
...Happy Reading...
...❤...
Tiga mobil mewah baru saja terparkir cantik di parkiran sebuah rumah yang lumayan besar.
Ezra, Ansel dan Keenan keluar dari mobil mereka masing-masing dengan gaya yang cukup, untuk membuat para wanita mengalihkan perhatian mereka.
"Dokter Ansel, selamat datang di rumah sederhana keluarga kami!" sambutan dari sepasang paruh baya yang berdiri di teras rumah terdengar sangat ramah.
"Selamat sore Pak Candra, Bu Candra." Ansel bersalaman dengan kedua paruh baya di hadapannya, di ikuti Ezra dan Keenan.
"Perkenalkan, ini teman saya yang kemarin sudah saya ceritakan. Ini, Ezra. Ini, Keenan," ucap Ansel, memperkenalkan kedua sahabatnya.
"Ah iya, dokter Ansel. Perkenalkan saya Candra dan ini istri saya," jawab Pak Candra.
"Apa, Pak Kemal ada?" tanya Ansel.
"Biasanya sebentar lagi dia sampai, mari masuk ... kita tunggu di dalam saja," ajak Bu Candra dengan begitu ramah.
Ansel mengangguk lalu melangkah bersama menuju ke dalam rumah, Ezra dan Keenan mengikuti mereka di belakang.
Duduk rapih di atas sofa ruang tamu yang memiliki warna pastel. Di depan mereka Pak Candra, duduk berdampingan dengan istrinya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah.
"Asslamualikum."
Suara salam dari arah pintu masuk mengalihkan ke enam orang yang sedang berbincang hangat.
"Nah, ini dia anak saya!" ucap Pak Candra, mengenalkan seorang lelaki yang terlihat berumur sekitar empat puluh tahunan yang baru saja datang.
"Baiklah, kalau begitu saya dan istri pamit ke belakang dulu. Silahkan bicara dengan anak saya." Pak Candra berbicara sopan, sesaat setelah mereka saling berkenalan dan menyapa.
Ezra, Ansel dan Keenan mengangguk sambil menyunggingkan senyum samar.
"Maaf, kami menganggu waktu istirahat Anda." Ansel mengawali pembicaraan.
"Tidak apa, ada apa yang bisa saya bantu?" tanya lelaki itu yang bernama Kemal, dengan nada suara yang sangat ramah.
"Begini, Pak Kemal ... kami ke sini ingin membicarakan soal ini," Ezra mengambil alih pembicaraan, dengan Keenan langsung menyiapkan berkas yang akan mereka tanyakan pada orang di hadapannya itu.
Ezra menjelaskan segala berkas dan video yang mereka bawa. Pengalamannya berbicara dengan para klien membuat suasana ruang tamu seperti dalam acara rapat yang cukup serius.
Keenan dengan sigap menyiapkan apa yang di butuhkan oleh Ezra. Sedangkan Ansel hanya diam memperhatikan. Dia sudah menyerahkan semuanya kepada Ezra sebelum datang ke sini.
"Baiklah, saya akan coba bicarakan masalah ini dengan atasan saya. Semoga itu bisa membantu masalah kalian," ucapan yang keluar dari mulut Pak Kemal, membuat ketiga lelaki itu tersenyum semangat.
"Baiklah, terima kasih atas bantuannya, Pak. Kalau begitu kami permisi," ucap Ezra setelah urusannya selesai.
__ADS_1
Ketiga lelaki itu keluar dari rumah keluarga Pak Candra setelah matahari sudah tak terlihat lagi, dan hari menjadi gelap.
Menjelaskan masalah mereka, ternyata cukup menyita waktu, hingga mereka tidak sadar kalau kini sudah menjelang malam.
...❤...
"Bagaiman dengan orang itu, apa dia sudah memberikan bukti?" tanya Ezra, saat berjalan beriringan bersama Keenan masuk ke dalam rumah.
Ya, mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing setelah dari rumah Pak Candra.
"Sudah kak, dan dia juga sudah kita tangkap sore tadi," jawaban tegas dari sang adik, membuat Ezra mengembangkan senyumnya puas.
Ezra mengangguk, menepuk pundak sang adik bangga.
Keenan tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari sang kakak.
Walaupun Ezra memang jarang berbicara. Tetapi, sebagai adik dia sudah tau semua makna gerakan dari sang kakak.
"Papah, Uncle!"
Teriakan dari gadis kecil yang berlari menyambut kedatangan kedua lelaki itu, membuat senyum cerah mengembang dari wajah kedua lelaki itu, tak dapat di tahan.
