
......Happy Reading ......
...❤...
Hari berlalu, malam ini Keenan dan Riska sudah pindah di apartemen milik Keenan, Nawang dan Garry yang tadi membantu mereka pindah, kini sudah pamit pulang.
"Maaf ya, aku bawa kamu ke apartemen, sementara kita masih menyesuaikan diri, aku mau kita hanya tinggal berdua, lagi pula apartemen ini juga tidak terlalu jauh dari butik," jelas Keenan. Saat ini mereka tengah duduk di sofa.
Riska menatap wajah Keenan sekilas. "Iya, gak apa-apa kok. Ini sudah lebih dari cukup buat aku."
"Karena di sini belum ada peralatan masak dan bahan-bahan lainnya, besok kita belanja bareng ya, aku sudah izin sama Kak Ezra," ujar Keenan.
Apartemen ini memang belum ada peralatan masak, hanya ada beberapa piring dan gelas yang biasa Keenan dan Ezra gunakan untuk makan dan minum.
Kulkas pun tampak masih kosong, hanya berisi minuman dingin tanpa ada sedikitpun makanan.
Riska mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kamu mau makan apa sekarang? Biar aku pesankan," tanya Keenan, sambil mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja.
"Terserah, saja," jawab Riksa sambil memejamkan matanya.
"Bagaimana jika aku pesankan ayam goreng saja?" tanya Keenan lagi.
"Boleh, aku bukan pemilih kalau soal makanan," jawab Riska.
Keenan mengangguk lalu mulai mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Kamu tidak ada alergi apa pun?" tanya Keenan lagi, matanya hanya melirik Riska sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
"Kalau makanan aku tidak ada alergi," kembali Riska menjawab.
Keenaan menyimpan ponselnya lagi di atas meja, lalu menatap Riska kembaali.
"Kamu alergi pada sesuatu yang lain?" tanya Keenan, dengan mata mengernyit.
Riska membuka matanya lalu menoleh menatap Keenan, mata keduanya sempat bertemu, hanya saja dia langsung memutuskannya kembali.
"Tidak, aku tidak memiliki alergi apa pun," ujar Riska, menggeleng pelan.
Keenan mengangguk. "Baiklah, kalau begitu."
Keduanya terdiam cukup lama dengan pemikirannya masing-masing, suasana kini mulia terasa canggung saat mereka sudah tidak memiliki pembahasan atau pun kegiatan untuk mengisi kekosongan.
'Kenapa aku jadi gugup begini?' gumam Riska dalam hati.
Dia akhirnya mengambil remot televisi dan menyalakannya, untuk menghilangkan kecanggungan itu.
Berada berdua dengan seorang lelaki di ruangan yang sama, membuat perasaan Riska tak menentu. Apa lagi dia tahu kalau Keenan sudah memiliki hak untuk melakukan apa pun padanya.
"Nanti setiap seminggu sekali ada orang yang akan membersihkan apartemen," Keenan kembali berbicara, setelah sekian lama mereka terdiam.
__ADS_1
Riska menatap Keenan sekilas, kemudian mengaangguk.
"Tapi, tidak untuk kamar. Aku tidak suka ada yang masuk ke kamarku," imbuh Keenan lagi.
Riska menatap Keenan lalu mengangguk. 'Tapi kenapa dia tidak keberatan kita tidur bersama?'
"Jadi, kau harap kamu mau membantuku membereskan kamar kita?"
Deg.
Riska menatap wajah Keenan dengan gugup saat mendengar perkataan Keenan, jantungnya selalu tak bisa dikondisikan jika sudah membahas status mereka sekarang.
Keenan menyeringai dengan slah atu sudut bibir teraangakat, melihat dari sudut matany, bagaimana reaksi Riska yang selalu terlihat lucu bila dia sudah membahas tentang hal itu.
'Apa dia akan memintanya sekarang?' gumam hati Riska merasakan gugup.
"I–iya," hanya kaata itu yang bisa keluar dari bibir Riska.
Suara bel berbunyi menandakan ada tamu yang datang.
"Sepertinya makanan kita sudah datang, tolong kamu siapkan piringnya ya, aku mau lihat dulu," ujar Keenan, sambil beranjak dari tempat duudknya.
"Heem." Riska mengangguk, dia memghembuskan napas kasar begitu melihat Keenan yang sudah pergi dari isisinya.
'Kenapa sekarang dia jadi terlihat sedikit menyeramkan dan mesum? atau itu hanya pikiranku saja yaa?' gumam hati Riska, melirik sekilas punggung Keenan lalu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan piring.
Waktu sudah menunjukan jam sembilan malam saat mereka baru saja selesai makanan malam.
"Aku ada sedikit pekerjaan, kamu tidur duluan saja" ujar Keenan saat Riska masih mencuci piring.
"Enggak, aku ada di ruang kerjaku, ruangan yang ada di samping kamar," jelas Keenan.
Riska mengaangguk-anggukkan kepalanya. "Mau aku bikinkan kopi atau teh?"
"Boleh, kopi ya ... jangan terlalu manis," jawab Keenan.
Riska kembali mengangguk lalu meneruskan mencuci piring terlebih dahulu. Sedangkan Keenan pergi ke ruang kerjanyaa.
Riska mengambil bubuk kopi yang ada di sana, menyiapkannya di dalam cangkir sambil menunggu air yang di panaskan di teko pemanas elektrik cukup untuk menyeduhnya.
