Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.67 Posesif


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Mala langsung masuk ke dalam mobil suaminya, saat Radit baru saja menghentikan mobil di lobby mall.


''Ayo, kita langsung pulang aja,'' ucap Mala, sambil memasang sabuk pengaman.


Radit hanya mengangguk, lalu kembali menginjak pedal gas, mengendarai mobilnya membelah jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan lainnya.


"Bagaiman ini bisa terjadi, siapa yang menyebarkan luaskan hubungan kita?!" tanya Mala.


''Mana aku tau? Kalau aku tau dari awal, sudah pasti aku hajar orang itu.''


Radit menggeram marah, cengkraman tangan pada setir mobil pun tampak mengencang.


''Ini pasti perbuatan mantan istri sialan kamu itu!" kata Mala, dengan emosi yang mulai memuncak.


Radit mengerutkan keningnya, mentap Mala sekilas namun tajam.


''Kenapa? Kamu gak terima aku bilang mantan kamu itu, penyebab semua ini hah?''


Mala meninggikan suaranya, kepada suaminya itu.


''Bukan begitu, aku hanya tidak bisa mempercayai kalau dia bisa melakukan semua ini.'' ucap Radit.


''Lagi pula buat apa juga dia melakukan semua ini? Bukannya keinginan dia untuk lepas dariku sudah dia dapatkan?'' tanya Radit.


''Ya,mungkin saja dia sekarang menginginkan kamu lagi, atau dia iri dengan kebahagiaan kita.'' ucap Mala menerka.


''Kita berdua tau pasti, kalau Ayu bukan orang seperti itu.'' bantah Radit.


''Kamu masih saja membela dia! Apa kamu masih cinta sama dia hah?!" emosi Mala kembali tersulut.


''Bukan begitu maksudku! Kita sama-sama tau bagaimana Ayu!'' ucap Radit.


Pertengkaran itu terus berlanjut, hingga suara dering ponsel keduanya terdengar bersamaan.


''Papah,'' ucap Mala, memandang suaminya dengan wajah panik.


''Ibu.'' mereka berdua tampak saling pandang.


''Bagaimana ini?'' tanya Mala.


''Udah jangan panik, kamu angkat dulu telepon dari Papah,'' ucap Radit.


Mala mengangguk, lalu menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.


''Ha-halo, Pah,'' gugup Mala.


Wanita itu memejamkan matanya, menerima berbagai perkataan kasar dari orang tuanya.


''Papah tunggu kamu dan suami kesayangnamu itu, di rumah sekarang juga!" terdengar suara perintah sang ayah, dari seberang telepon.


Radit mengangguk memberi tanda agar istrinya menyetujui kemauan sang ayah mertua.


''I-iya, Pah.'' panggilan langsung terputus setelah Mala memberi jawaban.


"Bagaimana ini, Mas?" Mala terlihat sangat panik, kedua orang tuanya pasti akan marah besar karena masalah ini.

__ADS_1


"Tenang dulu, Mala. Lebih baik kita ke rumah orang tua kamu dulu, kita hadapi mereka sama-sama," ucap Radit.


'Akh, sial! Kenapa hidup gue jadi kacau gini?' Radit merutuki dirinya di dalam hati.


...❤...


Di tempat lain, Ayu kedatangan semua pegawai butik. Mereka semua ijin tutup lebih awal agar bisa menjenguk bos mereka.


Suasana rumah terasa ramai, karena bukan hanya yang bertugas di butik yang datang. Tetapi, pegawai di bagian produksi yang bekerja dari bekas rumah lama Ayu juga ikut datang bersama-sama.


Di tambah kehadiran Naura yang belum pulang sejak pagi, juga Bian dan Elena, yang datang setelah makan siang.


"Mba, udah liat video yang lagi viral belum?" Riska yang ikut menyiapkan hidangan di dapur, bertanya pada Ayu.


Ayu mengerinyitkan keningnya, karena seharian ini dia tidak memegang ponsel sama sekali.


"Memangnya ada berita apa, Ris? Kok kamu tumben nanyain Mba?" Ayu bertanya, sambil mengisi kue ke atas piring.


"Itu, Mba. Masalah Pak Radit sama Mba Mala!" Riska memelankan suaranya, takut ada yang mendengar.


Padahal, tidak ada gunanya sama sekali dia bersikap seperti itu. Karena memang berita ini sudah menyebar luas, waktu di perjalanan saja, semua temannya satu pekerjaannya membahas gosip tentang suami dari bos mereka itu.


Mungkin saat ini yang belum tau tentang semua ini hanya Ayu, Riska sangat tau kebiasaan bosnya itu yang tidak pernah perduli dengan gosip atau berita dunia maya.


Ayu menggantungkan tangannya saat hendak mengambil kue untuk di sajikan.


"Hah, Radit dan Mala?! Memangnya ada apa dengan mereka?"


"Tuh kan, bener tembakan aku. Pasti Mba gak tau!" Riska membanggakan dirinya sendiri.


"Memangnya ada apa?" tanya Ayu, kembali bersikap bisa saja.


"Itu, video perselingkuhan mereka udah tersebar luas dengan artikel yang memperkuat semua gambar dan bukti. Waah, pokoknya sekarang mereka jadi kaya artis yang suka di gosipin terus viral di media sosial!"


