
...Happy Reading...
...❤...
Ini masih Flash back ya😊
Max aku membutuhkan bantuanmu kembali!" ucapnya pada sambungan telepon, saat ia sudah duduk lagi di kursi kemudi.
“Ada apa, Zra?” terdengar suara Max dari seorang sana.
“Keenan diculik. Aku harus membawa Arumi dan Lucas bersamaku, untuk ditukar dengan Keenan,” jelas Ezra, sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju markas Black Eagle kembali.
Beberapa saat kemudian, Ezra sudah berada di markas utama tempat Arumi dan Lucas ia penjarakan.
“Jangan terburu-buru, kita bicara dulu,” Max langsung menyambutnya dan membawa Ezra menuju ruangannya.
“Aku harus segera mengantarkan mereka menuju alamat yang sudah dia kirimkan, kalau tidak adikku dalam bahaya,” ucap Ezra dengan tatapan rumit.
“Kamu jangan gegabah, Zra. Saat ini kita belum tahu siapa musuh kita, jangan sampai nanti malah kamu yang terjebak dengan rencana mereka,” ucap Max. Dia sudah menghubungi Edo yang sedang berada di luar negeri, untuk menanyakan solusi dari masalah ini.
“Sampai kapan dia memberikan waktu?” tanya Max lagi.
Ezra menggeleng, mereka tak menyebutkan batas waktu. Ia mengurut pangkal hidungnya menahan rasa pening.
Baru saja beberapa jam yang lalu ia bisa bernapas lega, karena sudah berhasil menyingkirkan ancaman di dalam rumah tangganya, sekarang ia malah di hadapkan dengan masalah baru.
“Tunggu sebentar, anak buahku sedang melacak, kira-kira siapa yang mungkin berada di belakang penculikan Keenan,” ucap Max.
Ezra menatap lelaki di hadapannya sekilas, menghembuskan napas kasar, kemudian mengangguk samar.
Otaknya benar-benar sudah kosong, ia tidak bisa memikirkan sesuatu sama sekali. Konsentrasinya terpecah, pada Keenan dan keadaan rumah saat ini.
Tadi ia sempat melihat, beberapa pesan dari Ayu, walau belum sempat membukanya.
Tiba-tiba ia teringat dua orang yang mungkin berada di balik semua ini.
“Apa mungkin ini ulah, ayahnya atau anak perempuan Arumi?” ucapnya, menatap Max, dengan kening bertaut.
“Siapa nama lengkap mereka, dan berada di mana mereka sekarang, biar aku suruh anak buahku memeriksa data mereka!” ucap Max.
“Nama ayahnya Arumi adalah, Abra ruzik. Dia berada di negara R, dia memang menetap di sana setelah istrinya meninggal.”
Ezra mengerutkan keningnya dalam, seperti sedang mengingat sesuatu.
“Sedangkan Melati, kabar terakhir dia di masukan sekolah asrama yang masih bertempat di negara R.” Ezra berkata dengan sangat yakin. Walau dalam hati ia masih merasa ragu akan pikirannya sendiri.
Dari yang dia tahu selama ini, Abra sudah mulai sakit-sakitan dan Melati, ia masih ragu apakah gadis remaja sepertinya bisa melakukan hal berbahaya dan melanggar hukum seperti ini.
Max langsung menghubungi anak buahnya agar menyelidiki kedua orang itu dengan secepatnya.
Sambil menunggu anak buahnya mengerjakan pekerjaannya, Max mengajak Ezra untuk melihat kondisi Arumi dan Lucas, di penjara bawah tanah.
Sebenarnya ia enggan untuk kembali lagi, ke tempat mengerikan itu, hanya saja Max ingin mencoba bertanya langsung pada Arumi atau Lucas.
Dengan terpaksa ia mengikuti langkah Max menuju ruang bawah tanah, markas mewah tersebut.
Begitu ia sampai di ruang gelap dan pengap juga lembap, diselimuti bau amis darah yang menusuk hidung, saat ia baru saja masuk.
Apa lagi pemandangan beberapa tawanan lainnya, yang terlihat sudah diberikan siksaan sebelumnya, sehingga tubuh mereka penuh luka juga darah, membuat perutnya terasa teraduk-aduk.
“Pakai masker saja jika kamu tidak kuat, karena sepertinya kamu akan lumayan lama berada di sini.” Max mengulurkan sebuah masker padanya.
“Terima kasih,” Ezra langsung memakainya.
Tadi pagi, ia hanya kemari sebentar, untuk melihat kondisi kedua orang itu. Hingga ia hanya menggunakan tangan untuk menutup hidung dan mulutnya.
Ia mengakui kalau dia juga bukanlah orang baik yang belum pernah membunuh, dalam keadaan genting ia juga melakukannya, tetapi tidak dengan penyiksaan. Ia lebih memilih membunuh langsung, tanpa ada penyiksaan lebih dulu.
