
...Happy Reading...
...❤...
"Riska?" Keenan sempat terdiam beberapa saat, dengan keterkejutannya. Anak tetapi, kemudian dia berjalan cepat menghampiri Riska dan memeluknya erat, ciuman bertubi-tubi ia dapatkan di puncak kepala istrinya itu.
Ternyata pikirannya beberapa saat yang lalu, tidaklah terbukti. Semua itu terpatahkan begitu saja, ketika dia melihat istrinya itu berdiri si depannya.
"Kamu ke mana saja, Ris? Aku khawatir banget sama kamu," ujar Keenan, masih dengan tangan memeluk erat tubuh Riska.
"Abang, udah makan? Kita makan dulu, yuk." Riska mengurai pelukan suaminya, dia masih tersenyum mengambil tangan Keenan untuk ia cium lalu membawa Keenan ke dalam ruang makan.
"Kamu, masak?" tanya Keenan, saat melihat ada hidangan di atas meja makan.
Riska mengangguk, dia kemudian mengambil piring di depan Keenan dan mengisinya dengan menu makan malam kali ini. Tak ada yang spesial, hanya nasi dengan lauk capcay udang dan ayam goreng lengkuas.
Keenan meminum air putih terlebih dahulu sebelum mulai memakan masakan Riska yang selama satu bulan ini telah menjadi makanan favoritnya.
Riska pun ikut makan, walau terlihat sangat tidak berselera. Keenan yang sejak tadi memperhatikan istrinya tampak bertanya dalam hati.
Makan malam selesai, Riska beranjak untuk membereskan meja makan, dan mencuci piring bekas makan mereka berdua.
"Biar aku saja yang mencuci, kamu bereskan saja itu," ujar Keenan, mengambil piring yang mau di cuci oleh Riska.
Riska tak menolak, dia pun beralih mengambil lap bersih dan berjalan menuju meja makan, tanpa kata yang terlontar dari mulutnya.
Keenan semakin bingung dengan suasana canggung yang tiba-tiba saja tercipta diantara mereka berdua. Melihat Riska yang biasanya cerewet kini tampak memilih diam, Keenan mulai mengerti kalau Riska sedang tidak baik-baik saja.
Riska yang menunggu Keenan, untuk menjelaskan kejadian tadi sore juga hubungannya dengan perempuan bernama Luna itu.
Sementara Keenan, yang masih bingung dengan sikap Riska yang tiba-tiba saja berubah.
Setelah lebih dari satu jam mereka masih saling terdiam, dengan pikirannya masing-masing. Kini keduanya sudah bersiap untuk tidur.
"Ris, sebenarnya ada apa ini? Kenapa kamu diam seperti ini?" tanya Keenan, akhirnya dia tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
Riska masih terdiam, dia merem*s selimut yang kini sudah menutup sebagian tubuh bagian bawahnya, menghembuskan napas kasar sebelum mulai membuka suara.
'Ayo, Ris. Kamu harus kuat untuk berbicara baik-baik pada suami kamu. Bukannya sekarang dia sudah bertanya? Ini kesempatan untuk kamu membahas tentang perempuan itu'
__ADS_1
Riska bergumam dalam hati, menguatkan dirinya untuk berucap dan bersikap biasa saja di depan Keenan, juga menyembunyikan rasa sesak dan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk.
Perlahan tangannya membuka laci di samping tempat tidurnya, mengambil sebuah foto yang tersimpan di atas sebuah buku.
"Maaf, Bang. Aku menemukan ini di ruang kerja, Abang," ujar Riska menaruh selembar foto di pangkuan suaminya.
Keenan melebarkan matanya, saat melihat foto kenangan dirinya bersama Luna ada di tangan Riska.
"Sejak kapan foto ini kamu temukan, Ris?" tanya Keenan.
"Beberapa hari yang lalu, tepatnya ketika Abang tertidur di ruang kerja," jawab Riska.
Keenan menegakkan tubuhnya, dia ingat malam itu dia tertidur sambil memegang foto Luna, dan sejak saat itu, dia tidak pernah lagi melihatnya.
"Ka–kamu sudah tau foto ini sejak saat itu? Lalu kenapa kamu gak nanya sama aku, Ris?" tanya Keenan lagi.
"Aku sudah bertanya alasan Abang tidur di ruang kerja, tapi, Abang, bohong. Lalu untuk apa aku bertanya lebih lanjut, kalau itu hanya akan menambah kebohongan, Abang, saja?" ujar Riska.
Keenan terdiam.
'Jadi waktu itu Riska juga tahu kalau aku berbohong dan dia masih mau merawatku?' gumam hati Keenan.
Rasa bersalah kini semakin mendesak hatinya, atas semua yang selama ini dia lakukan.
Riska hanya diam, dia tak berniat untuk menjawab atau menanggapi perkataan Keenan lagi. Saat ini, dia hanya ingin mendengarkan, dari pada didengarkan. Menemukan titik terang untuk mengambil keputusan hingga akhirnya dia tau apa langkah yang harus ia ambil kedepannya.
