Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.89 Heboh


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Malam berlalu begitu saja bersama datangnya mentari pagi. Menyinari indahnya pagi dengan cahaya hangatnya.


Pagi ini Ansel baru saja menerima panggilan dari sang ayah yang mengabarkan kalau semalam Melati tidak pulang.


“Ada apa lagi dengan adikmu itu, Mas?” tanya Elena sambil menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.


Saat ini mereka sedang berada di meja makan untuk sarapan bersama.


Ansel tampak menghembuskan napas kasar.


“Entahlah, aku sudah pusing dengan kelakuan anak itu,” jawab Ansel lesu.


Capek juga lama-lama mengurus gadis manja itu, sejak awal dia memang tidak terlalu dekat dengan Melati.


Namun, karena rasa bersalahnya kepada gadis itu, ia merasa harus lebih mendekati gadis itu, agar dia tidak merasa di buang oleh keluarganya sendiri.


Ansel merasa dirinya juga bertanggung jawab atas masuknya Arumi ke penjara. Dia tidak mau adiknya kembali melakukan kesalahan yang di lakukan oleh ibunya.


Maka dari itu, ia berusaha untuk lebih dekat dulu dengan adik bungsunya itu, agar dia bisa mengawasinya dari dekat.


“Sabar, Mas. Kamu kan yang bilang sendiri kalau kamu mau meruah anak itu jadi lebih mandiri, maka ini adalah kesempatannya. Dengan rasa sakit yang sekarang sedang dia rasakan, maka dia akan berproses untuk menjadi orang yang lebih dewasa.”


“Sekarang tergantung padamu dan ayah, apa kalian bisa merubah pola pikir gadis itu, menjadi lebih baik, atau tidak?" Jelas wanita yang merupakan istri dari Ansel itu.


“Kamu benar, aku harus berusaha lebih keras lagi, untuk mengatasi gadis itu,” angguk lelaki itu.


“Sesekali aku juga akan coba mengajak dia main bersama dengan Bian sambil memberikan pengertian secara halus untuknya.” 


“Iya, sepertinya itu lebih bagus, bagaimanapun kalian sama-sama perempuan. Mungkin dia akan lebih menerima apa yang kamu katakan di bandingkan dengan aku.”


Ansel menyetujui perkataan dari sang istri, sejujurnya ia sudah sangat malas mengurusi adik satu ayah itu.


Kalau saja bukan permintaan Larry dia tidak akan mau melakukan semua itu.


Ingatannya kembali pada saat dia sedang berbicara berdua dengan sang ayah.


Flash back


“Kamu pasti mengajak Papa bertemu karena mau membicarakan masalah pertunangan Nindi dan Ezra ‘kan? tanya Larry begitu Ansel sampai di hadapannya.


“Papah sudah tau?” tanya lelaki itu, mengerutkan keningnya.


“Adikmu tadi pulang sambil menangis karena patah hati, bahkan sampai sekarang dia masih mengurung dirinya di kamar,” ucap lesu Larry.


 


“Oh, ternyata anak itu sudah mengadu duluan sama Papah?” Ansel berdecak kesal.


“Dia masih adik kamu Ans, sama seperti Nindi!” ucap Larry.


“Iya, aku tau. Aku tidak pernah bilang kalau dia itu bukan adikku. Tapi, aku hanya muak saja dengan tingkahnya yang sama seperti ibunya.” Ucap acuh lelaki itu.


Larry menghembuskan napas kasar mendengar perkataan anaknya itu, dari dulu Ansel memang tidak terlalu suka dengan istri dan juga anak bungsunya.


Dia juga sebenarnya sangat menyayangkan sifat dari sang anak, yang tidak pernah mau mendengarkan nasehat darinya.

__ADS_1


Namun, mau bagaimanapun Melati masih anaknya juga. Dia tidak mau melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang di lakukannya kepada Nindi dan ibunya dulu.


