
...Happy Reading...
...❤...
Di tempat lain, Larry yang baru saja sampai di rumahnya langsung menyuruh para pelayan membakar semua benda yang berkaitan dengan Arumi dan Melati. Mulai dari foto hingga baju, bahkan semua yang ada di kamar mereka harus segera di bersihkan malam ini juga.
“Bakar semua pakaian dan foto kedua wanita itu, bersihkan juga kamar mereka, ganti semuanya dengan yang baru. Aku tidak mau melihat lagi satu pun barang mereka di rumah ini!” perintah tegas Larry kepada semua pegawai di rumahnya, begitu Keenan meninggalkannya di ruang tamu.
Mereka semua langsung berpencar untuk melaksanakan apa yang di perintahkan oleh tuannya itu.
“Ada apa ini, Pah?” tanya Elena yang baru saja datang. Dia dihubungi oleh Keenan beberapa saat yang lalu.
Ya, tadi ketika Keenan dalam perjalanan mengantar Larry pulang, dia menghubungi Elena untuk segera datang ke rumah Larry.
“Tolong segera datang ke rumah Om Larry, aku membutuhkan bantuanmu.”
Itulah perkataan Keenan, saat meneleponnya.
Saat di depan rumah, Elena juga bertemu dengan Keenan yang terlihat berjalan tergesa-gesa.
“Ken, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu menyuruhku datang ke sini?” Elena mencegah langkah Keenan.
“Nanti aku jelaskan, sekarang kamu tolong temani Om Larry, jangan sampai dia berbuat yang tidak-tidak. Aku masih ada urusan lain!” jawab Keenan, lalu meneruskan langkahnya menuju mobil.
Larry mengalihkan pandangannya pada menantu perempuannya yang masih berdiri di ambang pintu.
Elena tampak terkejut melihat wajah berantakan mertuanya, mata merah dengan wajah pucat dan tampak sangat lesu.
‘Ada apa sebenarnya ini?’ gumamnya dalam hati.
Elena mendekati ayah mertuanya itu, lalu duduk di sampingnya.
“Papah salah, Papah bodoh, bagaimana mungkin selama ini Papah bisa begitu buta melihat apa yang terjadi di sekitar Papah, El?” lirih Larry, mengusap kasar wajahnya.
Elena menautkan keningnya, mendengar perkataan mertuanya yang sedang menyalahkan dirinya sendiri, entah karena masalah apa.
Namun, yang dia tahu saat ini adalah, keadaan Larry begitu terpuruk.
“Lebih baik sekarang Papah istirahat saja di kamar ya, jangan sampai kesehatan Papah terganggu karena semua ini,” ajak Elena merangkul bahu mertuanya.
“Tidak, El. Aku tidak mau pergi ke kamar, sebelum semua jejak para wanita itu tidak ada lagi di sana,” jawab Larry.
Elena semakin mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari lelaki paruh baya di sampingnya.
“Ya udah, Papa istirahat di kamar tamu aja. Yuk, aku anterin,” ucap Elena, tak kehabisan akal.
Setelah melihat Larry sudah lebih tenang, Elena memilih keluar dan menghubungi Keenan untuk meminta penjelasannya.
Alangkah terkejutnya dia, saat Keenan menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit dan juga di kafe, apalagi ketika mendengar kondisi Ansel yang mengamuk dan sekarang masih dalam keadaan tidur karena diberikan obat pemenang oleh dokter.
Keenan menjamin keadaan Ansel saat ini, apalagi di rumah sakit juga ada Ayu, dia yakin Ayu lebih bisa menenangkan Ansel bila nanti bangun, untuk kondisi kali ini, dibandingkan yang lain.
Keenan meminta Elena untuk fokus pada Larry, dia takut berita ini akan berakibat pada kesehatan Larry.
.............
Pagi menjelang, Ayu sudah tak lagi merasakan sakit di dalam perut bagian bawahnya, saat ini dirinya sedang mengelap tubuh Naura.
__ADS_1
“Nah, sudah selesai, sayang. Sekarang tinggal gosok gigi, Naura udah bisa jalan sampai ke kamar mandi belum?” ujar Ayu. Setelah selesai mengelap dan mengganti baju anak sambungnya.
“Kalau lagi duduk sih udah gak goyang-goyang, Mah. Tapi, Rara masih takut,” ucap gadis kecil itu.
“Hem, kalau gitu kita tunggu Papa dulu aja ya.” Ayu menyentuhkan ujung telunjuknya pada puncak hidung Naura.
Saat ini Ezra, sedang pergi ke ruang rawat Ansel untuk melihat kondisinya, sekalian ingin bertemu dengan Keenan.
Ayu sudah menceritakan kalau dirinya mendengar semua yang dikatakan oleh Keenan, malam tadi kepada Ezra.
Awalnya suaminya terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ayu, bahkan dia merasa bersalah, karena membiarkan Keenan berbicara seperti itu.
