
...Happy Reading...
...❤...
Benar apa yang dikatakan oleh Garry saat mereka makan siang. Sepasang suami istri yang merupakan tuan rumah, kini baru saja menampakkan batang hidungnya setelah empat puluh lima menit kemudian.
Ayu datang dengan wajah sayu, dia awalnya menolak untuk makan siang karena lelah yang mendera, setelah melayani hasrat suaminya di siang hari bolong.
Berbanding dengan wajah Ezra yang tampak lebih bersemangat dan penuh binar kebahagiaan. Keenan dan Garry yang menunggu kedatangan Ezra sejak tadi, hanya mencebik kesal.
Sedangkan Nawang sudah bersiap menyemburkan omelannya, pada anak sulungnya itu. Akan tetapi semua itu ia telan kembali saat melihat wajah sayu sang menantu pertamanya itu.
"Astaga, Nindi! Wajah kamu kenapa?" tanya Nawang, dia langsung menghampiri sepasang suami istri yang baru saja menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir.
"Apa lagi, Mah? Ya pasti karena ulah suaminya yang tidak tau waktu itu!" Keenna bagaikan memberikan bahan bakar pada api yang mulai mereda.
Seketika itu juga wajah Ayu yang tadinya sudah terlihat sedikit pucat,langsung bersemu merah.m
Ezra menatap acuh wajah kesal adiknya. "Iri? Bilang bos!"
Keenan memutar bola matanya malas, dia tahu bagaimana kakaknya itu begitu tergantung pada sang istri untuk mengintrol emosinya. Melirik Riska yang kini sedang duduk di sampingnya, dengan senyum manis yang terlihat dipaksakan.
Riska menatap tajam Keenan yang terlihat meliriknya, dia masih kesal karena ucapan suaminya itu yang menyamakannya seperti anak kecil.
Ayu hanya tersenyum melihat kehangatan keluarga Ezra. " Gak apa-apa kok, Mah. Aku hanya sedikit mengantuk," jawab Ayu kemudian.
"Mah, kami berdua makan dulu, ya. Aku sudah sangat lapar," ujar Ezra, sambil merangkul bahu Ayu.
"Yang habis oleh raga siang, ya pasti lapar lah?" Kali ini suara Garry yang terdengar, ikut menggoda anak dan menantunya itu.
Ayu mencubit sedikit pinggang sang suami, wajahnya sudah tak dapat dikondisiskan lagi, dia sangat malu saat ini.
Ezra berdesis menahan sakit di perut bagian samping karena ulah sang istri.
"Papah, gak usah ikutan ya. Kenapa kalian gak olah raga juga, kalau memang mau?" ujar Ezra.
"Sudah-sudah, sana kamu cepat bawa istrimu makan siang, kasihan dia sudah terlambat makan gara-gara kamu," ujar Nawang, mendorong pelan pundak Ezra.
__ADS_1
"Iya, Mah." jawab Ezra.
Sepasang suami istri itu kini berjalan menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Meninggalkan dua orang lelaki yang mendesah kasar.
Sedangkan Riska masih terdiam dengan alis bertaut, masih belum mengerti dengan perbincangan keluarga barunya itu.
Beberapa saat kemudian Ayu dan Ezra sudah menyelesaikan makan siang mereka yang harus tertunda karena ulah Ezra. Kini para menantu keluarga Darmendra itu sudah berada di teras depan, untuk mengantarkan para suaminya.
Sedangkan Garry dan Nawang memilih untuk tetapi duduk berdua di ruang keluarga.
Ezra dan Keenan, memutuskan untuk pergi ke kantor dan berkumpul bersama para anak buahnya yang sedang bekerja dari sana, sambil menunggu laporan dari orang yang bekerja di lapangan.
"Aku pergi dulu, ya. Kamu nanti langsung istirahat saja, maaf karena aku kamu jadi kelelahan begini," sesal Ezra.
"Heem ... Mas, juga hati-hati ya, kabarin aku kalau sudah sampai ke kantor," ujar Ayu.
"Sayang, bantu papah jagain mama ya, baik-baik di dalam, jangan buat Mama susah." Ezra beralih pada perut Ayu, doa memberikan usapan ringan di sana yang langsung dijawab oleh gerakan halus tepat di tangannya.
Ezra tersenyum lalu mencium perut istrinya itu, kemudian kembali berdiri sambil mengusap lembut wajah sang istri. "Aku mencintaimu."
Ezra berkata sebelum memberikan ciuman mesra di kening istrinya.
Ayu hanya mengangguk, dia terlalu malu untuk membalas ungkapan cinta Ezra di depan sepasang pengantin baru yang sejak tadi memperhatikannya.
