
...Happy Reading...
...❤...
Sepanjang perjalanan, Ezra tak pernah melepaskan perhatiannya dari sang istri. Dengan begitu telaten dia terus memberi semnagat kepada Ayu yang sedang menahan sakit.
Tangannya terus mengelus perut Ayu sambil seskali berbicara kepada bayi di dalam sana, dia sama sekali tidak mengeluh, walaupun Ayu terus mencengkram lengannya, untuk menyalurkan rasa sakit.
"Mas, sssh." Ayu berdesis, saat rasa sakit itu kembali menyerang.
"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita sampai," ujar Ezra, tetap berusaha tenang, agar Ayu juga tidak panik, walau dalam hati, ia juga ketar-ketir sendiri, harus mengatur emosinya.
Rasa takut dan trauma masa lalu, saat kelahiran Naura mulai membayanginya. Walau begitu, Ezra terus menahannya dan mengendalikan diri sebaik mungkin di hadapan sang istri.
Berusaha menjadi kekuatan di tengah rasa sakit istrinya, juga pendukung setra penyemangat untuk Ayu yang sedang berjuang.
Walaupun ini pertama kalinya Ezra mendampingi proses kelahiran dari awal, hanya saja dia sudah cukup tau tanda-tanda awalnya. HIngga dia bisa menyimpulkan sebelum adanya pemeriksaan.
"Cepat, Gino! Suruh mobil belakang untukmembuka jalan, ini darurat!" tekan Ezra, sudha tidka sabar, karena jalan mobil yang ia tumpangi terasa berjalan dengan sangat lambat.
"Baik, Pak." Gino langsung menghubungi para pengawal bayangan yang berada di mobil yang di belakangannya, untuk menyalip dan membuka jalan yang masih saja padat.
Tak menunggu lama, satu mobil di belakang mobil Ezra bergerak lebih dulu dengan dua motor yang menyususl dan bergerak di paling depan untuk membuka jalan bagi mereka.
Beberapa saat kemudian Gino sudah menghentikan mobilnya di depan rumah sakit, dengan para pengawal bayangan yang bergerak cepat memanggil perawat danmencari dokter kandungan yang sednag bertugas saat itu juga.
Sedangkan Gino langsung membuka pintu belakang untuk Ezra dan Ayu.
Ezra turun lebih dulu lalu membawa Ayu dalam gendongannya. SEdangkan di sisi lain, seorang perawat sudah bersiap dengan kursi roda di depannya.
Ezra menurunkan Ayu di atas kursi roda dan mengambil alih dari perawat itu, dia mendorong istrinya dan langsung mebawanya menuju ruang pemeriksaan.
__ADS_1
Dokter Ranti yang saat itu kebetulan masih berada di rumah sakit langsung memeriksa keadaan Ayu. Dia cukup terkejut, saat melihat ternyata Ayu sudah pembukaan tujuh.
"Sejak kapan sudah mulai merasakan tanda-tanda kelahiran?" tanya Dokter Ranti, saat dia baru saja selesai memeriksa Ayu.
"Sebenarnya dari tadi malam aku perutku sudah terasa kurang nyaman, hanya saja karena tidak terjadi apa-apa lagi, aku mengira itu hanyalah kontraksi palsu," jelas Ayu.
Ezra melebarkan matanya, menatap Ayu tidak percaya. Bagiama mungkin isrinya itu, tidak mengatakan sesuatu padanya, bahkan menyuruhnya untuk pergi bekerja menggantikan Keenan?
Ezra hanya bisa menggeleng kepala dan berusaha sabar, saat rasanya ingin seklai diia menceramahi istrinya itu saat ini juga.
'Begitu sulitkah kamu mengungkapkan dan membagi rasa sakitmu kepadaku, sayang?' gumam hati Ezra.
Walau sedikit kesal oleh sikap acuh istrinya yang bisa saja membahayakan kondisi ibu dan bayi di dalma kandungan. Akan tetapi, rasa khawatir dan sedih juga bersalah kini lebih besar di dalam dirinya.
Ezra lebih menyalahkan dirinya sediri yang masih saja takdapat sakit yang tersembunyi di raut wajah sang istri. Sejak kemarin malam, dia memang terlalu fokus dan khawatir pada masalah Keenan, hingga dia tidak terlalu memperhatikan istrinya itu.