“Maafkan aku, sayang. Aku tak bermaksud untuk menyembunyikannya permasalahan itu padamu. Aku hanya sedang mencari waktu yang tepat, agar bisa membicarakan itu secara baik-baik dan suasana yang lebih santai,” jelas Ezra, setelah mendengar pengakuan Ayu. Dia berlutut di depan Ayu sambil memegang kedua tangan istrinya.
“Iya, aku ngerti kok, Mas. Gak apa-apa, bukankah sekarang ataupun nanti sama saja, cerita itu tidak akan pernah berubah?” ujar Ayu, menatap mata suaminya, dengan senyuman tipis di bibirnya.
“Semua itu sudah terjadi, mereka juga sudah tiada, jadi untuk apa kita mempermasalahkan waktu yang sudah berlalu? Aku sudah menerimanya, sekarang yang aku inginkan hanya menjalani hidup ini sebaik-baiknya, menjadikan semua itu sebagai pelajaran. Mas, masa lalu yang penuh perjuangan itu sudah berakhir, jadi tidak usah dipikirkan lagi,” imbuhnya lagi.
Ezra membelai lembut pipi Ayu, dengan senyum bangga di wajahnya. Untuk ke sekian kalinya, dia terpesona oleh ketulusan hati istrinya.
“Sekarang, aku hanya ingin mengabdikan hidupku untuk menjadi istri dan ibu yang baik, bagi kalian berdua.” Ayu kembali berucap, matanya melihat sekilas pada Naura yang masih tertidur, lalu kembali menatap suaminya.
“Terima kasih, sayang. Kamu sudah mau menerima kami berdua. Terima kasih ... aku mencintaimu.” Ezra beralih ke samping Ayu, lalu memeluknya erat.
“Jangan tinggalkan aku, Mas. Jangan hancurkan kepercayaanku, karena kalian berdua adalah sumber kebahagiaanku,” jawab Ayu, di dalam pelukan Ezra.
“Tidak akan pernah, sayang. Kamu bisa memegang perkataannya. Aku tidak akan pernah berpaling darimu, karena kamulah satu-satunya wanita yang aku cintai sampai kapan pun.” Ezra mencium puncak kepala Ayu.
Ayu mengangguk, ia mempererat pelukannya pada pinggang suaminya.
“Mama, kenapa bengong?” tanya Naura.
“Ah, enggak kok sayang, sebentar Mama telepon Papa dulu ya, biar Naura bisa ke kamar mandi buat sikat gigi.” Ayu mengambil ponsel di atas meja. Tersenyum geli saat mengingat lagi kejadian tadi pagi.
Suar pintu terbuka menghentikan pergerakan Ayu yang sedang membungkuk untuk mengambil ponselnya. Dari arah pintu, muncul Nawang dengan Garry di belakangnya.
“Lah, bukannya kamu sakit, kok malah jalan-jalan? Ke mana Ezra kok gak ada?” tanya Nawang, sambil menghampiri menantunya.
“Udah sembuh kok, Mah. Tadi malam mungkin cuma keram biasa aja,” jawab Ayu, sambil mencium tangan mertuanya dan memeluknya kilas.
“Mana bisa begitu, Mama sama Papa kesini biar kamu diperiksa ke dokter. Mana Ezra, istri sakit kok malah ditinggalin?” gerutu Nawang.
Ayu tersenyum, dia benar-benar merasa bersyukur bisa mendapatkan mertua yang sangat perhatian seperti Nawang, walau dalam hati ia takut kejadian Sari terulang lagi, bila dia tak juga mendapatkan momongan.
“Ezra sedang ke ruangan sebelah, liat Kak Ansel sekalian mau ngomong sama Keenan,” jawab Ayu.
Mereka asyik berbicara berdua, Ayu menceritakan sakit yang ia derita secara tiba-tiba tadi malam, setelah menggendong Naura ke kamar mandi kepada Nawang.
Sedangkan Garry memilih menghampiri Naura yang terlihat sedang menonton saluran televisi.
“Sayangnya kakek, sedang menonton apa sih, kok kayaknya seru sekali?” tanya Garry, mengusap lembut kepala cucunya.
Naura tersenyum senang melihat kedatangan kakeknya.
“Aku lagi nonton Nusa dan Rara, kek. Namanya sama kayak Rara jadi Rara suka, hihihi,” jawab Naura, dengan tawa kecil di akhir perkataannya.
“Ohya, Kakek bisa gendong aku sampe kamar mandi gak? Aku mau gosok gigi, tapi, Papah lama,” keluh Naura.
“Bisa dong, ayo sini Kakek gendong sampai ke kamar mandi,” ucap Garry sambil bersiap menggendong Naura.
Ayu hendak beranjak untuk membantu Garry saat Ezra tiba-tiba datang dan menahannya.
__ADS_1
“Kalian lanjutin aja ngobrolnya, biar aku yang bantu Papah,” ucap Ezra.
“Apa kamu kayak gitu juga kalau mau datang bulan?” tanya Nawang, setelah mendengar semua cerita Ayu. Dia mengira kalau mungkin menantunya akan kedatangan tamu bulanan.
