
...Happy Reading...
...❤...
"Aku mencintaimu, Riska. Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku, aku mohon," ujar Keenan, memejamkan mata, menikmati aroma tubuh istrinya yang selalu membuat dia tenang.
Riska sempat terkejut, dia menekan dada Keenan untuk mengurai pelukan lelaki itu. Akan tetapi, Keenan tak mau mengalah, dia tak mau melepaskan Riska walau hanya sedetik saja.
"Bang?" Riska masih belum menyerah.
"Tetap seperti ini, Ris. Aku mau kamu tetap bersama dengaku, menemaniku di sepanjang umurku," ujar Keenan lagi.
Hati Riska menghangat walau dia masih meragu, dengan perasaan Keenan padanya.
"Lepaskan aku dulu, Bang," pinta Riska.
Akhirnya Keenan membiarkan Riska untuk terlepas dari dekapannya, walau tangannya sama sekali tak mau melepaskan tubuh istrinya, dia masih saja meletakkan satu tangan di pinggang sang istri.
Riska membuka kembali laci di sampingnya, lalu mengambil buku yang tadi sore ia dapatkan entah dari siapa.
"Lalu bagaimana dengan semua ini, Bang?" tanya Riska, menaruh buku itu di depan Keenan.
"Buku ini hanya tinggal kenangan, aku bahkan mau memperlihatkannya kepada kamu, sebagai bukti kalau dia hanyalah masa lalu, dan akan tetap menjadi masa lalu untukku. Sekarang ini, kamulah yang ada di dalam hatiku, juga masa depanku," jawab Keenan.
"Tapi, Abang masih menemuainya? Abang bahkan tak malu untuk memelukanya di depan umum," ujar Riska. Dia harus mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya lebih dulu, sebelum memberikan menjawab permintaan Keenan.
"Aku datang ke restoran untuk menemui kamu, Ris. Aku berniat untuk memberikan kejutan untuk kamu, sekaligus mempertemukan kamu dengan Alana dan meluruskan masalah ini," jawab Keenan.
"Aku juga tidak pernah memeluknya, dia hampir saja terjatuh, makanya aku menolongnya ... hanya itu saja, tidak lebih. Lagi pula dia datang bersama suaminya, orang yang menabrakmu dan membawa buku ini," jelas Keenan lagi.
"Jadi karena dia sudah menikah, Abang, memilih aku? Iya kan, Bang? Aku hanyalah penghalang bagi cinta, Abang? Bahkan mungkin hanya pelarian dari rasa sakit yang Abang derita karena kekecewaan, saat Abang tau kalau dia sudah menikah dengan lelaki lain?" Riska tersenyum miris, dengan airmata yang kembali menganak sungai di pipinya.
Keenan menggeleng cepat, bukan itu yang dirinya maksud, Riska sudah salah paham dengan penjelasannya.
__ADS_1
"Gak gitu, Ris. Aku tidak pernah menjadikanmu pelampiasan. Aku mencintaimu tulus, Ris. Lagi pula orang yang kamu lihat itu bukan dia, bukan Luna. Tapi, dia Lana ... adik kembar Luna. Kamu salah paham, Ris." Keenan berusaha menjelaskan, dia menangkupkan tangannya pada pipi Riska, mengarahkannya untuk menatap matanya.
Riska tersenyum getir, dia menggeleng dengan mata menatap wajah Keenan tidak percaya.
"Alasan apa lagi ini, Bang? Kembar? Abang, pasti hanya mengada-ngada dan memberikan alasan agar aku percaya kan?" ujar Riska.
"Enggak, Ris. Dia memang Alana, kembaran dari Luna. Aluna sudah meninggal beberapa tahun lalu. Percaya padaku, Ris ... aku mohon, Ris," Keenan masih mencoba meyakinkan.
"Aku hanya mencintaimu, tidak ada yang lain lagi, Riska. Aku memang sempat terpuruk karena alasan dia yang meninggalkanku karena rasa cintanya padaku. Dia tidak mau menjadi beban karena penyakitnya, dan melihat kesedihanku saat kepergiannya. Jujur aku sempat merasa menjadi lelaki yang tak berguna karena tidak bisa melihat kesakitan yang ia derita, padahal hampir setiap hari kami bersama. Aku merasa lemah, dengan kenyataan kalau kekuasaan keluargaku pun tak bisa mengungkap alasan di balik kepergiannya itu."
