menyapa warga baru," ujar Keenan dengan kening bertaut.


"Ya, gak suka aja. Nanti lama-lama mereka pada ngenalin anak gadisnya atau minta kerja sama Kakak," ujar Rio, sambil melanjutkan berjalan menuju ke depan pintu.


Tok ... tok ... tok ....


Rio mengentuk pintu terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam sambil mengucapkan salam., bersamaan dengan Keenan.


Riska yang masih di dapur sedikit menolehkan kepala, saat mendengar suara adik dan suaminya.


"Sana, sambut dulu suami kamu. Ini, biar ibu yang selsesaikan," ujar Ibu penuh pengertian.


Riska tersenyum sambil beranjak ke depan wastafel untuk mencuci tangan.


"Terima kasih, Bu," ujarnya, sambil berjalan menuju ruang depan.


"Abang sudah pulang?" ujar Riska sambil berjalan melewati Rio dan mengambil tangan sang suami.


Rio memutar bola matanya, melihat kakaknya yang bahkan tak melirik ke arahnya sama sekali.


"Iya, sayang. Aku ganti baju dulu ya," ujar Keenan, setelah mengecup kening istrinya sekilas.


"Lewatin aja teros! Nasib-nasib, jadi nyamuk emang gak pernah kelihatan," saindir Rio sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Iya, nyamuk emang gak keliatan. Tapi, ganggu," jawab Riska, sambil melirik adiknya sekilas.


"Kenapa sih dia?" tanya Riska lagi, beralih menatap suaminya.


Keenan hanya terkekeh sambil mengangkat bahunya, sebagai jawaban.


Riska mengikuti langkah suaminya ke dalam kamar, dia pun menyiapkan baju kerja untuk suaminya dan membantu suaminya bersiap, sekaligus dia pun bersiap setelahnya.


Keduanya keluar dengan pakaian yang sudah rapi, bersiap untuk pergi bekerja.

__ADS_1


"Sarapan dulu," ujar Ibu, setelah melihat Riska dan Keenan sudah keluar dari kamar.


"Rio mana, Bu?" tanya Keenan, melihat tak ada Rio di sana.


"Pasti tuh anak tidur lagi deh," ujar Riska dengan senyum miringnya, dia menggulung lengan bajunya dan beranjak menuju kamar adiknya.


"Eh, mau ke mana, sayang?" tanya Keenan.


"Tunggu sebentar, aku mau bangunin nyamuk dulu," jawab Riska, sambil terkekeh kecil.


"Hah?" Keenan mengernyit bingung.


"Biarkan saja, Nak Keenan. Riska mau bmembangunkan Rio," ujar Ibu menjelaskan.


Keenan pun mengalihkan tatapannya pada mertuanya, lalu menganggukkan kepala dan duduk lesehan di atas karpet.


Sementara itu, Riska masuk ke kamar adiknya yang sudah lama sekali tak ia sambangi.


Rasanya rindu sekali, berbicara dan bercanda dengan adik laki-lakinya itu di kamarnya.


Ya, semenjak dia menikah, dia bahkan tak pernah lagi masuk ke kamar adiknya, dan kini dia baru menyadarinya.


Dia tersenyum lebar saat melihat adiknya itu tertidur, masih dengan menggunakan baju koko dan sarung yang tadi di pakai ke mesjid.


Perlahan dia mendekati adiknya itu, lalu meraih gelas berisi air putih di atas meja belajar miliknya.


"Banjir ... banjir," ujarnya, tak terlalu kenjang, akan tetapi cukup jelas di telinga Rio.


"Hujan ... hujan, banjir!" Rio langsung terbangun sambil mengusap mukanya yang sedikit lembab karena cipratan air Riska.


"Hahaha!" tawa Riska langsung meledak, melihat adiknya terbangun dengan wajah panik.


Rio langsung menghentikan perktaannya, saat melihat Riska berada di depannya. Dia sudah tau kalau itu adalah ulah jahil kakaknya itu.


"Udah siang, kamu gak sekolah?" tanya Riska, sambil membuka gorden di jendela kamar adiknya.


