Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.279 Menghapus bekas sentuhan


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Ada apa, Vin?" tanya Keenan, saat baru saja ke luar dari kamar rawat istrinya.


Alvin yang tengah sedikit melemun, terkejut dengan suara Keenan, refleks dia langsung mengangkat kepalanya cepat.


"Ekhem ... begini, Pak. Maafkan kecerobohan saya," ujar Alvin, merasa canggung atas kejadian yang baru saja terjadi. Dia pun berdiri di depan Keenan.


Keenan mengangguk, "Sudahlah tidak apa. Ada apa lagi? Aku yakin kamu ke sini, tidak hanya untuk menggangguku di pagi-pagi begini kan."


Saya tidak berniat mengganggu, Pak. Itu semua kecelakaan, batin Alvin menjawab sendirian bosnya itu.


"Tentu tidak, pak. Kemarin malam Pak Aryo menghubungi saya, dia meminta bertemu dengan, Bapak dan Bu Riska," ujar Alvin lagi.


Wajah Keenan langsung berubah, begitu mendengar nama Aryo di sebut. Alvin memang belum mengetahui kejadian malam tadi, karena sejak siang Ezra menyuruhnya pulang, untuk beristirahat.


"Untuk apa lagi dia ingin menemui aku, setelah apa yang dilakukan oleh istrinya?!" tanya Keenan dengan napas yang memburu.


Alvin cukup terkejut dengan reaksi Keenan, dia pun mengernyit bingung, lalu menggeleng samar.


"Mungkin ingin meminta maaf," jawab Alvin sekenanya.


Keenan kini menatap asisten pribadi kakaknya itu, dengan tatapan tajam. "Setelah apa yang istrinya lakukan, pada istriku. Dia masih ingin meminta maaf? Tidak tau malu!"


Emosi Keenan yang masih tinggi, saat mengingat percakapan Ayu dan Riska tadi malam, membuat dia begitu membenci keluarga Aryo. Walaupun sebenarnya laki-laki itu tidak tahu apa-apa, dengan masalah ini.


"Walaupun begitu, bukankah dia tidak berhubungan dengan kasus istrinya, Pak?" tanya Alvin.


Keenan kembali melirik kembali wajah ALvin, menghembuskan napas kasar sambil mengangguk samar, menyetujui perkataan asisten kakaknya itu.


"Ya, kamu memang benar. Dia mungkin tidak terlibat langsung dengan kejadian ini. Tapi, karena dia tidak bisa menjaga istrinya dengan baik, wanita itu bisa melakukan semua ini kepada Riska."


"Dia bahkan tidak bisa mengontrol dan mengetahui uang yang dikeluarkan oleh istrinya, hingga dengan bebas wanita itu membayar orang-orang untuk mencelakai Riska," geram Keenan, menjelaskan tentang Aryo di matanya.


Benar juga ya, batin Alvin.


Alvin mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui perkataan Keenan. Dia sama sekali tidak berfikir sampai ke sana sebelumnya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya akan menolak permintaan Pak Aryo," putus Alvin, setelah menyimpulkan perkataan adik bosnya itu.


Keenan mengernyit, dia menggeleng samar kemudian, "Tidak, aku ingin bertemu dengannya. Tapi, undur sampai semua hasil pemeriksaan istriku keluar. Aku mau tau, apa yang ingin dia katakan padaku, setelah tau keburukan istrinya itu."


Alvin pun mengangguk menyetujui perkataan Keenan, setelah semua pembahasan selesai, dia akhirnya memilih untuk pamit, dan kembali ke kantor.


.


.


Riska beranjak ke kamar mandi, setelah melihat pintu tertutup rapat. Rasa tidak nyaman di perutnya mengganggu paginya hari itu.


Dia berdiri di depan wastafel, dengan wajah yang basah, juga napas terengah. Perlahan tangannya mengusap bibir yang terasa pahit.


Dia kemudian memilih untuk langsung membersihkan diri, setelah merasakan tidak ada lagi gejolak di dalam perutnya.


Berdiri di bawah shower, Riska mulai menguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin, dia menggosok setiap kulit yang pernah di sentuh oleh Toni berulang kali.


Perban yang membalut lukanya pun dia lepaskan, saat ini Riska ingin menghilangkan semua memori tentang laki-laki itu, dia tidak mau ada yang terlewat walau itu hanya satu titik kecil.