Ya, berada di dunia bisnis, kadang mengharuskannya berduel atau bahkan membunuh seseorang demi keamanannya dan seluruh keluarganya.
__ADS_1
Walaupun korbannya mungkin masih bisa dihitung dengan jari, tentunya tidak sebanyak orang-orang yang berada di dunia bawah seperti Agra, Edo dan Max, contohnya.
Ia, memang lebih suka menyerahkan urusannya pada polisi, daripada bertindak sesuka hati, hanya saja terkadang ia terpaksa harus melakukan pembunuhan seperti saat penyerangan, untuk menangkap Arumi dan Lucas kemarin malam.
Persaingan bisnis yang terlihat tenang dari luar, tetapi menyimpan banyak pertarungan dan persaingan kotor di belakang, membuatnya dan Keenan harus memiliki modal untuk melindungi diri sedari dini.
Maka dari itu, ayahnya sudah melatih bela diri dan kewaspadaan sejak mereka masih berusia lima tahun.
Begitu sampai di ruang penyiksaan ia dapat melihat kedua orang itu masih dalam keadaan tanpa busana, duduk di dua kursi berbeda dengan tangan dan kaki terikat kuat pada kursi yang mereka duduki.
Ezra mengernyitkan keningnya saat melihat kedua orang paruh baya itu kembali terlelap dengan wajah pucat.
“Mereka kenapa?” tanyanya pada Max.
Lelaki itu tampak menyeringai, menatap kedua orang di depannya dengan pandangan jijik.
"Bukankah mereka berniat untuk menculik istrimu dan melelangnya?” tanya Max.
Ezra tampak mengepalkan tangannya, saat bayangan rekaman suara yang di berikan olah Edo ketika mereka bertemu.
“Aku memberikan apa yang sudah mereka rencanakan pada istrimu,” jawab Max, setelah melihat reaksi teman bosnya itu.
Ezra tampak menautkan alisnya, memikirkan maksud dari jawaban ambigu Max.
“Maksudmu mereka–,” Ezra bahkan tak sanggup meneruskan perkataannya.
Max mengangguk dengan seringai di wajahnya.
‘Astaga, ternyata anak buah Agra tidak main-main dengan hukuman, mereka bahkan menjadikan pasangan bejat itu pemuas napsu sampai lemas begitu,’ batin Ezra.
Dia tidak pernah menyangka kalau para anak buah Agra akan bertindak sekejam itu.
“Kami menghukum sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Dan jangan berpikir kalau kami yang melakukan itu, kami tidak sekotor itu.” Max tampak menatap Ezra, seakan tahu apa yang dipikirkan lelaki itu.
“Kami memanggil para maniak **** untuk memuaskan mereka. Bukankah tuanku sangat baik?” tanya Max, menaikkan salah satu alisnya, tersenyum mengejek pada Ezra lalu mengalihkan pandangannya pada Arumi dan Lucas.
Ezra bergidik ngeri mendengar penjelasan dari Max, ia sedikit tahu bagaimana kejamnya Agra, apa lagi bila itu mengenai perempuan.
Ya, saat ini Arumi dan Lukas memang tengah tertidur, karena kelelahan.
Byur ....
Ezra dapat melihat Arumi dan Lucas yang tampak kesulitan menarik napas, karena kaget dibangunkan secara tiba-tiba, dengan sangat kasar pula.
Mata Arumi langsung melebar, saat melihat Ezra ada di sana, ia bahkan tak memikirkan rasa malu dengan keadaannya saat ini.
“Ezra, tolong tante, Nak. Tante tidak mau ati di sini!” ucapnya, sambil meronta berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan yang terasa menyakitkan.
Max langsung memberikan kode pada Ezra untuk segera memulai interogasinya.
Suami dari Ayu itu berjalan perlahan, menghampiri Arumi. Berhenti tepat di depan wanita paruh baya itu, dengan jarak satu meter. Ezra terus memalingkan wajahnya, ia terlalu jijik hanya untuk melihat dua orang di depannya. Dia hanya sesekali melirik, untuk melihat ekspresi wanita tua itu.
“Tentu aku akan melepaskan tante–,” Ezra sengaja menggantung perkataannya, agar bisa melihat reaksi dari wanita di depannya.
Arumi tampak tersenyum semringah, menatap Ezra penuh harap.
“Tapi dengan saru syarat,” sambung Ezra.
“Syarat? Apa pun akan tante lakukan, asalkan kamu mau melepaskan Tante, Ezra!” ucapnya mantap.
Ezra tersenyum, melirik Max untuk meminta persetujuan.
“Beri tahu kami, siapa yang telah menculik Keenan dan ke mana dia membawanya?” tanya Ezra, ia masih mempertahankan suaranya agar terlihat tenang, tanpa tekanan.
