Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.225 Bulan Bersaksi


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Kini keduanya kembali memilih untuk berjalan menyusuri garis pantai, dengan sesekali ombak laut membasahi kaki mereka.


Mereka berhenti dan duduk di pasir yang terasa kering. Riska menyandarkan tubuhnya pada dada Keenan yang duduk di belakangnya, menikmati angin malam dengan pandangan luas lautan di depan keduanya.


Semua itu semakin terasa lebih nyaman dan indah, saat cahaya temaram dari bulan yang terpendar pada lautan luas, menjadi penerangan untuk mereka.


Keduanya tampak asyik menikmati suasana tenang dan sepi yang diiringi dinginnya angin pantai. Mereka bahkan seperti tak menghiraukan suasana di sekitarnya.


Tenggelam dalam suasana romantis yang mereka ciptakan sendiri, dengan rasa cinta di dalam hati.


"Abang, kenapa memilih Bali, untuk liburan kita kali ini?" tanya Riska.


Keenan memeluk Riska dari belakang, punggung tangannya mengusap lembut pipi dingin Riska.


"Entah, aku hanya merasa ini adalah tempat yang cocok untuk kita berdua," jawab Keenan.


Riska sedikit memiringkan kepalanya dan mendongak melihat wajah sang suami. Keenan langsung menyambar bibir istrinya itu sekilas.


"Hanya itu?" tanya Riska, merasa belum puas.


"Heem, memang apa lagi?" ujar Keenan, kembali mengeratkan pelukannya, setelah Riska kembali melihat ke depan.


"Ya, mungkin saja ada keperluan lain," tebak Riska.


"Enggak, sayang. Aku memilih tempat ini, karena menurutku tempat ini, cocok untuk kita berdua menghabiskan waktu bersama, itu saja ... tidak ada yang lain," jelas Keenan, tanganya mencubit gemas hidung sang istri.


"Ih, Abang! Sakit!" protes Riska, mengusap hidungnya yang terlihat memerah.


"Siapa suruh kamu lucu? Kan aku jadi gemas sama kamu, sayang." Keenan berujar sambil ikut mengusap hidung istrinya.


"Uluh-uluh, sakit banget ya, sayang," sambung Keenan lagi, saat melihat wajah merajuk Riska.


"Aku gak percaya! Cuma, Abang yang bilang aku lucu, orang lain gak ada tuh." Riska masih saja merajuk.


"Beneran, sayang. Di mataku kamu itu lucu. Apa lagi kalau sedang ngambek begini ... uh, rasanya mau aku kurung saja di kamar, biar gak ada orang lain yang lihat," ujar Keenan, sedikit memberi rayuan untuk istrinya.


"Apa sih, Bang. Gak jelas deh, ngapain juga ngurung aku di kamar? Yang ada aku kabur kalau, Abang, kayak gitu." Riska terlihat tidak suka.


"Gak dong, kan dikurungnya bareng sama aku," ujar Keenan, santai.


Riska mencebik, walau pipinya terlihat sedikit merona. Tangannya memberikan sedikit cubitan di paha sang suami.

__ADS_1


"Arrgh! Sayang, itu sakit beneran loh," keluh Keenan, mengusap bekas cubitan Riska di balik celana panjangnya, yang pasti sudah memerah di dalam sana.


"Lagian, Abang, ada-ada aja," jawab Riska.


Walau begitu, tangannya ikut mengusap paha Keenan, dengan begitu halus dan hati-hati. Semua itu sampai memberikan sensasi dan rasa yang berbeda pada tubuh suaminya itu. Tentu saja tanpa sepengetahuan Riska sendiri.


Keenan sedikit menegakkan tubuhnya, mengedarkan pandangannya melihat sekitar, yang ternyata sudah sepi.


Malam terasa semakin larut, itu semua terasa dari angin yang semakin dingin, menerpa tubuh sepasang kekasih halal itu.


Keenan melihat jam di pergelangan tangannya, ia sempat terkejut saat melihat waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.


"Sayang, sepertinya ini sudah terlalu larut, lebih baik kita kembali ke hotel saja," ujar Keenan.


Riska menoleh, dia mengambil tangan suaminya untuk melihat jam bermerek yang berada di sana. Matanya melebar begitu melihat jarum pendek yang sudah menunjuk angka sebelas romawi.


"Ini gak salah, Bang? Udah jam sebelas?" tanya Riska memastikan.


