Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.140 Cacing Kepanasan


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Pagi ini, Ezra dan Keenan baru saja keluar dari kamar hotel masing-masing. Keduanya sudah siap untuk bertemu dengan para pelanggan, sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan.


Pelanggan mereka bukanlah pelanggan biasa yang banyak mempunyai waktu luang, kebanyakan dari mereka adalah seorang pengusaha dengan kesibukan padat, hingga cukup sulit untuk meminta temu janji.


Pagi ini kedua kakak beradik itu ada janji bertemu, dengan seorang anak pengusaha, juga beberapa perwakilan pengusaha lainnya di sebuah restoran sambil sarapan bersama.


Setengah jam berkutat dengan jalanan yang terasa sedikit ramai, Keenan akhirnya menghentikan mobilnya di tempat parkir sebuah restoran tradisional yang terlihat cukup besar dan mewah.


Bersamaan dengan itu, sebuah mobil dengan warna merah metalik berhenti tepat di samping mobil Keenan.


Keenan melirik sekilas, mobil yang terlihat begitu mencolok dari mobil di sekitarnya, walau akhirnya dia mengangkat bahu dan kembali fokus pada semua perlengkapan yang harus ia bawa.


Ezra keluar dari mobil terlebih dahulu, gaya yang terlihat santai berbalut kemeja berwarna navy dengan satu kancing tebuka di paling atas dan lengan di gulung hingga ke siku, membuatnya terlihat lebih segar.


Wajah dingin dengan mata hitam yang terlihat berkeliling, meneliti setiap sudut tempat yang baru di datangi olehnya. jangan lupa kedua tangan yang di masukan ke dalam saku, sehingga membuatnya tampak sempurna dengan tubuh atletis yang begitu menawan.


Tanpa sadar semua itu membuat orang di dalam mobil berwarna merah tadi, sampai tak berkedip karena terpesona oleh ketampanan suami dari Ayu itu.


"Ayo, Kak!" Keenan yang baru saja keluar dari mobil, langsung menyeru kakaknya untuk segera masuk ke dalam.


Ezra menoleh sekilas pada adiknya, mengangguk samar lalu berjalan menuju ke dalam restoran tersebut.


Seorang pelayan langsung menyambut kedatangan keduanya, menunjukan ruangan yang sudah dipesan sebelumnya. Ternyata sudah ada beberapa orang perwakilan pelanggan Ezra yang sudah datang dan menunggu mereka.


"Selamat pagi," sapa Ezra dan Keenan sambil berjabat tangan dengan tiga orang lelaki yang ada di sana.


Mereka saling memperkenalkan diri, sebelum menunggu dua orang lagi yang belum datang.


"Maaf, kami sedikit terlambat, tadi ada sedikit kendala di parkiran," ujar seseorang yang baru saja datang dari arah pintu.


Semua lelaki yang ada di sana langsung mengalihkan pandangannya, pada sosok tersebut. Dua orang perempuan dengan pakaian ketat membentuk tubuh, terlihat berdiri dengan senyum manis penuh godaan, bagi para lelaki yang tak terlalu kuat dengan imannya.


Mekap tebal dengan warna bibir merah merekah, membuat Ezra dan Keenan hampir saja tersedak air minum yang baru saja mereka teguk.

__ADS_1


'Kenapa sekarang aku merasa seperti sedang berada di sebuah club malam?' linglung Keenan dalam hati.


Sedangkan Ezra hanya mengalihkan pandangannya dengan wajah yang berubah semakin dingin.


'Apa mereka datang untuk menjual tubuhnya?' umpat Ezra.


Berbeda dengan kakak beradik itu yang merasa risih dan muak melihat penampakan kedua perempuan itu. Tiga orang lelaki yang lain malah tak dapat berpaling dari pemandangan indah itu, mereka sibuk menelan saliva yang hampir saja keluar, karena tergiur tubuh molek yang dipertontonkan secara suka rela.


'Apa Pak Ezra menyediakan para perempuan ini untuk merayu kita agar mau di ajak berdamai?' gumam salah satu lelaki tambun yang sudah berumur empat puluh tahunan.


'Wah, kalau sogokannya seperti ini, aku pasti dengan suka rela merelakan mobilku," gumam hati seorang mahasiswa lelaki, salah satu anak pengusaha yang mobilnya menjadi salah atu korban perampokan, di bengkel Ezra.


Sedangkan mata kedua perempuan itu melebar melihat dua sosok yang tadi dikagumi oleh mereka di parkiran, ternyata ada di ruangan yang sama. Merapikan sedikit baju sambil melakukan gerakan menggoda, keduanya maju ke depan Keenan dan Ezra.


"Khem!" Suara batuk yang cukup keras Ezra lakukan saat dirinya mulai jengah melihat pemandangan di depannya, tanpa ada yang mau memutuskan perilaku memalukan kedua perempuan itu.


"Tidak apa, silakan duduk," ujar Keenan yang akhirnya tersadar dari otak yang tiba-tiba seakan berhenti bekerja.