Mendengar perkataan mertuanya, tubuh Ayu tiba-tiba menegang, kenapa dia sampai lupa dengan soal penting seperti itu. Ayu melihat aplikasi pencatatan tanggal menstruasi di ponselnya.
Matanya langsung menajam, saat melihat kalau dia bahkan sudah tidak pernah menandai hari menstruasi, sejak dua bulan yang lalu, terakhir dia memberi tanda, adalah satu minggu sebelum menikah dengan Ezra.
Itu berarti setelah dia menikah, dia tidak pernah mendapatkan lagi tamu bulanannya. Ayu menggeser layar ponselnya berkali-kali untuk memastikan kalau dirinya tidak salah lihat.
'Kok aku bisa lupa ya, sama jadwal bulanan aku?' gumam Ayu dalam hati. Tangannya tampak bergetar dengan debar jantung yang tak beraturan.
Nawang yang melihat wajah terkejut menantunya, mengernyitkan keningnya bingung.
“Ada apa, Ndi?” tanya Nawang.
Ayu mengangkat wajahnya, menatap muka mertuanya dengan mata berkaca-kaca. Walaupun itu belum pasti, tapi selama ini dia selalu datang bulan dengan teratur, kalaupun telat paling hanya satu atau dua hari. Sedangkan ini sudah dua bulan.
Tanpa berkata, Ayu memperlihatkan aplikasi khusus perempuan itu, pada mertuanya.
Nawang yang memang sudah tahu itu aplikasi apa, langsung melihat Ayu dengan binar bahagia, setelah melihat isi di dalamnya.
“Pokonya kamu harus periksa ke dokter, pagi ini juga, kalau perlu Mama yang akan antar kamu langsung!” semangat Nawang.
Garry dan Ezra yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap bingung saat melihat wajah bersemangat Nawang.
“Ada apa ini, kok heboh banget?” Garry langsung mendekat pada dua orang perempuan itu, setelah menggantung lagi botol infus Naura di tempatnya.
“Ezra, kamu harus bawa Nindi untuk di periksa sama tante Ranti sekarang juga,” ucap Nawang, pada anaknya yang baru saja menurunkan kembali Naura di atas brangkar.
“Tante Ranti? Bukannya dia dokter kandungan ya, Mah? Gak usah aneh-aneh deh, Mah. Aku gak suka ya Mama kayak gitu.” Ezra yang mengira kalau Nawang mau menyuruhnya dan Ayu program hamil, malah menuduh ibunya itu. Dia melihat Ayu, takut istrinya tersinggung dengan perkataan Nawang.
“Apa sih kamu, Zra? Justru sekarang Nindi harus diperiksa sama Tante Ranti. Ah, ya sudah kalau kamu gak mau biar Mama aja yang nemenin Nindi!” ujar Nawang sewot.
“Sebentar, Mama mau telepon tante Ranti dulu!” Nawang bagaikan sedang sibuk dengan dunianya sendiri, dia mengambil ponselnya di tas lalu menghubungi temannya itu.
Ranti adalah teman Nawang sejak SMA, sekarang dia adalah dokter sepesialis SPOG terkenal, yang kebetulan ada praktik di rumah sakit itu.
Ayu, Garry dan Naura, menatap bingung kelakuan wanita paruh baya itu. Sedangkan Ezra makin merasa tidak enak kepada Ayu.
“Mah, aku udah cukup senang ada Naura di tengah-tengah kita, Mah. Biarkan semuanya berjalan apa adanya, Mah. Gak usahlah pakai di periksa segala, apa lagi ikut program, aku gak mau!” tegas Ezra.
Ayu mengulum senyum, mendengar Ezra yang ternyata salah paham.
“Mas, bukan itu maksud Mama, dia cuman nyuruh aku periksa aja, bukan untuk ikut program,” jelas Ayu.
“Iya, lagian ngapain ikut program kalau ternyata istrimu udah telat duluan,” cebik Nawang, menatap tajam Ezra.
“Hah? Maksud Mama, gimana?” Ezra menatap Nawang dan Ayu bergantian.
Garry dan Naura pun ikut memperhatikan percakapan di antara ketiga manusia itu.
“Gak usah banyak tanya, pokoknya kamu harus bawa Nindi ketemu tante Ranti, cepat siap-siap, sebentar lagi tante Ranti sampai!” cebik Nawang.
Ezra mengangguk, sedangkan Ayu berdiri dan menghampiri Naura, untuk berpamitan kepada anak sambungnya.
Pagi itu, hati semua keluarga itu terasa berdebar, menunggu kepastian tentang kondisi Ayu saat ini, apakah semua itu karena sudah ada embrio yang berkembang di dalam rahimnya, atau karena sesuatu yang lain.
...🌿...
Entahlah, kita tunggu saja bab selanjutnya ya🤭🤭
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungannya🙏🥰 Kalian semua adalah penyemangat aku untuk tetap menulis dan melanjutkan karya receh ini. Lope-lope semunya❤❤❤
...Bersambung...