“Sekarang mereka menginginkan bertemu dengan Papah, untuk membicarakan tentang pernikahan Nindi dan Ezra,” ucap Ansel.


“Untuk apa? Bukannya dia  sudah bisa memutuskan semuanya sendiri. Tunangan saja tidak memberi tahuku, apa  benar begitu, di mana rasa hormatnya kepada aku sebagai ayahnya?” ucap sinis Larry.


Ego sebagai seorang ayah, merasa tersentil oleh kabar pertunangan anaknya yang ia tak pernah ketahui sebelumnya. Dia merasa marah karena harus mengetahui semua itu dari orang lain.


Padahal seharusnya dialah yang tau lebih dulu di bandingkan dengan orang lain. Karena dia adalah ayah dari Ayu.


“Papah masih bisa bicara seperti itu, setelah apa yang sudah kita lakukan kepadanya. Bahkan papah belum mengucapkan kata maaf secara langsung, setelah semua kesalahan yang Papah lakukan!”


“Harusnya  Papah malu, mengatakan itu” sarkas Ansel.


“Dia selama ini sudah terbiasa hidup sendiri, lagi pula Nindi hanya menerima lamaran dari Ezra kemarin. Tapi, keluarga  Ezra langsung memutuskan kalau mereka berdua bertunangan. Jadi semua itu di bawah kendali Nindi, Pah!” jelas Ansel panjang lebar.


“Sekarang mereka mau Nindi dan Ezra menikah secepatnya, bahkan kalau Papah setuju, minggu depan pun mereka sanggup.” Ansel kembali berucap.


“Secepat itu?!” tanya Larry terkejut dengan apa yang di katakan oleh anak sulungnya.


“Mereka bukan lagi anak muda yang harus pacaran dulu, Pah. Papah juga tau itu?” ucap Ansel dengan penuh penekanan.


Larry mengangguk, benar apa yang di katakan oleh Ansel, Nindi dan Ezra bukanlah masanya untuk berpacaran.


 Keduanya pasti sudah memikirkan semuanya matang-matang sebelum memutuskan sesuatu.


Amarahnya yang tadi sempat meninggi, karena kabar dari Melati, kini turun drastis setelah mendengar semua perkataan anak sulungnya.


“Sel, mau Melati ataupun Nindi mereka tetep  anak Papah, tolong bantu untuk memberikan pengertian kepada Melati tentang masalah ini,”  mohon Larry pada anak sulungnya, setelah keduanya terdiam cukup lama.


Ansel terdiam, ia sebenarnya malas untuk menerima permintaan dari ayahnya. Tetapi, bila di pikir lebih jauh, ini juga menjadi tanggung jawabnya sebagai kakak.


Flash back off


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di rumah milik keluarga Darmendra, telah terjadi kehebohan sejak menjelang shalat subuh.


Semua itu karena Naura yang menangis mencari keberadaan Ayu. Gadis kecil itu, terus merengek ingin bertemu dengan calon ibu sambungnya.


“Papah, Rara mau sama Aunty aja!”


Ezra menatap prustasi anaknya yang sejak bangun tidur hanya terus merajuk karena Ayu tidak menginap.


“Bagaimana kalau kita telepon saja, sebentar Papa ambil ponsel dulu di kamar.”


Ezra langsung beranjak setelah mendapat anggukan dari Naura. Setelah berhenti menangis, gadis kecil itu malah merajuk dan tidak mau bicara.


Sampai di kamar ia langsung menghubungi nomor wanita pujaan hatinya.


“Kemana dia, kenapa tidak di angkat?” gerutu lelaki itu sambil terus mencoba menghubungi Ayu.


Di rumah Ayu, wanita itu sedang berkebun bersama Bi Yati sejak selesai shalat subuh.


Kemarin wanita paruh baya itu baru saja membeli berbagai macam bibit tanaman dan bunga, untuk mengganti tanaman yang sudah tua dan kering.


