Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.74 Pergi


__ADS_3


...Happy Reading...


Jam menunjukan pukul satu dini hari. Ayu, wanita itu masih duduk di dalam kamarnya, berteman kegelapan.


Memandang ke luar jendela, dari kaca yang sengaja ia tidak tutup rapat, membiarkan semilir angin malam, masuk ke dalam, hingga hawa dingin menyelimutinya.


Di sebelahnya, terdapat sebuah koper berukuran cukup besar. Entah mau ke mana wanita itu, hingga harus membawa barang sebanyak itu.


Beberapa menit berlalu, Ayu berdiri, memandang ke luar seperti sedang mengawasi sesuatu.


Menyunggingkan senyum kecut, saat melihat tidak ada orang yang biasa menjaga rumahnya dari luar, secara diam-diam.


Berbalik, memandang secarik kertas yang sudah ia simpan di atas nakas, sebelumnya.


Menyambar koper dan tas slempang yang sudah ia siapkan, berjalan ke luar rumah, dengan senyap, tanpa? terdengar langkah kaki sama sekali.


Tak ada aktivitas lagi yang terlihat, di dalam maupun di luar rumah. Semuanya sudah terlelap, karena obat tidur yang ia berikan pada kopi dan camilan yang sengaja ia siapkan, sebelum masuk ke dalam kamar.


Sampai di luar, Ayu melihat satpam jaga yang selalu bergantian dengan Mang Ujang tengah tertidur di pos.


Wanita itu segera masuk ke dalam mobil, menaruh koper di jok bagian belakang, dan segera melajukan mobilnya.


"Sisa tiga puluh menit lagi," gumam Ayu melihat jam di tangannya.


Beberapa saat kemudian, Ayu sudah berkendara keluar dari perumahan rumahnya.


Menarik napas lega, dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju tempat yang sudah ia rencanakan sejak awal.


Ayu bukanlah wanita bodoh, yang tidak peka akan sekitarnya. Pelatihan ilmu bela diri yang cukup tinggi, membuatnya tau kalau selama ini ada yang selalu mengawasi rumahnya.


Baru dua bulan ini, ia tau kalau itu adalah anak buah Ezra, yang tengah mengawasi dan melindunginya.


Memperhatikan setiap gerak-gerik mereka, hingga mengetahui jam dimana mereka berganti orang, dan berapa jumlah orang yang bertugas tanpa sepengetahuannya.


Jalan yang terasa lengang karena sudah larut malam, membuat Ayu bebas menjalankan mobil miliknya dengan kecepatan tinggi.


Berteman sepi dengan langit malam yang terlihat mulai menghitam, wanita itu kini sudah bertekad untuk pergi, meninggalkan semua orang yang ia sayangi, tanpa jejak.


Memperlambat jalan mobil, saat pandangannya terasa kabur, karena air yang mulai terkumpul di pelupuk mata.


Sudah setengah jam berlalu, ia yakin kini di area rumahnya, mereka semua sudah tersebar dari efek obat tidur yang ia berikan.


Sedangkan kini, dirinya sudah keluar dari kota yang selama ini menjadi tempatnya tinggal.


Hampir delapan jam perjalanan, Ayu kini sudah masuk ke dalam area pegunungan, dengan udara yang sejuk dan penuh dengan pepohonan.

__ADS_1


Kaca mobil sengaja ia buka, membiarkan angin yang masih terasa bersih, masuk ke dalam mobilnya.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Ayu sudah menghentikan mobil miliknya di halaman sebuah rumah sederhana, di daerah pegunungan.


"Neng Nindi! Ya Allah, sudah lama sekali kita gak ketemu, Neng!" seorang wanita paruh baya, mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan sang ibu, menyambut kedatangannya.


Memluknya erat, dengan satu tetes air berhasil lolos dari manik hitamnya.


"Kamu semakin mirip sama ibu kamu, Neng," ucapnya sendu, menangkup wajah anak dari sahabat lama, sekaligus mantan majikannya yang telah berpulang mendahuluinya.


"Bi Asih apa kabar? Maaf ... Ndi merepotkan Bibi," ucap Ayu.


Bi Asih adalah mantan ART di rumahnya dulu, usianya memang tidak berbeda jauh dari sang ibu. Hingga akhirnya mereka berdua menjadi seorang sahabat.


Bi Asih merantau sejak usianya masih muda, untuk mencari pekerjaan, karena dia adalah tulang punggung keluarga.


