
...Happy Reading...
...❤...
Mobil yang dikendarai Keenan, kini sudah berhenti di pelataran butik.
Riska yang sudah siap untuk keluar, mengulurkan tangannya ke depan Keenan, yang langsung disambut oleh suaminya. Riska pun langsung mencium punggung tangan suaminya itu.
Keenan selalu merasa dihargai, setiap kali Riska melakukan kegiatan itu, ketika ingin pergi. Dia pun menarik sedikit kepala Riska dan mendaratkan ciuman di kening istrinya.
Merasakan ketenangan, juga menghirup aroma harum rambut istrinya, menyimpannya untuk ia ingat sepanjang hari, selama mereka berjauhan.
Rutinitas yang sudah beberapa hari ini mereka lakukan, hingga menjadi suatu kegiatan wajib saat keduanya akan berpisah.
Hari mereka seakan tidak sempurna dan ada yang kurang bila salah satu kegiatan wajib itu terlupa.
"Nanti siang aku jemput ya," ujar Keenan, setelah mereka menegakkan kembali tubuhnya.
"Iya. Abang, hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai," jawab Riska, sebelum keluar dari mobil.
"Asalamualaikum," sambungnya lagi, sambil membuka pintu.
"Iya, sayang. Waalaikumsalam," jawab Keenan.
Seperti biasa, dia akan memperhatikan istrinya itu sampai masuk ke dalam butik. Setelah itu, baru Keenan akan melajukan kembali mobilnya menuju kantor sang kakak.
Ya, selama para penggantinya itu masih berada di tahap percobaan, Keenan masih memiliki peran penting di Ezan Design's itu.
Hari ini juga, dia dan Ezra akan menentukan keputusan dan memilih salah satu dari tiga orang yang sudah menjalani beberapa tes terbuka ataupun tertutup selama satu minggu ini.
Sampai di kantor, ternyata Keenan bersamaan dengan Ezra, mereka memarkirkan mobinya di tempat yang sama.
"Pagi, Kak," sapa Keenan, mereka melangkah beriringan masuk ke lobi kantor.
"Pagi, Ken," jawab Ezra.
Sepanjang perjalanan mereka menuju ke ruangan, banyak karyawan yang menyapa dua petinggi Ezan Design's itu.
Ezra hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, sedangkan Keenan terlihat lebih santai, dan menjawab semua sapaan singkat para karyawan.
Sampai di lantai dua, tiga orang calon asisten Ezra sudah berdiri dan bersiap untuk menyambut dua orang atasannya itu.
"Selamat pagi, Pak Ezra dan Pak Keenan," ujar mereka bersamaan.
"Pagi," Ezra membalas singkat, sebelum masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Keenan.
__ADS_1
"Kakak sudah memilih, siapa yang akan menggantikanku?" tanya Keenan, begitu dia duduk di kursi yang berada di depan Ezra.
"Selama satu minggu ini, aku sudah melihat, bagaimana mereka bekerja dan bersikap, semuanya memang cukup bagus, semua perkerjaan mereka selalu rapi dan sesuai dengan apa yang aku inginkan selam ini." Ezra tampak melihat kembali semua data ketiga calon asistennya itu.
"Tapi, ada satu orang yang menarik perhatianku sejak pertama kali bertemu," sambung Ezra lagi, tangannya pun berhenti di salah satu berkas, mengambil lembar biodata seseorang yang tampak sedikit ganjil.
"Siapa, Kak?" tanya Keenan, dia menatap Ezra dengan penuh tanya.
Ezra meletakkan lembar kertas itu, ke atas meja agar bisa dilihat oleh Keenan.
"Alvin Bramantya?" Ada apa dengannya, Kak?" tanya Keenan.
"Dia adalah anak tunggal dari seorang wanita tanpa suami. Sekolah dengan mengandalkan beasiswa, itu pun sambil bekerja," ujar Ezra, mulai menjelaskan hasil penelususrannya semalam.
"Jadi karena dia anak beasiswa? Itu yang membuat, Kakak tertarik padanya?" tanya Keenan.
Ezra menggeleng.
"Bukan hanya itu, tapi kamu lihat nama belakangnya, bukankah itu adalah nama keluarga pengusaha makanan siap saji yang cukup terkenal beberapa tahun lalu?" ujar Ezra.
Keenan mengernyit, dia mencoba mengingat nama yang memang terdengar tidak begitu asing.