Sepertinya lelaki memang tidak bisa jauh dari yang namanya kopi, hingga di saat tidak ada peralatan masak, peralatan menyeduh kopi dan teh terlihat sudah ada lebih dulu.
Beberapa saat kemudian kopi yang ia siapkan sudah siap, kini dia berjalan menuju ruang kerja Keenan, mengetuk pintu sebelum akhirnya dia masuk ke dalam, setelah mendengar suara dari Keenan.
Di saat itu, Riska melihat Keenan sedang duduk di kursi kerjanya, dengan laptop menyala dan beberapa berkas berserakan di atas meja.
"Ini kopinya, Bang," ujar Riska.
Keenan menghentikan kesibukannya, dia menatap Riska yang sedang menyuruh cangkir kopi di depan meja. "Terima kasih."
Riska hanya mengangguk, lalu kembali keluar dengan degup jantung yang sudah tak menentu.
"Issh, kenapa jantungku selalu saja seperti ini kalau sedang berdua dengannya?" gumam Riska, sambil memegang dadanya.
__ADS_1
Memilih masuk ke dalam kamar, untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Di ruang kerja, Keenan menghembuskan napas kasar setelah melihat pintu di depannya tertutup rapat.
Perhatiannya teralihkan oleh secangkir kopi di hadapnnya yang masih terlihat panas, dia mengambilnya menghirup aroma salah satu minuman favoritnya itu sebelum menyeruputnya pelan.
Terasa begitu nikmat dan pas di lidah, Keenan melihat cairan berwarna hitam pekat itu lagi, lalu kembali menyeruputnya.
"Pintar juga dia membuat kopi," ujarnya sambil kembali menaruh cangkir itu di atas meja.
Melihat ke arah laptop yang masih menyala dan berkas yang sengaja ia taruh sembarangan.
Dia menghembuskan napas kasar saat bayangan ijab kabul yang ia lakukan kemarin siang melintas di kepala.
Menyandarkan tubuhnya, menutup mata dengan salah satu tangan memijat pangkal hidungnya.
Pikirannya bercabang antara tanggung jawab sebagai seorang suami dan nama yang masih melekat di dalam hatinya.
Tangannya terulur menarik laci kecil di depannya, mengambil sebuah buku agenda berwarna hitam, dia menatapnya dengan hembusan napas panjang, sebelum membukanya.
Terlihat lembar foto berukuran 4R yang terselip di salah satu halaman buku. Di sana terlihat dua orang anak remaja yang enak berdiri di taman bunga sakura, lelaki itu terlihat memeluk gadis di depannya, mereka tertawa dengan wajah yang sangat bahagia.
"Bisakah aku melupakanmu, Luna?" lirih Keenan, ujung ibu jarinya mengusap wajah cantik gadis di dalam foto.
"Aku harap kamu sudah bahagia di sana, walau tanpa aku. Aku juga akan berusaha untuk bahagia dengan pasangan yang telah Tuhan pilihkan untuk menemaniku di sini," sambungnya.
"Terima kasih, sudah menjadi warna dalam hidupku, walau akhirnya kamu renggut kembali tanpa permisi," ujar Keenan, tersenyum tipis sebelum menutup kembali buku itu dan menaruhnya di dalam laci.
Dia kembali menyandarkan tubuhnya, menutup mata lama, merasakan apa yang kini ada di dalam hatinya.
Pekerjaan di depannya hanya sekedar alasan agar dia bisa menyendiri, dia merasa bersalah setiap kali melihat wajah Riska, dia takut tak bisa memberikan hatinya hingga membawa kecewa untuk gadis yang kini menjadi istrinya.
Cukup lama dia berada di dalam ruang kerjanya, hingga malam telah larut, Keenan baru beranjak dari posisi duduk dan membereskan semua berkas yang berserakan di atas meja.
Dia kemudian berjalan ke luar dan masuk ke dalam kamarnya, menghembuskan napas panjang saat matanya melihat seorang gadis kini sedang tertidur di atas ranjang miliknya.
'Riska yang berhak atas hatimu, Ken. Lupakan Luna, dia sudah bahagia dengan orang yang dipilihnya, jangan terus terjebak di dalam masa lalu hingga kamu lupa untuk menatap masa depan. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari'
Perkataan dari sang ayah tadi siang, kini terngiang di kepala. Dia melihat wajah tenang gadis yang kini menjadi istrinya, terlihat cantik dengan kesederhanaannya. Tanpa sadar tangannya terulur mengusap rambut hitam yang sedikit berggelombang di ujungnya.
Riska tampak bergerak karena terusik dengan gerakan lembut di atas kepalanya, entah apa yang sedang gadis itu mimpikan hingga dia terlihat tersenyum begitu lebut.
"Aku akan berusaha untuk mencintaimu, walau tak tau kapan rasa itu akan datang. Maaf, karena sudah membawamu dalam permasalahan rumit hidupku," lirih Keenan.
Cup.
Satu kecupan ia berikan di kening istrinya itu, lalu beralih menuju sisi ranjang yang lain dan merebahkan tubuhnya di samping Riska.
Malam itu, kembali mereka lalui tanpa ada hal yang sepesial, hanya tidur dengan posisi Keenan memeluk tubuh Riska.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...