Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.126 Ungkapan Cinta


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Sampai di rumah, Naura langsung berlari menuju ke dalam, anak itu ternyata benar-benar, merindukan rumah dan semua orang di dalamnya.


“Bi Yati, aku kangen banget!” teriak Naura, berlari kepada wanita paruh baya itu.


Ayu yang baru keluar dari mobil dengan dibantu Ezra, tersenyum melihat keceriaan Naura.


“Kita langsung ke kamar saja ya, kamu harus banyak istirahat,” ujar Ezra. Saat ini mereka tengah berjalan menuju kamarnya.


“Tapi, bagaimana dengan Naura?” tanya Ayu, gusar. Dia takut nanti anak itu mencarinya.


“Dia sedang bermain bersama Bi Yati, biarkan saja dulu. Ingat, kamu juga harus memperhatikan kesehatan dirimu sendiri, karena sekarang ada anak kita di sini.” Ezra mengusap lembut perut Ayu.


Wanita itu mengangguk, dia tersenyum sambil merangkul tangan besar Ezra yang masih ada di atas perutnya.


Keduanya masuk ke kamar, Ayu tersenyum melihat ruangan yang sudah tiga hari ini dia tinggalkan. Walaupun  semua orang menyuruhnya pulang sejak mengetahui kehamilannya, tetapi, dia terus menolak. Sebagai seorang ibu, dia juga ingin mendampingi Naura di saat seperti ini.


“Aku mandi dulu ya, Mas. Udah gak enak banget rasanya,” ujar Ayu, setelah dia mengambil handuk dan baju ganti.


 “Iya, aku juga akan mandi di kamar sebelah,” jawab Ezra, yang membuat Ayu menghentikan langkahnya, lalu kembali menuju lemari dan  menyiapkan  baju ganti untuk suaminya.


Ezra hanya tersenyum dari tempatnya duduk, dia tahu Ayu tidak akan membiarkannya, menyiapkan semua keperluan sendiri.


“Ini baju ganti dan handuknya ya, Mas. Aku mandi duluan,” ujar Ayu, menyimpan semua barang milik Ezra di samping suaminya itu.


Cup


Ezra mencuri satu ciuman di bibir Ayu, saat wanita itu menunduk. Membuat semburat merah di pipi istrinya terlihat.


“Mas!” Ayu tampak mengerutkan keningnya dan berdiri tegak kembali.


“Kenapa? Aku kan mencium istri sendiri,” acuh Ezra dengan senyum menggoda.


Ayu menggeleng geli, lalu beranjak menuju kamar mandi tanpa mau menjawab perkataan suaminya.


Ezra terkekeh kecil. Melihat Ayu menghilang di balik pintu, dia pun beranjak menuju ke kamar sebelah, untuk menumpang mandi. Tubuhnya juga terasa sangat lelah,  setelah tiga hari ini terpaksa menginap di rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada di atas ranjang, seperti biasa, Ayu akan berbaring di dalam pelukan suaminya, dengan Ezra yang mengelus pelan puncak kepala Ayu.


Terasa sangat nyaman dan damai, Ayu perlahan menutup kelopak matanya yang sudah semakin berat, hingga perlahan napasnya terdengar teratur.


Ezra tersenyum, kembali ia mendaratkan satu kecupan di kening istrinya, lalu berlanjut pada bibir merah muda alami yang kini telah menjadi candu untuknya. Bermain di sana sebentar hingga tanpa sadar dia mengusik tidur Ayu yang baru saja terlelap.


“Emmh,” Ayu bergumam, membalik tubuhnya, merasa tidurnya terganggu, lalu kembali terlelap.


Ezra terkekeh kecil, melihat Ayu yang kini berbaring miring membelakanginya.


Perlahan dia juga membaringkan tubuhnya, memeluk sang istri dari belakang. Menutup mata, menikmati aroma khas dari tubuh dan rambut Ayu yang selalu membuatnya tenang.


Tanpa terasa kini keduanya telah sama-sama tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan.


Menjelang sore hari Ayu baru membuka mata, dia melihat ke samping kirinya, di mana Ezra masih tertidur lelap dengan posisi memeluknya.


Satu tangan dijadikan bantal olehnya, satu tangan lagi melingkar posesif di perutnya, kakinya bahkan bisa merasakan kaki Ezra yang menindihnya, napas yang keluar dari hidung suaminya bahkan dapat ia rasakan di kening.


Sedikit mendongak, dia bisa melihat wajah tampan seorang Ezra, dimulai dari rahang yang terlihat jelas dan tegas, ditumbuhi bulu pendek di sekitarnya, bibir merah yang selalu mengatakan kata cinta padanya, juga memberikan kecupan mesra walau terkadang jahil juga. Ayu sedikit meluruskan wajahnya, terkekeh kecil dengan pemikirannya sendiri.


Kembali mengangkat wajahnya, ia merasa belum puas mengagumi ketampanan suaminya, hidung mancungnya terus menghirup dan menghembuskan napas dengan teratur, hingga terasa di wajahnya. Hufth ... Ayu jadi ikut menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan, saat memikirkan itu.

