Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.230 Kalem dan Kelam


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Begitu sampai di restoran, Keenan dan Riska memesan makanan untuk sarapan keduanya.


"Keenan, Riska, kalian juga ada di sini?" tanya seseorang yang tak sengaja berpapasan dengan sepasang pengantin baru itu.


Riska mengeratkan pelukannya di tangan Keenan, matanya menatap tajam, sosok yang kini berdiri di depan keduanya. Tersenyum manis dengan pakaian pantai yang sedikit terbuka di beberapa bagian.


Keenan tersenyum ramah, dai kemudian membalas sapaan dari orang itu.


"Oh hai, Alana, Aryo. Kalian ada di sini juga?" tanya Keenan, sambil bersalaman dengan Aryo.


"Iya, kebetulan aku sedang ada pekerjaan di sini. Kalian sendiri, sedang apa di sini?" tanya Aryo.


Keenan menoleh sekilas pada Riska dengan senyum penuh kasih sayang, Riska pun membalas tatapan Keenan, dengan bergelayut manja di lengan suaminya itu.


"Kami berdua sedang berlibur saja, menikmati akhir pekan berdua, sambil menghilangkan lelah, karena bekerja," jawab Keenan.


"Kebetulan sekali, kita bisa dong jalan-jalan bersama," ujar Alana dengan semangat tinggi.


'Apa-apaan wanita ini, udah tau kita jauh-jauh ke sini untuk berduaan, eh dia malah nawarin barengan' gerutu Riska dalam hati.


Riska tersenyum hambar, dia mencubit sedikit tangan Keenan, sebagai tanda tidak setujunya.


"Eum maaf sepertinya tidak bisa, kami sedang ingin berdua saja," tolak Keenan, secara halus.


'Aduh, bisa-bisa Riska ngamuk, kalau mereka lebih lama di sini'


Keenan kalang kabut, membayangkan rencana bulan madu berkedok liburan itu akan kacau, karena pertemuan mereka dengan Alana.


'Gitu dong, Bang. Untung aja punya suami peka. Awas aja kalau sampai, Abang, menerima ajakan mereka!' geram Riska dalam hati.


"Oh, begitu ya? Ya, gak salah sih, memang kalau pengantin baru, masih lengket, jadi gak mau diganggu sama orang lain." Alana berujar, sambil melihat Riska yang masih menempel pada Keenan.


"Hehehem ... iya," jawab Keenan, dengan tawa hambarnya.


"Iya lah, mumpung masih baru dan belum punya anak, puas-puasin derduaan dulu." Alana kembali berujar.


'Mau apa lagi sih perempuan? Lama banget gak pergi-pergi!' Riska melirik tidak suka pada keberadaan Alana.

__ADS_1


"Abang, aku sudah lapar. Abang, tega banget sih, udah bikin aku babak belur, semlaman, sekarang gak mau kasih aku sarapan," keluh Riska, sedikit mencebikkan bibirnya, satu tangannya mengusap leher yang sengaja ia tutupi menggunakan rambut, memperlihatkan bercak merah samar yang terlihat di sana.


Alana yang saat itu memang berada di depan Riska, langsung melebarkan matanya, saat dia bisa melihat jelas bekas percintaan yang tak tertutup sempurna.


'Panas gak? Panas gak? Panas lah, masa enggak! Haha ... ternyata ada gunanya juga ni tanda' gumam Riska, tertawa dalam hati, melihat ekspresi terkejut Alana.


'Sialan, berani-beraninya, dia mempertontonkan hal seperti itu padaku!"


Alana tampak mengempalkan tangannya, menahan getaran amarah di dalam dada.


"Iya, sayang. Tunggu sebentar ya," lembut Keenan, mengusap punggung tangan Riska yang berada di lengannya.


Wajah Keenan memerah, mendengar perkataan prontal dari sang istri.


'Astaga, Riska. Bisa-bisanya, kamu berbicara yang seperti itu di depan orang lain' melas Keenan dalam hati.


"Ah, sepertinya kami sudah mengganggu rencana kalian berdua, kalau begitu, selamat menikmati liburan kalian di sini. Kami permisi lebih dulu," ujar Aryo ramah.


Keenan dan Riska tersenyum sambil mengangukkan kepala samar sebagai jawaban.


Riska langsung melepaskan rangkulan tangan Keenan, lalu berjalan lebih dulu ke meja tempat mereka duduk.


"Suaminya sih kalem, sayang istrinya kelam," gerutu Riska sambil berjalan menjauhi Keenan.