Akan aku hapus semua bekas sentuhan menjijikan itu! batin Riska, menjerit menahan rasa sakit di dalam hati, ketika mengingat semua perlakuan Toni padanya.


Suara ketukkan di pintu mengalihkan perhatian wanita itu, dari aktivitas yang sedang dia kerjakan.


Dia menoleh cepat, dengan rasa takut yang masih ada, bahkan jantungnya langsung berdegup begitu cepat, saat mendengar suara ketukkan pintu, tanpa ada suaminya di sisi.


"Sayang!"


Riska langsung menghembuskan napas lega, begitu mendengar jelas suara suaminya di balik pintu.


"Iya, Bang!" jawabnya, dengan tangan berada di dada, meredam degup jantung yang masih tidak terkendali.


"Kamu di dalam, boleh aku masuk?" tanya Keenan, dia sangat khawatir begitu melihat istrinya tidak ada di kamar.


"Eh, tidak usah, Bang. Sebentar lagi aku juga selesai," cegah Riska, sambil menyelesaikan aktivitas mandinya, lalu menyambar jubah mandi di gantungan, dan memakinya.


"Tapi, aku khawatir sama kamu! Aku masuk ya," ujar Keenan, mulai mendorong pintu kamar mandi itu.


Riska berdiri di depan pintu dengan wajah yang terlihat segar, dengan senyum merekah di bibirnya.

__ADS_1


Namum, ternyata semua itu tidak membuat Keenan menjadi lebih tenang, dia malah merasakan perih di dalam hatinya, mengingat sang istri masih terus berusaha menyembunyikan rasa sakit itu padanya.


Matanya melebar, begitu melihat Riska mandi, dan semua perban di tangan juga kakinya terlepas, juga luka yang tekrena air, bahkan tampak memerah kembali.


"Astaga, sayang! Kenapa kamu mandi, bukankah dokter belum mengizinkan lukanya terkena air?" ujar Keenan sambil merengkuh tubuh istrinya dan menggendongnya menuju brankar.


"A–aku ... aku merasa tidak dan lengket. Maaf," lirih Riska, dengan wajah yang menunduk dalam.


Keenan menatap nanar istrinya, dia kemudian merengkuh tubuh Riska dengan perasaan yang tidak menentu di dalam hatinya.


"Aku suami kamu, sayang. Aku ada di sini, dan akan selalu ada di sini, berusaha menjaga dengan segenap rasa cinta di hatiku untumu, sayang," ujar Keenan, sambil mengecup puncak kepala Riska yang masih terasa basah dan dingin.


Hatinya terasa perih, mengingat istrinya yang masih belum bisa membagi rasa sakitnya pada dirinya. Walau begitu, dia juga tidak bisa memaksa Riska untuk berbicara terbuka padanya.


Maka dari itu, dia berusaha untuk terus meyakinkan istrinya tentang keberadaannya dan rasa cintanya, Keenan berharap, dengan begitu Riska perlahan akan membuka diri kembali padanya.


Apalagi saat ini, alam bawah sadar Riska sedang sangat tergantung padanya, istrinya itu hanya merasa nyaman saat berada di dekatnya.


"Maaf," lirih Riska, dia seakan ikut merasakan rasa sakit juga kecewa di dalam hati suaminya.


"Aku hanya ingin menghilangkan bekas tangannya, aku tidak mau terus berada di dalam bayang-bayang kejadian itu." Riska menyusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Seklera mata Keenan berubah berwarna merah, mendengar perkataan istrinya. Amarah dan rasa penuh penyesalan sebagai seorang suami, kini mulai merambat memenuhi hatinya.


"Maafkan aku, sayang. Sebagai seorang suami, aku sudah gagal menjaga kamu," lirih Keenan.


Rsika menggelengkan kepalanya, dia mengurai pelukan keduanya lalu menatap wajah Keenan.


"Tidak, ini semua bukan salah, Abang. Ini semua salah laki-laki itu, dia manusia gila yang tidak memiliki otak," ujar Riska dengan mata yang berkaca-kaca.


Keenan tersenyum samar, dia menangkup wajah istrinya lu mengangguk, menyetujui perkataan Riska.


"Iya, ini memang kesalahnnya. Kamu harus memberikannya hukuman yang bisa membuatnya, tidak ingin lagi melakukan itu pada wanita lainnya," ujar Keenan, memberi semangat pada istrinya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2