
...Happy Reading...
...❤...
''Lalu bagaimana bisa dia keluar membawa mobilnya tanpa terlacak oleh kita? Bukankah kita sudah memasang alat pelacak?'' tanya Ezra.
Lelaki itu tampak menautkan alisnya dalam, tanda berpikir keras.
''Aku sudah memberi tau letak alat itu kepadanya, hari itu Kak Ayu lebih dlu mencabut alat itu, lalu merusak dan membuangnya ketika perjalanan pergi dari rumah,'' jelas Keenan panjag lebar.
Ezra tampak mengangguk-anggukan kepalanya, namun dengan tatapan tajam masih tertuju pada sang adik.
''Apa lagi? Aku sudah mengatakan semuanya!'' tanya Keenan kikuk.
''Loe masih belum ngasih tau di mana Nindi sekarang?'' tekan Ezra.
''Astaga! kalau itu aku juga tidak tau, Kak Ayu hanya memberi bilang kalau dia akan pergi menemui masa lalu yang belum pernah ia temui,'' ucap Keenan.
Sudah hampir dua jam dia menghadapi pertanyaan sang kakak, itu semua sudah cukup membuatnya lelah dan pening.
Malam juga sudah semakin larut, para penghuni rumah yang lain bahkan sudah masuk ke kamar sejak tadi.
Sedangkan dirinya masih terjebak di dalam rasa penasaran kakaknya itu.
Hoam ....
Keenan menguap lebar di depan sang kakak, sebagai tanda protes sekaligus memberi tau kalau sekarang sudah waktunya untuk beristirahat.
Ezra berdecak kesal melihat kelakuan sang adik.
''Ya sudah, loe boleh pergi sekarang. Tapi, awas aja kalau loe berani berbuat kayak gini lagi, gue pastiin loe bisa merasakan hukuman yang gak bakal loe lupakan!'' ancam Ezra.
''Ya 'kan aku ngelakuin ini juga demi calon kakak ipar, masa Kakak masih mau menghukum aku juga?'' ucap Keenan sambil bersiap melangkah meninggalakan teras balkon kamar sang kakak.
'' Halah ... alasan! '' Sarkas ezra, memilih duduk di kursi sebelah bekas duduk Keenan.
...❤...
Pagi ini Ezra dan keenan berjalan terggesa-gesa menuju ke sebuah kantor seorang pengacara handal.
Ya, saat ini mereka ada janji temu dengan pengacara keluarga Darmendra, untuk membahas tentang bukti yang akan mereka laporkan pada polisi.
"Baiklah, Pak. Saya serahkan seluruh kasus ini kepada Bapak," ucap Ezra sambil berdiri kemudian bersalaman dengan lelaki paruh baya yang merupakan pengacara kepercayaan keluarganya.
__ADS_1
Di ikuti Keenan di belakangnya, lelaki berumur tiga puluh tahun itu, tampak gagah dengan stelan kemeja khas pakaian yang di pakai sehari-hari.
Setiap langkahnya tampak menjadi perhatian wanita yang bekerja di gedung yang sama dengan kantor pengacara tersebut.
Semua itu sudah menjadi hal yang biasa bagi keduanya, hingga bisik-bisik yang terdengar memuji rupa kakak beradik itu hanya menjadi angin lalu bagi keduanya.
Tetap fokus melangkah keluar, tanpa perduli pada setiap wanita yang mencuri perhatian mmereka.
''Tetap awasi mereka, sampai polisi menangkap dan memasukan orang tua itu ke dalam penjara,'' ucap Ezra, saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
''Siap Kak, kita liat apa alasan wanita tua itu melakukan semua ini keada Kak Nindi.'' Keenan tampak berbicara dengan penuh emosi.
Ezra mengangguk, menyetujui apa yang di katakan oleh sang adik.
...................................................................
Beberapa hari sudah berlalu. Pagi ini suasana di rumah besar milik keluarga Larry sudah ricuh karena kedatangan orang-orang yang tak di undang.
Beberapa orang polisi, Ezra, Ansel, Keenan dan beberapa orang yang berkepentingan untuk hadir, tampak datang ke rumah itu.
Larry yang sudah tau apa maksud kedatangan mereka, hanya berkata kalau dia tidak tau apa-apa, saat Arumi bertanya padanya.
Dengan senyum ramah, berbalut topeng wanitta baik hati, Arumi menyambut kedatangan rombongan tersebut.
Dalam hati wanita itu, penuh dengan tanya, dengan makksud kedatangan mereka.
Sebelum mereka pergi ke rumah besar itu, Ezra sudah memberi arahan kepada mereka semua agar bersikap biasa saja.
