Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.181 Konyol


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


"Tuan, apa Anda keluarga korban? Kami membutuhkan seseorang untuk bertanggung jawab dan menyelesaikan administrasi," ujar seorang perawat di depan Keenan.


Keenan menatap wajah seorang wanita yang memakai pakaian khas seorang perawat di depannya. Dia terdiam dengan pikiran berkecamuk, menghembuskan napas kasar, sebelum akhirnya mulai berbicara.


"Saya yang menolong mereka, Sus," jawab Keenan.


"Apa Anda bisa menghubungi keluarganya, untuk menyelesaikan administrasinya?" tanya suster itu kembali.


"Saya, tidak tahu, Sus. Mereka korban kecelakaan, semua barang-barangnya masih tertinggal bersama polisi," ujar Keenan.


"Tapi, kami membutuhkan jaminan administrasi untuk mereka, atau mereka tidak bisa ditangani lebih lanjut," ujar perawat itu, terdengar lembut,akan tetapi, penuh dengan ancaman.


Keenan berdecak malas, dia akhirnya mengambil dompet di satunya lalu memberikan alah satu kartu dari sana.


"Lakukan administrasi menggunakan ini dan jalankan tugas kalian sebagai tenaga medis," ujar Keenan, dengan suara yaang berubah dingin dan tajam.


Perawat itu mengangguk lalu kembali menuju tempat resepsionis untuk melakukan apa yang diperlukan.


"Rumah sakit sialan! Bisa-bisanya mereka lebih mementingkan uang dari pada nyawa korban!" desis Keenan, menatap perawat yang berjalan menjauh darinya.


Beberapa saat kemudian seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Keenan berdiri dan menghampiri dokter itu.


"Bagaimana kondisi mereka, Dok?" tanya Keenan.


"Korban laki-laki dewasa mengalami luka parah karena terbentur benda tumpul di bagian dada juga kepala, sedangkan korban perempuan dewasa hanya mengalami luka ringan, hanya saja tangan kanannya mengalami retak tulang, karena mengalami benturan. Dua anak kecil itu sepertinya hanya mengalami syok karena kecelakaan ini, dan luka di tangan," jelas dokter lelaki paruh baya itu.


Keenan menghela napas kasar panjang, mendengar keempat orang yang ditolongnya semuanya selamat, walau mengalami luka-luka.


"Terima kasih, Dok," ujar Keenan.


"Sudah tugas kami, Tuan." jawab Dokter itu.


"Bolehkah saya menjenguk mereka?" tanya Keenan lagi.


"Anda bisa menjenguk mereka bila sudah berada di kamar rawat," jawab Dokter itu lagi.


"Baiklah," angguk Keenan.


Tak lama setelah itu polisi datang, dengan membawa barang korban. Mereka juga meminta izin untuk mengambil kamera di dashboard mobil Keenan, sebagai salah satu bukti.

__ADS_1


Keenan menerima semua barang itu, dia juga meminta kepolisian untuk menghubungi pihak keluarga, dan bersedia menunggu mereka sampai ada anggota keluarga datang.


Beberapa saat kemudian, Keenan sudah berada di ruangan VIP yang tadi dia pesankan untuk seorang perempuan dan dua anaknya.


Keenan sengaja membuat mereka dalam satu ruangan, agar dia mudah untuk mengontrol ketiga orang itu, sedangkan lelaki tadi masih dalam perawatan intensif.


Dia duduk di sofa, tepat di depan tiga berankar, tempat ketiga orang itu yang masih tak sadarkan diri. Keenan tak mengalihkan sedikitpun pandangannya, dia terus menatap ketiga orang itu bergantian.


Menyelami perasaan yang kini terasa begitu rumit, semua kerinduan dan pertanyaan yang dulu selalu dia simpan dalam hati, kini sudah menemukan titik terang, walau ego masih memaksanya untuk meminta penjelasan.


Keenan sendiri belum yakin dengan apa yang kini dia lihat, setelah sembilan tahun perempuan itu menghilang tanpa kabar, kini dia tiba-tiba kembali menampakkan diri, ketika dirinya baru saja menata hati.


'Apa yang harus aku lakukan?'


'Benarkah ini kamu, Luna?'


'Apa dulu yang harus aku tanyakan?'


'Penjelasan? Kabar? Atau apa?'


Keenan mengepalkan tangan, dengan semua pertanyaan yang kini berputar, meruntuhkan keyakinan untuk melupakan.


'Kenapa kami harus hadir lagi di saat aku sedang menata hati?' gumamnya lagi dalam hati, matanya menatap wajah pucat yang kini mulai mengerjapkan matanya.


.


Dia juga baru saja menerima informasi kalau sang ayah sudah memutuskan kontrak kerja sama mereka sejak kemarin siang.


