
...Happy Reading...
...❤...
Malam itu, Ayu sama sekali tidak bisa tidur. Pikirannya terus berkelana pada setiap masalah yang ada, di tambah ungkapan cinta Ezra tadi sore.
Semua itu membuat dirinya tak dapat terlelap, walaupun matanya sudah terpejam.
Duduk di kursi yang menghadap jendela, menikmati udara malam yang terasa dingin menerpa tubuhnya.
Tangannya memegang cincin yang Ezra berikan, entah apa yang wanita itu pikirkan. Tatapannya terlihat rumit, tak dapat di tebak.
Mengehela napas kasar, lalu beranjak menuju kamar mandi karena sebentar lagi waktu subuh tiba.
"Bi, lagi bikin apa?" tanya Ayu, saat melihat Bi Yati sedang memasak sesuatu di dapur.
Setelah menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah.
"Eh, Neng Ayu. Ini ... Bibi lagi masak sup ayam kampung buat sarapan," jawab Bi Yati, menatap majikannya yang tampak lesu.
Ternyata benar yang di katakan Ezra malam tadi, kalau pagi ini Ayu pasti kurang enak badan.
Ya, semalam lelaki itu menghubungi Bi Yati , memberikan perintah untuk tidak mengganggu Ayu, dan menyiapkan sarapan menggunakan sup ayam kampung dengan bumbu rempah.
Bi Yati sudah terbiasa mendapatkan perintah dari majikan lamanya itu, mengenai perhatiannya terhadap Ayu.
Dari awal dirinya di perintahkan untuk pindah kerja ke rumah milik wanita itu, dia dan suaminya sudah mengetahui perhatian berlebihan Ezra kepada Ayu. Pasangan suami istri itu sudah menyangka kalau Ezra mempunyai perasaan kepada Ayu.
"Neng kenapa, kok kayaknya kurang enak badan?" tanya Bi Yati, menautkan alisnya.
"Enggak, cuman kurang tidur aja." Ayu menghirup bau sayur yang terasa hangat.
"Ini sup rempah ya Bi?" tanya wanita itu.
"Iya, kok Neng tau?"
"Dulu waktu ibu masih ada, dia sering masak sup rempah kalau aku lagi gak enak badan."
Bi Yati dapat melihat dengan jelas, perubahan raut wajah wanita muda itu.
Ingatan Ayu kembali pada saat dirinya selalu di rawat dengan penuh cinta oleh sang ibu.
Flash back
"Ndi, makan dulu ya. Ibu udah masak sup rempah."
Gadis remaja itu tersenyum menatap wajah teduh milik seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuknya.
Saat itu dirinya tengah demam tinggi dan pilek, setelah beberapa hari kemarin kehujanan saat pulang sekolah.
Sakit, yang sebagian orang tua menganggapnya biasa di alami oleh anak-anak sampai remaja usia sekolah sepertinya.
Namun, itu semua tidak untuk Puspa. Wanita single mom itu selalu khawatir ketika anaknya sakit walau itu sekedar flu ringan sekalipun.
Maka dari itu, ketika Ayu sakit Puspa selalu mengambil cuti. Dia hanya ingin fokus mengurus dan memberikan perhatian lebih kepada anaknya itu.
Kejadian sewaktu Ayu mencoba bunuh diri, ternyata cukup membuatnya takut kehilangan anak dan keluarga satu-satunya.
Gadis remaja itu beranjak duduk di ujung tempat tidur, bersiap menerima suapan dari ibunya.
Dengan telaten Puspa menyuapi anaknya, sambil sesekali bercanda hingga terdengar tawa kecil dari Ayu.
Flash back off
__ADS_1
"Neng?"
Suara Bi Yati yang sedikit meninggi menyadarkan wanita itu dari lamunan singkatnya.
"Iya, Bi?" Ayu mengerinyitakan keningnya, melihat asisten rumah tangganya itu dengan penuh tanya.
"Maaf, Neng ... dari tadi Bibi panggilin gak denger," wanita paruh baya itu tampak kikuk, merasa bersalah karena meninggikan suara pada majikannya.
Ayu tersenyum hangat, karena baru menyadari kalau dirinya melamun.
"Eh, gak papa Bi. Aku sedikit melamun tadi," menundukan kepala dengan senyum geli.