"Alhamdulillah, Bibi baik. Gak ada yang merasa di repotkan, Bibi malah senang, ketika beberapa hari yang lalu Neng bilang mau liburan ke sini." wanita paruh baya itu, bercerita dengan penuh semangat. Membawa Ayu masuk ke dalam rumah, dan mengenalkan satu per satu anggota keluarganya.


"Bi, rumah sewa aku di mana ya?" tanya Ayu, setelah ia berbincang cukup lama dengan keluarga Bi Asih.


"Deket kok Neng dari sini, Neng mau ke sana sekarang?" tanya Bi Asih.


Ayu mengangguk. Beberapa saat kemudian Ayu berpamitan untuk pergi ke rumah yang sudah ia sewa.


Beberapa hari yang lalu, Ayu sudah menghubungi Bi Asih, dan meminta tolong untuk mempersiapkan semua keperluannya.


Dengan senang hati, wanita paruh baya itu membantu segala keinginan Ayu.


Ayu menatap rumah kecil yang berjarak tidak jauh dari rumah Bi Asih.



*gambar hanya pemanis*


Rumah bergaya tempo dulu, namun masih sangat terawat dengan banyak tanaman di sekitarnya, membuat Ayu mengembangkan senyumnya.


"Ini, rumah milik ibu Bibi. Tapi, sekarang dia milih tinggal bareng sama Bibi," jelas Bi Asih.


"Makasih ya, Bi. Rumahnya bagus, rapih, aku suka," ucap Ayu.


Mereka memasuki rumah, hanya terdapat satu kamar, ruang tamu dan dapur yang langsung terlihat, dari depan pintu masuk.


"Kenapa enggak tinggal di rumah kakek Neng aja, 'kan gak jauh dari sini,"? tanya Bi Asih.


Memang jarak dari kampung halaman ibunya dan kampung Bi Asih tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam lagi, bila berkendara menggunakan mobil.


Ayu menggeleng.

__ADS_1


"Nanti saja, aku berkunjung ke sana, s


Setelah menunjukan semua bagian rumah, Bi Asih pamit pulang. Meninggalkan Ayu di rumah itu, sendiri.


Wanita itu, membereskan semua barang bawaannya dan menyiapkan semua yang ia butuhkan. Dia baru keluar rumah saat matahari sudah mulai beranjak ke peraduannya.


Berjalan menuju rumah Bi Asih, untuk meminta di antar ke warung yang lumayan lengkap, ia membutuhkan beberapa perlengkapan yang tidak di bawa dari kota.


"Assalamualaikum." Ayu mengucapkan salam, saat ia sudah berada di depan rumah Bi Asih.


"Waalikumsalam!" teriak anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah Bi Asih.


Bi Asih mempunyai anak permpuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah akhir, dia juga menjadi guru ngaji anak-anak kampung.


"Bi, di sini ada warung yang lumayan lengkap gak? Aku mau beli keperluan memasak dan yang lainnya." Ayu bertanya saat sudah bertemu dengan orang yang ia cari.


"Ada, Neng. Biar dia antar sama Dian aja."


"Dian! Tong antar Kak Nindi ke warung Wa Haji!" wanita paruh baya itu langsung memanggil sang anak, dengan suara yang lumayan nyaring.


Gadis berumur sekitar enam belas tahun itu, langsung menoleh kepada ibunya dan Ayu. Lalu terlihat dia berbicara dengan para temannya sebelum menghampiri.


"Iya, Bu. Ayo, Kak," ucapnya.


"Gak papa nih, nanti Kakak ganggu lagi?" Ayu mencoba bercanda.


"Gak papa, Kak. Aku juga udah selesai kok mainnya," gelengnya.


"Ayo kak, mumpung belum petang gelap!" ajaknya lagi.


"Jauh gak? Pake mobil apa jalan aja?" tanya Ayu.


"Gak usah kak, deket kok. Kita jalan aja," tolak Dian.


"Ya udah, Yuk!" Ayu berjalan berdampingan dengan gadis remaja itu.


Menyusuri jalan kampung, dengan dihiasi oleh raminya anak-anak yang sedang bermain, juga para remaja yang menikmati suasana sore, di kampung itu.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Sampai sini dulu ya shay. Terima kasih yang udah selalu kasih dukungan untuk aku, dan karya receh ini.🙏😍😍


Sampai jumpa di bab Berikutnya 👋🥰🥰

__ADS_1


Oh iya lupa, sambil nunggu aku up, boleh baca karya teman literasi aku ya.



__ADS_2