"Terima kasih," ujar salah satu perempuan dengan dres berwarna putih sebatas pahanya. Tersenyum cerah sambil menyelipkan rambut berwarna ash grey ke belakang telinganya. Suaranya pun dibuat sehalus mungkin sehingga terdengar seperti sebuah des**an.


Ezra merasa ingin muntah mendengar suara yang menurutnya begitu menjijikan itu, perut yang tadinya sudah terasa lapar, langsung tak terasa lagi, berganti dengan rasa mual.


"Ezra!" Suara tegas dengan intonasi dingin terdengar dari mulut malas suami Ayu itu. Tak ada balasan dari tangan Ezra hingga lengan Audrey tergantung bagitu saja.


Keenan yang merasa tidak enak hati, menjabat tangan yang tergantung itu sambil menyebutkan namanya.


"Keenan. Maaf Kakak saya mempunyai alergi pada orang baru," bohong Keenan, demi menutupi sikap dingin sang kakak.


Walau bagaimanapun di sini pihaknya yang bersalah, dia tidak mau kalau sampai nanti dirinya akan mendapat kesulitan dalam bernegosiasi dengan mereka, karena sikap sang kakak yang anti dengan perempuan, kecuali istri dan anaknya.


Audrey tampak tersenyum paksa, berbeda dengan Lili yang langsung merebut tangan Keenan dari genggaman Audrey, lalu bersalaman dengan gaya manja dan memuja.


Keenan meringis, melihat tingkah laku kedua perempuan di depannya yang lebih terlihat seperti cacing kepanasan itu.


'Astaga kenapa aku bisa lupa memeriksa anak dari Pak Rusady dan Bu Dania?!' rutuk Keenan dalam hati, sambil melirik sekilas wajah Ezra.


'Bersiaplah menerima hukuman dari si raja tega ini!' lanjutnya lagi.


Pembicaraan pun dimulai, ketiga pria yang datang lebih dulu sudah mendapatkan kesepakatan. Kini tinggal dua orang perempuan yang ternyata terus mengalir waktu, bahkan hingga sekarang Ezra dan Keenan tertahan selama dua jam di restoran itu.

__ADS_1


"Kalian bicarakan saja dengan dia, aku ada urusan lain. Ken, berikan kompensasi dua kali lipat dari harga mobil yang hilang di bengkel kita, lalu blacklist mereka dan seluruh keluarganya dari semua perusahaan kita!" titah Ezra tegas. Keenan langsung mengangguk, menyetujui perintah dari sang kakak.


"Permisi!" Ezra bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja, tanpa mendengar panggilan dariAudrey dan Lili yang berusaha menahan langkahnya.


Dia sudah terlalu muak dengan kedua perempuan tak tahu diri itu. Bergaya layaknya seorang wanita malam yang sedang menjajakan tubuh dengan alasan kompensasi.


Mereka pikir dia tidak bisa mengganti kehilangan mobil keduanya, semua itu bukanlah hal besar untuk seorang Ezra, dia hanya ingin bersikap baik, mengingat orang tua keduanya adalah salah satu relasi bisnis ayahnya.


Namun, bila mereka tak menerima niat baik darinya, dan bersikap melewati batas, maka jangan salahkan bila kini dia berbuat sedikit kejam.


Berjalan dengan langkah lebar, menuju ke luar dan segera masuk ke dalam mobil, ia membutuhkan istrinya untuk meredakan rasa jijik yang masih terasa menempel di tubuhnya.


Menempelkan earphone di telinga sambil mencari nama sang istri di kontak ponselnya. Kemudian menjalankan mobil, keluar dari restoran yang meninggalkan kesan buruk untuknya.


.


Di dalam restoran Keenan tersenyum miring setelah mendengar perintah dari sang kakak. Melihat wajah pucat kedua perempuan di depannya dengan tatapan meremehkan.


'Bermain-main dengan Ezra Darmendra, maka terima akibatnya!' gumam Keenan dalam hati.


"Sesuai perintah Pak Ezra, maka saya akan memberikan berapa pun yang kalian minta, dengan balasan nama keluarga kalian harus di blacklist dari seluruh perusahaan keluarga Darmendra," ujar tegas Keenan.


Keenan sengaja menggunakan bahasa formal kepada kakaknya, berbeda dengan tadi, untuk menunjukan keseriusannya.


"Ja–jangan, Pak. Kami mohon, kami tidak akan menuntut apa pun atas kehilangan mobil kami, asalkan keluarga kami tidak mendapat blacklist," mohon Audrey yang langsung diangguki oleh Lili.


"Maaf, keputusan ada pada Pak Ezra, di sini saya hanyalah seorang asisten," ujar Keenan, sambil menyerahkan dua lembar cek berisi uang dua kali lipat dari harga mobil yang hilang.


"Saya Permisi ... selamat pagi!" ujar Keenan lalu pergi menyusul sang kakak untuk keluar.


"Kemana mobilku? Kenapa sudah tidak ada?" Keenan berkata dengan frustasi mengingat pasti ini ulah Ezra yang meninggalkannya.


"Astaga, tega sekali dia. Masa aku ditinggal di sini? Ini kan bukan Jakarta yang bisa seenaknya memanggil anak buah tau karyawan untuk menjemput," melas Keenan.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2