Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.252 Pengakuan Alana


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Aryo melebarkan matanya, melihat berbagai bukti yang ada di dalam amplop itu. Beralih melihat wajah sang istri dengan pandangan kecewa juga tak percaya.


“Apa semua ini, honey?” tanya Aryo, meminta penjelasan pada istrinya.


Tangannya mengangkat berkas dan amplop itu di depan wajah istrinya. Walau, raut wajah dan nada suaranya masih terdengar lembut.


“A–aku tidak tau, honey. Aku tidak pernah melakukan itu semua. Mungkin saja itu rekayasa mereka untuk membuat kita berdua bertengkar,” sangkal Alana, berusaha membela diri.


“Jadi, kamu menuduh kami memfitnahmu?!” ujar Keenan, tidak terima dengan perkataan Alana.


Ezra memegang tangan Keenan, agar adiknya itu tidak terpancing emosi, oleh wanita di depan mereka.


“Bila memang tuduhan kamu benar, atas dasar apa kami berbuat seperti itu?” tanya Ezra, menyela perkataan adiknya.


Aryo menatap Alana, menunggu jawaban dari istrinya. Dia berada di posisi yang sulit saat ini. Di satu sisi, dia mempercayai istrinya. Akan tetapi, semua bukti yang dibawa oleh Ezra dan Keenan, juga tidak bisa dia abaikan begitu saja.


Alana tampak bergerak kikuk, dia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, mencoba mencari alasan yang sekiranya dapat membuat suaminya lebih percaya padanya, daripada dua tamu laki-laki itu.


“Ya, mungkin saja, itu semua karena aku mirip dengan Aluna dan Keenan masih belum bisa melupakan saudara kembarku. Makanya, dia berusaha merusak rumah tangga kita, agar dia bisa merayuku kembali,” ujar Alana panjang lebar, dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.


Keenan menggeleng kepala samar dengan senyum sinis menghias wajahnya.


“Heh, percaya diri kamu tinggi juga ya. Kamu kira hanya karena kamu mirip dengan Alana, aku bisa mencintai kamu? Itu salah besar ... sudah lama aku sudah melupakan rasa cintaku pada kembaran kamu itu, dan sekarang rasa cintaku hanya aku berikan untuk istriku. Kamu mengerti?!” geram Keenan, dengan penuh penekanan.


“Ya, kamu memang tidak punya hati! Hingga tega membiarkan saudara kembarku menderita sendiri, dengan rasa sepi dan kerinduan bahkan sampai ajal menjemputnya! Awalnya aku kira mantan kekasih Aluna adalah laki-laki biasa saja, hingga dia tidak bisa mencari keberadaannya dan menyerah dengan keputusan Aluna. Tapi, setelah aku lihat kamu dari keluarga kaya, aku yakin kamu memang berniat untuk meninggalkan Aluna, karena penyakitnya. Iya kan?!” Alana berbicara dengan emosi yang menggebu-gebu.


“Kamu pasti sudah tidak mau menerimanya, begitu tau kalau Aluna mengidap penyakit yang mematikan, bahkan hidupnya tidak lama lagi! Dengan semua kekayaan dan kekuasaan keluarga kalian, aku bahkan tidak percaya kalau kalian tidak bisa menemukan keberadaan Aluna. Itu hanya alasan kamu saja, untuk menutupi sikap egois kamu, Keenan!” imbuhnya lagi, dengan telunjuk menunjuk wajah Keenan.

__ADS_1


Keenan menggelengkan kepala, menolak semua tuduhan dari Alana. Dia juga dibuat terkejut, karena ternyata selama ini Alana menyimpan rasa benci padanya, dan dirinya tidak menyadarinya sama sekali.


“Tidak seperti itu, Alana. Kami mencari keberadaan adikmu, bahkan kakakku datang langsung ke rumah Aluna untuk bertanya. Tapi, mereka sama sekali tidak mau memberitahu keberadaan Aluna pada keluargaku, bahkan kak Ezra malah mendapat hinaan dari semua keluargamu. Kamu salah paham denganku dan keluargaku, Alana,” sanggah Keenan.


“Tidak, aku tidak percaya padamu! Aku sendiri yang mendampingi Aluna di saat dia berjuang keluar dari masa kritis, aku yang melihat betapa sakitnya dia, karena tidak bisa bersama dengan kamu. Dia selalu berharap agar kamu menemukannya, aku tau itu ... walaupun dia tidak pernah mengatakannya.” Alana masih saja keras kepala dengan penilaiannya sendiri.


Keenan hendak kembali membantah anggapan Alana. Akan tetapi, Ezra langsung menghentikan pergerakaannya.


“Sudahlah, percuma saja kita menjelaskan kepada orang yang tidak pernah mau mendengarkan penjelasan kita,” gumam Ezra, menghentikan perdebatan adiknya.