"Hah, udah jam berapa ini?Kenapa kakak baru bangunin sekarang?" Rio langsung melompat bangun dari ranjang.


"Kakak, keluar dulu, aku mau ganti baju," ujarnya sambil mendorong Riska menuju ke pintu.


"Iya, iya ... ini aku juga mau keluar. Ngapain juga ngeliatin nyamuk ganti baju," ujar Riska, sambil keluar dari kamar adiknya.


Keenan yang melihat istrinya keluar sambil menggerutu, hanya bisa menggelengkan kepala. Sepertinya menggerutu itu memang sudah menjadi kebiasaan istrinya.


"Rio sudah bangun, Ris?" tanya Ibu, yang bau datang dari dapur sambil membawa nampan berisi air putih.


"Sudah, Bu. Sebentar lagi juga dia pasti datang," ujar Riska, sambil duduk di samping Keenan.


Benar saja, tak lama kemudian, Rio keluar dengan memakai pakaian sekolah lengkap.

__ADS_1


"Wah, sarapan apa nih kita?" tanyanya sambil duduk di samping ibu dan Keenan.


"Kakak bikin nasi goreng, terus ini katanya kakakmu mau makan sayur sop bikinan ibu," ujar Ibu sambil menaruh nasi goreng di piring milik Rio.


"Wah, enak nih kayaknya," ujar Rio yang langsung memulai makan. Rindu juga masakan sang kakak yang sudah lama tak ia cicipi.


"Abang, mau sarapan apa?" tanya Riska, mengacuhkan rio yang sibuk sendiri.


"Nasi goreng saja, sayang," jawab Keenan, sambil meraih segelas air putih lalu meminumnya.


Beberapa saat kemudian, Riska dan Keenan sudah siap untuk pergi bekerja, sedangkan Rio pun bersiap untuk pergi ke sekolah.


"Bu, aku pergi dulu ya," ujar Riska, sebelum mencium tangan Ibu dan berpelukan kilas.


"Heem. Jaga diri baik-baik ya, Ris. Ingat, jangan merepotkan suami, jaga kehormatanmu untuknya," ujar ibu yang langsung diangguki oleh Riska.


"Bu, aku pamit." Kini giliran Keenan yang berpamitan.


"Iya, Nak. Titip anak ibu, tolong jaga dia ya, Nak," ujar ibu.


"Pasti, Bu," angguk Keenan mantap.


Keenan terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk Riska, sebelum ia sendiri masuk ke dalam mobilnya.


"Belajar yang bener ya," ujar Riska dari dalam mobil, kepada adiknya yang juga sudah bersiap di atas motornya.


Rio hanya mengangguk sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


Rio melajukan motornya terlebih dulu, diikuti oleh mobil Keenan di belakangnya.


Keenan sempat membuka kaca mobilnya saat melewati warung ibu mertuanya, dia pun membunyikan klakson dan menganggukkan kepala, dengan senyum samar di bibirnya. Sekilas menyapa para tetangga yang terlihat berkumpul di sana.


"Eh, ngapain mereka pada ngumpul di sana?" tanya Riska sambil melihat para ibu-ibu kampung yang terlihat, sedang menatap kepergian mobil suaminya.


"Mungkin Lagi nunggu tukang sayur, atau mau belanja di warung ibu," jawab Keenan asal.


Sebenarnya sejak tadi dia sudah melihat keberadaan mereka yang sedang mencoba mencuri pandang, pada interaksi antara dirinya dan Riska, juga seluruh keluarganya.


Keenan hanya tersenyum sambil melirik ke arah kaca spion, melihat perkumpulan ibu-ibu rumpi itu.


Keenan dan Rio akhirnya berpisah jalan, saat sudah sampai di jalan raya. Di sana juga sudah ada beberapa motor yang merupakan teman Rio, menunggu kedatangan remaja itu.


...🌿...


Siapa nih yang punya adik atau kakak yang deket banget kayak Riska dan Rio 🤗


...🌿...


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2