Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Pengumuman Give Away


__ADS_3

Assalamualaikum ....


Hai hai semuanya, aku datang bawa pengumuman pemenang Give Away.


❤️ 5 Top fans, karena nomor 1 masih tetap aku sendiri, jadi aku urutan dari nomor 2 sampai 6.


🌿Urutan satu sampai tiga, akan mendapatkan pulsa sebesar 50k.


🌿Untuk urutan empat dan lima mendapatkan pulsa sebesar 25K.


Ini dia para pemenangnya👇



❤️Pemenang undian komentar, aku tambah menjadi 10 orang ya.



Untuk yang merasa memiliki akun di atas, silahkan DM aku di insatgram @Warnyiwarnyi atau bisa chat lewat facebook @Warnyi


Aku tunggu konfirmasinya ya, sahabat reader semua🥰


Selamat untuk kalian para pemenang 👏👏🎉


Dan untuk yang belum beruntung, tetap semangat, In Sya Allah, aku akan adakan lagi give away di karya yang lainnya💪😊


Terima kasih juga, sudah mengikuti cerita receh aku, dengan tulisan yang masih berantakan🤭 jangan dulu pada kabur ya, karena ceritanya belum selesai🥺


Lope-lope sekebon untuk kalian semua😘😘❤️❤️❤️❤️


Mampir juga di karya aku yang lain ya kak.


MAFIA STORY Kembalinya Anak Tak Berguna


Blurb:


Fitnah telah membuatnya terusir dari rumah dan keluarganya, hingga suatu kejadian mempertemukannya dengan seorang pemimpin mafia terbesar dan menjadikannya sebagai penggantinya.


Agra kembali setelah meraih kesuksesan, dengan tujuan ingin membalas dendam. Diwarnai dengan kisah percintaan dengan gadis masa kecilnya. Akankah Agra bisa membalaskan dendamnya dan mengalahkan para musuhnya?


Sudah tamat ya, jadi bisa baca maraton🤭



Judul: Penakluk Sang Casanova


Author: Warnyi


Potongan bab:

__ADS_1


Dian sudah kelelahan melawan para pria brengsek itu, tenaganya hampir habis untuk mempertahankan harga dirinya. Baju yang dipakainya bahkan sudah terkoyak di beberapa bagian, mengingat para pria itu tak main-main dalam menyerangnya.


Grep.


"Akh!" pekikan tertahan itu keluar dari mulut Dian saat salah satu di antara pria itu berhasil mengunci pergerakannya.


Napas terengah hingga membuat dadanya terlihat naik turun, ditambah kulit yang terlihat lebih bersinar karena keringat yang dikeluarkan semakin menambah gairah para pria itu.


Dukh!


"Hk!" Dian terhentak saat pria yang menguncinya kini menabrakkan tubuhnya pada pohon besar di pinggir jalan.


Srakh!


Mata Dian membelalak saat baju kemeja bagian atasnya terkoyak hingga memperlihatkan kain penutup aset berharga miliknya. Tubuhnya terus memberontak dengan sekuat tenaga berharap bisa terbebas dari para bajingan itu.


'Sampai di sinikah akhir hidupku? Apa yang harus aku lakukan bila mereka sampai merenggut kehormatanku? Aku mohon untuk kali ini datangkan seseorang untuk menolongku!' gumam hati Dian, penuh harap.


Menggigit bibir dengan sekuat tenaga menahan isakan yang hampir keluar, matanya terpejam tak ingin melihat wajah senang dan penuh kemenangan mereka semua.


"Pegang dia!" ujar lelaki dengan celana sobek-sobek itu, pada para temannya.


Dian merasakan sakit di seluruh tubuhnya, tangannya di pegang oleh dua orang pria, sedangkan lelaki di depannya sudah bersiap membuka pakaiannya.


Rasa takut jugaputus asa kini menyelimuti hati perempuan itu, dirinya tak bisa lagi berharap saat kehancuran sudah ada di depan mata.


.


Matanya memicing melihat apa yang terjadi di sana, hingga tak sengaja terlihat seorang perempuan sedang ingin dilecehkan oleh sekelompok lelaki brandalan itu.


Memarkirkan mobil dengan jarak yang lumayan jauh, dia berjalan mengendap mendekati kerumunan yang terjadi di bawah sebuah pohon besar itu.


Matanya semakin melebar dengan apa yang terlihat kini, jantungnya berpacu lebih cepat dengan emosi yang siap meluap.


Dukh! lelaki itu berhasil memberikan tendangan di bagian punggung pria yang hendak membuka pakaiannya.


Bersiap dengan posisi kuda-kuda untuk menerima serangan balasan dari pria itu.


"Brengsek! Siapa kamu? Berani-beraninya mengganggu kesenangan kami!" umpat pria itu, menatap tajam lelaki berkemeja putih itu.


Dian membuka mata, saat suara pukulan terdengar di telinga, senyum samar terukir di bibir yang sudah pecah, saat mendapati seorang lelaki bertubuh tegap sedang bertarung dengan pria brengsek itu.


