Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.41 Tau


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Flash back...


"Bagaimana?" Ansel langsung duduk di depan Ezra.


Saat ini mereka sedang berada di kantor Ezra.


"Keenan sedang dalam perjalanan," ucap Ezra, melihat sahabat lamanya.


Ansel hanya mengangguk, kemudian kembali pada pikirannya sendiri.


Beberapa saat yang lalu, dirinya langsung berangkat dari rumah sakit, ketika mendapati telepon dari Ezra, tentang hasil penyelidikan Keenan, tentang kehidupan Ayu.


Tiga hari lalu, Ansel langsung meminta tolong pada Ezra, untuk mencari tau, tentang kebenaran apa yang di bicarakan oleh Ayu, sekaligus mencari tau tentang kehidupan Ayu selama ini.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu, mengalihkan kedua lelaki itu.


"Kak.." sapa Keenan, setelah masuk ke dalam ruangan.


Ansel dan Ezra bergerak menghampiri Keenan yang lebih dulu duduk di sofa.


"Ini semua hasil penyelidikan tentang Ayu yang aku lakukan." Keenan menyerahkan amplop coklat besar di atas meja.


Ansel langsung mengambilnya dan membuka dengan sedikit terburu-buru.


Di dalamnya, ada map berisi beberapa lembar informasi tentang Ayu, dan ada juga flash disk, yang Keenan ambil dari berbagai CCTV beberapa tempat berbeda.


Raut wajah lelaki berusia tiga puluh tahun itu, langsung berubah kelam, kala membaca berbagai huruf di setiap lembarnya.


Ezra dan Keenan, hanya memperhatikan setiap perubahan dari raut wajah lelaki di hadapan mereka.


Ya, selama ini, Keenan lah, pusat dari semua informasi yang ingin di ketahui oleh Ezra.


Adik sekaligus asistennya itu adalah orang yang paling bisa di andaikan, dalam mencari informasi.


Banyaknya koneksi di berbagai tempat, mulai dari sisi hitam dan putih, memudahkan dirinya dalam melaksanakan semua perintah dari sang Kakak.


Ezra juga orang pertama yang tau tentang gugatan perceraian Ayu pada Radit.


Itu semua adalah berkat sang adik nakalnnya itu.


Ezra tampak mengerutkan keningnya saat melihat sahabat di depannya tampak meneteskan air mata.


Apakah, kehidupan Ayu selama ini sangat menderita, sehingga bisa membuat Ansel meneteskan air matanya.


"Zra, gue kakak yang brengsek," ucapnya menatap nanar Ezra, setelah selesai membaca setiap lembar berkas yang di dapat oleh Keenan.


Ezra tak menjawab, ia langsung mengambil lembar kertas di atas meja.


Membaca setiap baris kata yang tertera di sana, hingga beberapa saat kemudian dirinya kembali menaruh semua laporan itu di atas meja.


Wajah lelaki yang sudah mempunyai anak satu itu, berubah kelam, dengan lengan mengepal erat.

__ADS_1


Entah mengapa, hatinya terasa sakit, seperti ada ribuan anak panah yang menghujam tepat di dadanya.


Rasa sesak itu, begitu menyakitkan, hingga tenggorokannya terasa kering.


Tak pernah terbayangkan olehnya, betapa berat hidup yang telah Ayu jalani selama ini.


Tapi di sisi lain, dia juga tau, bagaimana perjuangan Ansel, untuk bisa mencari kembali Ibu dan juga adiknya.


Ezra melihat pada Keenan, bertanya kembali tentang kebenaran tentang laporan yang di bawa oleh sang adik.


Keenan mengangguk mantap, pertanda kalau semua yang ada di sana benar-benar sudah terbukti akurat.


Menghela nafas berat, melihat wajah prustasi sahabat karibnya itu.


"Menurut gue, memang pantas Ayu marah sama loe," ucap Ezra, yang membuat Ansel langsung melihatnya dengan mata merah.


"Kalau gue jadi Ayu, mungkin saat ini loe udah gak ada lagi di dunia ini," Ezra semakin memojokan sahabatnya itu.


Tangannya terkepal menahan setiap amarah yang hampir saja menguasai seluruh tubuhnya.


Entah mengapa, hatinya terasa panas, saat membaca, betapa sulitnya kehidupan wanita malang itu.


"Kak..." Keenan berusaha menghentikan perkataan sang kakak.


Ezra mengangkat satu tangannya, sebagai tanda pada sang adik, untuk tidak berbicara lebih dulu.


"Bagaimanapun loe selama ini, Ayu gak bakalan pernah tau, kalau loe gak kasih tau Sel..!"


"Loe beruntung, karena adik loe adalah Ayu, bukan orang lain.... Gue yakin, kalau yang lain, saat ini loe udah gak mungkin bisa dapet maaf lagi"


"Tapi Ayu beda, Gue yakin ... loe masih bisa mendapatkan maaf dari dia,"


Yang pasti, dia terkesima, melihat sang Kakak yang bisa berbicara panjang lebar.