Keduanya tampak asyik memindahkan bunga dari dalam plastik polibag ke dalam pot, sampai mereka melupakan sarapannya.


Ayu yang sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama tanamannya, kini tampak sangat menikmati waktunya.


“Neng ada pesan dari Den Ezra, katanya Neng disuruh mengangkat telepon!” Mang Ujang tampak berjalan tergopoh-gopoh dari pos depan.


“Eh, memangnya kenapa, Mang?” Ayu mengalihkan perhatiannya pada Mang Ujang.

__ADS_1


“Gak tau, Neng. Tapi tadi katanya penting.”


“Oh, ya udah ... makasih ya, Mang,” ucap Ayu.


“Bi, tolong beresin ini ya.” ucapnya lagi sebelum masuk ke dalam rumah.


Sampai di dalam rumah, wanita itu langsung mengambil ponselnya yang sedang di isi baterai di kamarnya.


Alangkah kagetnya dia saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Ezra.


“Ada apa ini, kenapa banyak sekali panggilan?!” Ayu tampak panik dan segera menghubungi kembali nomor kekasihnya itu.


Belum juga tersambung, ternyata Ezra sudah meneleponnya kembali dengan panggilan video.


“Halo ... Assalamualaikum,” Ayu membolakan matanya, saat melihat wajah sembab Naura di layar ponselnya.


“Mama! Rara mau sama Mama!” tangis bocah kecil itu pecah kembali, saat melihat raut wajah Ayu.


Bukannya merespons, Ayu malah terdiam karena terkejut dengan panggilan calon anak sambungnya itu berikan padanya.


Begitu juga Ezra, lelaki itu menatap bingung gadis kecil yang sedang menangis di depannya.


“Huaa ... Mama, Rara mamu sama Mama aja!”


Kedua orang dewasa itu, langsung tersadar dari keterkejutan mereka, saat mendengar tangis Naura yang semakin kencang.


“Eeh, anak Mama kenapa nangis, sayang? Maaf tadi malam Mama ada urusan, jadi gak bisa bobo sama Naura dulu.”


“Udah ya sayang nangisnya, kalau Naura nangis terus, nanti cantiknya berkurang, gimana?”


Ayu akhirnya menanggapi tangisan anak itu, setelah mendapat anggukan dari Ezra.


“Tapi, Rara mau sama Mama,” ucap gadis kecil itu. Suara tangisnya sudah mulai mereda, hanya tinggal isakan yang masih terdengar.


“Nanti siang kan kita mau ketemu, sayang. Jadi sekarang Naura mandi sama sarapan dulu ya. Katanya kemarin janji gak akan nakal, hem?!” ucap Ayu lagi dengan nada sangat lembut.


“Enggak, Rara gak nakal. Papah tuh yang suka nakal!” ucap Naura memberengut kesal.


“Eh, kok jadi Papah sih!” Ezra langsung menjawab perkataan anaknya. Ia tidak terima di jelek-jelekan oleh anaknya sendiri di depan calon istrinya.


“Emang Papah suka nakalin Rara kok,” gadis kecil itu tidak mau mengalah ternyata.


“Sudah-sudah, kok kalian malah bertengkar. Naura sayang, kamu mandi dulu ya biar wangi dan cantik,” ucap Ayu mulai merayu Naura.


Setelah di bujuk oleh Ayu, gadis kecil itu akhirnya mau mandi dan sarapan pagi.


Ternyata Ayu bukan hanya menaklukkan hati Ezra tetapi juga bagi anaknya sekaligus.


“Terima kasih sayang, kamu sudah bantuin aku." Ezra mengambil alih layar ponselnya.


“Eum, ya sudah aku tutup dulu yah,” ucap Ayu.


“Eh, tunggu dulu, kamu belum kasih penjelasan, kenapa kamu gak angkat telepon aku tadi?”


“Aku sedang berkebun di belakang, jadi gak usah banyak tanya, oke.”


“Assalamualaikum ...” Ayu langsung menutup panggilan video.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2