Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.106 Kopi pagi


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Awal pagi di rumah baru dengan status baru pula, Ayu sudah tampak sibuk berkutat di dapur, dengan Bi Yati dan beberapa pelayan lainnya. Ia tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya, sedangkan Ezra memilih untuk oleh raga di ruang gym yang terdapat di rumah bagian belakang.


Ayu baru menghentikan aktivitasnya saat melihat Ezra yang sudah kembali, berjalan menuju kamar dengan pakaian yang terlihat basah oleh keringat.


“Bi, tolong teruskan ini ya, aku mau nganterin kopi dulu buat Mas Ezra,” ucap Ayu pada Bi Yati.


“Baik, Bu.”


Menyiapkan kopi  untuk Ezra dan teh kesukaannya dengan beberapa macam kudapan di piring, lalu membawanya ke kamar.


Suara gemercik air terdengar saat Ayu baru saja masuk ke dalam kamar, menandakan kalau Ezra sedang membersihkan diri.


Menaruh nampan yang ia bawa di atas meja, lalu berjalan menuju lemari untuk menyiapkan baju ganti suaminya. Tadi pagi Ezra sudah bilang kalau hari ini dia ada sedikit pekerjaan, hingga harus pergi sebentar.


Sambil menunggu suaminya keluar, Ayu membuka gorden dan jendela agar udara segar masuk ke dalam kamar.


Cklek


Suara pintu terbuka membuat Ayu membalikkan badan, tersenyum manis dan berjalan menghampiri suaminya.


“Aku sudah siapkan kopi, mau minum di mana?” tanya Ayu, sambil membantu mengancingkan kemeja suaminya.


Ezra tersenyum, salah satu lengannya menarik pinggang ramping istrinya, mengikis jarak antara mereka. Bibirnya terus memberikan kecupan di puncak kepala istrinya.


“Mas, diam dulu ... ini belum selesai!” Ayu mendongakkan kepalanya, melihat wajah suaminya dengan tatapan kesal.


Cup


Dengan sigap Ezra malah memberikan kecupan di bibir berwarna merah muda yang sangat menggiurkan untuknya.


Ayu langsung menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah akibat ulah jahil Ezra. Tangannya memukul manja dada bidang suaminya.


Ezra terkekeh kecil, melihat tingkah lucu Ayu, merengkuh tubuh istrinya, membawa ke dalam pelukan hangatnya.


“Maaf, karena ada pekerjaan aku harus meninggalkanmu,” ucap Ezra di sela kecupan yang terus ia berikan pada puncak kepala Ayu.


“Tidak apa-apa, Mas. Di sini kan juga ada Bi Yati dan yang lainnya,” jawab Ayu, menutup mata menikmati aroma tubuh Ezra yang selalu membuatnya tenang.


“Ohya, nanti siang aku ada janji ketemu sama Ayah Pram, apa boleh?” tanya Ayu, mengusap baju di dada suaminya yang sedikit kusut.


Tadi pagi ia baru saja mendapat pesan permintaan maaf dari mantan mertuanya, karena tidak bisa menghadiri pernikahannya. Pram juga meminta untuk bertemu dengannya dan Ezra kalau ada waktu luang, mumpung lelaki paruh baya itu sedang pulang.


Ayu memang mengirimkan undangan virtual untuk lelaki yang sudah ia anggap menjadi ayahnya sendiri.


“Di mana? Biar aku temani, nanti aku akan menjemputmu.” Ezra tampak menatap Ayu dengan kening berkerut.


Ayu tersenyum menatap wajah teduh suaminya. “Tidak jauh dari butik kok, sekalian aku juga mau mampir ke butik sebentar,” jawab Ayu.

__ADS_1


Ezra mengangguk. Ayu melepaskan diri dari rangkulan suaminya, lalu mengambil nampan dan membawanya menuju balkon.


Ezra mengikuti langkah Ayu, kini mereka duduk berdua menikmati pagi di balkon kamar yang mengarah langsung menuju taman belakang rumah.


“Baiklah, aku pergi dulu ya, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku,” pesan Ezra sebelum masuk ke dalam mobil, kembali memeluk istrinya sekilas, dan memberikan kecupan di kening.


“Iya, Mas. Hati-hati,” jawab Ayu. Ia menunggu sampai mobil yang dikendarai suaminya itu keluar dari gerbang, baru ia membalikkan  badan untuk masuk kembali ke dalam rumah.


 


.........


 


Di kantor Ezan Designs


Ezra sedang duduk berhadapan dengan Keenan, adiknya itu baru saja melaporkan kalau ternyata Arumi telah keluar dari penjara, di hari pernikahannya.


Ezra memijit keningnya yang terasa pening. Ternyata, mereka memanfaatkan kesibukannya dalam menyiapkan hari pernikahannya untuk membebaskan Arumi.


“Aku juga menemukan ini, dari CCTV hotel.” Keenan terlihat memutar sebuah video di laptopnya.


