Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.116 Kembali bekerja


__ADS_3

 



 


...Happy Reading...


...❤...


Hari berlalu begitu saja, keadaan Ezra kini sudah kembali membaik. Bahkan dia akan kembali ke kantor setelah hampir sepuluh hari dirinya bekerja dari rumah.


Naura juga terpaksa menginap di rumah orang tuanya sampai hampir lima hari. Ezra dan Ayu memutuskan untuk menitipkan Naura sampai Ezra sedikit pulih.


Saat gadis kecil itu kembali, dia langsung bermanja dengan papanya, rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu, membuat Naura sedikit merajuk.


Untung saja ada Ayu yang selalu bisa merayu Naura, hingga anak itu bisa mengerti keadaan papanya. Sampai akhirnya gadis kecil itu ikut sibuk ingin membantu Ayu mengurus Ezra.


Dengan senang hati, Ayu selalu memberikan kesempatan Naura untuk membantunya, walau hanya sekedar mengambilkan obat atau menyuapi Ezra makan.


Dari awal, mereka  beralasan kalau Ezra hanya sedang sakit perut, Ayu yang tak mau Naura sampai mengetahui luka Ezra, selalu mengganti perban dan mengurus luka suaminya di pagi hari, ketika Naura sekolah dan di malam hari setelah Naura tidur.


Atau terkadang Ayu meminta bantuan Bi Yati untuk menemani Naura bermain, agar perhatian pada papanya teralihkah.


“Kamu yakin mau pergi ke kantor, Mas?” tanya Ayu, sambil membantu Ezra mengancingkan kemajanya.


“Iya, sayang. Sudah lama sekali aku gak masuk, kasihan Keenan. Lagian aku juga sudah sembuh, lihatlah ... kamu mengurusku dengan begitu baik, sampai dalam waktu singkat lukaku sudah mengering.”


Ezra berucap sambil sesekali memberikan kecupan di kening istrinya.


Ayu tak terganggu, walaupun ia sedikit kesusahan karena tubuh Ezra yang terus bergerak.


Setelah selesai dan kembali merapikan sedikit kemeja suaminya, Ayu mendongak menatap wajah Ezra yang sedang menatapnya dengan senyum teduh.


“Mas, yakin? Aku gak mau Mas bohong sama aku hanya karena mau keluar rumah,” ucap Ayu, dengan tatapan khawatir.


Dirinya masih begitu berat, melepaskan Ezra dari pandangannya, bayangan kejadian saat suaminya pulang dengan berlumur darah, selalu membuatnya gelisah.


Cup


Ezra mencuri satu kecupan singkat di bibir ranum istrinya, tangannya menangkup wajah cantik itu.


“Aku sudah baik-baik aja. Percaya sama aku, sayang,” ucapnya.


Ayu menatap suaminya sendu, perlahan tangannya melingkar memeluk tubuh Ezra, ia membenamkan wajah di dada bidang suaminya. Mencari ketenangan di pelukan hangat itu.


Ezra tersenyum, ia membalas pelukan sang istri. Sesekali ciuman di puncak kepala Ayu, Ezra berikan untuk menenangkan hati istrinya yang resa.


Lelaki itu tahu, kalau kejadian beberapa hari yang lalu memberi sedikit guncangan di dalam diri Ayu, hingga meninggalkan rasa takut berlebihan.


“Berjanjilah untuk pulang dalam keadaan baik-baik saja,” ucap Ayu masih dalam posisi memeluk Ezra, namun wajahnya ia hadapkan ke atas untuk menjangkau mata suaminya.


Ezra mengangguk, hatinya menghangat, mendengar permintaan kecil yang berarti begitu besar dari istrinya, tangannya terulur membelai wajah yang tampak melihatnya penuh harap.


Tok ... tok ... tok ....


“Mama, Papa!”


Suara ketukan pintu yang diiringi dengan terikan Naura mengalihkan perhatian keduanya.


“Ya, sayang. Sebentar!” teriak Ayu.


Wanita itu langsung melepaskan pelukannya, merapikan kemeja Ezra yang sedikit kusut di bagian dada, meraih kerudung dan memakainya, lalu berjalan menuju pintu kamar untuk membukanya.


Ezra menggelengkan kepala, saat melihat wajah panik istrinya. Meraih tas kerja yang sudah ia siapkan sebelumnya di atas ranjang, lalu berjalan mengikuti Ayu.


“Ada apa, sayang? Kenapa terik-teriak di depan kamar Papa dan Mama, hem?” Ezra langsung bertanya pada Naura, setelah Ayu membuka pintu.


“Rara udah laper ... tapi, Papa sama Mama, belum turun juga,” cebik Naura, menyulam tangannya di depan dada, dengan posisi merajuk.

__ADS_1


“Oh, anak Papa udah lapar ya? Kalau gitu ayo kita makan sekarang, Papa juga udah lapar nih!” ajak Ezra, berusaha mengalihkan perhatian Naura dari tingkah merajuknya.