"Kamu bantu dia, biar perempuan ini aku yang jaga!" ujar salah satu di antara mereka yang memegang tangan Diandra.


"Lepas!" Diandra mencoba berontak, saat tangannya di pegang di belakang tubuhnya. Sebuah harapan untuk terbebas memacu semangatnya untuk terus memberontak.


Brak!


Satu pria setengah mabuk itu, terlepas hingga menabrak kap bagian depan mobil Dian, lalu berguling dan jatuh tersungkur di aspal jalan.

__ADS_1


Bugh!


Dian tak lagi bisa melihat apa yang terjadi di depannya, saat kegelapan merenggut cahanyanya, dia tak sadarkan diri, setelah menerima pukulan keras di tengkuknya.


"Bajingan tengik!" umpat lelaki berkemeja putih itu, lalu langsung menyerang pria yang telah membuat Dian tak sadarkan diri.


Beberapa saat kemudian semua pria setengah mabuk yang hampir saja melecehkan Dian, akhirnya tergeletak tak sadarkan diri di atas dinginnya aspal malam itu.


Menegakkan tubuh dengan hembusan napas kasar, membetulkan kemeja yang sudah berantakan dan basah oleh keringat, lalu berjalan menghampiri Dian yang masih tak sadarkan diri.


Mengendongnya ala bridal style ke dalam mobil miliknya, merebahkan tubuh penuh luka itu dengan sangat hati-hati di kursi penumpang, mengambil jas yang tergeletak di jok belakang, lalu menggunakannya untuk menutupi tubuh Dian. Lelaki itu beralih mengambil ponsel di dashboard mobil, lalu menghubungi seseorang.


"Bereskan kekacauan di sini, aku share lokasi sekarang!" titahnya tak mau dibantah.


Setelah kedatangan asisten dan anak buahnya, dia melesat pergi ke rumahnya tinggal sementara berada di sana.


"A' Gio, ini siapa, kenapa di bawa ke rumah?" tanya seorang wanita paruh baya yang bertugas menjadi asisten rumahtangganya di sini.


"Tolong siapkan air untuk membersihkan lukanya, sebentar lagi Randi datang membawakan pakaian untuknya!" ujar lelaki yang tak lain adalah Gio. Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya di lantai dua.


Wanita paruh baya itu, langsung berjalan untuk melaksanakan perintah sang majikan barunya, tanpa mau bertanya lebih jauh.


Gio menatap wajah lelah yang dipenuhi lebam bekas pukulan itu, dia duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang, tempat Dian terbaring.


Keningnya berkerut dalam dengan sorot mata yang tak bisa diartikan. Dia baru tiga hari berada di sini, dan sekarang sudah memberanikan diri menolong seorang perempuan yang hampir saja menjadi korban para pria brengsek itu.


Dari mana datangnya keinginan itu, padahal sebelumnya dia tak pernah peduli dengan wanita di sekitarnya, kecuali ibu, Kakak dan adik bungsunya itu. Akan tetapi, semua yang terjadi beberapa saat lalu, membuat dirinya merasa bingung sendiri.


Tok ... tok ... tok ....


Ketukan di pintu membuat Gio mengalihkan pandangannya, di sana terlihat asisten rumahtangganya berdiri dengan wadah dan handuk kecil di tangan, jangan lupakan peralatan P3K yang sudah di siapkan juga.


Gio bangkit, dia berjalan menuju ke sisi ranjang, menatap lekat wajah cantik yang kini masih memejamkan mata.


"Bersihkan dan obati semua lukanya, lepas semua baju dan ganti dengan apa yang dibawa oleh Randi sebentar lagi!" perintah Gio, ganpa melepaskan tatapannya pada wajah Dian.


"Baik, A' Gio," angguk wanita itu.


Gio beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, tubuhnya terasa begitu lengket, karena pertarungan beberapa saat lalu, hingga membuatnya harus mandi. Dia juga butuh merelexkan diri, agar otot yang terasa kaku kembali terasa segar.


Gio baru saja selesai membersihkan diri, dia langsung melihat pemandangan tidak biasa di kamarnya.


Seorang perempuan kini terlihat menutup mata di ranjang miliknya, senyum tipis terukir saat melihat tubuh perempuan itu, kini sudah berganti baju dengan yang baru.


Selama ini dia selalu pergi setelah menemukan kepuasan bersama para wanita penghibur yang dipilih olehnya, hingga tak ada satu wanita pun yang pernah ia lihat sedang tertidur di ranjang yang sama.


Mereka hanya pemuas napsu dan ambisinya, lagi pula mereka yang menawarkan, lalu kenapa dia harus menolak. Gio bukanlah lelaki yang munafik, hingga mau menampik sedangkan jiwanya memberontak menginginkan. Dia adalah lelaki yang hidup bebas dengan para wanita berada di sisinya.


Mengambil selimut cadangan di dalam lemari lalu memilih tidur di atas sofa. Kini kedua orang itu terlelap dengan pikirannya masing-masing. Entah bagaimana mereka berdua menghadapi hari esok, dengan kejutan yang akan terjadi.

__ADS_1



__ADS_2