Ezra menajamkan penglihatannya, menatap layar yang menampilkan rekaman CCTV hotel, saat seseorang lelaki memakai pakaian hitam, tampak sedang memberikan buket bunga pada salah satu karyawan hotel.


Mengepalkan tangan saat tahu kalau bunga itu diberikan kepada Ayu.


“Apa kamu tidak bisa mendapatkan rekaman yang memperlihatkan wajahnya lebih jelas?” tanya Ezra, dengan suara tertahan.


Ezra mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh adiknya.


“Siapa yang menjamin Arumi?” tanya Ezra, kembali pada pembahasan awal.


“Lucas Runaox.”


Ezra menautkan alisnya, saat mendengar nama yang disebutkan oleh Keenan.


Pikirannya berjalan, berusaha mengingat nama yang terdengar tidak asing ditelinganya.


“Bukankah dia pemilik beberapa klub malam yang digunakan untuk, menutupi bisnis pengedaran narkoba miliknya?” tanya Ezra.


Keenan mengangguk. “Benar, dia adalah mafia perdagangan wanita dan pengedaran narkoba yang berkedok klub malam.”


“Sialan! Dari mana wanita itu bisa mengenal lelaki brengsek itu?” umpat Ezra.


Keenan mengedikkan kedua bahunya sebagai jawaban.


“Cari tahu di mana lelaki brengsek itu menyembunyikan Arumi, dan sejak kapan mereka saling mengenal, kalau perlu minta bantuan anak buah Agra dalam masalah ini! Aku tidak mau sampai kalah cepat dari mereka, dan membahayakan Nindi kembali,” perintah Ezra, pada Keenan.


Menyandarkan punggungnya dengan kening berkerut. Setelah kepergian Keenan, Ezra masih memikirkan apa yang sekiranya mereka rencanakan.


Drrt ... drrt ....


Suara getar ponsel di atas meja, mengalihkan perhatiannya. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan saat nama Istriku tertera di layar ponselnya.

__ADS_1


“Astaga, aku lupa untuk menjemput Nindi!”


Bergegas menyambar kunci mobilnya sambil menempelkan ponsel di telinga.


“Halo, sayang. Tunggu sebentar aku masih di jalan, sebentar lagi sampai kok!” ucapnya sambil berjalan setengah berlari menuju mobilnya terparkir, mematikan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban Ayu.


Dengan kecepatan penuh, Ezra memacu mobilnya, hingga waktu tempuh yang seharusnya satu jam kini dapat Ezra pangkas setengahnya.


Untung saja suasana jalanan sedikit lengang, hingga Ezra tak mengalami kesulitan, ia bahkan tak mengidahkan berbagai umpatan dan suara klakson dari pengendara lainnya, karena merasa terganggu oleh laju mobil Ezra.


“Assalamualaikum, sayang. Maaf aku terlambat,” ucap Ezra, menghampiri Ayu yang sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangannya, mencium puncak kepala Ayu yang terhalang kerudung.


“Gak papa, ayo ... Ayah Pram sudah menunggu di resto,” ucap Ayu setelah mencium tangan suaminya.


Ezra mengangguk, sambil membukakan pintu mobil untuk Ayu.


Dalam perjalanan Ayu melirik wajah Ezra yang tampak lebih banyak diam. Suaminya itu hanya menggenggam tangannya dan sesekali memberikan kecupan di sana, terlihat sekali kalau dia sedang banyak pikiran.


“Ada apa, Mas? Sepertinya, Mas sedang banyak pikiran?” tanya Ayu.


Ezra menoleh pada Ayu sekilas, memberikan senyum tenang, agar istrinya tak berpikir macam-macam.


“Tidak apa-apa. Hanya saja tadi ada klien yang lumayan rese dengan berbagai permintaan aneh,” dalihnya.


Ayu tampak menatap wajah Ezra dalam, berusaha menggapai mata suaminya yang masih terlihat gusar.


“Benarkah?”


“Iya, sayang.” Ezra menatap wajah istrinya, meyakinkan kalau dia memang tidak sedang ada masalah.


Ayu mengangguk, walau dalam hati masih ada keraguan akan jawabnya dari suaminya. Ia tahu Ezra adalah lelaki yang tenang dalam menghadapi segala masalah, tapi mengapa kini hanya dengan satu klien yang membuatnya kesal, suaminya itu terlihat sangat gusar.


Memilih untuk menyandarkan tubuhnya,  dan melihat ke depan, memperhatikan keluar lewat jendela kaca mobil, melihat suasana yang sudah tampak sedikit gelap karena langit yang mulai berawan.


Sambil nunggu aku up lagi mampir ke karya teman literasi aku ya, ceritanya seru dan pastinya bikin kalian nagih🥰


Judul: Dendam


Author: Nazwa talita


Blurb:


Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa, Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.


Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


 

__ADS_1


__ADS_2