Berlutut di depan Naura, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga anak sulungnya itu.


“Eh, Mama masak apa untuk sarapan kita, apa Naura sudah tau?” bisik Ezra seakan sedang bermain rahasia dengan Ayu, walau sebenarnya Ayu masih bisa mendengar perkataannya.


Naura terkekeh kecil, lalu melirik Ayu sekilas, ia langsung memosisikan dirinya untuk berbisik kembali pada Ezra.


Ezra menurunkan wajahnya, agar Naura bisa menjangkau telinganya.


“Mama masak  nasi goreng, omlet sayur sama jus kesukaan Papa.” Jawab Naura di telinga Ezra.


“Wah, beneran? Kalau gitu ayo kita ke meja makan sekarang, papa juga sudah lapar,” ajak Ezra.


 “Jadi gak sabar nih buat makan masakan, Mama,” ucapnya lagi, mengerlingkan matanya ke arah Ayu, sambil berdiri dan  menggandeng tangan mungil Naura, lalu mengajaknya pergi lebih dulu menuruni tangga.


Ayu menggelengkan kepalanya dengan senyum menghias wajah cantik itu, ia merasa gemas oleh tingkah ayah dan anak di depannya, melangkah untuk mengikuti Ezra dan Naura, tanpa mau mengganggu kehangatan di antara keduanya.


Beberapa saat kemudian mereka bertiga sudah berada di ruang makan, Ezra dan Naura sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Sedangkan Ayu terlihat sibuk melayani keduanya.


.............


Setelah mengantarkan Naura ke sekolah, Ayu melajukan mobilnya menuju Clarissa boutique, selama Ezra sakit, dirinya juga tidak pernah datang ke butiknya.


Setiap dua hari sekali Riska akan datang untuk memberikan berkas dan melaporkan bila ada pesanan gaun yang harus Ayu rancang sendiri.


“Assalamualaikum, semuanya!” sapa Ayu saat baru saja masuk ke dalam butik.


Semua pegawai langsung mengalihkan pandangannya dari kesibukannya masing-masing.


“Bagaimana kabar kalian, apa semuanya baik-baik saja?” tanyanya lagi.


Riska yang saat itu sedang berada di kasir, langsung menyambut bosnya dengan wajah sumringah.


“Aaa! Mba, aku kangen!” teriak Riska langsung memeluk Ayu.


Setelah melepas kangen dan berbincang sebentar bersama para pegawai butik, Ayu memutuskan untuk masuk ke ruangannya, ia memilih untuk memeriksa segala berkas dan laporan yang di berikan Riska di sana.


Waktu berjalan terasa begitu cepat, bila kita tengah sibuk atau mengerjakan apa yang kita sukai. Mungkin seperti itulah perasaan Ayu saat ini.


Ia merasa baru saja mendapatkan satu gambar desain baju pesanan pelanggan, saat Riska memberitahukan, kalau sudah waktunya menjemput Naura.


Sebelumnya Ayu memang sengaja menitip pesan pada Riska untuk mengingatkannya bila sudah waktunya menjemput Naura, ia sadar jika dirinya sudah berkutat dengan pensil dan kertas, akan mudah lupa waktu.


“Mba, sudah waktunya jemput Naura,” ucap Riska saat ia baru saja masuk ke ruangan Ayu.


Ayu langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia benar-benar tak menyadari kalau dirinya sudah hampir empat jam, duduk di tempat yang sama.


Segera bangkit berdiri dan merapikan meja kerjanya dengan bantuan Riska, lalu mengambil tas yang tergeletak begitu saja di atas meja tamu.


“Ris, aku pulang dulu ya, kalau ada apa-apa kamu telepon aja, atau datang ke rumah.”


Ayu berucap sambil berjalan ke depan. Dia memang berniat langsung pulang ke rumah setelah menjemput Naura.


“Baik, Mba,” jawab Riska sambil berjalan di samping Ayu, mengantarkan bosnya itu sampai ke tempat parkir.


Beberapa saat kemudian, Ayu sudah sampai di depan sekolah Naura. Melihat ke arah area sekolah, Ayu menghembuskan napas kasar saat matanya melihat sekelompok ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya keluar.


Bersiap menghadapi setiap omongan pedas yang keluar dari mulut mereka. Walaupun Ayu selalu bersikap acuh seakan tak peduli, tetapi, di dalam hati, ia juga masih merasakan sakit.


Sudah beberapa hari ini Ayu memilih menunggu Naura di dalam mobil, ia baru keluar jika anak-anak sudah mulai terlihat.


Saat ini, Ayu lebih memilih menghindar, daripada harus membela diri atau melawan. Bukankah terkadang diam itu lebih baik, maka itulah yang sekarang sedang Ayu lakukan. Biarkan saja mereka berbicara tentang dirinya sesuka hati, ia tidak akan peduli.


Bukannya orang yang membencinya tidak akan pernah bisa mendengar penjelasan dan melihat kebaikan dalam dirinya, jadi buat apa bersusah payah.


Sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya ia mulai melihat ada anak-anak yang sudah keluar kelas, itu menandakan kalau sudah waktunya pulang.


Sekolah ini memang selalu mengadakan kuis di akhir pelajaran, seperti pertanyaan atau sebuah permainan dengan peraturan, jika ada yang menjawab benar, maka akan lebih dulu keluar dan boleh pulang.

__ADS_1


Semua itu dilakukan demi menghindari para anak-anak berdesakkan dan saling mendahului. Juga salah satu cara untuk mengetahui apakah selama pelajaran siswa menyimak atau tidak.


Baru saja Ayu keluar dari mobil, Naura sudah terlihat berjalan menghampirinya, seperti biasa keduanya berpelukan lalu Ayu mencium seluruh wajah anaknya, seakan ia sudah lama tidak bertemu dengan gadis kecilnya itu.


“Kita langsung pulang?” tanya Ayu saat keduanya sudah di dalam mobil.


“Iya deh, Mah. Aku ada banyak PR hari ini,” jawab Naura dengan wajah yang sedikit ditekuk.


“Ya udah ... jangan murung gitu dong, sayang, Nanti Mama bantu ya.” Ayu mengusap puncak kepala Naura lembut.


“Beneran ya, Mah? Mamah mau bantu aku ngerjain PR!” Naura tampak lebih ceria saat mendengar perkataan Ayu.


“Iya, sayang. Bukannya biasanya juga Mama bantuin, hem?” Ayu bertanya, sambil mulai menjalankan mobilnya.


“Iya juga sih, hehe,” cengir Naura.


Ayu hanya geleng kepala. Melihat setiap tingkah Naura selalu bisa membuat dirinya bahagia.


Jalan tidak terlalu ramai, hingga butuh waktu hanya lima belas menit untuk sampai di rumahnya.


Ezra memang sengaja memilih lokasi yang dekat dengan berbagai fasilitas, seperti sekolah dan juga rumah sakit. Itu semua untuk memudahkannya jika ada sesuatu yang mendesak.


Setelah mengganti baju, Ayu membiarkan Naura istirahat dulu. Sedangkan dirinya memilih untuk menyiapkan makan siang, bersama Bi Yati dan beberapa orang pelayan yang bertugas di bagian dapur.


Hanya tiga puluh menit, semua hidangan untuk makan siang dirinya dan Naura sudah siap di meja makan. Ayu memilih untuk melaksanakan shalat zuhur bersama Naura terlebih dahulu.


“Ma, aku makan duluan? Udah laper banget nih,” rengek Naura setelah mereka selesai shalat. Gadis kecil itu sudah tidak tahan dengan bau masakan Ayu yang sangat menggoda.


“Iya, boleh,” jawab Ayu. Wanita itu tersenyum, hatinya menghangat setiap kali Naura memanggilnya mama.


Setelah membereskan peralatan shalat, Ayu memutuskan untuk mengirim pesan pada suaminya.


Ayu : Assalamualaikum. Mas, sudah makan siang belum?


Lama menunggu jawaban, tetapi pesannya sama sekali belum dilihat suaminya. Akhirnya Ayu mencoba mengirim pesan lagi.


Ayu: Mas, mau aku bawain makan siang gak?


Karena belum juga mendapatkan jawaban, Ayu memilih untuk menyusul Naura ke meja makan.


Baru saja keluar dari kamar ternyata ponselnya sudah berdering.


Senyumnya mengembang saat melihat nama suaminya di layar.


“Halo, sayang. Maaf tadi aku sedang ada klien.”


Belum sempat Ayu menyapa, suara Ezra langsung menerobos masuk.


“Assalamualaikum. Iya, Mas ... gak papa kok. Mas, udah makan siang?” tanya Ayu.


“Waalikumsalam. Sudah, sayang. Tadi di resto depan, sama klien. Gak enak soalnya dia masih anak temannya papa,” jelas Ezra.


“Oh, ya udah kalau gitu. Aku cuma mau nanyain itu aja kok,” jawab Ayu. Entah kenapa hatinya sedikit kecewa saat suaminya bilang sudah makan, sebenarnya tadi dia berharap untuk makan siang bersama.


“Aku tutup dulu ya, Mas. Kasihan Naura makan sendirian. Assalamualaikum.” Ayu langsung menutup sambungan teleponnya, bahkan sebelum Ezra membalas salamnya.


Menghapus satu tetes air mata yang tiba-tiba saja lolos begitu saja, Ayu memilih meneruskan langkahnya menuruni tangga, untuk menemani anak sambungnya makan.


Sedangkan di lain tempat, Ezra menatap ponsel dengan alis bertaut. Tidak biasanya Ayu memutuskan telepon begitu saja.


“Apa dia marah? Tapi, perasaan aku gak buat salah deh,” gumam Ezra, pelan.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Hai-hai semuanya, masih pada setia nungguin kelanjutan cerita Ayu dan Ezra kah? Mana nih suaranya?😁🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2