"Aku juga berangkat dulu, kamu diam di rumah, jangan pergi ke mana-mana. Usahakan jangan melihat ponsel dan berita. Bila ada apa-apa hubungi aku melalui telepon rumah saja," pesan Keenan.
Riska mengangguk, dia pun ikut meraih tangan suaminya lalu menciumnya. Semua perlakuan itu jelas saja membuat Keenan merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya.
"Hati-hati," ujar Riska.
Keenan menatap kilas mata Riska lalu mengangguk. Kata singkat yang diucapkan oleh Riska memberikan efek yang cukup besar bagi tubuhnya.
Mengangguk samar lalu membernaikan diri untuk mencium kening Riska, dan kemudian berlalu tanpa berkata apa pun lagi.
Kini Ayu dan Riska menatap kepergian mobil yang ditumpangi oleh para suami mereka, hingga tak terlihat lagi, terhalang pagar besi yang mulai menutup.
Ayu memutuskan untuk menemani Naura yang sudah tidur siang lebih dulu, dia menyusul gadis kecilnya, membaringkan tubuhnya dengan posisi memeluk anak sambungnya itu, lalu ikut terlelap bersama.
Sedangkan Riska, Nawang dan Garry juga memilih masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
__ADS_1
.
Di tempat lain, Ezra dan Keenan baru sampai di kantor pusat Darmendra Grup. Mereka langsung disambut oleh para anak buah yang sudah bersiap sejak tadi. Keduanya langsung berjalan cepat menuju ruangan khusus IT.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Ezra di sela langkahnya.
Kami sudah berhasil menekan para perusahaan iklan, mereka sudah menghapus berita yang tersebar, hanya saja kami masih berusaha menghapus berita yang terlanjur disebarkan oleh akun masyarakat sipil.
Ezra menganggukkan kepala samar. "Baguslah, lalu apa mereka tau siapa yang telah mengirimkan berita itu?" tanya Ezra lagi.
"Tidak ada yang tau, Pak. Mereka hanya menyebutkan kalau ada seseorang misterius yang menawarkan berita itu lewat telepon dengan bayaran yang lumayan tinggi," jawab lelaki yang merupakan kepercayaan dari Ezra.
"Sial! Ternyata dia cedik juga, sepertinya ini bukan musuh yang bisa kita remehkan begitu saja," geram Ezra.
Sampai di ruangan IT, Ezra langsung bisa melihat kesibukan para pekerja yang dipaksa untuk masuk saat akhir pekan, demi menutup berita yang menjadi masalah bagi atasannya itu.
Suara keyboarad yang diketik secara cepat oleh banyak orang di sana, terasa menggema di ruangan besar itu, tak ada yang mengalihkan fokus dari layar di depannya. Semua orang terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Ezra dan Keenan berbicara dengan kepala IT untuk mengetahui perkembangan hasil dari pekerjaan para anak buahnya itu.
"Hanya tinggal sedikit lagi, mungkin sekitar tiga puluh menit lagi, semua berita di media sosial akan bersih tanpa jejak," jelas lelaki yang merupakan kepala IT di perusahaan itu.
"Lalu bagaimana dengan plaku, apa kalian sudah menemukan titik terang?" tanya Ezra lagi.
Semuanya terdiam, mereka terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan kedua Ezra. Itu sudah membuat Ezra dan Keenan paham jika mereka memang belum menemukan apa pun dari semua bukti itu.
"Kami sudah mengetahui siapa akun pertama yang menyebarkan berita ini, hanya saja ternyata itu akun palsu dan lokasinya juga terdapat di sebuah warnet, ketika kami bertanya pada pemilik warnet, dia mengaku kalau warnetnya buka dua puluh empat jam, karena cukup ramai, dia tidak bisa memperhatikan satu per satu orang yang datang," jelas sang Ketua IT, sekaligus mewakili orang yang bertugas di lapangan.
"Lalu, bagaimana dengan CCTV?" tanya Keenan tidak sabar.
"Kami sudah melihatnya, hanya saja karena CCTV di dalam warnet terbatas, jadi kita tidak bisa melihat gerak-gerik semua orang di sana, itu juga membuat kita menemui jalan buntu."
"Kirimkan video CCTV padaku, dan retas juga CCTV yang ada di sekitar sana, aku tunggu secepatnya!" perintah Ezra. Dia ingin melihat sendiri video yang mungkin akan membuat mereka menemukan titik terang yang membawanya pada pelaku sesungguhnya.
"Baik, Pak. Akan saya proses secepatnya," jawab Kepala IT, kemudian berjalan menuju ke meja miliknya.
Ezra dan Keenan memutuskan untuk menunggu di ruangan sang ayah, suasana kantor yang sepi karena akhir pekan, membuat mereka leluasa berjalan sambil berdiskusi tanpa harus takut didengar oleh para karyawan lain.
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...