Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.55 Kronologi


__ADS_3


...Happy Reading...


.......❤.......


Ayu mengepalkan tangannya, menahan semua desakan amarah yang kini kembali menguasai hati dan pikirannya.


"Tak ada anak haram di dunia ini, Tuan. Tidak ada anak yang menginginkan di lahirkan dari hubungan haram kedua orang tuanya."


"Pikiran orang-orang seperti Anda yang membuat sebutan menyakitkan seperti itu, orang yang hanya bisa melihat dari satu sisi tanpa mau mencari tau dari sisi yang lainnya."


Ayu menghirup napas dalam, air mata sudah mulai jatuh dari pelupuk matanya.


Naura beralih berdiri di samping Ayu, memeluk tangan Ayu yang mengepal kuat.


"Sebaiknya sebelum Anda mengucapkan sesuatu kepada seseorang, cari tau dulu kebenaran yang ada ... jangan sampai Anda menyesal."


Ayu menatap tajam Lary, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


Entah mengapa, Lary merasakan sakit di dalam dadanya, saat melihat air mata itu jatuh dari wajah Ayu.


Wajah itu, mengingatkannya dengan sebuah nama yang masih saja bersemayam di dalam lubuk hatinya.


Namun ingatan tentang perkataan kedua orang tuanya, membuat kebenciannya kembali lagi.


Flash back


Beberapa tahun lalu, saat Lary baru saja terbangun dari koma.


Lelaki yang masih menggunakan alat bantu pernapasan bantu kesehatan lainnya, langsung mencari keberadaan istri dan anaknya.


Ya, dia ingat.


Dirinya sudah mempunyai istri dan juga seorang anak laki-laki.


Dirinya terus bertanya pada kedua orang tuanya, hatinya sangat rindu kepada istri dan anak yang sangat ia cintai.


Namun tak ada yang mau menjawab pertanyaannya.


"Kamu sembuh saja dulu, nanti akan kami beri tahu yang sebenarnya."


Itulah jawaban yang ia selalu dengar, ketika bertanya tentang Puspa -istrinya dan Arsyl -anaknya.


'Apa yang sebenarnya terjadi kepada aku dan seluruh keluargaku, kenapa tak ada yang datang menjengukku? Kemana Puspa dan Arsyl? Apa mereka baik-baik saja?'


Berbagai macam pertanyaan bersarang di kepalanya, hingga saat memikirkan semua itu, kepalanya selalu terasa sakit, seperti mau pecah.


Hampir satu bulan Lary hidup dalam banyaknya pertanyaan.


Sampai akhirnya, saat dia keluar dari rumah sakit, kedua orang tuanya menceritakan semua yang terjadi.


Dia sudah tau, kalau dirinya mengalami amnesia sebagian, akibat dari kecelakaan yang ia alami.


"Istrimu sudah lama meninggalkanmu dan anakmu."


Bagai tersebar petir di siang hari, perkataan yang ia dengar dari mulut kedua orang tuanya membuat jantungnya seperti berhenti berdetak.


Lelaki yang baru saja sembuh itu, menggelengkan kepalanya, tidak bisa mempercayai perkataan dari ayah juga ibunya.


Namun, kedua orang tuanya memberikan berbagai macam bukti yang menunjukan bahwa yang mereka bicarakan itu adalah kebenaran.

__ADS_1


Foto-foto yang terlihat mesra antara Puspa bersama dengan seorang lelaki lain, selain dirinya.


"Kamu lihat itu, dia sudah meninggalkanmu sejak beberapa tahun yang lalu."


"Dia berselingkuh dengan laki-laki lain, sampai melahirkan seorang anak."


Ayahnya berbicara dengan menggebu-gebu sambil menunjuk foto di tangannya.


"Dan ini!" Kini ibunya menaruh sebuah amplop bertuliskan pengadilan agama di atas meja.


"Dia bahkan langsung menggugat cerai kamu, saat kamu mengalami kecelakaan!"


Penjelasan dari sang ibu, membuat dirinya kembali di hantam keterkejutan yang sangat dalam.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Nawang melakukan semua itu padaku, Bu!" Lary masih menyangkal semua itu.


Pikirannya terus berusaha mengingat sesuatu. Sayangnya semua itu, tidak memberikan hasil apa pun, yang ada dirinya malah merasakan sakit yang sangat hebat di kepala.


"Jangan terlalu di pikirkan, kalau kamu terus memaksa ingatanmu, nanti kerusakan jaringan otak kamu akan bertambah parah!"


Perkataan dari ibunya, tak dapat menghentikan rasa penasaran juga rindu yang semakin lama semakin menjadi.


Apa lagi dengan sang anak yang sudah lebih besar, dari ingatan terakhirnya.


Arsyl atau yang saat itu sudah berganti menjadi Ansel, sering mengajaknya berbicara berdua.