"Hem," gumam Dokter Ranti sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dia melirik Ezra sekilas, melihat raut wajah khawatir dari anak temannya lamanya itu.
"Jadi benar, istriku akan segera melahirkan, Tante?" tanya Ezra, memastikan.
"Benar, kita hanya menunggu pembukaan lengkap, untuk memulai proses persalinan," jelas Dokter Ranti.
"Sayang, sebentar lagi anak kita akan lahir," ujar Ezra, dengan berbagai prasaan memenuhi hati juga pikirannya.
"Iya, Mas," jawab Ayu, dengan senyum yang mengembang.
Ezra beralih mengelus perut Ayu, dia berbisik kepada anaknya itu.
"Sayang, lahirlah dengan mudah dan selamat ... jangan menyulitkan Mama, dan terlalu lama membuat Mama sakit. Papa di sini menantikan kelahiran kamu, Nak," gumamnya, kemudian mencium perut istrinya dengan penuh perasaan.
Saat ini Ayu dan Ezra hanya berdua di ruangan itu, sedangkan Dokter Ranti dan perawat yang lainnya sedang menyiapkan kebutuhan pemeriksaan untuk Ayu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, berbagai pemeriksaan sebelum persalinan dilakukan Ayu, dengan Ezra yang terus berada di dekat sang istri.
"Kamu sudah mengabari Nawang, Zra?" tanya Dokter Ranti. Sebenarnya itu hanya pertanyaan basa-basi untuk menghilangkan tegang di sepasang suami istri itu. Akan tetapi, reaksi Ezra kemudian, membuat Dokter Ranti geleng kepala.
"Ah, iya! Aku lupa memberi tau mereka," ujar Ezra yang langsung mengambil ponselnya di dalam saku.
Bukannya menelpon Nawang atau Garry, dia malah menelepon Gio dan menyuruhnya untuk mengabari semua keluarga tentang Ayu yang sekarang sudah berada d rumah sakit.
Ezra juga berpesan untuk mengubungi Bi Yati dan menyuruhnya membawakan perlengkapan Ayu dan bayi yang sudah di siapkan sebelumnya di dalam kamar.
Sepanjang proses persalinan, Ezra benar-benar tak mau meninggalkan Ayu walau hanya sedikitpun, semua urusan yang mengharuskannya pergi meninggalkan Ayu dia limpahkan pada Gino. Mulai dari administrasi rumah sakit, pemesanan kamar dan lain sebagainya.
Semua pemeriksaan sudah selesai dilakukan, Ayu bahkan sudah dipindahkan ke dalam ruang persalinan, dengan beberapa perawat perempuan yang medampingi, juga dokter Ranti sebagai dokter kandungan dan satu lagi dokter perempuan khusus anak yang sudah berada di sana.
.
Di tempat lain, Keenan sedang duduk termenung di balkon kamarnya, sedangkan Riska sedang membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah lebih dari satu hari satu malam penuh, ia habiskan untuk berpikir dan menimbang perasaannya sendiri, dia sudah memutuskan untuk mulai melupakan Luna, demi mempertahankan rumah tangganya dengan Riska.
Walau dia sendiri masih bingung dengan perasaannya kepada istrinya itu. Akan tetapi, bagaimananpun itu, Riskalah yang lebih pantas menerima cinta dan kasih sayangnya, dibandingkan dengan Luna yang jelas-jelas sudah tiada dan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.
Dia baru saja sadar saat semua rasa sesal dan sakit yang terasa di dalam hatinya untuk Luna, seakan tidak bisa bisa menyembuhkan atau tak bermanfaat sama sekali untuknya.
Semua itu malah membuatnya stres dan terpuruk hingga tubuhnya drop. Di saat seperti itulah, Riska hadir dan dengan suka rela merawat juga menjaganya dengan begitu sabar dan telaten, melayani setiap keinginannya sampai mengesampingkan dirinya sendiri.
Ya, sebenarnya Keenan tidak benar-benar tertidur pulas. Setelah Riska meninggalkannya, dia pun terbangun kembali dengan pikiran yang terus berputar tak tentu arah.
Memutar setiap memori dan mencari sebuah jawaban, dari semua yang sudah terjadi pada kehidupannya dulu dan sekarang. Hingga siang hari tadi, dia dengan berani meminta Riska untuk tetap berada di sampingnya, mendampinginya dan jangan pernah pergi meninggalkannya.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...