
...Happy Reading...
...❤...
Di dalam kamar mandi, Riska baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Dia kemudian memakai handuk yang sudah tersedia di sana.
Matanya melebar, saat dia kemudian menyadari sesuatu yang janggal.
'Tunggu! Di mana baju ganti aku?' gumamnya dalam hati, saat tak mendapati baju ganti di sana.
"Astaga, kenapa aku bisa lupa bawa baju ganti, sih?" gerutu Riska, menepuk keninggnya sendiri.
"Aduh, bagaimana ini? Masa aku keluar dalam keadaan seperti ini?" ujarnya lagi, melihat seluruh tubuhnya yang hanya tertutup sebatas dada sampai tengah paha, oleh handuk berwarna putih yang ia lilitkan.
"Abang ada di kamar gak ya? Malu banget kalau sampai aku harus keluar seperti ini." Riska terus bergumam sambil berjalan bolak-balik di area kamar mandi.
"Semoga Abang gak ada di luar," ujarnya, sebelum mulai membuka pintu kamar mandi dengan perlahan.
"Ada apa, Ris? Kenapa kamu gak keluar?" tanya Keenan, sambil beranjak duduk di atas sofa.
'Astaga, kenapa dia bisa ada di sini sih?' guamam Riska dalam hati.
Wanita itu meringis saat mendapati suaminya ternyata berada di dalam kamar. Mau bicara jujur, dia merasa malu. Akan tetapi, kalau tidak bicara, dia juga tidak bisa keluar dari kamar mandi dengan keadaan seperti sekarang ini.
'Ya ampun, giamana ini? Riska, kenapa kamu bodoh banget sih?' runtuk Riska pada dirinya sendiri.
Keenan berjalan mendekat, hingga membuat Riska panik sendiri.
"Abang diam di sana, jangan mendekat!" ujar Riska cepat.
Keenan mengernyit mendapati wajah Riska yang seakan tidak baik-baik saja.
"Ada apa, Ris? Apa kamu sakit?" tanya Keenan yang kini menghentikan langkahnya di jarak sekitar dua meter dari pintu kamar mandi.
"Eumh, ini ... aku .. aku–" Riska tergagap saat menjawab pertanyaan Keenan, dia bingung harus berkata apa.
"Kamu kenapa, Ris? Bilang sama aku," desak Keenan tidak sabar.
Riska menjatuhkan pandangannya sebentar lalu melihat wajah suaminya kembali, dia tampak terdiam beberapa saat sebelum menjawab rasa penasaran suaminya.
"Aku ... aku lupa membawa baju ganti," ujar Riska lirih.
"Fffttth ... jadi kamu dari tadi di situ, karena itu?" tanya Keenan, sambil menahan tawanya yang hampir saja meledak.
Riska mencebik kesal, dia benar-benar malu sekarang, Akan tetapi, suaminya itu malah menertawakannya.
__ADS_1
"Senang, ya ... aku susah begini? bukannya dibantuin malah ketawa," gerutu Riska dengan mencebikkan bibirnya.
"Kamu ini ada-ada saja, Ris. Terus kenapa kalau kamu gak bawa baju ganti? Malu sama aku, hem?" tanya Keenan, sambil meneruskan langkahnya. Dia seakan sedang mendapat hiburan baru karena bisa menggoda Riska lagi.
"Stop! Stop, Abang! Berhenti di situ atau aku lempar nih!" teriak Riska panik, saat melihat seringai mencurigakan di wajah suaminya itu.
'Ya ampun, kenapa dia jadi nyeremin gini? Mukanya itu kayak lelaki brengsek di film-film' Riska bergidik ngeri melihat raut wajah Keenan saat ini.
"Kenapa? Bukannya aku sudah melihat semuanya? Jadi, kenapa kamu harus malu, hem?" ujar Keenan, dengan menaikkan salah satu alisnya.
Riska melebarkan matanya dia masuk kembali ke kamar mandi, hendak menutup puntu, demi menghindari suaminya yang terlihat begitu mencurigakan di matanya.
'Mau apa dia, mendekat kemari?' tanya Riska dengan tatapan mulai waspada, dia mndorong pintu agar segera tertutup.
Namun, ternyata semuanya sudah terlambat. Tangan Keenan sudah terlanjur menahan daun pintu, hingga Riska tak bisa menutupnya.
"Mau apa sih, Bang? Sana dulu!" ujar Riska dengan alis bertaut, menandakan ketidak nyamanan.
"Aku mau mandi, Ris. Masa aku mau tidur di kamar mandi," ujar Keenan yang kini sudah berdiri di depan Riska, mendorong daun pintu sedikit demi sedikit hingga akhirnya Riska kalah, dan kini pintu itu terbuka lebar.
Keenan terkekeh geli, saat melihat kedua tangan Riska menyilang di depan dada, seperti seorang gadis yang sedang ketakutan karena hendak ia renggut kesuciannya secara paksa.
"Kenapa, Ris? Aku ini suami kamu, aku juga sudah melihat semua yang terhalang oleh handuk itu," ujar Keenan, dia terus melangkah ke depan, mendesak tubuh Riska hingga kini telah menempel di tembok.
Riska terus memundurkan tubuhnya hingga punggung itu akhirnya terbentur tembok, menghalangi langkahnya untuk menjauh dari sang suami.
