Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.73 Topeng


__ADS_3


...Happy Reading...


Larry baru saja sampai di rumah mewah tampatnya tinggal berdua bersama sang istri, setelah malam sudah larut.


"Kamu dari mana saja, Mas? Beberapa hari ini kamu pergi gak ada kabar, ponsel juga gak bisa di hubungi?" Arumi langsung menodong lelaki paruh baya itu, dengan berbagai pertanyaan.


"Aku baru saja pulang dari luar kota. Tanpa kamu tanyakan padaku, kamu juga pasti sudah tau dari para antek-antek kamu, bukan?"


Berjalan masuk ke dalam kamar, tanpa melirik wajah sang istri. Lelaki itu sudah lelah, berpura-pura mencintai wanita yang sudah menemaninya beberapa tahun ini.


"Apa maksud kamu, Mas?" Arumi mulai memerankan sebagai wanita yang baik hati di depan suaminya itu.


Berjalan memgekori Larry ke dalam kamar.


Larry tersenyum miring, sambil melepas jas dan dasi dari tubuhnya.


"Tanpa aku jelaskan, kamu juga sudah tau apa yang aku maksud."


"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Mas?!"


"Sudahlah, aku capek! Baru saja pulang, bukannya di sambut dengan baik, malah di todong dengan berbagai pertanyaan tak berguna!" tekan Larry.


Menyambar handuk sebelum masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Arumi yang hendak berkata kembali.


Wanita paruh baya dengan gaya yang sederhana itu, mengepalkan kedua tangannya, melihat perubahan sikap sang suami.


Mengambil ponsel yang tergeletak di meja, berjalan menuju balkon sambil menghubungi seseorang.


"Kemana saja dia, selama tidak di rumah?" tanya Arumi pada seseorang di seberang sambungan teleponnya.


Arumi terlihat terdiam, mendengarkan penjelasan dari seseorang di seberang sana.


"Baiklah, kerja bagus!" ucapnya sebelum memutuskan telepon tersebut.


"Apa mungkin, dia sudah mengetahui semuanya?" gumam Arumi dengan alis bertaut dalam.


Wanita paruh baya itu, merasakan ada yang aneh dengan suaminya. Tetapi, anak buahnya tak melihat ada yang ganjil, dari semua pergerakan Larry.


Ya, Larry memang tidakeninggalkan jejak kepada orang yang mengawasinya, dia pergi menyelinap tanpa sepengetahuan siapapun dari kantornya, lalu menggunakan taksi on line untuk menuju makam Puspa.


Dengan bantuan sekretaris barunya yang ternyata salah satu orang suruhannya Ezra, dia bisa keluar dari kantor dengan selamat, tanpa meninggalkan jejak bagi anak buah Arumi.


Wanita itu memilih berjalan menuju dapur, menyiapkan teh yang akan ia sajikan untuk sang suami.


Wanita berumur lima puluh tahunan itu, benar-benar pandai bermain peran. Menutupi semua rencana busuknya, dengan tampilan sederhana dan wajah yang ramah bagaikan seorang malaikat.


Padahal, semua itu adalah sebuah topeng yang terpasang, untuk menipu orang-orang di dekatnya.

__ADS_1


...❤...


Di rumah yang lain, sepasang suami istri sedang berdebat hebat, karena masalah yang sedang melilit keduanya.


"Apa kamu gak ada cara lain, untuk menghasilkan uang, Mas?!" tanya Mala, dengan nada bicara tinggi.


"Aku harus bagaimana lagi, Mala? Saat ini, untuk keluar rumah saja kita tidak bisa ... apa lagi mencari pekerjaan!" tekan Radit, dengan wajah sudah memerah, menahan amarah.


"Aku tidak mau tau, pokoknya Mas harus segera mendapatkan uang! Aku tidak mau hidup miskin, Mas!" teriak Mala.


"Memangnya kamu pikir aku mau hidup susah, hah?! Aku juga tidak mau hidup kayak gini!" Radit ikut berteriak.


"Untuk sekarang ini, kita harus bersabar hidup dengan uang yang ada di dalam tabungan. Nanti kalau berita sialan ini sudah reda, aku pasti akan mendapatkan pekerjaan kembali." ucap Radit.


Mala mendengus kasar, melirik sang suami dengan tajam.


Uang tabungan mereka, kini semakin menipis, sedangkan sekarang tidak ada lagi yang mau menerima mereka bekerja.


Bahkan mereka harus bersembunyi dari sasaran wartawan, ataupun warga biasa yang ikut terbawa emosi atas berita yang tersebar beberapa waktu yang lalu.


Mereka bagaikan sepasang buronan polisi, yang sedang bersembunyi dengan lingkup gerak terbatas.


"Wanita sialan! Aku yakin ini semua pasti ulah mantanmu itu, Mas! Lihat saja nanti, aku akan menghabisinya jika bertemu dengan wanita itu!" ucap Mala, penuh amarah menggebu.


Selalu saja menyalahkan orang lain, dari semua masalah yang dia hadapi. Padahal semua itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri.