"Tunggu, Kak, biar aku lihat dulu." Keenan akhirnya mencari nama tersebut melalui ponsel pintarnya.
Matanya melebar, saat melihat, jejak digital dari nama yang ia cari.
"Jaya Food? Itu bukannya perusahaan yang mengalami gulung tikar, sekitar sepuluh tahun lalu?" tanya Keenan.
"Aku ingin dia yang menjadi asistenku selanjutnya," ujar Ezra, memberikan keputusan.
"Hah?!" Keenan terkejut dengan keputusan kakaknya yang tiba-tiba.
TIdak biasanya Ezra menggunakan hati, di dalam memilih calon karyawan.
"Tapi, Kak–" ucapan Keenan terpotong oleh Ezra.
"Hentikan pemikiranmu itu, Ken. Aku tidak menerima orang hanya dari rasa iba, atau latar belakang keluarganya saja. Aku juga bisa melihat jejak pekerjaannya di beberapa tempat sebelum melamar di sini ... dan semuanya selalu memuaskan."
Ezra kembali memberi penjelasan, tentang pertimbangannya untuk memilih Alvin.
Keenan menghembuskan napas lega, saat mendengar penjelasan dari kakaknya itu. Tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya.
"Maaf, Kak," ujar Keenan.
"Aku tidak akan memberikan keputusan yang hanya menggunakan hati, Ken. Logika dan otakku masih berjalan dengan benar, untuk memikirkan semua itu," ujar Ezra, semakin membuat Keenan malu sendiri.
"Sudahlah, kamu berikan ini pada dua orang lainnya untuk gaji mereka selama satu minggu bekerja di sini."
__ADS_1
Ezra memberikan dua amplop berwarna coklat kepada Keenan.
"Baik, Kak. Aku kerjakan sekarang juga," ujar Keenan sambil mengambil amplop itu dan berdiri.
Ezra menghembuskan napas panjang, saat melihat pintu itu sudah tertutup rapat.
Mulai besok, Keenan sudah harus fokus membantu Garry di perusahaannya, dan dia pun mengelola perusahaan kecil miliknya sediri.
.
.
Hari berlalu begitu cepat, karena kesibukannya, menjelaskan setiap pekerjaan dan kewajiban yang harus dilakukan oleh Alvin, sebagai penggantinya. Keenan hampir saja lupa dengan janjinya menjemput Riska untuk bertemu dengan Alana.
Getar ponsel di dalam saku, menghentikan kegiatan Keenan yang sedang menjelaskan beberapa berkas yang harus dikerjakan Alvin hari ini.
"Kamu kerjakan dulu yang ini, kalau ada yang belum kamu mengerti, hubungi saja aku, atau kamu bisa bertanya pada staf lainnya," ujar Keenan, saat melihat ID nama yang tertera di layar ponselnya.
Sementara itu, Riska yang sudah menunggu Keenan cukup lama akhirnya mencoba menelepon suaminya itu.
Tak lama kemudian, panggilannya sudah tersambung, dia langsung mencecar suaminya itu dengan kekesalannya.
"Abang, jadi gak sih jemput aku, ini udah lewat waktu makan siang. Aku masih harus menemui satu orang klien untuk melakukan fitting baju," gerutu Riska.
"Ya, sayang. Aku berangkat sekarang," ujar Keenan, sambil berjalan menuju keluar.
'Aduh, kenapa aku bisa lupa?' gumam hati Keenan.
Dia langsung masuk ke dalam mobil dan melaju cepat meninggalkan kantor Ezan Desagn's.
Beberapa saat kemudian dia sudah memarkirkan mobilnya di depan Clarissa Butique.
Riska yang melihat kedatangan mobil suaminya, langsung ke luar dari butik dan masuk ke dalam mobil Keenan.
"Maaf, nunggu lama ya?" tanya Keenan, sambil mengulurkan tangannya untuk dicium Riska.
"Lumayan, tapi gak apa-apa juga sih, aku jadi bisa bantuin yang lain dulu," ujar Riska santai, sambil memasangkan sabuk pengaman.
Keenan menghembuskan napas lega, dia sempat mengira kalau istrinya itu akan marah padanya, karena masalah ini. Akan tetapi ternyata kekhawatirannya tidak terbukti sama sekali.
Dia pun melajukan lagi mobilnya, menuju tempat mereka bertemu dengan Alana dan suaminya.
...🌿...
Gimana ya, reaksi Riska saat bertemu langsung dengan Alana?
...Komen👍...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...