"Aku masih bisa mengingat semuanya," bisik Keenan dengan hembusan napas hangat, menyapu daun telinga istrinya itu.
Di dalam hati dia mengumpat kesal, saat aroma tubuh Riska, mampu membangkitkan gairah kelelakiannya, hingga sesuatu yang berada di bawah, kini telah bangkit tanpa bisa ia cegah.
'Sial!'
Niat hati ingin menggoda Riska, kini dirinya malah ikut terjebak dengan ulahnya sendiri.
Bulu kuduk Riska meremang, saat merasakan sapuan napas hangat di telinganya, tubuhnya menegang, hingga tak dapat lagi ia gerakkan.
Kedua tangan Keenan yang kini sudah mengungkungnya, membuatnya tak bisa melarikan diri. Hingga ia tak bisa menghindari situasi yang begitu intim di antara keduanya.
"Abang?" Riska memberanikan diri membuka suara dan mendongakkan sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah sang suami.
"Riska, aku menginginkanmu," jawab Keenan dengan suara yang sudah parau, menahan desakan gejolak percintaan di dalam dirinya.
Riska melebarkan matanya, saat tanpa permisi, Keenan telah menyatukan bibir keduanya, memberikan lumayan lembut dan membuai, membuat dirinya akhirnya memilih menutup mata, menikmati sensasi yang dibuat oleh suaminya itu.
Tangan Keenan kini beralih pada pinggang dan tengkuk Riska, menahan tubuh istrinya agar dia bisa lelausa memperdalam ciumannya.
Semakin lama, Riska yang masih belum bisa mengikuti ritme permainan Keenan, kini semakin kewalahan menghadapi permainan bibir suaminya yang semakin cepat dan menuntut balasan.
__ADS_1
Tangannya menepuk dada Keenan, saat ia merasakan napasnya sudah semakin menipis. Suaminya itu pun kini melepaskan tautan bibir mereka, dia beralih menyusuri leher, memberikan beberapa tanda di sana hingga ke tulang selangka.
Riska sudah tak bisa lagi menolak, godaan Keenan yang terus merayu tubuhnya, membuat darahnya terasa berdesir dengan sensasi nikmat luar biasa.
Menggigit bibir bawahnya untuk meredam suara tanda kenikmatan yang terasa tak bisa lagi ia tahan, ketika tangan Keenan kini bermain di area-area sensitif miliknya.
Keenan tersenyum, saat tak mendapatkan penolakan dari istrinya, dia meneruskan permainannya dengan terus aktif bergerak memberikan rayuan pada tubuh istrinya.
"Bang," Riska menahan lengan Keenan, saat akan membuka handuk yang melilit tubuhnya.
Keenan yang tak habis akal, kini mulai membekap mulut istrinya lagi dengan bibirnya, hingga Riska tak dapat berkata.
Tangannya perlahan membuka selipan ujung handuk di antara dua gundukan gunung kenikmatan milik Riska. Tanpa Riska sadari kini handuk itu sudah terjatuh ke lantai, sehingga menampilkan keseluruhan tubuhnya yang gak terbalut apa pun.
Keenan merem*s lembut dua gundukan yang berada di dada Riska, hingga suara itu akhirnya kelaur di sela permainan bibirnya.
Tanpa melepaskan pangutan bibir keduanya, tangan Keenan kini beralih pada bagian belakang istrinya yang terasa halus dan kenyal, merem*as sedikit kuat di sana sebelum mengangkatnya.
"Hk." Riska tersentak kaget, saat Keenan meremas bok*ngnya, hingga tanpa sadar dia mencengkram lengan suaminya itu.
Grep.
Keenan kini menggendong Riska bagaikan anak koala, dengan kedua kaki istrinya melingkar di pinggangnya.
Berjalan menuju ke arah ranjang, tanpa menghentikan setiap rayuan yang ia berikan pada istrinya. Dia bahkan dengan bebas memberikan tanda di sekitar gunung kembar itu.
Riska yang sudah sangat terbakar oleh setiap rayuan Keenan, tanpa sadar meremas rambut bagian belakang suaminya, dia kini ikut mendamba dan mengharapkan Keenan segera melanjutkan pada kegiatan berikutnya.
Keenan menjatuhkan tubuh keduanya pada ranjang empuk itu, gerakannya semakin tak terkontrol hingga Riska sudah kewalahan menghadapi suaminya itu.
"Aku menginginkanmu, Riska," ujar Keenan lagi, memastikan kesediaan istrinya.
Riska yang sudah diliputi kabut asmara, kini hanya bisa mengangguk, dia pun tak bisa memungkiri keinginannya untuk menuntaskan rasa haus dan panas di dalam tubuhnya.
Keenan menghentikan kegiatannya sejenak, untuk membuka pakaian yang masih menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Akhirnya pagi itu mereka lewatkan dengan adegan panas percintaan di atas ranjang. Suara kenikmatan itu terus terdengar, bercampur dengan hawa panas dan keringat yang mengucur, berlomba untuk saling memuaskan hingga berakhir ketika mereka sudah mencapai puncak kepuasan bersama.
Benih cinta pun kini bersemayam di dalam rahim Riska untuk yang kedua kalinya.
...🌿...
...Panas gak nih? 🤭...
...Komen👍...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...