Melihat Riska yang diam, Keenan menghirup napas panjang lalu mengeluarkannya, sebelum memulai bercerita tentang masa lalunya.
"Dia adalah mantan pacar aku sewaktu masih SMA. Dua tahun kami menjalin hubungan dekat dan saling menyemangati dalam menempuh pendidikan. Hingga akhirnya dia meninggalkanku setelah acara kelulusan." Keenan menjeda sebentar perkataannya.
Ada rasa sakit dan perih di dalam hati, saat mendengar Keenan bercerita.
"Dia menghilang begitu saja, tanpa pamit dan tanpa kabar. Aku sudah berusaha mencarinya kemanapun, tapi, hasilnya selaku nihil. Dia bagaikan menghilang ditelan bumi ... tak ada yang tau dia ke mana, tidak ada yang tau juga alasan dia pergi, semuanya penuh dengan misteri."
Riska menatap wajah suaminya itu dengan rasa sakit yang kian menusuk, mendengar kenyataan bahwa itu memang benar, dia adalah penghalang kebahagiaan Keenan.
"Hingga beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan Alana karena sebuah kejadian kecelakaan. Pertemuan itu, kembali membangkitkan rasa penasaran dan sakit hatiku, yang bahkan belum pernah kering, setelah dia meninggalkanku dulu."
Riska tersenyum getir, saat mendapati suaminya itu masih mengingat dan memperjuangkan perempuan yang bahkan sudah meninggalkannya bertahun-tahun yang lalu.
Video kecelakaan itu, beredar luas hingga saat itu dia juga bisa melihatnya dengan jelas, reaksi Keenan, saat menolong perempuan di sana.
__ADS_1
"Aku berniat meminta penjelasan padanya, hingga akhirnya aku menemukan kenyataan yang begitu memukul egoku sebagai seorang laki-laki."
Riska ingin sekali memaki lelaki itu saat ini juga, melampiaskan semua rasa yang semakin menyakitkan. Setiap kata yang terlontar dari mulut Keenan, bagikan sebuah anak panah yang menancap di dalam hatinya.
"Aku kembali terpuruk, terjatuh dalam rasa sakit yang sama, bahkan mungkin lebih menyakitkan dibandingkan saat dia meninggalkan aku, dulu."
Riska semakin merasa bersalah, dia menyalahkan dirinya sendiri untuk rasa sakit Keenan. Dia menganggap kalau Keenan terpuruk karena sekarang ada dia sebagai istrinya, yang akan menghalangi kisah cinta suaminya itu dengan gadis masa lalunya.
Riska menjatuhkan kepalanya, dengan bulir bening yang sudah jatuh tak tertahankan. Rasa sesak itu semakin mendesak hingga ia tak bisa menyembunyikan sakit itu lagi.
"Maaf," lirih Riska, menangkup wajahnya dengan pundak yang mulai bergetar.
"Maafkan aku, Bang," lirih Riska lagi di sela isak tangisnya.
Melihat wajah Keenan yang terlihat begitu tersiksa saat menceritakan perempuan itu, sudah cukup membuatnya tahu, kalau Keenan masih sangat mencintai perempuan itu.
"Riska? Hey, sayang ... kenapa meminta maaf? Bukan kamu yang salah, aku yang salah di sini. Aku yang tak pernah bisa jujur dengan perasaanku sendiri. Maaf, Ris ... maaf."
Keenan memegang pundak bergetar istrinya, dia mengangkat wajah Riska agar bisa menatap matanya. Riska bergeming, dia menahan dorongan tangan Keenan di bawah dagunya, mempertahankan posisi menunduk.
"Lihat aku, Ris," ujar Keenan, dengan perkataan halus.
Perlahan Riska mengikuti gerak tangan Keenan, dia menatap mata hitam suaminya, dengan seklera yang merah, menahan segala penyesalan di dalam dirinya.
Keenan menangkup wajah itu, ibu jarinya mengusap pipi halus Riska, menghapus air mata yang jatuh dan membasahi kulit.
"Maafkan aku, Ris. Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku gak bisa hidup tanpa kamu, Ris," ujar Keenan dengan mata bertaut dalam.
Riska mengernyit, mendengar perkataan Keenan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"M–maksud, Abang?" tanya Riska, dengan suara yang terdengar sedikit parau, karena terlalu banyak menangis.
Keenan membawa tubuh Riska ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajah penuh air mata itu pada dada bidangnya. Memperdengarkan detak jantung yang tengah bertalu dengan sangat kencang.
"Aku mencintaimu, Riska. Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku, aku mohon," ujar Keenan, memejamkan mata.
...🌿...
...Hah! Akhirnya, Keenan bisa juga ngungkapin cinta buat Riska. Gimana reaksi Riska ya🤔...
...Komen👍...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...