Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.268 Manusia Penuh Obsesi dan Dendam


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Riska yang mendengar teriakan Toni, dari jendela kamar tempat penyekapannya beberapa saat yang lalu, segera bersembunyi di balik pohon besar yang ada di sana.


Jantung yang bertalu, dengan napas memburu, tidak menyurutkan semangatnya untuk segera pergi dari tempat itu.


Rasa pening di kepala, tidak lagi dia pedulikan. Kini, bayangan wajah orang-orang yang dia sayangi, yang menjadi penyemangat agar dirinya bisa bertemu lagi dengan mereka.


Menoleh sedikit, melihat kalau dirinya sudah aman, untuk melanjutkan langkahnya. Riska berjalan lagi, dengan langkah yang sedikit terlatih, karena banyaknya batu kecil dan ranting tajam yang siap melukai kaki polosnya, bila dia tidak berhati-hati.


Apalagi, suasana yang mulai gelap, hingga mengurangi penglihatannya, dan mempersulit langkahnya.


.


Toni, mengumpulkan seluruh anak buahnya, dengan amarah yang sudah menguasai hampir seluruh kesadarannya. Kehilangan Riska, membuat dirinya menggila.


"Dasar tidak becus! Menjaga satu perempuan saja kalian tidak bisa?! Bodoh! Bodoh!" teriak Toni pada semua anak buahnya.


Bebera orang laki-laki bertubuh besar, tampak menunduk takut, bersiap untuk menerima sebuah perintah atau mungkin hukuman dari orang yang sudah membayarnya.


Ya, Toni bukanlah ketua para bandit atau bahkan kelompok kejahatan. Dia hanya laki-laki yang terobsesi oleh rasa cintanya yang berlebihan hingga membuat pikirannya hanya berkutat tentang cinta butanya pada Riska.


Dengan dukungan dari seseorang yang tidak sengaja mengajaknya untuk bekerja sama, membuat dia memiliki koneksi dan uang yang sangat cukup untuk melakukan semua itu.


Setelah merencanakan semuanya dengan matang, dan mencari celah di saat pengamanan untuk Riska lengah, dia akhirnya menjalankan rencananya.


Namun, kini Riska sudah hilang dan kabur darinya. Cita-cita untuk hidup bersama dengan wanita impiannya, kini hampir saja pupus, karena kelalaian dirinya sendiri.


Mata merah, dengan wajah menahan serangan amarah, terlihat jelas. Hingga dengan sekali gerakan, Toni mulai menyerang beberapa orang di depannya.


Beberapa orang lainnya tampak melerai hingga mencekal tangan Toni, agar laki-laki itu tidak lagi melakukan kekerasan pada teman-teman mereka.


"Jangan membuang waktu untuk melampiaskan kemarahan kamu di sini, lebih baik sekarang kita pergi dan cari kembali wanita itu," ujar salah satu laki-laki yang merupakan ketua para laki-laki lainnya.


Toni menghentikan pergerakannya, dia melepaskan cekalan dari laki-laki di sampingnya dengan gerakan kasar. Dia kemudian membenarkan bajunya yang terlihat kusut.

__ADS_1


Gayanya yang arogan, hanya membuat para laki-laki yang ada di sana, terlihat mencebik kesal.


"Cepat, cari Riska dan bawa ke hadapanku sekarang juga. Dan ingat, jangan sampai dia terluka sedikitpun," perintah Toni.


Dia langsung berlalu pergi, ke halaman belakang, tempat menghilangnya Riska.


"Dasar manusia gila!" umpat salah satu laki-laki yang terkena pukulan dari Toni.


Mereka pun akhirnya berjalan berpencar ke segala arah, untuk mancari keberadaan Riska.


.


.


Ezra menghentikan mobilnya, di saat jarak menuju tempat Riska disekap hanya tinggal beberapa meter saja. Dia ke luar, bersamaan dengan Keenan dan juga Alvin dari mobil berbeda.


"Kita hanya tinggal berjalan beberapa meter lagi ke depan. Karena, ini kawasan yang terpecil, akan sangat kentara, jika kita menggunakan mobil ke sana," ujar Alvin menjelaskan.


Ezra dan Keenan mengangguk, karena semua itu memang sudah mereka bicarakan sebelumnya.


"Aku dan Keenan juga beberapa orang anak buah kita, akan mencoba menyelinap masuk. Sedangkan kamu dan sebagian anak buah yang lainnya, tinggal di sini untuk berjaga, siapa tau ada situasi genting," ujar Ezra, ketika mereka sedang berkumpul bersama.


"Pak, Pak Keenan, tidak ada," lapor Alvin, yang menyadari ketidakberadaan Keenan di sana.