__ADS_1


‘Ish, apa yang aku lakukan?’ gumam hati Ayu, merasa semua itu adalah perbuatan konyol.


Namun, tak ayal, dia kembali memperhatikan dua mata yang masih tertutup rapat, mata itu yang selalu menatapnya dengan penuh cinta dan damba, hingga akhirnya dia luluh dan jatuh pada kasih sayang tulus seorang Ezra. Menghancurkan dinding pemisah yang dirinya bangun, tanpa ada sentuhan atau kontak fisik lainnya.


Mata Ayu mulai berkaca-kaca ketika mengingat semua pengorbanan lelaki di depannya, untuk membahagiakan dan menjaganya. Dia teringat kembali saat perbincangannya, sebelum mereka tidur, di malam sebelum Naura sakit.


Flash back


“Aku mencintaimu, sangat.” Itulah kata yang selalu Ezra ucapkan setelah percintaan mereka. Hingga malam itu entah mengapa Ayu ingin menanyakan sesuatu.


“Benarkah?” tanyanya, dia mendongakkan kepalanya, melihat wajah Ezra yang tapak sedang menatapnya.


“Apa kamu masih meragukan rasa cintaku padamu, setelah semua yang aku katakan dan lakukan padamu, sayang?” Ezra bertanya dengan nada sangat lembut, diakhiri dengan kecupan singkat di keningnya.


Ayu bergeming, ada sebuah dorongan dalam hatinya yang membuat dia ingin tahu seberapa besar rasa cinta dan sayang Ezra kepadanya.


“Sejak kapan?” tanya Ayu lagi, kini dia bersandar di dada bidang suaminya, menutup mata, menikmati wangi tubuh yang sangat disuakinya. Dia mengingat kalau Ezra mulai mendekatinya setelah putusan sidang cerai, walau dia sendiri tidak yakin akan semua itu.


Ezra kembali tersenyum, tangannya terangkat membawa dagu Ayu ke atas agar dapat melihat wajah cantik istrinya, mengusap pipi halus halus itu dengan ibu jarinya.


“Kamu mau tahu yang sebenarnya?” Ezra malah berbalik bertanya.


Ayu mengangguk, sebagai jawaban.


Ezra kemudian melepaskan tangannya di dagu Ayu setelah mencuri ciuman di bibirnya. Mengeratkan kembali pelukan di tubuh mungil yang menjadi candunya, membuat Ayu kembali bersandar dan merapatkan tubuh polos mereka yang hanya tertutup oleh selimut.


“Aku mencintaimu ketika aku pertama kali melihatmu, sayang,” ungkap Ezra kemudian.


Ayu terdiam, mengingat kembali saat pertama ia bertemu dengan Ezra.


“Di taman itu?” tanya Ayu, dia mengingat kalau pertama kali mereka bertemu sewaktu hari aniversary dirinya dan Radit, yang berakhir dengan semakin retaknya hubungan rumah tangganya saat itu.


Ezra menggeleng. “Bukan, sayang.”


“Lalu, kapan?” tanya Ayu, dia sama sekali tidak tahu.


“Kamu ingat, saat pertama kali melihat mantan suamimu bermesraan di kafe?” tanya Ezra.


“Maaf, bukan ingin mengorek lagi luka lama kamu antara kalian berdua,” sambungnya lagi.


Ayu semakin bingung dengan apa yang dikatakan suaminya, dia kembali mendongak menatap wajah Ezra. Namun, kemudian dia menggeleng.


“Aku sudah tak pernah memikirkan semua itu lagi. Lalu ada apa dengan hari itu?” tanya Ayu lagi, dia semakin dibuat penasaran oleh setiap jawaban dan pertanyaan yang Ezra ucapkan.


“Hari itu aku ada di sana, melihatmu yang berusaha tegar, walau harus menahan rasa sakit teramat dalam. Aku kira saat itu kalian hanya sepasang kekasih, atau mungkin kamu baru diputuskan, lalu melihat mantanmu berjalan dengan wanita lain,” Ezra menjeda perkataannya, dia melihat ekspresi wajah Ayu.


“Melihatku?” Ezra mengangguk mendengar pertanyaan Ayu.


“Kamu ingat, lelaki yang mengetuk kaca mobilmu dan memintamu untuk menggeser mobil karena mobilku ingin keluar?” tanya Ezra.


Ayu terdiam, seperti memikirkan sesuatu.


“Bisa Anda majukan mobil Anda sebentar, Mobil saya tidak bisa keluar?” Ezra kembali mengatakan kata yang sama, saat dirinya bertemu dengan Ayu pertama kali.


“Jadi–,” Ayu melihat wajah Ezra, menatapnya lekat sambil mengingat kembali kejadian waktu itu.


“Tapi, dulu ... Mas, memakai pakaian formal dengan jas dan dasi?” Ayu mengingat kembali.


“Iya, dulu aku harus menggantikan Papah, untuk bertemu dengan klien, karena Papah harus pergi ke luar kota secara mendadak,” jawab Ezra.


