
...Happy Reading...
...❤...
Radit mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, ia tak menghiraukan semua umpatan dan kekesalan para pengendara yang lain.
"Tahan, sayang ... sebentar lagi kita sampai!" salah satu tangan Radit menggenggam lemgan sang istri yang sedang menahan sakit.
"Mas, ini sakit sekali," ucap lemah Mala, matanya sudah terlihat sangat sayu, dengan bulir keringat yang membasahi seluruh wajah pucatnya.
Darah segar tak hentinya mengalir, dari area intimnya.
"Iya sayang, maafkan aku ... maafkan aku," gumam Radit dengan penyesalan yang sangat mendalam.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah berada di ruang IGD rumah sakit.
"Maaf, anda di larang ikut masuk, mohon tunggu di luar," ucap sopan salah satu suster yang mendorong barangkar Mala.
Radit mengangguk lemah, ia duduk termenung di salah satu kursi tunggu di ruang gawat darurat.
ingatannya kembali pada beberapa saat yang lalu, ketika dirinya dan sang istri sedang berdebat hebat, karena masalah sepele.
Masalah, yang seharusnya bisa mereka selesaikan baik-baik. Namun karena ego dan amarah yang menyelimuti hati mereka, hingga kejadian itu terjadi.
Kejadian yang membuat Mala, akhirnya harus segera di larikan ke rumah sakit.
Flash back...
Brak....
Pyar...
Radit menendang pas bunga berukuran besar di dekatnya.
"Apa-apaan kamu, Mas! Kamu enggak terima aku blok nomor istri pertamamu itu, kenapa, Mas? Bukannya kamu bilang, kamu sudah tidak cinta lagi dengannya?!" ucap Mala, dengan emosi yang sudah terpancing, napasnya memburu karena emosi yang sudah memuncak.
"Iya, aku memang egois! Aku tidak mau berbagi dengannya, aku takut kamu akan berpaling padanya, aku takut kamu meninggalkan aku dan anak kita," lirih Mala mengusap perutnya.
"Bukankah Kamu bilang, kalau rumah tanggamu hanya karena ayah kamu saja, Mas? ... Lalu kenapa kamu harus marah, padaku?!" teriak Mala dengan menunjuk wajah sang suami.
"Dia masih istriku, Mala! Dulu, Aku memang sudah tak mencintainya lagi. Tapi bukan berarti aku lepas tanggung jawab dirinya. Lagi pula-"
"Lagi pula apa, Mas?!" air mata itu, sudah mengalir membasahi wajah wanita hamil itu.
"Aku baru sadar, ternyata aku masih sangat mencintainya," ucap Radit, jujur.
Selama ini dia merasa sudah tak ada perasaan lagi kepada istri pertamanya itu.
Dirinya merasa bosan dengan hubungan yang semakin lama, semakin terasa hambar, di tambah lagi tidak adanya keturunan yang menghiasi rumah tangganya.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari tantangan kembali, dengan mendekati wanita lain.
Namun, sekarang ... di saat ia melihat Ayu di dekati oleh lelaki lain, dia baru menyadari, kalau rasa itu masih ada.
Dia tak mau kehilangan wanita itu.
Wanita yang sudah ia nikahi dua tahun yang lalu.
Wanita yang sudah ia khianati kepercayaannya dan ia sakiti hatinya...
Namun, tak pernah sekalipun dia meminta ganti rugi atau membalas apa yang dirinya telah lakukan pada istri pertamanya itu.
Ya, selama beberapa minggu ini, selama Ayu sudah tak menghubunginya lagi, dia merasa ada yang kurang.
__ADS_1
Hidupnya terasa tak lengkap. Tetapi rasa ego dan kebahagiaan karena akan mendapatkan keturunan dari istri keduanya, Membuatnya mengabaikan yang lainnya.
Mala menggeleng kencang, sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Terkejut dengan apa yang ia dengar dari sang suami.
"Enggak ... kamu pasti bohong 'kan, Mas?" lirihnya, dengan air mata mengalir deras.
Radit menggeleng.
"Aku baru menyadarinya, dan aku memutuskan tidak akan melepaskan Ayu," ujar Radit, lugas.
"Kamu harus menerima semua keputusanku, rela ataupun tidak,"
"Enggak, aku enggak mau. Aku nggak mau!" teriak Mala histeris.
"Kamu jahat, Mas! Kamu melanggar janji kamu sama aku,"
"Bukannya dulu kamu janji akan menceraikan Ayu, kalau aku sudah mengandung anak kamu? Kenapa sekarang kamu bohong, Mas? Kenapa?!" Ayu merangsek maju, memukul dada bidang sang suami dengan brutal.
Dia sudah sangat mencintai sang suami.
Terjebak dalam bujuk rayu lelaki di depannya, hingga menghianati sahabatnya sendiri.
"Diam...!" bentak Radit dengan suara meninggi.
Tangannya menahan pukulan yang di layangkan oleh Mala, mencengkram kuat lengan sang istri, hingga Mala meringis menahan sakit.
"Lepas, Mas ... sakit," lirih Mala, mencoba melepaskan kedua tangannya.
"Kamu tidak perlu banyak protes, ini sudah menjadi keputusanku, dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan Ayu dari hidupku," tekan Radit sambil melepaskan tangan sang istri dengan kencang, lalu berbalik hendak pergi meninggalkan Mala.