Aryo menatap kecewa istrinya, yang ternyata selama ini memendam kebencian di belakangnya.


“Aku tidak pernah menyangka kamu adalah seorang yang berpikiran sempit dan pendendam, bahkan untuk masalah yang belum pasti kebenarannya,” ujar Aryo dengan mata memerah, menahan gejolak rasa kecewa pada istrinya.


“Ta–tapi, honey.” Alana masih mencoba mengelak.


“Sudahlah, honey. Lebih baik kamu urus saja masalahmu dengan mereka, aku pusing dengan semua ini,” ujar Aryo, memijat pangkal hidungnya yang terasa berat.


Kenyataan yang baru saja terungkap mengenai istrinya, membuat dia merasa kecewa juga malu. Kepalanya bahkan terasa tidak bisa lagi berpikir dengan jernih.


“Honey,” lirih Alana, dengan mata berkaca-kaca, juga rasa kecewa di dalam dirinya.


Tidak ada jawaban dari Aryo, laki-laki itu hanya terdiam dengan kepala menunduk dalam. Alana kembali mengalihkan pandangannya pada Ezra dan juga Keenan. Dia terlihat menatap penuh kebencian pada kakak beradik itu.


Keenan dapat melihat jelas, kilas kebencian dari mata wanita di hadapannya. Dia semakin yakin, kalau Alana adalah dalang dari menghilangnya Riska.


“Apa pun alasan kamu melakukan ini pada Keenan dan istrinya, kami tidak akan peduli. Asal kamu beri tahu aku, di mana sekarang Riska berada,” ujar Ezra, setelah melihat Aryo yang tidak mau ikut campur lagi.


“Apa maksud kalian? Riska itu istrinya Keenan, kenapa sekarang malah bertanya padaku?” ujar Alana sinis.


Kini, Alana sudah tidak mampu lagi untuk berpura-pura menjadi wanita yang polos dan baik di depan orang yang sangat ia benci. Lagi pula, suaminya juga sudah terlanjur mengetahui kebenciannya pada Keenan.

__ADS_1


“Tidak perlu berkelit lagi, sekarang beri tau kami, di mana istriku, atau aku akan melaporkan kamu ke kantor polisi, atas kejadian di Bali,” geram Keenan, sedikit mengancam.


“Tidak, aku benar-benar tidak tau di mana keberadaan istri kamu!” teriak Alana pada Keenan dan Ezra.


Pikirannya sangat kacau saat ini. Dia tidak mau sampai keluarganya harus hancur, hanya karena semua ini. Dirinya tidak bisa membayangkan bila sampai semua itu terjadi padanya.


“Baiklah, aku mengaku. Aku memang merencanakan semua itu, sewaktu kita di Bali. Tapi, soal hilangnya istrimu, aku sama sekali tidak tau apa-apa. Jadi, aku mohon kalian pergi dari rumah ini. Terserah saja, bila kalian ingin melaporkan aku ke kantor polisi,” ujar Alana, dengan pandangan putus asa.


Ezra dan Keenan saling menatap, mereka kemudian mengangguk dan pamit dari rumah itu. Mereka pun meminta maaf terlebih dahulu kepada Aryo, karena sudah membuat keributan di rumahnya.


Aryo hanya menggunakan kepala sebagai tanggapan dari permintaan maaf Ezra dan Keenan. Dia masih tidak bisa mengendalikan diri, atas semua kejadian mengejutkan pagi ini.


Ezra dan Keenan pun akhirnya ke luar dari rumah itu, setelah hampir satu jam mereka berada di dalam sana. Kembali masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk mengemudikannya lagi.


Hingga suara getar ponsel Ezra, mengalihkan perhatian kedua kakak beradik itu. Nama sang asisten tertera di layar, membuat Ezra langsung menggeser ikon berwarna hijau hingga tidak lama kemudian telepon pun tersambung.


“Ada apa, Vin?” tanya Ezra, sambil menempelkan ponselnya di telinga.


“Pak, bisa datang ke sini? Ada yang harus, Pak Ezra dan Pak Keenan, lihat di sini.”


Ezra mengerutkan keningnya, mendengar suara asistennya, dia melirik sekilas adiknya yang sudah mulai melajukan kembali mobilnya, ke luar dari halaman rumah Aryo dan Alana.


“Baiklah, aku ke sana sekarang,” jawab Ezra, sesaat sebelum menutup kembali sambungan teleponnya dengan sang asisten.


Di dalam hati, Keenan masih merasa ada yang mengganjal, mengenai sikap Alana beberapa saat yang lalu.


Dia masih ingin mencari tahu lebih dalam lagi. Karena dia masih mencurigai wanita itu, terlibat dengan menghilangnya Riska.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung


...


__ADS_2