Pagi itu Ayu sarapan bersama dengan Bi Yati, sedangkan Mang Ujang menolak dengan alasan masih kenyang setelah minum kopi.
Pukul sepuluh pagi, wanita itu baru saja sampai di parkiran Clarissa boutique, setelah seminggu lebih dia tidak datang ke sana.
"Mba Ayu. Lama banget Mba gak ke sini, kita semua kangen tau sama Mba!" cerocos Riska saat bosnya itu baru saja masuk ke dalam butik.
Semua karyawannya berkerubung menyambut kedatangan wanita itu.
"Aku juga kangen sama kalian semua. Bagaimana kabar kalian?" Ayu memeluk satu per satu dari pegawainya.
"Riska tolong ambilkan bingkisan di mobil ya, bagikan untuk kalian semua. Maaf aku gak bawa apa-apa."
Ayu berucap sebelum pamit pergi menuju ruangannya. Kepalanya terasa sedikit berat, ia berniat untuk istirahat terlebih dahulu sebelum mengecek perkembangan butik. Wanita itu berharap, dirinya dapat memejamkan matanya di tempatnya bekerja walau hanya sebentar saja.
Merbahkan tubuhnya di atas ranjang yang terdapat di kamar pribadinya, mencoba menutup mata walau bayangan perkataan Ezra, masih saja menghantui pikirannya.
Mungkin karena lelah dan kurang tidur, baru beberapa menit berlalu Ayu sudah masuk ke dalam alam mimpinya.
.....
Di tempat lain, Ezra duduk di kursi kebesarannya, matanya menatap foto yang ada di atas meja kerjanya.
"Dira, maafkan aku karena sudah jatuh cinta kepada wanita lain," ucapnya, mengusap wajah wanita itu dengan pandangan Nanar.
Entah berapa kali kata itu terucap dari bibirnya, ia merasa seperti sedang mengkhianati mendiang istri pertamanya. Semua itu yang membuat Ezra merasa bersalah.
Beralih menatap foto bayi kecil yang tampak tengah tertidur lelap di pangkuan sang ibu.
"Anak kita sudah memilih dia untuk menjadi ibu sambungnya, dan aku juga mencintainya. Aku harap kamu mengijinkanku untuk bisa bersama dengannya," gumamnya.
Ingatannya kembali pada saat malam tadi, waktu dia baru saja pulang dari rumah Ayu.
...Flash back...
"Bagaimana keadaan Kak Ayu?" tanya Keenan saat dirinya baru saja masuk ke dalam rumah.
"Sudah lebih baik, tapi sepertinya sekarang aku yang membuat masalah untuk dirinya," jawabnya ambigu.
Keenan yang berjalan menyamai langkah kakaknya itu, mengerinyitkan kening, bingung.
"Apa yang kamu lakukan sama Ayu, hah?" Awas aja kalau kamu macam-macam dengan wanita baik itu!" Nawang yang sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan Garry langsung melotot tajam pada anak sulungnya itu.
"Aunty kenapa, Pah?" Naura yang sedang bermain pun langsung menghampirinya, saat mendengar nama wanita kesayangannya di sebut oleh neneknya.
"Aunty gak papa, Sayang. Sekarang Naura lanjutin aja mainnya ya, Papah mau bicara sama Nenek dulu."
Ezra berkata setelah memeluk dan menciumi wajah anaknya. Tersenyum saat mendapat anggukan patuh dari Naura.
Duduk di samping Keenan dengan kedua orang tua di depan mereka. Tatapan Nawang masih saja tajam kepadanya.
"Coba jawab, pertanyaan Mama tadi. Apa yang kamu lakukan sama Ayu?" tanya Nawang lagi.
Ezra menunduk dalam, sebenarnya dia malu mengakui perasaannya kepada Ayu di depan keluarganya, apa lagi lelaki itu tau bahwa tadi sore bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan.
__ADS_1
Namun, ego dan hatinya sudah tak bisa menahan lagi rasa yang sudah ada sejak lama. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengungkapkannya, mengambil kesempatan ketika mereka memiliki waktu berdua.
"Ezra, jawab pertanyaan Mama kamu!" tekan Garry, ikut mengintimidasinya.
"Pah, Mah ... aku gak berbuat apapun sama Nindi!" jawab pasti Ezra, namun dengan suara pelan tertahan.
"Lalu kenapa tadi kamu bilang kalau kamu penyebab masalah dia, Hah?!" tanya Nawang, tidak sabar.