Sangat mengejutkan memang!


Ezra yang bisanya sangat sedikit bicara, sekarang bisa berbicara panjang lebar dengan ekspresi yang bermacam-macam.


"Dari sejak kapan loe mulai perhatian sama cewek lain selain ibu dan Naura?" pertanyaan yang di ucapkan Keenan, menyita perhatian Ansel.


Ezra, terlihat menegakkan tubuhnya.


"Iya, sejak kapan loe perhatian sama sekitar loe?" tanya Ansel, menambah pertanyaan dari Keenan.


"Ya ... gue harus menilai orang yang dekat dengan anak gue. Bukankah Naura sangat dekat dengan dia? Mana mungkin gue ngijinin anak gue sama orang yang gue belum bisa percaya," jelas Ezra, panjang lebar.


Ansel menganggukan kepalanya, mendengar penjelasan dari sang sahabat.


Sedangkan Keenan hanya menyunggingkan senyum samar, melihat sang Kakak, yang berusaha menyembunyikan perasaannya pada wanita yang mulai masuk ke dalam kehidupannya.


Flash back off


"Ayo, coba temui Ayu, Mas. Jangan menjadi seperti pengecut yang sudah menyerah sebelum berperang terlebih dulu, bagaimanapun ... nanti sikap Ayu sama kamu, setidaknya kamu sudah berusaha!" Elena mencoba memberi semangat pada suaminya itu.


"Aku mau menemuinya, terserah kamu mau ikut atau tidak!" ucapnya lagi, meraih handle pintu dan langsung keluar dari mobil, tanpa menunggu jawaban dari suaminya.


"Ayu, apa kabar?" panggil Elena, setelah mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Eh, Kak El!" kaget Ayu, melihat wanita berstatus kakak iparnya itu berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Allhamdulillah, aku baik kak, gimana kabar Kakak?" tanya balik Ayu sambil berpelukan sekilas.


"Ayo masuk, Bian gak ikut kak?" tanya Ayu, melihat ke belakang Elena.


"Engga, dia lagi di ajak main sama Melati," ucap Elena.


Kedua wanita itu, berjalan beriringan menuju ke dalam butik dengan bergandengan tangan.


Melihat pemandangan di hadapannya, Ezra hanya menatap nanar, dengan perasaan berkecamuk.


Setelah kedua wanita yang sangat di sayanginya masuk ke dalam butik, Ansel keluar dari mobil.


Dengan sekuat tenaga, lelaki yang merupakan kakak kandung dari Ayu itu, mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan mobilnya.


Menarik napas panjang, lalu menahannya sebentar, membiarkan udara itu memenuhi paru-parunya.


Menghembuskan dengan sedikit kasar, berharap semua rasa sesak yang ada di dalam dada, keluar bersama dengan udara yang dia keluarkan.


Di lain tempat, Ayu dan Elena, sudah sampai di ruangan kerja Ayu.


Wanita itu tidak tau kalau Elena datang bersama dengan Ansel.


Mereka berdua asik berbincang bersama. Membicarakan tentang apa saja yang bisa di bicarakan.


Mulai dari tingkah lucu Bian waktu kecil, sampai hal-hal lainnya.


Elena sama sekali tidak menyinggung tentang keluarga suaminya, dia hanya membicarakan tentang dirinya dan sang anak.


Mungkin karena itu juga, Ayu terlihat nyaman, berbicara dengan Elena.


Walaupun, sesekali Ayu terlihat menghembuskan napas berat, seperti ada sesuatu yang membebani hatinya. Tetapi, ketika ditanya tentang semua itu, Ayu selalu mengelak dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


Sekitar lima belas menit berlalu, ada suara ketukan pintu yang menyita kedua wanita cantik itu.


"Masuk," ucap Ayu, mengira kalau itu adalah Riska-asisten pribadinya.


Tubuh Ayu langsung menegang, dengan wajah yang sedikit pucat, melihat seseorang yang berdiri tegap di pintu.


Mulutnya menutup rapat, dengan mata menatap lelaki itu dengan ekspresi tak bisa di tebak.


Mata keduanya, tampak terpaut satu sama lain.


Ayu langsung mengalihkan pandangannya dan menoleh ke sembarang tempat, asal tidak melihat mata itu, mata yang sangat ia rindukan.


Mata yang selalu di penuhi kehangatan, hingga membuatnya merasa aman ketika sedang bersama dengannya.


"Maaf mengganggu,..."


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Sambil nunggu aku up lagi, boleh mampir ke novel keren milik kak Irma kirana yang berjudul Tahanan Cinta CEO, ceritanya bagus dan pasti seru...


jangan lupa tinggalkan jejak ya..🙏😊🥰


__ADS_1


...🙏😊🥰...


__ADS_2