
...Happy Reading...
......................
Keenan baru saja keluar dari kamar mandi yang masih ada di dalam ruang perawatan itu, bersamaan dengan kedatangan Ezra dari arah luar.
Riska yang awalnya sedang duduk dengan ponsel Keenan di tangannya, karena sang ibu menelepon pun terkejut mendapati Ezra masuk ke dalam kamarnya.
Ponsel di tangannya bahkan sampai terjatuh ke pangkuan, dengan tangan yang kembali bergetar.
Keenan dan Ezra saling pandang, melihat reaksi Riska, bahkan perempuan itu langsung menundukkan kepala, seakan takut untuk menatap Ezra.
"Sayang." Keenan langsung menghampiri istrinya, dia duduk di samping Riska tang tampak gelisah.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Keenan, sambil merangkul istrinya.
Riska menghembuskan napasnya kasar, lalu merubah raut wajahnya seperti biasanya, walau di dalamnya masih tersirat rasa tertekan.
"Aku gak apa-apa, cuman kaget aja denger ada suara pintu kebuka bersamaan," jawab Riska pelan.
Ezra masih berdiri di depan pintu masuk, dia memperhatikan interaksi pasangan itu, terutama Riska yang tampak tidak nyaman.
Keenan menatap kakaknya, dia tau kalau Ezra juga melihat perubahan dari istrinya.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar," ujar Ezra, tersenyum tipis pada Riska, lalu menatap kilas pada Keenan.
Riska mengangguk, ada rasa canggung di dalam hatinya saat mengingat sikapnya beberapa saat yang lalu. Walau dia pun tidak tau kalau semua itu akan terjadi padanya.
"Ken, kita bicara di luar," sambungnya pada sang adik, lalu berbalik dan ke luar lagi dari ruangan.
Keenan menguraikan pelukannya, dia pun menatap wajah sang istri dalam.
"Aku, ke luar sebentar ya," izin Keenan.
Riska pun mengangguk, "Tolong sampaikan permintaan maaf aku sama Bang Ezra, karena telah merepotkannya dan sikap aku tadi."
"Iya, nanti aku bilangin. Kamu baik-baik di sini ya," ujar Keenan sambil mengusap pipi Riska dan mengecup kilas kening istrinya.
Dia pun menyusul Ezra keluar ruangan, diiringi tatapan sang istri yang tidak pernah lepas darinya.
__ADS_1
Riska langsung mengambil ponsel milik Keenan, dia mencari sesuatu yang bisa dia kerjakan di sana. Berusaha agar pikirannya tidak mengingat kembali kejadian pelecehan itu.
Sebesar mungkin dia menyibukkan dirinya, entah itu bermain game ataupun hanya berselancar di dunia maya, melihat video yang dapat mengalihkan perhatiannya.
Riska berusaha melawan rasa takut yang sebenarnya begitu menyiksa batinnya. Dia tidak ingin terjebak lebih dalam, oleh traumanya.
Sedangkan di luar, Keenan menghampiri Ezra yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Kak," sapa Keenan, sambil duduk di samping Ezra.
"Kamu sudah bertemu dengan dokter, setelah istrimu sadar?" tanya Ezra langsung, dia melihat wajah sang adik.
Keenan menatap balik kakaknya, dia kemudian mengangguk. Dirinya sudah berbicara dengan dokter setelah melihat reaksi Riska pagi tadi.
"Lalu, apa katanya?" tanya Ezra lagi, sepertinya saat ini laki-laki itu sedang tidak ingin bercanda sama sekali.
"Dokter mendiagnosa kalau Riska mengalami trauma. Tapi, dia juga tidak bisa memastikan seberapa besar rasa trauma itu, makanya dia menyarankan aku untuk memeriksakan Riska ke rumah sakit yang lebih besar," jelas Keenan, mengingat perbincangannya dengan dokter beberapa waktu lalu.
Ezra tampak menautkan alisnya, terkejut dengan perkataan adiknya. Tidak adanya CCTV di rumah itu, membuatnya tidak bisa mengetahui apa yang terjadi di sana.
"Brengsek!" umpat Ezra, merasa kesal sendiri.
"Akan aku pastikan, mereka menerima hukuman yang ebrat, karena perbuatannya ini," sambungnya lagi menahan geram.
"Iya, Kak. Aku juga ingin seperti itu, bahkan aku ingin sekali bertemu langsung dan menghanjar laki-laki bajingan itu!" Keenan ikut geram, saat membayangkan apa saja yang dialami oleh istrinya.