Ayu di buat terkejut dengan semua itu. Tetapi Ayu bisa menyembunyikan perasaannya, dengan tetap bersikap tenang. Walau di dalam hatinya penuh dengan tanya.


Setelah beberapa saat berbincang bersama, menjelang maghrib semua tamu Ayu pamit pulang.


Sekarang yang tersisa hanya Elena, Naura, dan Bian yang sedang menunggu jemput mereka.


Riska juga memilih untuk tetap berada di rumah, agar bisa membatu membereskan bekas kedatangan para temannya, bersama Bi Yati.


Sedangkan Ayu di suruh untuk tetap diam melihat mereka semua bekerja di rumahnya.


Walaupun Ayu terus menggerutu. Tapi, wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena semua orang di rumahnya seperti bersekongkol untuk menyuruhnya diam.


Memilih menemani kedua anak kecil kesayangannya bermain di taman dalam rumah.


Waktu menunjukan pukul tujuh malam, saat kedua lelaki yang akan menjemput Naura, Elena dan Bian sampai di rumah Ayu.


"Papah!"


"Daddy!"


Kedua anak itu langsung menghambur ke dalam pelukan kedua ayahnya, saat mendengar ucapan salam dari Ezra dan juga Ansel.


"Gimana ... puas main sama Aunty, hem?" tanya Ezra pada Naura, sambil duduk di hadapan Ayu.


Sedangkan Ansel sudah berlalu menuju istrinya yang berada di dapur, untuk menyiapkan makan malam bersama Riska dan Bi Yati.


"Rara seneng banget, Pah! Tadi di sini reme, banyak orang yang kerja di butik Aunty datang ke sini!" Naura berbicara dengan sangat antusias, dari dalam pangkuan Ezra.

__ADS_1


Ezra tampak menyimak semua kata yang sedang anaknya ceritakan padanya, tangannya terus mengelus puncak kepala Naura, penuh kasih sayang.


Sesekali matanya tampak mencuri pandang, pada wanita yang sedang duduk dan memperhatikan mereka, dengan senyum manisnya.


'Ya Allah, kenapa rasa ini terus berkembang tanpa bisa aku kendalikan, di saat dia bahkan masih belum boleh aku dekati?' gumam Ezra dalam hati.


Merasakan debar jantungnya yang selalu terasa berdetak lebih cepat, bila sedang berada di dekat Ayu.


Ayu yang merasakan tatapan lelaki yang berada di depannya, merasa canggung dan tidak enak. Apa lagi sekarang dia antara mereka tidak ada orang lain lagi, selain Naura tentunya.


Ayu hendak berdiri, saat suara Ezra tiba-tiba saja menghentikan pergerakannya.


"Mau ke mana?" tanya Ezra.


"A-aku mau liat Kak Elena ke dapur," jawab Ayu.


'Kenapa harus gugup sih?!' kesal Ayu di dalam hatinya.


"Gak, usah! Kamu belum pulih benar, jangan mengerjakan pekerjaan yang bisa membuatmu lelah!" cegah Ezra.


"Eh, a-aku gak ngerasa capek kok. Lagian aku cuma mau liat aja, gak bantuin." ucap Ayu, membuang pandangannya pada apa saja, yang penting tidak melihat lelaki di depannya itu.


"Aku bilang gak usah ya gak usah! Kamu itu kenapa bandel sekali sih!" tekan Ezra dengan tatapan tajamnya.


"Ish, apa sih Pak? Nyebelin banget!" gerutu Ayu, kembali duduk dengan wajah yang di buat cemberut.


Naura hanya bengong memperhatikan kedua orang dewasa di depannya yang sedang beradu mulut.


Sedangkan Ansel yang hendak memanggil mereka untuk makan malam, terhenti dan memilih untuk mendengarkan perdebatan mereka berdua dengan senyum.


Menggeleng miris dengan cara pendekatan yang di lakukan sahabatnya itu.


"Belum apa-apa udah posesif gitu, gimana kalau adik gue udah jadi miliknya?" gumamm Ansel, sebelum melanjutkan langkahnya.


"Kalian ini, kayak anak kecil aja. Malu tuh sama Naura, sampe bengong gitu tuh anak!" ucap Ansel yang membuat keduanya terkejut.


"Makan malam udah siap, Naura kita makan yuk," ajak Ansel pada anak dari sahabatnya itu.


Ayu langsung berdiri dengan wajah yang masih saja terlihat kesal.


"Kalian berdua sama saja, sama-sama nyebelin!" ucap Ayu menggandeng lengan Naura, lalu berjalan lebih dulu ke meja makan.


"Eh, kok Kakak juga sih, Dek?!" teriak Ansel tidak terima.


"Loe sih, adek gue jadi ngambek tuh!" gerutu Ansel pada Ezra.


Ezra tak menjawab, cenderung tidak perduli dengan sahabatnya itu.


"Dasar fosesif, belum apa-apa udah bucin loe!" kesal Ansel.


"Sok tau loe!"


"Ketauan kali, loe sangat kentara, Bro!" ucap Ansel.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Hari ini lumayan banyak nih, sampe 1200 kata lebih, semoga suka yah🥰🥰

__ADS_1


Makasih juga yang udah kasih hadiah maupun votenya, seneng banget liat banyak yang kasih dukungan.


Sayang kalian semua❤❤❤🥰🥰🥰


__ADS_2