"Kenapa, Mas? Kok senyum-senyum sendiri gitu." Ayu yang sedang bersiap untuk kembali ke rumah, setelah dua hari ini menghabiskan waktu di puncak, duduk di samping sang suami setelah memastikan semua persiapan mereka pulang sudah selesai.


"Gak apa-apa, aku hanya menerima informasi dari anak buahku kalau orang yang kemarin mencoba melukai Keenan, sudah ditangkap polisi," jawab Ezra, menaruh kembali ponsel di tangannya.


Dia mengedarkan pandangannya, ada satu tas oleh-oleh untuk orang rumah, hasil buruan dua perempuan itu, selama berada di tempat itu.


"Sudah selesai semua?" tanya Ezra, kembali mengalihkan pandangannya pada sang istri.


"Sudah, kita berangkat sekarang, sebelum sore?" tanya Ayu.


"Iya, takutnya macet kalau kita pulang sore," ujar Ezra, walaupun itu bukanlah akhir pekan, tetap saja kadang menjelang pulang kerja jalanan akan ramai bahkan cenderung padat.


"Ya udah, aku panggil Naura, ya?" ujar Ayu, yang langsung diangguki oleh Ezra.


Naura masih berada di kamar, dia sedang mengemas barang bawaannya, bersama pelayan yang memang bertugas di vila itu.


"Sayang, sudah selesai belum?" tanya Ayu, begitu sampai di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Sudah, Mah. Ini aku mau ke luar," jawab Naura, gadis kecil yang baru saja memasuki sekolah dasar itu, kini bertambah mandiri, semenjak Ayu hamil.


"Wah, pintarnya anak Mama. Yuk, Papa udah menunggu di depan." Ayu mengambil lengan anak sambungnya itu, lalu mereka berjalan bergandengan tangan berdua. Di belakangnya pelayan tadi membawa tas ransel milik Naura.


Ezra yang menunggu di samping mobil, tersenyum melihat dua perempuan yang sangat ia cintai itu. Perempuan pemilik hatinya dan tempatnya mencurahkan kasih sayang.


Tak akan ada yang bisa menggantikan kedua orang itu, tak ada yang bisa dia pilih, karena seluruh hidupnya kini hanya dia persembahkan untuk keluarga kecilnya.


Senyum dan tawa yang menghiasi wajah Ayu dan Naura, adalah penyemangat dan kebahagiaannya. Mereka adalah hidup untuk Ezra, semangat untuknya terus berjuang demi memberikan yang terbaik bagi kedua orang itu. Juga satu makhluk lagi yang masih ada di dalam kandungan Ayu, menunggu waktu untuk lahir dan menyapanya.


"Papah, aku sudah siap!" teriak Naura yang berlari menghampiri ayahnya.


"Ya ampun, kenapa anak Papa ini selalu lari-lari begini, hem?" tanya Ezra sambil berjongkok di depan Naura.


"Senang aja!" jawab Naura.


Ezra terkekeh mendengar jawaban dari anaknya itu, berdiri dan membuka pintu belakang untuk anaknya.


"Silakan masuk, Tuan putri," ujarnya memperagakan seperti seorang pangeran di negri dongeng.


"Terima kasih, Papa," jawab Naura dia begaya seperti hormat seorang putri, sebelum masuk ke dalam mobil.


Keduanya terkekeh, merasa geli dengan kelakuan mereka sendiri, sedangkan Ayu yang masih berjalan menghampiri keduanya, hanya menggeleng sambil tersenyum, melihat kedekatan antara ayah dan anak itu.


"Kalian ini, ada-ada saja," ujar Ayu, begitu sampai di samping suaminya yang sedang menutup pintu mobil untuk Naura.


"Nah sekarang untuk permainsuriku, silahkan masuk, sayang," Ezra masih dengan kelakuan konyolnya.


"Apa sih, Mas?" Ayu terkekeh walau dia tetap menurut untuk masuk dan duduk di kursi samping pengemudi.


Ezra tak menjawab, dia hanya tersenyum sambil mengangkat duduk bahunya, lalu menutup pintu mobilnya.


Dia melirik sekilas pada pelayan yang sudah berdiri di belakang mobilnya.


"Terima kasih," ujarnya, sebelum memutar mobil untuk mencapai pintu pengemudi.


"Selamat datang yang mulia!" ujar serempak Ayu dan Naura, menyambut kedatangan Ezra.


Ezra sempat terdiam sebentar, terkejut dengan perkataan kedua perempuan di depannya. Tak lama kemudian mereka bertiga tertawa bersama, sesuatu yang konyol dan kekanakan seperti itu ternyata sudah cukup untuk membuat hati ketiga orang itu begitu bahagia.


...🌿...


...Jangan lupa sama Keenan yang masih galau 🤭 Gimana ya reaksinya kalau perempuan yang dia tolong bangun? Komen👍...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2