Ezra yang mendengar semua itu, mengedarkan pandangannya, memeriksa keberadaan adiknya.


"Sepertinya dia sudah ke sana lebih dulu. Aku akan menyusul, kamu tolong berjaga di sekitar sini," ujar Ezra, menepuk pundak Alvin sebelum melangkah menuju tempat itu.


Di sisi lain, Keenan melangkah melalui pepohonan, untuk menuju halaman belakang. Entah mengapa kakinya, seperti menuntunnya melewati jalan itu.


Walaupun itu pertama kali, dia menginjakkan kakinya di tempat itu. Akan tetapi, seperti ada yang menunjukkan arah, sehingga dia menemukan jalan kecil di sela pepohonan itu.


Berjalan terus hingga dia menemukan sebuah halaman, di mana di sana tampak banyak orang yang seperti sedang mencari sesuatu.


"Sedang apa mereka?" gumamnya sambil memperhatikan beberapa orang di sekitarnya, dari balik pohon yang ada di sana.


Sedangkan Ezra sudah mulai memasuki rumah itu dari bagian depan, dengan melumpuhkan penjaga gerbang, yang sedang lengah.

__ADS_1


"Kita berpencar dan cari keberadaan Riska juga Keenan," instruksi Ezra, pada setiap anak buah yang mengikutinya.


Ezra mengambil langkah untuk segera masuk ke dalam, di sana dia hanya menemui beberapa laki-laki yang kebetulan berpapasan dengannya.


Laki-laki dua anak itu, tidak lagi bergerak secara diam-diam seperti biasanya. Kali ini, dia bertindak terang-ternagan dan menyerang dari depan.


Dengan tubuh yang masih bugar, dia meladeni setiap pertarungan dengan sebuah kemenangan di akhirnya. Walaupun tak dipungkiri, beberapa pukulan berhasil mengenai bagian tubuhnya.


Menyususri satu per satu ruangan yang ada di sana, sesekali Ezra juga harus mendobrak paksa pintu yang terkunci demi menemukan keberadaan adik iparnya.


Namun, matanya kini melebar, saat melihat sebuah kamar dengan nuansa lembut. Di sana terlihat banyak sekali foto Keenan dan Aluna, semasa mereka masih bersama.


"Apa ini? Apa dia sengaja menuntun Keenan ke mari, untuk melihat ini semua?" gumam Ezra, sambil memperhatikan setiap bingkai foto yang tersusun rapi menghiasi ruangan itu.


"Ternyata mereka berdua memang sama-sama gila! Alana yang gila dengan dendamnya, juga Toni yang gila dengan rasa cintanya. Sialan, pantas saja aku sulit menemukan Riska, ternyata kali ini aku berurusan dengan manusia tidak waras," geram Ezra, mengumpat sambil menatap tajam seluruh ruangan yang dia tebak sebagai bekas kamar Aluna, semasa hidupnya.


Dia pun memilih keluar dan dengan langkah cepat, memeriksa setiap ruangan yang ada, di rumah itu.


"Pak, sepertinya di sana tempat Bu Riska di sekap," lapor salah satu anak buahnya, menunjuk ke bagian belakang rumah.


Ezra hanya mengangguk, lalu melangkah cepat menuju tempat yang ditunjukkan oleh salah satu anak buahnya itu. Sampai di sana, perasaannya semakin kacau, ketika melihat banyaknya darah yang bececeran di lantai dan juga ranjang yang berantakan.


Apa sebenarnya yang terjadi di sini, kenapa begitu banyak darah yang tercecer di lantai juga ranjang yang berantakan, gumam Ezra di dalam hati.


Dia memijit pelipisnya, dengan salah satu tangannya berada di pinggan, merasa sudah terlambat.


Perhatiannya kini beralih pada jendela yang terbuka, dia melihat dari sana, ke arah luar. Ada bekas tangan berlumur darah, di salah satu kayu, yang membuat mata Ezra memicing.


Pasti Riska berusaha kabur dari sini! gumamnya di dalam hati, sedikit menebak dan memberi harapan di dalam hati.


Dia pun melihat sebagian dari anak buahnya terlihat sudah bertarung dengan beberapa orang pria di halaman belakang.


Ezra pun langsung meloncat dari jendela, dan bergabung dalam pertarungan itu. Matanya mengedar mencari keberadaan adiknya di sana. Akan tetapi, dia tidak menemukan keberadaan Keenan sama sekali.


Pergi ke mana dia? gumamnya dalam hati, di sela menangis pukulan dan menyerang pada beberapa orang sekaligus.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2