"Aku baru saja melamarnya," ucap Ezra mantap. Lelaki itu berusaha menyembunyikan rasa gugupnya dengan wajah datar.
"Apa?! Kamu melamarnya? Aku gak salah dengar 'kan?" tanya Nawang, heboh sendiri.
Ezra menyandarkan tubuhnya santai, padahal itu hanya kedok untuk menutupi jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Akhirnya, Kakak mengungkapkan perasaan juga." Keenan menepuk pundak lelaki yang duduk di sampingnya, dengan tatapan bangga.
"Kamu gimana sih, Zra. Bisa-bisanya kamu ngelamar Ayu di saat seperti ini! Memangnya kamu gak bisa bersabar sebentar lagi, sampai masalah ini selesai, heh?!" maki Nawang pada anaknya sendiri.
Kedua orang tua Ezra sudah tau akan masalah yang di hadapai Ayu, mereka sangat prihatin dengan kehidupan wanita itu, maka dari itu, keduanya mendukung Ezra untuk membantu.
"Aku tau itu salah, Mah. Tapi, bila menunggu masalah keluarganya itu selesai ... mau sampai kapan? Aku mau melindunginya tanpa batasan yang sekarang menghalangi pergerakanku," jawab Ezra panjang lebar.
Selama ini dia sudah sangat geram ketika melihat wanita itu meneteskan air matanya, tapi dirinya tidak bisa melakukan apapun.
"Sudahlah, Mah. Biarkan saja, mereka 'kan sudah dewasa, sudah tau apa yang terbaik untuk kehidupannya sendiri. Lagi pula, Ayu wanita yang baik, Naura juga sangat menyayanginya. Lalu apa lagi yang harus kita khawatirkan?" Garry berusaha meredakan emosi Nawang.
"Kalau soal Ayu, aku sangat senang jika wanita itu bisa jadi menantu kita. Tapi, anakmu yang tidak tau tempat dan waktu! Bagaimana jika nanti Ayu malah menjadi banyak pikiran. Aku yakin Ayu belum memberikan jawabannya 'kan?" Nawang masih menatap Ezra.
Ezra mengangguk, bibirnya terasa berkedut menahan senyum saat mendengar perkataan ibunya mengenai Ayu, dan melihat reaksi yang di tunjukan oleh semua keluarganya.
Bukannya, takut dengan kemarahan ibunya, lelaki itu malah senang karena mendapat sambutan yang baik dari sang ibu, mengenai hubungannya dengan Ayu.
Dia yakin tidak akan ada halangan restu dari semua keluarganya, kali ini semua keputusan tinggal bergantung pada jawaban wanita itu saja.
Pagi hari Ezra bahkan di kagetkan oleh perkataan sang anak di saat sarapan.
"Pah, kata Nenek nanti Aunty akan jadi Mamanya Rara, ya?"
Ucapan polos gadis kecil itu, bahkan terngiang di dalam pikirannya sampai saat ini.
Flash back off
Tersenyum sambil menggeleng geli, saat membayangkan bagaimana reaksi Ayu ketika bertemu dengan anaknya nanti.
Keenan yang sejak tadi sudah masuk ke dalam ruangan sang kakak hanya duduk memperhatikan sikap Ezra yang sangat jarang ia temukan sebelumnya.
"Cinta memang bisa merubah seseorang, bahkan menjadikan gila."
Lelaki itu bergidik ngeri, melihat Ezra yang tampak tersenyum sendiri sejak tadi. Bahkan suara dia yang masuk saja tidak terdengar, padahal biasanya Ezra termasuk lelaki yang sensitif dengan sekitarnya.
"Kok aku jadi takut ya, jangan sampai aku kayak gitu kalau jatuh cinta," gumam Keenan.
"Apa yang loe bilang, hah?" tanya Ezra yang baru saja tersadar dari lamunannya, dan mendengar samar suara sang adik.
"Eh, enggak! Gue cuman mau bilang kalau mobil yang di bawa seminggu yang lalu udah selesai."
Ezra mengangguk acuh, kembali meraih berkas yang ada di atas meja, tanpa memperduliakan Keenan.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Sampai sini dulu yah. Sudah hari senin lagi, selamat bekerja kembali untuk kalian semua. Semangat 💪🥰🥰
__ADS_1