Ayu kemudian mencebik. “Ck ... mana mungkin, Mas, sudah mencintaiku sejak itu, sedangkan kita saja tidak saling kenal.” Ayu sedikit memajukan bibirnya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


Ezra terkekeh, dia kembali mencuri ciuman dari bibir istrinya.

__ADS_1


“Aku sudah merasakannya saat itu, tapi, semuanya harus aku tahan saat aku menolongmu malam itu,” cerita Ezra lagi.


“Aku melihat kalau statusmu sudah menikah, dari kartu identitas yang aku gunakan, untuk mengurus administrasi rumah sakit. Baru saat itulah aku tahu kalau sebenarnya kamu sudah menikah–.” Ezra kembali menjeda perkataannya.


Ayu menatap raut wajah suaminya begitu lekat, ia tak pernah menyangka, Ezra bisa memendam perasaan begitu lama, tanpa terlihat olehnya sama sekali.


“Aku jadi menebak kalau yang kamu lihat di kafe waktu itu adalah suamimu, pantas saja waktu itu kamu terlihat sangat kacau,” Ezra membelai halus rambut Ayu.


“Hingga akhirnya pertemuan-pertemuan selanjutnya terus berlanjut, alam bahkan tidak pernah berpihak padaku, yang selalu berusaha menampik rasa yang ada padamu. Aku begitu tersiksa, rasanya sakit saat mencintai seseorang yang masih menjadi milik orang lain. Karena saat itu perasaan aku yang salah–,”


Ayu langsung menempelkan jarinya di depan bibir Ezra, dia tidak mau lagi suaminya mengingat masa itu.


“Tidak perlu diteruskan, aku percaya dan aku minta maaf atas semua itu,” ujar Ayu, cepat.


Ezra menautkan alisnya, mendengar permintaan maaf Ayu.


“Kenapa minta maaf? Tidak ada yang salah dalam perasaan cinta, buktinya dengan rasa itu aku bisa membantumu dan melindungi tanpa harus berharap, rasanya bisa melakukan itu saja sudah membuat hatiku lebih tenang. Memastikan kamu selamat dan semangat menghadapi setiap cobaan yang aku rasa sangat berat, itu seperti sebuah semangat juga untukku,” ujar Ezra.


“Aku mencintaimu, aku menyayangimu ... Ayunindia Clarissa.” Ezra meraup bibir merah muda itu, mereka bermain cukup lama, hingga terasa pasokan oksigen mulai menipis dan hasrat keduanya terpacu kembali.


“Aku juga mencintaimu, Mas,” lirih Ayu, setelah tautan bibir mereka terlepas.


Ezra merekahkan senyumnya, mendengar pernyataan cinta yang sudah lama ia tunggu. Ya, selama ini Ayu hanya akan mengangguk tanpa membalas pernyataan cintanya, tapi, kali ini dia bisa mendengar kata itu dari bibir merah muda istrinya.


“A–apa? Bisa di ulang lagi gak?” tanya Ezra.


“Aku mencintaimu, Mas,” ucap Ayu dengan pipi yang kembali bersemu merah.


Tawa Ezra meledak, dia benar-benar senang malam itu, kembali memberikan kecupan kilas di wajah istrinya sambil mengucapkan terima kasih.


“Terima kasih, sayang. Terima kasih,” ucap Ezra.


Ayu tertawa kecil, menahan rasa geli saat Ezra terus saja menghujani wajahnya dengan cuman kilas.


Flash back off


Cup


Satu kecupan di bibirnya, menyadarkan Ayu dari lamunan panjangnya, ia mengerjapkan mata, saat otaknya memproses sesuatu yang terjadi begitu cepat itu.


Ia kemudian melihat suaminya yang kini tengah tersenyum, melihat kepadanya dengan seringai jail di wajah.


“M–Mas, udah bangun?” tanya Ayu, dengan ekspresi bingungnya.


“Sedang melamun apa, hem? Sampai tidak sadar kalau aku sudah membuka mata sejak tadi,” bukannya menjawab Ezra malah kembali bertanya.


Ayu menggeleng cepat. “Tidak, aku tidak melamun apa-apa,” bantah Ayu.


“Hem, kamu pasti sedang memikirkan aku kan? Buktinya kamu melamun sambil memandang wajahku, bahkan sampai tak berkedip,” goda Ezra.


“Mas! Apa sih? Enggak!” Ayu menyusupkan wajahnya di dada Ezra, malu rasanya mengingat dia tertangkap basah, sedang memandang wajah suaminya. Dia memukul kecil di sana, sebagai tanda kekesalannya.


Ezra terkekeh, kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil istrinya. Hatinya begitu bahagia saat ini, bisa memeluk dan bersama dengan wanita yang begitu dicintainya.


Wanita yang sudah mengubah hidupnya dengan penuh warna dan pelajaran berharga, dari semua yang sudah mereka lewati bersama.


Wanita yang kuat oleh kesabaran dan imannya, tanpa mengandalkan kekerasan walau dia  bisa saja melakukannya. Wanita yang penuh dengan kasih sayang tulus, walau hidupnya dipenuhi perjuangan dan duri yang selalu membuatnya terluka.


...🌿...


...Heum, bahagianya ... aku jadi mau juga🤗😂😍❤...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2