Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.133 Mengenang


__ADS_3

 



...Happy Reading...


...❤...


Bayangan keduanya berkelana di saat mereka baru pertama kali bertemu.


flash back.


“Hai, boleh aku ikut duduk di sini?” Seorang gadis terlihat berdiri di depan meja Ayu, dengan semangkuk baso dan es jeruk di kedua tangannya.


Ayu mengedarkan pandangannya pada seluruh kantin kampus itu, tak ada lagi yang kosong. Dia menganggukkan kepala, sambil tersenyum ramah. “Silakan.”


Gadis itu terlihat tersenyum senang. “Terima kasih,” ucapnya, dia langsung menaruh mangkuk baso dan gelas es jeruknya di atas meja, lalu duduk di depan Ayu.


“Aku Mala,” sambungnya lagi sambil mengulurkan tangan ke hadapan Ayu.


Ayu tersenyum, lalu menyambut tangan Mala. “Ayu,” jawabnya.


Kedua gadis yang masih dalam tahap awal perkuliahan itu langsung berbicara dengan begitu akrab, hingga akhirnya memutuskan untuk berteman.


Flash back off


Tangan Ayu terulur mengusap lengan kurus itu dengan sangat halus, senyumnya tak pernah hilang dari wajah yang perlahan terlihat sendu.


“Mala, bagaimana kabarmu?” lirih Ayu, dia merasakan genggaman tangan itu semakin erat.


“Maaf.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Mala. Menundukkan kepala dalam, merasa malu dengan apa yang sudah ia lakukan pada wanita di depannya saat ini.


Air matanya terus berderai, rasa penyesalan kini terasa begitu dalam, hingga tak bisa ia tahan.


Ayu melepaskan tangan yang digenggam oleh Ezra, dia beralih mengambil kedua tangan Mala, mencondongkan tubuhnya menatap lekat wajah yang menunduk di depannya.


“Aku sudah memaafkanmu, jangan pikirkan itu lagi ya,” lirihnya, dia mengalihkan satu tangannya untuk mengusap pipi yang terasa kurus dan pucat itu.


Mala mengangkat kepalanya, menatap wajah Ayu yang begitu tenang dan tersenyum lembut padanya, itu terasa begitu tulus tanpa adanya kebencian. Semua itu membuat rasa bersalahnya semakin menjadi, membuat air matanya semakin deras mengalir.

__ADS_1


Kenapa dulu dirinya begitu tega menyakiti orang seperti Ayu, jahat sekali dia, hingga bisa melakukan pengkhianatan yang begitu kejam kepada sahabat sebaik Ayu.


“Maaf,” lagi, Mala hanya bisa mengatakan itu.


Ayu beranjak dari tempat duduk, dia memeluk tubuh bergetar itu. “Sudah, jangan katakan lagi. Sekarang kamu fokus pada kesehatan kamu ya ... aku sudah memaafkanmu sejak lama, jangan pikirkan itu lagi, hem.” Ayu berucap sambil memeluk hangat tubuh ringkih itu, mengusap pelan punggung Mala yang terasa keras karena tulang yang menonjol.


“Terima kasih,” lirih Mala, di sela isak tangisnya.


Hati Ayu terenyuh merasakan tubuh yang kini begitu kurus, entah sejak kapan Mala mengalami semua ini, hingga kini tubuhnya berubah begitu banyak.


“Hem,” Ayu bergumam sebagai jawaban. Mengurai pelukannya, kemudian mengusap lembut pundak Mala, dengan senyum semangat di wajahnya.


Mala ikut tersenyum, walau di wajah masih penuh dengan air mata, mengangguk samar, sebagai tanda kalau dia akan mendengarkan perkataan Ayu saat ini.


Tami yang melihat ketulusan Ayu pada sang anak, ikut meneteskan air matanya, dia tak pernah menyangka akan semudah ini mendapatkan maaf dari mantan sahabat anaknya itu.


Namun, semua yang sekarang ia lihat menghancurkan pemikirannya buruknya tentang Ayu, bagaimana mungkin seorang istri yang telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri, hingga mengakibatkan keluarganya berantakan, bisa memaafkan begitu saja, tanpa ada drama dendam atau melepaskan amarah terlebih dahulu.


Mungkin, bila semua itu terjadi padanya, dia tidak akan pernah memaafkan orang itu, bahkan bersyukur dengan apa yang sekarang dialami oleh Mala. Akan tetapi, itu tidak dia lihat dari Ayu saat ini.


Wanita itu begitu tulus, memaafkan Mala dan merangkulnya juga memberikan semangat dengan begitu mudah.


Begitupun dengan Hendra, dia sangat takjub melihat ketulusan hati seorang Ayu, di depan matanya sendiri. Begitu beruntung Ezra mendapatkan seorang wanita seperti Ayu, mereka memang terlihat begitu cocok. Ayu yang lembut dan memiliki hati tulus, dengan Ezra yang tangguh dan berlimpah kekuasaan, hingga kuat untuk melawan segala duri yang ingin melukai istrinya.