Keenan mengangguk. Dia merangkul pundak Riska dan mengarahkannya menuju ke hotel kembali.


"Ya ampun, karena terlalu senang menikmati malam di pantai ini, aku jadi lupa waktu," ujar Riska.


"Tidak apa, sayang. Lagi pula, tak setiap hari kita tidur terlambat dan menghabiskan waktu berdua seperti ini." Keenan memberikan satu ciuman hangat di kening sang istri.


"Kamu dingin sekali, sayang," ujar Keenan, saat merasakan kening istrinya itu begitu dingin.


Keenan kemudian mengeratkan rangkulannya, memberikan kehangatan lebih untuk sang istri.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah sampai kamar hotel. Keenan membuka pintu dengan akses key card miliknya.


Riska menatap tak percaya pemandangan yang ada di depan mata. Keadaan kamarnya saat ini sangat berbeda.


Taburan bunga mawar berwarna putih dan merah yang menyambut kedatangan mereka, ditambah berbagai rangkaian bunga lainnya yang menghiasi seluruh kamar, juga lilin-lilin aroma terapi yang memberikan harum yang terasa berbeda.


"Abang? Ini beneran kamar kita?" tanya Riska, dengan mata yang melebar, menatap setiap sudut kamar hotel tersebut.


"Iya, sayang. Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Keenan, dia menutup pintu dan memeluk Riska dari belakang.


Riska mengangguk, dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca, menahan rasa haru.


"Terima kasih, Abang," ujarnya, dengan suara parau, menahan tangis.


"Apa pun untukmu, sayang," jawab Keenan.


Keenan mencium sekilas leher dan pipi Riska, sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.


"Aku ke kamar mandi dulu ya," izin Keenan.

__ADS_1


Riska hanya mengangguk sebagai jawaban, dia masih menikmati setiap harum dan dekorasi indah yang memanjakan mata juga hidungnya.


Puas menikmati semua itu, kini Riska hendak mengambil baju tidurnya di dalam almari. Akan tetapi, kemudian dia hanya mematung, tanpa mengambil satu pun dari sana.


"Ada apa, sayang?" tanya Keenan, yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan jubah mandi di tubuhnya.


"Bang, kita gak salah masuk kamar kan?" tanya Riska dengan wajah bingung.


"Enggak kok, buktinya key card milikku bisa membuka pintu kan. Memang ada apa, sayang?" tanya Keenan, sambil berjalan menghampiri Riska.


"Ini semua bukan baju aku, aku ingat tadi sudah menatanya di sini, tapi kenapa sekarang semuanya berubah," tanya Riska.


Keenan tersenyum dalam hati, melihat wajah bingung Riska, dan semua baju di dalam almari.


'Ini pasti pekerjaan mama' tebak Keenan dalam hati.


"Ya sudahlah, kamu pilih saja salah satu yang ada di sini, dari pada gak ganti baju," ujar Keenan.


Riska melihat semua baju yang terlihat begitu minim itu, mulai dari yang terlihat seperti mini dres sampai yang terlihat menerawang, saking tipisnya dan minimnya bahan yang dipakai, ada yang sampai tak bisa menutupi apa pun.


"Baju apa ini? Ini bahkan gak pantas disebut sebagai baju," gerutu Riska.


"Sudahlah, jangan banyak protes, coba saja kamu pakai satu," ujar Keenan.


Riska kemudian melihat Keenan dengan penuh curiga.


"Bukan-bukan aku, beneran," ujar Keenan, yang tahu arti tatapan dari istrinya itu.


Riska pun akhirnya memilih salah satu gaun yang ada di sana, dan berjalan menuju kamar mandi.


Sedangkan Keenan, memilih untuk duduk bersandar di atas ranjang, menunggu istrinya keluar.


Dalam hati dia berterima kasih dengan kejahilan sang ibu.


'Aku kira cuman Kak Ezra yang mendapatkan kejahilan mama, ternyata aku juga kena' gumam hati Keenan.


Tidak aneh juga sih, kenapa sang ibu bisa menjalankan kejahilannya, walau sekarang mereka berada jauh darinya.


Semua itu karena hotel yang sekarang mereka tempati, adalah salah satu aset milik keluarga Darmendra.


Maka dari itu, Nawang masih mempunyai wewenang untuk memerintahkan salah satu pegawai di sana untuk menjalankan rencananya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2