"Kenapa kamu malah ninggalin aku, hem?" tanya Keenan, begitu duduk di depan sang istri.


"Abang, pasti sudah tau kan, kalau mereka ada di sini juga, makanya, Abang, ngajak aku berlibur ke sini?!" tuduh Riska.


"Eh, gak gitu, sayang. Aku benar-benar gak tau kalau mereka juga akan ada di sini," jelas Keenan.


'Aduh, tuh kan bener dia ngambek!' keluh Keenan dalam hati.


Riska berdecak kesal, dia menatap Keenan dengan tatapan tajam. Keenan yang tahu kalau istrinya itu belum bisa mempercayai perkataannya, berlaih duduk di samping Riska.


"Sayang, percaya sama aku, aku bener-bener gak tau kalau mereka ada di sini," mohon Keenan, dengan pikiran melayang, mencari cara untuk meluluhkan hati istrinya.


Riska tetap diam, dia malah beralih memanggil pelayan untuk memesan makanan untunya.


"Sayang, bagaimana kalau kita pindah hotel saja, atau kita pindah pulau, bagimana kalau kita ke lombok?"


Keenan masih berusaha berbicara demi merayu istrinya yang masih dalam mode merajuk.


Keenan sempat berhenti, saat pelayan menghampiri mereka, dia pun memesan sarapan untuk dirinya.

__ADS_1


Jujur saja, dia juga meraskan lapar yang sama, setelah semalaman hingga pagi tadi, tenaganya terkuaras habis karena acara jalan-jalan ke puncak gunung.


Riska masih menutup rapat mulutnya, hatinya merasa panas, saat pikirannya tentang Keenan yang masih tidak bisa move on dari mantannya, kini memenuhi kepalanya.


Pertemuannya dengan Alana pagi ini, benar-benar, membuat semangat Riska turun drastis.


"Sanyang, jangan diam begini dong. Bicara sama aku," Keenan mengambil tangan istrinya, dia menciumnya berulang, sebagai tanda permintaan maafnya.


Beberapa saat kemudian, pelayan yang mengantarkan makanan sudah datang. Riska pun, memilih menyibukkan dirinya untuk melihat makanan yang terdapat di dalam meja.


Keenan melebarkan matanya, melihat banyaknya hidangan yang Riska pesan, dan hampir semuanya berjenis makanan laut yang bercitarasa pedas.


"Sayang, ini semua kamu yang pesan?" tanya Keenan.


Riska hanya melirik sekilas, tadi dia memang tidak mendengar saat Riska memesan makanan, karena istrinya itu hanya menunjukannya pada pelayan.


Riska tak memberi respon, dia malah memilih untuk mulai memakan makananya, dia mengambil nasi goreng seafood dengan level pedas tinggi.


"Sayang, jangan yang ini. Perut kamu masih kosong, nanti kalau sakit bagaimana?" cegah Keenan, dia kemudian mengganti piring di depan Riska mengunakan milknya.


"Kamu makan ini saja, ini lebih cocok untuk sarapan," ujar Keenan, menyodorkan sebuah pancake dengan toping madu dan buah-buahan segar.


Riska tak menyentuhnya sama sekali, dia malah mengambil makanan yang lainnya lagi.


"Sayang." Keenan memanggil Riska, dia menatap wajah istrinya penuh permohonan, agar tidak lagi marah padanya, sambil terus menghalangi Riska makan.


Karena kesal, akhirnya Riska mengambil jus alpukat, dan meminumnya sampai habis, lalu berdiri, hendak pergi dari sana. Namun, lengan Keenan langsung menahannya.


"Jangan seperti ini, sayang," mohon Keenan, melihat wajah istrinya, dia pun baru sadar kalau mata Riska berkaca-kaca.


Riska diam, entah kenapa, bila dia mengingat tentang Aluna atau pun Alana, dia masih merasa cemburu dan curiga.


Kenyataan kalau Aluna telah bertahan sangat lama di dalam hati Keenan, telah membuatnya merasa kecil. Apalagi kini Alana seperti ingin menjauhkannya dari suaminya itu.


Dia mungkin bisa berpura-pura tegar dan kuat untuk melawan Alana, akan tetapi, dia juga tak bisa menahan rasa sesak dan sakit di dalam dadanya.


Melihat Riska yang sedang menahan tangis, Keenan langsung berdiri, dia menggenggam tangan Riska dan membawanya ke luar dari restoran itu.


Untung saja saat itu manajer restoran melihat Keenan, jadi mereka tak dicegah untuk membayar terlebih dahulu.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2