Maka dari itu sekarang mereka tampak santai, bahkan berpakaian seperti orang biasa yang ingin berkunjung kepada rumah kerabatnya.
Ansel sebagai anak dari Larry beralasan bahwa mereka semua adalah temannya.
Setelah hampir setengah jam berbincang, akhirnya Kemal menyerahkan surat penangkapan Arumi kepada Larry.
Arumi yang pada saat itu sedang duduk di samping suaminya, tampak membolakan matanya, ketika membaca apa yang tertera dalam kertas tersebut.
''Apa-apaan ini? Sebenarnya kalian itu siapa, apa maksud semua ini?!'' tanya Arumi, dengan suara yang jelas terdengar panik.
''Ansel, sebenarnya siapa yang kamu bawa ini, kenapa mereka mau menangkap ibu?'' tanya Arumi, beralih menatap selidik anak tirinya.
''Perkenalkan, mereka adalah salah satu anggota kepolisian yang akan menangkapmu atas semua tindak kriminal yang telah kamu lakukan kepada keluargaku terutama Nindi.'' jelas Ansel panjang lebar, dengan seringai tipis menghiasi wajahnya.
"Apa maksud kamu?! Aku ini ibumu, buat apa aku ingin berbuat jahat kepadamu? Pah, ada apa ini?" Arumi terus mencari pembelaan, wajah paniknya sudah tidak dapat lagi di tutupi.
Sedangkan para lelaki yang berada di ruangan yang sama masih terlihat tenang, melihat drama apa yang akan wanita paruh baya itu lakukan.
__ADS_1
"Anda sudah tidak bisa mengelak lagi, karena semua bukti sudah kami serahkan ke kantor polisi," Ezra ikut membuka suara.
"Apa? Bukti apa? Aku tidak berbuat apa-apa! Kenapa kalian berbuat seperti ini kepadaku?!" Suara isak tangis kini terdengar lirih di ikuti dengan air mata yang mengalir di wajah tuanya.
Kesedihan itu tampak nyata, kalau saja mereka tidak menemukan bukti yang kuat, mungkin saja salah satu di antara lelaki itu ada yang akan percaya pada wanita itu.
"Aku ini Ibumu, tega sekali kamu menuduhku begitu,"
Menunduk dalam, dengan air mata yang terus saja mengalir.
"Bila kamu memang tidak suka padaku, setidaknya pikirkan perasaan adikmu! Melati pasti akan sangat sedih jika tau Ibunya di laporkan ke polisi oleh kakaknya sendiri!"
Dengan sedikit menaikkan nada suaranya, Arumi terus berbicara. Berusaha meraih simpati dari Ansel dan juga Larry.
Namun, tak ada yang menanggapi semua ocehan tak penting dari wanita itu. Mereka semua diam, seperti sedang melihat sebuah pertunjukan.
Keenan berdecak malas, setelah ia merasa kalau drama ini sudah terlalu lama.
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu memutar sebuah video yang menampilkan adegan saat Arumi menyuruh seseorang, untuk mencelakai Ayu.
Wajah wanita itu langsung pucat pasi, saat mendengar semua itu.
"Ti-tidak itu bukan aku! Mas, kamu percaya kan sama aku?!"
Arumi menggoyangkan lengan Larry, mencoba mencari dukungan untuknya.
"Sudahlah Tante, sebaiknya akui saja semuanya," malas Keenan, dia bersidekap dada dengan wajah di buat semalas mungkin.
Ezra hanya menggeleng samar, melihat adiknya yang sangat bersemangat, untuk memojokan Arumi.
"Diam kamu, Aku tidak sedang bicara padamu! Semua ini pasti karena kalian 'kan? Kalian memengaruhi Ansel untuk membenciku dan melaporkanku ke polisi, atas perbuatan yang sama sekali tidak pernah aku lakukan!"
Arumi beralih kepada Ezra dan Keenan, menunjuk merek dengan tatapan penuh emosi.
"Jaga bicaramu, Tante. Sudah mending kakakku ini masih bermurah hati, dan meminta polisi untuk tidak memakai seragamnya, agar Tante masih bisa menjaga nama baikmu dari orang di luar sana!"
Keenan langsung mendebat apa yang di katakan oleh Arumi. Lelaki itu tidak terima kakaknya di tuduh menjadi penghasut.
Dia tau perjuangan Ezra selama ini, untuk mengungkap semua masalah Ayu dan membantu Ansel.
"Setidaknya, tidak akan ada berita, kalau istri dari pengusaha sukses Larry Ardinata telah di tangkap polisi di rumahnya sendiri," ucap Keenan lagi.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak melakukan apapun, untuk apa aku ikuti keinginan kalian!" bantah Arumi.
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...