.
.
Siang hari, Riska baru bisa keluar dari klinik tempat dirinya dirawat dan menerima pertolongan pertamanya itu.
Dirinya berada satu mobil bersama Keenan, Ezra dan anak buahnya, yang berperan menjadi sopir mereka. Sedangkan mobil yang satu lagi, sudah dibawa olah anak buah mereka yang lainnya tadi malam.
Riska duduk di kursi belakang, bersama dengan Keenan yang selalu ada di sampingnya. Dia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya, dia memejamkan mata, menahan rasa tidak nayaman di dlaam hatinya.
Entah kenapa dirinya merasa tidak nyaman, saat berada di dalam satu mobil dengan laki--laki lainnya walaupun dirinya tau itu adalah kakak ipar dan anak buah suaminya sendiri.
Kedua tangan mereka pun terus bertaut, Keenan bisa merasakan kegelisahan dari istrinya, dia pun semakin yakin kalau telah terjadi sesuatu yang membuat Riska trauma pada laki-laki seperti ini.
__ADS_1
Beberapa jam berkendara, kini mereka sudah berada di rumah sakit milik keluarga Ardinata.
Ezra sengaja melakukan semua itu di rumah sakit yang notabene adalah milik keluarga istrinya, agar mereka lebih mudah mendapatkan pelayanan khusus, mengingat ondisi Riska saat ini.
Alvin yang lebih dulu berada di sana, menyambut kedatangan Ezra dan Keenan, dia pun menghampiri mobil yang baru saja berhenti di depan lobi, dan membukakan pintu untuk bosnya itu.
"Selamat siang, Pak Ezra," sapa Alvin saat Ezra sudah ke luar dari mobil..
"Bagaimana, apa semua sudah siap?" tanya Ezra, sambil melirik sekilas, pada Keenan dan Riska yang masih berada di dalam mobil.
"Sudah, Pak. Para staf medis yang akan menunjang pemeriksaan untuk Bu Riska juga sudah siap," jawab Alvin.
Di dalam mobil, Keenan pun sedang memosisikan Riska yang teridur, agar bersandar pada kursi. Akan tetapi, Riska yang merasakan pergerakan Keenan pun akhirnya tersadar.
"Sudah sampai ya, Bang?" tanya Riska, sambil melihat ke arah luar.
Keenan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Iya, sayang. kita sudah sampai"
"Ayo ke luar, Alvin sudah menyiapkan semuanya untuk kita," ajak Keenan lagi, sambil membuka pintu.
Riska mengangguk dengan satu tangan terus bertaut dengan Keenan, dia seakan tergantung pada keberadaan suaminya saat ini.
Keenan berdiri di depan pintu yang masih terbuka, sedangkan Riska masih duduk di atas mobil, menunggu salah satu perawat membawakan kursi roda ke sana.
Ya, dikarenakan luka bekas tergores berbagai benda tajam yang terinjak oleh Riska di dalam hutan itu, Keenan tidak membiarkan istrinya untuk berjalan.
Saat perawat itu sudah sampai di pintu lobi, Keenan langsung menggendong istrinya ala bridal syle, lalu mendudukannya di atas kursi roda.
Beberapa pengunjung rumah sakit yang melihat kedatangan Keenan dan Riska pun, tampak mencuri pandang pada mereka, ditambah lagi dengan keberadaan Ezra, dan Alvin di belakang keduanya.
Tentu saja, tiga laki-laki tampan itu tidak bisa dilewatkan untuk dipandang, walau keadaan saat ini adalah di sebuah rumah sakit.
Keenan mendorong langsung kursi roda yang ditumpangi oleh istrinya, di depannya seorang perawat yang akan membawa mereka menuju ruang rawat inap, agar Riska bisa beristirahat terlebih dahulu.
...🌿...
Hai semuanya, aku cuman mau sedikit meluruskan, kalau perlakuan yang diterima oleh Riska dari Toni itu sudah termasuk pelecehan seksual, ya. Pelecehan seksual tidak selalu tentang berhubungan ses atau pemerkosaan. Berikut ini kutipan yang aku potong dari Hallosehat.com. Lebih lengkapnya kalian bisa browsing sendiri** ya 😁😁***
Ayo kita cegah dan lawan kekerasan seksual💪 Perempuan sehat, perempuan berani, dan bersama kita menjadi kuat💪
__ADS_1