"Hai, Rara sayang!"
Keenan ikut berteriak, sambil membawa gadis kecil itu ke dalam gendongannya. Berputar putar hingga terdengar suara tawa gembira dari Naura.
"Hahaha ... udah Uncle ... udah Uncle!" teriak gadis kecil itu, meminta berhenti.
"Kalian ini kemana saja sih, kok akhir-akhir ini Mama liat sering pulang terlambat?" cerocos Bu Nawang yang baru saja turun.
Ezra mengambil Naura dari gendongan Keenan, membawanya duduk di sofa ruang keluarga.
"Gak apa-apa kok, Mah. Kita cuman lagi banyak kerjaan aja," jawab Ezra, setelah mencium tangan Nawang.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Mama gak mau kalian nanti pada sakit. Gak adik gak kakak sama aja, pada sibuk kerja, tanpa mikirin pendamping hidup," gerutu Nawang dengan tangan bersidekap dada.
Ezra dan Keenan saling melirik dengan hembusan napas bosan.
Begini jadinya kalau mereka ada di rumah, dan ibu mereka itu pasti selesai berkumpul bersama para temannya.
"Mama pasti habis arisan atau ketemu temen lama ya?" tebak Keenan.
"Iya, tadi siang Mama ketemu sama temen sekolah Mama dulu. Dia sedang jalan-jalan sama menantu dan juga cucunya." ucap sendu Nawang.
"Ibu juga mau kayak gitu, kapan ibu bisa jalan bareng sama mantu dan cucu? Sedangkan kalian berdua hanya sibuk kerja saja!" sambungnya lagi.
"Sudahlah, Mah. Nanti juga kalau sudah waktunya kami berdua pasti menikah. Sekarang kan ada Naura yang bisa Mama ajak jalan-jalan," jawab Ezra santai, menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Betul itu, kata Kakak, Mah!" Keenan ikut menimpali perkataan Ezra.
"Ish, kalian ini ... sama saja!" kesal Nawang.
__ADS_1
Selalu saja itu jawaban yang keluar dari mulut kedua anaknya, saat ia meminta di bawakan calon mantu.
"Sayang, ayo kita ke kamar saja. Papah sama Uncle kamu gak asik," ucap Nawang, memandang tajam kedua anaknya.
Ezra hanya menggeleng geli, melihat sikap protes dari wanita yang sudah melahirkannya.
Sedangkan Keenan terlihat terkekeh, menahan tawa melihat ibunya yang sedang merajuk.
"Sudahlah, Mah. Biarkan mereka menghabiskan masa mudanya dulu, kalau sudah waktunya, nanti pasti mereka akan mengenalkan calon mantu untuk kita," Garry berjalan menghampiri istri dan juga anak-anaknya.
"Terserah kalian sajalah!" acuh Nawang, menggandeng Naura berjalan menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar.
Ketiganya berbincang sebentar, setelah itu Keenan pamit ke kamar lebih dulu.
Drrtt ... Drrtt ... Drrtt ....
Suara getar ponsel milik Keenan yang tersimpan di atas meja mengalihkan perhatian Ezra.
"Keen, ada panggilan masuk dari nomer tak di kenal?" Ezra sedikit berteriak, sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Keningnya berkerut melihat deretan nomer yang tertera di dalam layar ponsel milik sang adik.
"Angkat aja kak, aku lagi tanggung," teriak Keenan yang sedang membersihkan diri di kamar mandi.
Ezra menggeser ikon hijau yang ada di layar benda pipih itu, dan perlahan menempelkannya pada telinga.
"Assalamualaikum. Keen, bagaimana perkembangan situasi di sana?"
Ezra mematung, mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
Suara yang sudah hampir sepuluh hari, ia tak pernah mendengarnya lagi.
"Keen, halo ... kamu denger aku gak? Apa sinyalnya sedang eror lagi ya?," terdengar suara dari seberang sana.
Mulut Ezra mengatup rapat, tak bisa ia gerakan.
"Astagfirullah, Keen ... jawab aku dong, ada suaranya gak ke sana?!" kini suaranya terdengar sedikit meninggi.
"N-Nin ... Nindi?" gumam Ezra dengan susah payah.
Rasa terkejut dan senangnya membuat dia kehilangan akal sehatnya dan bersikap layaknya orang bodoh.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Sampai sini dulu ya, terima kasih yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.🙏❤❤
Terima kasih juga untuk semua dukungan kalian semua🙏🥰
__ADS_1
Sampai jumpa di bab berikutnya👋👋😘😘