Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.278 Terbuka


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Pemeriksaan telah slesai beberapa jam yang lalu, kini Riska masih harus menginap di rumah sakit, setidaknya hingga esok hari dan semua hasil pemeriksaannya ke luar.


"Riska?" Ayu yang baru saja datang, langsung menghampiri adik iparnya itu dan memeluknya.


"Mba Ayu." Tangis Riska pun pecah di pelukan wanita yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri itu.


"Iya, Riska, aku ada di sini, kami semua ada di sini bersama denganmu," ujar Ayu sambil mengusap pelan punggung Riska, hatinya ikut terasa sakit saat mendengar cerita Ezra beberapa saat yang lalu.


Selama ini dia begitu menjaga Riska, bagaikan seorang adik kandung. Akan tetapi, kini dengan mudahnya seseorang membuat tubuh Riska terluka, bahkan jiwanya pun ikut terguncang.


Keenan yang sejak tadi duduk di kursi dekat brankar Riska pun memilih pindah ke sofa, bersama dengan Ezra.


"Mba, aku takut ... dia, dia, sangat menakutkan," lirih Riska, sambil mengeratkan pelukannya pada Ayu.


"Menangislah, menangis sampai kamu puas dan merasa lega," ujar Ayu, dia membiarkan Riska untuk terus menangis di dlam pelukannya.


Lama mereka terdiam di dalam posisi yang sama, hingga akhirnya perlahan tangis Riska mereda, dengan suara isakkan yang msih terdengar.


Keenan dan Ezra hanya memperhatikan, tidak ada yang berani menyela atau bahkan berbicara, mereka kompak untuk mengunci mulut, membiarkan Riska membuka dirinya pada Ayu.


Perlahan Riska megurai pelukannya dia menatap wajah Ayu yang memberikan senyum teduhnya, tnpa sadar dia pun ikut tersenyum tipis.


"Sudah sedikit lebih lega?" tanya Ayu.


Riska mengangguk, hatinya memang sedikit merasa lebih lega, setelah meluapkan tangisnya di pelukan Ayu.


Ayu melihat suami dan adik iparnya, dia memberikan isyarat agar keduanya ke luar drai ruangan itu terlebih dahulu.


Seperti sudah mengerti semua itu, Ezra dan Keenan pun berdiri dan berpamitan untuk ke luar terlebih dulu, tentu saja dengan alasan seadanya.


Setelah pintu kemblai tertutup rapat, Ayu kembali melihat Riska, dia menggenggam tangan Riska dengan usapan halus di punggungnya.


"Menangislah, itu wajar dan tidak perlu malu. Itu memang harus dilakukan untuk melepaskan rasa sakit yang kamu miliki. Tapi, setelah itu, kita berdamai dan berjanjilah untuk bangkit kembali." Ayu mencoba memberikan semangat untuk Riska.


"Aku tau, pasti kamu merasa sakit saat ini, itu semua wajar terjadi. Tapi, jangan biarkan rasa sakit itu terlalu lama menguasai kita. INgat ada pelaku yang harus kita berikan pelajaran, dan ada orang-orang yang sangat menyayangi kamu, mereka menunggu kamu untuk kembali semangat dan ceria, seperti dulu."


Ayu menatap mata Riska yang masih tampak merah, akibat tangisnya. Dia terus memberikan semangat dan motivasi agar Riska bisa bangkit kembali.

__ADS_1


"Semuanya sudah berlalu, dan sekarang dia sudah ditangkap polisi, tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi," ujar Ayu.


"Kami semua ada di sini, bersama kamu dan akan selalu mendukungmu. Kamu adalah perempuan yang kuat, benar kan?" ujar Ayu, berusaha membangun rasa percaya diri Riska kembali.


Riska mengangguk, "Ya, aku akan membuat dia menerima hukuman atas semua yang dia lakukan padaku."


Riska berkata dengan tatapan penuh kebencian, saat wajah Toni melintas di ingatannya.


Ayu tersenyum, melihat Riska yang terlihat mulai kembali menampakkan semangat dan percayadirinya.


