
...Happy Reading...
...❤...
Keenan mulai menyedok makanan di depannya, dia mengulurkannya pada Riska terlebih dahulu.
"Kamu dulu yang makan, baru nanti aku," ujar Keenan, dengan tangan memegang sendok di depan mulut istrinya.
Riska terdiam, dia manatap makanan di depannya sejenak, sebelum akhirnya membuka mulut dan menerima suapan pertama dari sang suami.
Keenan tersenyum melihat Riska mau menurut padanya, dia juga memulai makannya. Keduanya kini benar-benar makan menggunakan satu piring bersama, dengan Keenan yang menyuapi Riska.
Beberapa saat kemudian, Keenan dan Riska sudah selesai dengan makan malam mereka yang sudah sangat terlambat itu, keduanya kini memilih untuk kembali ke kamar.
Keenan pamit untuk membersihkan diri terlebih dahulu dan mengganti baju, sedangkan Riska memilih duduk di sofa, menunggu nasi yang baru ia makan untuk turun terlebih dahulu, walau matanya sudah terasa sangat berat.
Riska baru mnyadari jika pakaian Keenan sudah berbeda dari yang tadi pagi dia pakai. Riska mengernyit, mendapati semua itu, karena tidak biasanya Keenan berganti baju di luar.
"Abang, sebenarnya ke mana aja hari ini, kenapa bisa pulang sampai larut malam begini?" tanya Riska, saat Keenan baru saja keluar dari kamar mandi.
Keenan tampak menegang, ia tak tau harus menjawab apa, walau semua itu bisa dia kendalikan dengan cepat dan di samarkan melalui senyuman.
Duduk di samping sang istri dengan tangan merangkul bahu Riska, dia menyandarkan tubuhnya ke belakang, dengan pikiran yang masih memutar mencari alasan.
"Aku ada pekerjaan di luar kota yang sangat mendesak, jadi lupa ngabarin kamu," ujar Keenan, memilih berbohong.
"Oh, apa kejadian seperti ini sering terjadi?" tanya Riska lagi.
__ADS_1
"Heuh?" Keenan yang belum mengerti maksud Riska mengernyit.
"Ke luar kota mendadak sampai lupa menghubungi kantor ... apa itu sering terjadi?" ulang Riska.
"Hah, kantor? Kamu tadi siang ke kantor?" bukannya menjawab, Keenan malah bertanya kembali.
"Iya, tadi aku ke kantor Abang, saat Abang gak dateng ke restoran," angguk Riska.
Keenan tampak terdiam sebentar sebelum mulai menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
"Tidak juga, hanya saja tadi pagi memang terjadi sesuatu yang mendesak," ujar Keenan, kembali memberi alasan.
Riska menganggukkan kepalanya, sebagai respon dari perkataan Keenan. Dia tak lagi memberikan pertanyaan hingga beberapa saat yang mereka lalui dengan keheningan.
"Sekali lagi maafkan aku, soal janji tadi siang. Aku benar-benar benar tidak sengaja," ujar Keenan, mengakhiri keheningan di antara keduanya.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi, mungkin ini konsekwensi untuk menjadi seorang istri dari lelaki yang sibuk seperti, Abang. Lagi pula, aku juga harus mulai mengerti dan beradaptasi dengan kesibukan Abang selama ini," ujar Riska.
"Terima kasih, sudah mau mengerti aku," bisik Keenan, setelah memberikan kecupan di puncak kepala istrinya.
Riska menutup mata, menikmati rasa hangat yang menajalar di tubuhnya, walau hati belum benar-benar terlepas dari rasa kesal dan marah.
Namun, Riska sadar, pernikahan mereka bukanlah pernikahan normal yang dilandasi dengan rasa cinta. Dia masih meras sbelum berhak untuk ikut campur terlalu jauh pada kehidupan suaminya.
Terlebih lagi, dia bahkan belum menemukan kejelasan perasaan Keenan kepada dirinya. Saat ini dia hanya bisa mengandalkan kepercayaan dan keteguhan hati dalam menjalani hubungan pernikahan yang bagaikan sebuah formalitas belaka, tanpa melibatkan perasaan di dalamnya.
Riska tahu, kalau ini bukanlah sesuatu yang mudah untuknya, apa lagi sekarang ini dia sudah menyerahkan semuanya pada sang suami. Dia tak bisa memungkiri, jika kebersamaannya selama ini, mulai menumbuhkan benih rasa suka dan kenyamanan, yang mungkin akan terus berkembang menjadi rasa cinta.
Namun, Riska berusaha untuk tetap mengendalikan diri, agar tidak tenggelam lebih dalam. Menghindari patahnya hati bila nanti kekecewaan datang.
__ADS_1
Walau sakit dan sesak selalu terasa, menyiksa batin dan juga raga. Akan tetapi, inilah yang dia pilih, dalam menjalani rumah tangganya kali ini, sampai kejelasan itu akhirnya dapatkan, suatu hari nanti.
"Kita tidur, yuk. Sudah malam, besok bukannya kamu harus ke butik lagi?" ajak Keenan yang langsung di angguki oleh Riska.
Mereka bedua akhirnya tidur dengan posisi Keenan yang memeluk Riska, tak ada kata hingga napas teratur menjadi pertanda bagi keduanya.
Baru satu jam tertidur, Keenan kembali terbangun, dia beranjak dari tempat tidur dan mulai melangkah dengan gontai keluar dari kamar, dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kerja.
Menjatuhkan diri di kursi kerja, dengan rasa kalut. Mendongakkan kepala dengan tangan memijit pangkal hidung, untuk menghilangkan rasa pening.
Pikirannya masih dalam ambang keresahan, dia masih belum bisa melupakan masa lalu, apa lagi kini dia tahu alasan Luna meninggalkannya.
Namun, dia sisi lain, dia juga merasa bersalah pada Riska yang kini sudah menjadi istri sahnya. Seorang perempuan yang telah menjadi tanggungjawabnya, di dunia sampai ke akhirat kelak.
Keenan sadar, saat ini hatinya tengah terbagi, antara masa lalu dan masa depannya. Entah mengapa, melepaskan salah satu dia antara mereka sangatlah sulit untuknya.
Perlahan ia menenggakkan tubuhnya, dengan tangan yang membuka laci kecil di bagian samping. Mengambil sebuah foto yang masih tergeletak di sana sejak beberapa tahun lalu.
Ibu jarinya, mengusap pelan wajah di dalam foto itu, dengan perasaan yang semakin kalut, menjerat dirinya untuk terus tenggelam ke dalam lautan kegamangan.
"Apa yang harus aku lakukan, Lun? Kenapa aku harus mengetahui semuanya, saat hatiku mulai berdamai dan menemukan pengganti kamu di dalam hidupku?"
Keenan mendesah prustasi, mencari ketenangan yang belum bisa dia rasakan sampai saat ini. Termenung sendiri, berteman gelap juga keheningankeheningan malam.
Menikmati setiap rasa yang masih membelenggu hati hingga dirinya merasa lelah, dan terlelap dengan posisi yang sama. Foto di tangan pun terjatuh dan menghilang entah ke mana, karena yang punya telah tenggelam bersama mimpi juga rasa lelahnya.
Beristirahat untuk sejenak, melupakan setiap kerumitan hidup yang ia jalani saat ini. Berharap semoga esok hari dia bisa membuka mata dan menyambut kehidupannya yang lebih baik.
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...