"Tapi kemudian, aku sadar ... saat ini dia sudah memiliki jalannya sendiri. Kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama, dan itulah jalan yang dia pilih, untuk tidak pergi di dalam pelukanku. Lalu untuk apa aku terus menyesali takdir yang telah Tuhan gariskan untuk aku, untuknya dan untuk kita?"
"Sementara saat ini, di sampingku ada sosok perempuan hebat yang sudah Tuhan pilihkan untuk menjadi pendamping hidupku, menemani sisa waktu di dunia ini. Kebersamaan kita selama ini, yang membuatku jatuh cinta, Ris. Semua sikap dan perlakuanmu padaku yang membuat hatiku berpaling darinya dan memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku, Riska."
"Aku mencintaimu, namamu sudah terukir di hatiku, jauh sebelum aku menyadari perasaan ini. Kamu sudah merebut perhatianku, bahkan sebelum ikatan pernikahan ini ada. Maafkan aku, karena selama ini aku terlalu larut dalam masa lalu, hingga tak mampu untuk menyadari rasa yang perlahan tumbuh untukmu. Maafkan aku karena aku begitu bodoh hingga hampir terlambat menyadari semua ini."
Keenan tak bisa lagi menahan semua perasaannya, dia mengungkapkan semua yang selama ini dia sembunyikan. Dia tak mau menyesal untuk kedua kalinya, dia tak mau lagi ditinggalkan oleh orang yang sudah dicintainya.
Riska terus menatap wajah suaminya, dia mencoba mencari kebohongan dari gerak tubuh dan mata yang tersembunyi, di setiap perkataan suaminya itu.
"Ris, aku tau ... sulit untuk kamu mempercayai aku lagi, apa lagi dengan rasa sakit yang telah aku goreskan padamu. Tapi, bolehkah kamu memberikan satu kesempatan lagi, aku mohon, Ris, jangan tinggalkan aku," mohon Keenan.
"Bang, I–ini ... aku–" Riska tak bisa lagi berkata-kata, lidahnya kelu, tak bisa mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya.
Keenan menarik tubuh Riska ke dalam pelukannya, dia tak sanggup bila harus menerima penolakan dari perempuan di depannya ini. Dia tak akan sanggup untuk kembali terjatuh karena ditinggalkan oleh seseorang yang sudah terlanjur masuk dan menguasai hatinya.
Biarlah orang menganggapnya egois karena memaksakan perasaan istrinya untuk mencintainya. Akan tetapi, hanya itulah yang hanya ia inginkan untuk saat ini.
Mengarungi hidup berdua dengan Riska, sampai nanti maut memisahkan. Keenan bersedia untuk berjuang, mengambil kembali hati Riska, dari rasa kecewa.
Keenan berjanji akan mengobati luka yang telah ia goreskan di hati istrinya itu, hingga Riska bisa menerimanya kembali, suatu saat nanti.
Riska akhirnya menyerah, hatinya tak bisa lagi menahan rasa yang ada, sebenarnya dia pun merasakan hal yang sama dengan Keenan, rasa tumbuh tanpa dia sadari, seiring dengan kebersamaan mereka berdua.
Rasa yang ada karena semua perlakuan lembut dan kejahilan suaminya, selama pernikahan mereka. Mungkin semua itu terlalu singkat untuk dikatakan sebagai cinta, hanya saja Riska tak bisa lagi memungkiri semua rasa itu.
__ADS_1
Riska akhirnya membalas pelukan suaminya dan mengangguk, hingga membuat Keenan tersenyum cerah.
"Terima kasih, Ris. Terima kasih, karena kamu sudah mau menerima aku yang penuh dengan kekurangan ini," ujar Keenan.
Riska tak menjawab, dia memejamkan mata, menikmati kehangatan tubuh suaminya dengan detak jantung yang berdebar seirama dengan jantungnya.
Seakan saling bersahutan, dengan ungkapan cinta yang sama.
Cinta yang selama ini hanya bisa terpendam.
Cinta yang tak pernah berharap untuk tersampaikan.
Cinta indah dengan perjalanan penuh liku.
Sampai akhirnya terungkapkan, dengan luapan rasa membuncah di dalam dada.
Cinta yang hadir dan tumbuh tanpa mereka sadari.
Hingga semakin berkembang dan membesar, memenuhi seluruh anggota tubuh.
Mengalir di dalam darah dan memberikan kehidupan untuk keduanya.
Cinta tulus tanpa alasan, yang tanpa sadar telah membuat mereka saling bergantung satu sama lain.
...🌿...
...Senangnya ... gimana nih, pada ikut senang gak?...
...Komen👍...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1