Padahal di belakang punggungnya ia menyembunyikan tangan yang mengepal erat, menahan ledakan emosi yang siap keluar kapa saja.
Melihat wajah wanita tidak berperasaan yang berniat menjual istrinya, membuat Ezra ingin membunuhnya saat itu juga.
Arumi menggelengkan kepala. “Tante tidak tahu, Zra. Lagi pula apa hubungannya penculikan Keenan dengan tante?” tanya Arumi lagi.
Berbeda dengan Arumi, Lucas tampak menyunggingkan sebelah bibinya, dengan tatapan mengejek pada Max dan Ezra.
__ADS_1
Max langsung menghampiri lelaki paruh baya itu, menatap penuh intimidasi.
“Kau pasti tahu sesuatu kan?!” tegas Max.
Bukannya menjawab, Lukas malah terkekeh kecil.
“Jawab, tua bangka!” sentak Ezra, ia sudah tidak bisa bersabar lagi.
“Sebentar lagi, kalian pasti akan mati di tangannya,” ucapnya percaya diri, saking lebarnya ia tersenyum sampai gigi kuningnya terlihat semua.
Ezra sudah hampir menyerang Lucas, bila tidak ditahan oleh Max.
Lelaki yang merupakan salah satu anak buah kepercayaan Agra itu, terkekeh pelan dengan seringai yang terlihat mengerikan.
“Memangnya dia sehebat apa, sampai bisa membuat kita mati?” tanyanya santai.
“Cih! Kalian hanya bagaikan serangga untuknya!” ucap sombong Lucas.
“Termasuk dirimu?” bukannya tersinggung, Max malah membalikkan perkataan Lucas.
Wajah lelaki paruh baya itu, merah padam, menahan emosi yang begitu mendesak. Meronta sekuat tenaga, mencoba untuk terlepas dari ikatan.
Dia tidak terima dengan apa yang sudah dikatakan oleh Max.
Namun, kekuatannya seakan habis, dia bahkan tidak bisa untuk hanya menggeser letak talinya, semakin dia berontak, bukan talinya yang terlepas, tetapi, mungkin malah kulitnya yang akan terluka.
Max mencengkeram dagu Lucas dengan begitu kuat, hingga Ezra bisa melihat setiap jarinya menusuk kulit pipi lelaki paruh baya itu.
“Aku akan bertanya satu kali lagi, siapa yang menculik Keenan?” desis Max, tepat di depan wajah Lucas.
Drrt ... drrt ....
Getar ponselnya mengalihkan perhatian Max, melepaskan cengkeraman di pipi Lucas dengan sangat kasar, hingga wajah lelaki itu menoleh ke samping.
Menegakkan tubuhnya, kemudian mengambil ponsel di saku celananya.
Setelah cukup lama mendengarkan suara orang di seberang telepon. Max memberikan kode pada salah satu anak buahnya.
Arumi dan Lucas melebarkan matanya, melihat jarum suntik di tangan Max.
"A–apa yang ingin kamu lakukan?" gugup Arumi, tubuhnya bergetar menahan rasa takut.
Max tak menjawab, ia terus berjalan mendekat pada dua orang paruh baya itu, dengan seringai mengerikan dari wajahnya.
Kedua paruh baya itu langsung kehilangan kesadaran sesaat setelah menerima suntikan dari Max.
“Pakaikan mereka baju dan bawa ke atas, secepatnya!” perintah Max, sebelum keluar dari ruangan itu.
Ezra langsung mengikutinya dari belakang. Lelaki itu baru bisa membuka masker dan menarik napas lega saat ia sudah berada di ruang atas.
“Anak buahku sudah tahu di mana lokasi mereka dan siapa saja yang terlibat,” jelas Max, setelah mereka ada di ruang tengah, mereka juga merencanakan pembebasan Keenan yang akan mereka lakukan sebentar lagi.
Jam delapan malam Ezra baru keluar dari markas, dengan Arumi dan Lukas berada di jok belakang. Beberapa saat kemudian, Max dan para anak buahnya menyusul dengan jarak yang sudah ditentukan.
Untung saja, Ezra langsung mematikan ponselnya lagi dan membuangnya di jalan, setelah menghubungi Max.
Mobilnya pun ia parkirkan di salah satu mall yang ia lewati, dan berganti memakai taksi.
Sebelum itu ia sudah mencatat nomor yang menghubunginya tadi. Jadi mereka tidak bisa melacak keberadaan Ezra saat ini.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Gak ada yang penasaran apa ya, sama Agra, Edo, dan, Max. Para mafia kejam yang merupakan teman dari Ezra🤔
Kalau ada yang penasaran atau mau mampir gitu yah, nengokin pasangan Agra dan Alisya, mampir yah ke karya aku yang berjudul MAFIA STORY Kemabalinya Anak Tak Berguna.
Tekan profil aku, untuk menemukan karya aku yang lainnya🥰🥰
__ADS_1