Bugh....
Aakh....
Mala berteriak menahan sakit saat dirinya terjatuh duduk, karena dorongan dari sang suami.
Radit langsung berbalik, dan betapa terkejutnya dirinya, melihat wajah sang istri yang sudah pucat.
"Mas, sakit," lirih Mala lagi, dengan suara yang mulai melemah.
"Sayang, kamu kenapa?" Radit mencoba menggendong sang istri. Namun, salah satu tangannya merasakan ada sesuatu yang berbeda di sana.
Tangannya terasa lebab. Radit mulai mengangkat tangannya kembali.
"Astagfirullah ... darah!" ucap Radit dengan tangan bergetar dan mata yang sudah memerah.
Radit langsung membawa Mala ke dalam mobil, dengan perasaan bersalah serta khawatir yang membuat dirinya sangat menyesal.
Di tambah, suara rintihan dari sang istri yang semakin membuat dirinya di landa kegelisahan.
Mengapa dirinya selalu saja tidak bisa menahan emosi, hingga menimbulkan rasa sesal di akhirnya?
Pikiran itu, yang sekarang berkecamuk di dalam kepalanya.
Flash back off
...❤...
Di tempat lain, di sebuah rumah besar, sepasang paruh baya, baru saja sampai di rumah sang anak.
"Eh, Mama, Papah," sapa Elena menyambut kedatangan sang mertua.
Mencium tangan keduanya,dan berpelukan sekilas dengan sang ibu mertua.
"Kenapa enggak bilang dulu kalau mau ke sini, biar Mas Ansel jemput," ucap ramah Elena, sambil berjalan beriringan, masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Tidak usah, kami tau suamimu itu sangat sibuk. Ini ayahmu dari kemarin katanya perasaannya selalu tidak tenang, makannya dia mau bertemu dengan Ansel," ujar sang ibu mertua.
"Kami tidak apa-apa kok, Mas Ansel juga baik-baik saja. Tapi sekarang dia masih di rumah sakit," ucap Elena.
Di dalam hati, ia bingung harus menjelaskan apa kepada kedua mertuanya itu.
Apakah dia harus berterus terang dengan keberadaan Ayu, atau menyembunyikannya dan membiarkan suaminya sendiri yang menjelaskan semua itu.
"Ini sudah hampir maghrib? Kenapa dia masih ada di rumah sakit? Bukannya biasanya dia pulang jam empat sore?" tanya Lary, dengan kening berkerut dalam.
Elena menautkan kedua jarinya, menutupi rasa gelisah dari kedua orang paruh baya di depannya.
'Bagaiman ini, aku harus mengatakan yang sejujurnya?' batin Elena.
"El," panggil Arumi yang melihat menantunya melamun.
"Eh, i-iya, Ma?" ucap gugup wanita cantik itu.
Kedua paruh baya itu saling melirik, dengan penuh tanya, atas sikap yang di tunjukan sang menantu.
'Sepertinya ada yang di tutupi oleh menantuku ini,' batin keduanya.
"Ada apa, El? Apa Ansel berbuat sesuatu padamu, hem?" wanita paruh baya itu beralih duduk di samping sang menantu.
"Ti-tidak, Ma. Mas Ansel gak pernah berbuat hal yang buruk sama aku," geleng cepat Elena.
"Lalu, kenapa sayang?" tanyanya lagi lembut, mengusap lengan Elena yang terasa dingin dan lembab.
"Mas ... Mas Ansel cuman, sedang banyak pekerjaan aja kok, Mah," alasan Elena.
"Baiklah, kalau begitu. Sekarang kamu telepon suamimu dan suruh dia pulang," perintah Lary.
"Ta-tapi, Yah,"
"Tidak ada tapi, El. Hubungi sekarang, atau Papah yang akan telepon sendiri?" ucap Lary tajam, menyela perkataan dari sang menantu.
"Ba-baik, Ayah," ucap Elena mengambil ponsel di atas meja.
Dalam hati ia memgumpat, kebodohannya yang selalu saja tak bisa berbohong.
"Gunakan speker, Papah mau dengar,"
Elena kembali menegang.
"Ya sayang, ada apa?" Terdengar suara Ansel dari sebrang sana.
"Sepertinya aku akan menginap lagi di rumah sakit, karena Nindi sudah boleh pulang besok pagi," sambung Ansel, sebelum Elena belum sempat berbicara.
"Kamu gak papa kan, sayang?" tanya sang suami lagi.
Terdengar suara sedikit gaduh di sana, sepertinya Ansel sedang berada di kantin rumah sakit.
"I-iya, Mas," ucap Elena, sesuai isyarat yang di berikan oleh mertuanya.
"Ya sudah, aku tutup dulu ya, sayang. I love you," ucap terlahir Ansel sebelum mengucapkan salam dan sambungan telepon terputus.
"Siapa Nindi?"
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, kakak-kakak baik hati ❤❤❤🙏🙏
__ADS_1
Sambil nunggu aku up lagi, boleh mampir ke karya milik sahabat aku kak Shan Neen yang berjudul BERBAGI CINTA : TERNYATA AKU SEORANG PELAKOR.