Dia sekarang sadar, jika selama ini Ayu dibentengi oleh seorang yang sangat berpengaruh di belakangnya, pantas saja karier Mala dan juga Radit bisa langsung hancur dan tak bisa bangkit lagi, dia tahu kini, jika semua itu pasti ulah dari seorang Ezra, yang terkenal kejam di dunia bisnis.


Untung saja itu tidak berpengaruh pada bisnisnya, hingga sekarang mereka masih hidup dengan baik, tanpa kekurangan, dia bersyukur untuk semua itu.


Ezra menatap kagum dan penuh cinta istrinya, dia selalu dibuat bangga dengan semua yang dilakukan oleh Ayu. Sebagai suami dia begitu bersyukur karena telah mendapatkan Ayu sebagai wanita yang menyempurnakan kehidupannya. Tanpa sadar dia pun  banyak belajar ketulusan dari istrinya.


“Aku mau berterima kasih, padamu,” ujar Ayu, melirik sekilas pada suaminya.


Mala mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang dilontarkan Ayu padanya.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Mala. Kini air matanya telah berhenti, hingga ia bisa melihat wajah mantan sahabatnya itu dengan jelas.


“Terima kasih karena sudah memberikan semua itu. Aku bisa membuka mata dengan semua yang terjadi di sekitarku, menemukan keluarga kandungku, dan bersama dengan Mas Ezra.” Ayu berkata sambil menelaah jauh mengingat setiap kejadian yang ia lalui semenjak pengkhianatan Mala dan Radit terungkap.


Ezra meletakan kedua tangannya di atas bahu Ayu, mengusapnya pelan, dia tak pernah menyangka kalau Ayu akan berkata seperti itu.

__ADS_1


Ah, kenapa istrinya terlihat semakin manis, dan penuh kejutan seperti ini. Dia mengangguk samar dengan senyum kaku saat melihat Mala melirik padanya.


“Perkenalkan, saya Ezra. Suami Ayu,” ujar Ezra dengan nada datarnya.


Mala mengangguk, dia tersenyum canggung menatap lelaki yang kini menjadi suami dari Ayu. Saking fokus pada Ayu, dia tak menyadari kehadiran orang lain di sana.


Sesuai perjanjian tadi malam, Ayu tidak bisa lama berada di ruangan Mala, dia pamit setelah berada di sana lebih dari tiga puluh menit. Kini keduanya tengah berada di perjalanan menuju kantor Ezra. Ayu yang menolak untuk diantar pulang terlebih dahulu, lebih memilih ikut suaminya ke kantor.


Duduk menyandar di kursi penumpang, Ayu teringat kembali saat dia berbincang dengan Tami di depan ruang perawatan Mala.


Flash back


“Semenjak Mala dan Radit berpisah, dia menjadi semakin tak terkendali, apa lagi dengan banyaknya kontrak yang dibatalkan secara tiba-tiba, itu membuatnya semakin terpuruk dan akhirnya memilih jalan lain untuk mempertahankan karier yang sudah terlanjur jatuh itu.”


“Dia merayu setiap orang yang bisa membantu menaikkan lagi karier modelingnya, hingga tanpa sadar dia dimanfaatkan oleh para lelaki hidung belang itu untuk memenuhi na*su birahinya.”


“Kami tidak bisa berbuat apa pun, kamu sendiri tahu bagaimana dia beranggapan kepada kami selama ini. Dia bahkan lebih mendengarkan perkataanmu dari pada kami, orang tuanya sendiri.”


Tami bercerita dengan penuh sesal, dia sadar kalau semua yang terjadi kepada Mala adalah akibat dari kesalahan mereka sebagai orang tua.


Selama ini dia dan suaminya hanya tahu mencari uang untuk memanjakan anaknya, tanpa tahu kalau Mala juga membutuhkan kasih sayang dari keduanya, mereka buta oleh kekuasaan hingga rela mengacuhkan anak kandungnya sendiri.


“Beberapa bulan lalu, kami mendapati Mala tergeletak tak sadarkan diri di kamarnya karena pendarahan hebat. Saat kami membawanya ke rumah sakit, ternyata dia mengalami keguguran dan di sana juga kami mengetahui kalau dia mengidap penyakit itu.”


Tubuh wanita paruh baya itu bergetar menahan tangis, sambil terus bercerita. Ayu mengusap pelan punggung Tami, berusaha memberikan kekuatan.


“Sejak saat itu tubuhnya langsung drop, dia semakin kurus dan tak memiliki semangat hidup. Kami akhirnya memutuskan untuk lebih memperhatikan Mala, dan mengurangi jadwal pekerjaan kami. Aku tidak mau kehilangan anakku.”


Tangis wanita paruh baya itu pecah sudah. Ayu mendekapnya erat, dalam hati dia pun merasa perih mendengar semua cerita Tami.


Ya, selama ini memang Mala tidak terlalu dekat dengan orang tuanya. Dia bahkan sering menginap di rumahnya ketika mereka masih berkuliah bersama.


Flash back off


...🌿...


Selamat datang bulan April🎉 Selamat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan bagi yang melaksanakan🎉 Mohon maaf lahir batin 🙏🥰❤


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2