"Ya, kamu benar, mereka harus mendapatkan hukuman, aku, Mas Ezra, dan Keenan, akan selalu menemani dan mendukung kamu." Ayu ikut menimpali perkataan Riska.


Malam itu akhirnya Riska mau mengungkapkan semua yang terjadi, selama bersama dengan Toni pada Ayu.


Ezra dan Keenan yang memantau keduanya lewat CCTV rumah sakit, mengepalkan tangan mendengar semua pengakuan Riska.


Keenan pun tidak bisa lagi menahan kemarahannya, dia langsung memerintahkan untuk menambah tuntutan pada Toni dan Alana, saat itu juga.


.


.


Riska membuka matanya, dia menatap wajah terlelap Keenan di sampingnya, rasanya sudah sangat lama semua itu menghilnag, hingga dirinya merasa sangat rindu melihat suaminya yang terlelap seperti ini.


Namun, baru saja tangannya menyentuh ujung rambut itu, tangan Keenan sudah menangkap dan menahannya.


"Akh." Riska menjerit tertahan.


"Mau apa, hem?" tanya Keenan, sambil membuka matanya.


"E–enggak, i–tu ... tadi ada nyamuk di sana," jawab gugup Riska, dengan pipi yang semakin memerah.


Keenan tersenyum, melihat wajah malu istrinya, dia pun tidak tahan untuk memberikan ciuman gemas, di wajah Riska.


"Mana ada nyamuk di sini, sayang. Kamu ini lucu banget sih," ujar gemas Keenan, sambil mencubit pelan hidung istrinya.


"Ish, Abang, Beneran tadi ada nyamuk. Kalau gak percaya, ya sudah." Riska menatap kesal suaminya, dia pun memalingkan wajahnya dengan senyum tertahan.


"Hey, aku yang diboongin, kok kamu yang ngambek sih?" Keenan memeluk erat tubuh Riska sambil menyusupkan wajahnya di leher sang istri.


Riska terkekeh geli, menerima perlakuan suaminya.

__ADS_1


"Geli, Bang," ujarnya, sambil berusaha menjauhkan kelapa Keenan dari lehernya.


"Biarin, ini hukuman karena udah bohong sama suami," jawab Keenan, sambil terus menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Riska.


Cklek! Tiba-tiba pintu terbuka.


"Ups, maaf." Alvin yang baru saja datang langsung menutup kembali pintu kamar rawat inap itu.


"Abang! Ish, kenapa gak dikunci pintunya? Aku kan malu," ujar Riska, sambil mendorong tubuh Keenan lebih kencang.


"Hehe ... maaf, sayang. Sepertinya aku lupa," jawab Keenan sambil mengusap tengkuknya.


"Ya sudah, aku temui Alvin dulu di luar ya, sayang. Takutnya ada yang penting," ujar Keenan, beranjak turun dari ranjang.


Riska mengangguk, dia pun memilih bangun dan duduk di atas ranjang.


.


.


Alvin memilih duduk di kursi tunggu yang berada di luar, awwalnya dia hendak memberi tau tentang pesan dari Aryo yang meminta bertemu.


Namun, sepertinya dia memang datang terlalu pagi, hingga bisa mendapati kegiatan terlarang adik bosnya itu bersama dengan istrinya.


Tanpa sadar wajah Alvin bersemu merah, merasa malu karena melihat hal yang tidak seharusnya. Walaupun dirinya sudah pernah berpacaran, akan tetapi, dia hanya akan bersikap wajar tanpa perlakuan lebih.


Astaga, sepertinya mereka lupa kalau saat ini sedang berada di rumah sakit, bukan di hotel, gerutu Alvin.


Sepertinya mulai saat ini dia harus mulai terbiasa, melihat sikap mesra para bosnya itu.


Mengingat sikapnya Ezra dan Keenan yang hampir sama saja, bila sedang bersama dengan istrinya.


Apalagi bisa sedang bersama, mereka seperti sedang saling berlomba, untuk melihat siapa yang paling romantis di antara keduanya.


Apa aku juga harus cepat menikah ya, biar gak cuman liat mereka mesra-mesraan gini? tanya Alvin dalam hati.


Tapi, sama siapa? Calon aja belum punya, batin Alvin, dengan wajah memelas.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2