Radit hanya diam, membiarkan istrinya menggerutu sepuasnya. Dia sudah cukup pusing, memikirkan bagaimana cara menyambung hidup untuk kedepannya.


...❤...


Waktu terus bergulir, kini sudah enam bulan Ayu menyandang status sebagai janda. Permasalahan dengan Larry masih saja belum menemukan titik temu.


Ayu masih saja menolak permintaan maaf dari sang ayah, menganggap semua itu hanyalah omong kosong semata.


Ansel sudah mengetahui apa yang di rencanakan oleh Ezra maupun Larry, dia ikut membantu keduanya.


Ansel juga ikut merayu adiknya untuk menerima Larry kembali. Tetapi, kekecewaan yang sebelumnya wanita itu terima, sudah membutakan pintu hati Ayu. Menutupi semua indranya, untuk melihat ketulusan hati Larry.


Wanita itu kini telah jauh berubah, sikap dingin dan tegas menjadi tameng, untuk membuat batas bagi orang yang akan mendekatinya.


Sifat lembut dan periangnya hanya akan keluar bila sedang berada di dekat anak kecil. Ansel dan Ezra kini juga kena imbasnya, karena mereka mendukung Larry.


Ayu menjadi menjauh dari mereka berdua, tak ada lagi yang tau apa isi hati wanita itu. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dengan pandangan yang sulit untuk mereka artikan.


Tak ada yang bisa mendekat, Ayu bagaikan orang yang hidup dalam dunianya sendiri. Tak ada lagi yang bisa mencairkan hati yang terlanjur membeku.


Ya, hanya kehadiran Naura dan Bian yang mampu memunculkan senyum di wajah itu.


Entah apa yang membuat dia tiba-tiba berubah, tak ada yang tau. Mungkin hanya wanita itulah yang mengetahui semua itu.

__ADS_1


Seperti saat ini, Ayu sedang menemani Naura dan Bian bermain di taman rumahnya, dengan wajah yang terlihat penuh semangat.


Sedangkan di sofa ruang keluarga. Ansel, Ezra dan Elena memperhatikan tanpa ada yang berani mendekat.


"Aunty, liat gambar punya Rara! Bagus gak?" tanya Naura, menunjukan hasil menggambarnya.


Terlihat dua orang dewasa dan satu anak di tengah, sedang bergandeng tangan dengan senyum mengembang dari ketiganya.


"Waah, bagus ... Naura hebat! Ini gambar siapa aja?" tanya Ayu.


"Ini Aunty, Papah sama Naura." dengan polosnya, anak berusia hampir tujuh tahun itu, menjelaskan satu persatu orang yang ia gambar. Menceritakan keinginannya untuk berlibur bersama Ayu dan Ezra, tanpa tau perubahan raut wajah wanita di hadapannya.


Ayu langsung menegakkan tubuhnya, dengan raut wajah yang berubah mengeras. Namun, masih berusaha tersenyum, walaupun itu sangat terlihat dipaksakan.


"Bagus, Naura pintar menggambarnya. Nanti kalau dapat tugas dari sekolah, pasti nilainya bagus!" ucap Ayu, mengelus puncak kepala gadis kecil itu.


"Punya aku juga bagus 'kan, Aunty?" Bian ikut, memperlihatkan hasil gambarnya pada Ayu.


"Mana? Sini coba Aunty lihat!" Ayu menerima buku khusus untuk menggambar milik Bian.


"Waah, bagus sekali! Bian juga pintar ya, menggambarnya!" Ayu kembali menampilkan wajah penuh semangat.


"Lihatlah, berapa kali wajahnya berganti, dalam waktu beberapa menit saja," bisik Elena kepada kedua lelaki di sampingnya.


Ansel mengangguk, menyetujui perkataan istrinya itu.


Ezra hanya fokus memperhatikan Ayu dan anaknya, dengan pikiran berkelana. Menerka apa yang sedang ingin Ayu tampilkan pada mereka, dan apa yang berusaha Ayu sembunyikan darinya.


Waktu menunjukan pukul sembilan malam, saat Ezra, Ansel dan Elena pamit pulang. Sedangkan Naura dan Bian sudah terlelap sejak setengah jam yang lalu.


"Kakak, pulang dulu ya, Dek," pamit Ansel.


Ayu hanya menganggukan kepalanya, tanpa berkata apapun.


Elena memberikan pelukan singkat sambil bercipika-cipiki, Ayu hanya merespon dengan datar dan senyum tipis yang tersungging dari bibirnya.


Kembali menutup pintu, setelah melihat kedua mobil milik Ezra dan Ansel menjauh dari rumahnya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Kali ini kita loncat waktu ya, capek ngubek di waktu yang berdekatan😁😁


Tenang, nanti ada flash back kok, untuk penyebab Ayu berubah. Tunggu saja waktunya🤭🤭


Ish, dasar jempolku nakal nih, main kasih bocoran aja😂😂

__ADS_1


Terima kasih semuanya🥰🥰


Udah ya, sampai jumpa di bab berikutnya👋❤❤❤


__ADS_2