Namun, semua itu terasa sangat sulit.


Di tambah, dirinya yang selalu saja merasakan sakit kepala yang sangat hebat, saat mendengar cerita dari anak lelakinya itu.


Hingga beberapa bulan kemudian, kedua orang tuanya memutuskan untuk menyekolahkan Ansel ke luar negri.


Awalnya dia melarang, tetapi karena bujuk rayu dari orang tuanya membuat dia akhirnya luluh.


Mereka akhirnya menikah satu tahun kemudian.


Flash back off


Tersenyum sinis, dengan tatapan meremehkan kepada wanita yang berusia beberapa tahun di bawah Ansel.


"Jadi begini wanita itu mendidik kamu? Heh, tidak tau sopan santun!" ucap Lary.


"Jangan pernah merendahkan ibuku!" sentak Ayu, tidak terima.


"Anda boleh menghina saya sepuas Anda. Tapi, jangan pernah menghina ibu saya!"


"Walaupun kami bukanlah seorang kaya raya seperti Anda, setidaknya kami tidak pernah melupakan keluarga sendiri!"


Lary mematung, mendengar sindiran yang di ucapkan Ayu padanya.


'Melupakan keluarga? Apa maksudnya?' hatinya bergumam penuh tanya.


"Aunty, Rara mau pulang."


Seakan mengerti dengan kondisi Ayu saat ini, Naura meminta untuk di antar pulang.


Ayu menghapus air matanya dengan sedikit kasar, mengalihkan perhatiannya pada gadis kecil yang berdiri di sampingnya.


Bian berjalan ke arah Ayu.


"Aunty tidak apa-apa?"

__ADS_1


Kedua anak itu, memandang khawatir kepada wanita yang sudah sangat mereka sayangi.


Ayu menggeleng dengan senyum yang terlihat sangat di paksakan.


"Aunty tidak apa-apa," ucapnya.


"Bian mau pulang sama Aunty atau Opa?" tanya Ayu, masih saja berusah bersikap lembut.


Menyembunyikan rasa sakit yang sedang ia derita.


"Bian mau sama Aunty aja," jawab Bian.


"Ya sudah, ayo kita pulang."


Ayu hendak berbalik dengan menggandeng kedua anak itu, saat tiba-tiba saja datang Ansel dan Ezra, yang menghampirinya dengan berlari.


Lary diam mematung, melihat interaksi ketiga orang di depannya.


Tiba-tiba, otaknya merasa kosong. Perkataan yang di ucapkan oleh Ayu, seperti anak panah yang menusuk tepat di jantungnya.


"Dek, kamu gak papa?" tanya Ansel, melihat Ayu dengan penuh khawatir.


Terlihat jelas, wajah sembab dan air mata yang masih menggenang di manik indah Ayu.


"Aku gak papa, Kak." jawabnya, berusaha tersenyum setulus mungkin.


"Karena Daddy dan Papah kalian udah datang, jadi Naura sama Bian pulang dengan Daddy dan Papah aja ya. Aunty ada urusan sebentar," Ayu beralih pada kedua anak di sampingnya.


Naura dan Bian hanya mengangguk, walau tatapan mereka seperti tidak rela berpisah dengan Ayu.


"Kak, Pak Ezra, kalau begitu aku pamit dulu," Ayu langsung berjalan cepat tanpa mendengar persetujuan dari sang kakak.


"Gue susul dia!" Ezra langsung menyambar Naura, dan menyusul langkah wanita yang ia sukai itu.


Sedangkan Ansel menghampiri sang Ayah yang berdiri seperti patung beberapa meter di depannya.


"Aku kecewa sama Papah," ucap Ansel tajam.


"Apa? kamu masih membela wanita itu?" sarkas Lary tidak terima.


Api amarahnya yang sudah hampir padam kini seperti tersulut kembali.


"Kalau Papah tidak bisa memberikan Nindi kebahagiaan, setidaknya jangan memberikan dia luka, Pah."


"Harus berapa kali aku bilang, kalau aku mempunyai seorang adik permpuan, dan dia adalah anak Papah?!"


"Cukup, Pah. Sudah cukup, selama ini Nindi dan ibu menderita. Bahkan sekarang ibu sudah meninggal, Pah."


Lary melebarkan matanya, mendengar perkataan Ansel.


"Me-meninggal?" lirih Lary, memastikan.


"Iya, Pah. Ibu suda meninggal sejak beberapa tahun yang lalu," jawab Ansel.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Maafkan saya karena selalu menyediakan promo di akhir bab.

__ADS_1


Maaf atas ketidak nyamanannya🙏


Terima kasih yang sudah selalu memberikan dukungan dan juga krisannya lope-lope buat kalian semua😘😘😘


__ADS_2