Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.195 Kelahiran


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Keenan dan Riska baru saja menyelesaikan makan malam mereka, saat ponsel di meja ruang tengah terdengar berdering.


"Biar aku saja yang ambil," ujar Riska, beranjak dari kursi, dan berjalan menuju ruang tengah, bahkan sebelum menerima jawaban dari suaminya.


"Mama," ujar Riska, sambil mengulurkan ponsel Keenan yang masih berdering.


Tanpa ada curiga atau pikiran buruk apa pun, Keenan langsung menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.


"Ada apa, Mah?" tanya Keenan, setelah sebelumnya mengucapkan salam.


"Ken, kamu gak papa? Kata Gino kamu gak enak badan?" tanya Nawang, dari seberang sana.


"Tidak apa-apa kok, Mah. Tadi pagi cuman agak pusing, jadi gak bisa ke kantor. Tapi, sekarang aku udah gak apa-apa, kok. Ada apa, Mah?" ujar Keenan, sekaligus bertanya ulang.


Nawang menghembuskan napas lega, saat mendengar jawaban dari anaknya. Dia yang baru sadar untuk menelpon Keenan, dan menanyakan kondisinya, setelah cukup lama berada di rumah sakit.


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kamu bisa datang ke rumah sakit, gak?" tanya Nawang.


Keenan, mengernyit mendengar pertanyaan Nawang, perasaannya sudah tidak tenang begitu mendengar kata rumah sakit.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit, Mah?" tanya Keenan.


Riska yang sedang membereskan meja makan pun, langsung menghentikan perkerjaannya dan memilih mendengarkan pembicaraan suaminya, begitu mendengar kata itu.


"Nindi mau melahirkan, kalau kamu bisa, tolong datang ke rumah sakit, ya, Ken," ujar Nawang.


"Hah?! Sejak kapan? Kok gak ada yang memberi tau aku?" tanya Keenan, begitu terkejut.


"Kenapa?" tanya Riska, tanpa suara.


"Kak Nindi mau melahirkan," jawab Keenan juga tanpa suara.


Riska melebarkan matanya, dia langsung bergegas membereskan pekerjaannya, begitu mendengar kabar itu. Sedangkan Keenan masih berbicara dengan Nawang di dalam sambungan telepon.


"Kamu siap-siap dulu, biar aku yang cuci ini," ujar Keenan, mengambil alih piring yang sedang di cuci oleh Riska.


Semenjak tinggal di aartemen bersama dengan Riska, dia sudah sering membantu Riska mengerjakan pekerjaan rumah.


Maka dari itu, setelah dia mengakhiri sambungan teleponnya dengan Nawang, Keenan langsung menghampiri Riska yang sedang mencuci piring.

__ADS_1


Dia cukup tau kebiasaan istrinya yang tidak akan pernah meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan, atau masih ada pekerjaan rumah yang belum dibereskan.


"Tapi, Bang--" ucapan Riska yang belum selesai itu langsung dipotong oleh Keenan.


"Sudah sana kamu siap-siap," ujar Keenan, sambil mendorong istrinya.


"Iya-iya, gak usah dorong-dorong juga dong." Riska merengut kesal.


Cup.


Satu kecupan Keenan berikan di kening istrinya sambil terkekeh, mendapati wajah kesal istrinya itu, yang sedang mencuci tangannya yang penuh dengan sabun cuci piring.


"Abang! Kebiasaan ih," ujar Riska sambil menjauhkan keningnya dan melihat wajah Keenan.


"Siapa suruh, muka kamu itu gemesin kalau lagi ngabek gitu," jawab keenan, sambil melanjutkan mencuci piring yang tadi ia rebut dari Riska.


"Alasan, dasar tukang curi kesempatan," gumam Riska sambil melangkah menjauhi suaminya.


"Curi kesempatan sama istri sendiri itu halal loh, sayang!" teriak Keenan, yang masih mendengar gumaman Riska.


Riska tak menjawab lagi, dia meneruskan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. Kata sayang yang dikatakan oleh Keenan, terasa memunculkan berbagai pertanyaan di dalam benaknya.


Dilema di dalam hubungan tanpa ungkapan cinta maupun rasa yang pasti iu, cukup membuat Riska tak bisa menentukan arah. Apa lagi dengan adanya satu perempuan yang fotonya kini sedang dipegang oleh Riska.


Akankah, ikatan pernikahan yang saat inidia jalani dengan Keenan bisa bertahan dengan adanya perempuan lain di hati suaminya itu?


Sangupkah, dirinya menjalani pernikahan dengan bayangan perempuan lain di tengah hubungan sakral mereka berdua?


Siapkah dirinya melepaskan sosok Keenan yang tanpa di sadari sudah masuk dan menyelusup kedalam hatinya, jika suaminya itu memilih untuk mengakhiri hubungan ini?


"Sebenarnya siapa perempuan itu, apa dia begitu berarti untuknya?" gumam Riska, saat dia sudah duduk di depan cermin rias, untuk merapikan penampilannya.


Cklek.


Suara pintu kamar yang terbuka, mengalihkan perhatian Riska, dia menoleh ke samping, untuk melihat suaminya yang baru saja masuk.


Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit bersama-sama.


.


Di dalam ruang bersalin, para tenaga medis sedang berjuang untuk membantu proses kelahiran cucu kedua dari keluarga Darmendra.


Ayu yang sudah mulai diperbolehkan untuk mengejan, sudah beberpa kali berusaha untuk melahirkan anak pertamanya.


Ezra dengan begitu setia menemani istrinya, sesekali dia berbisik mengungkapakan kata cinta juga penyemangat untuk Ayu yang sedang berjuang untuk melahirkan keturunannya.

__ADS_1


Bulir keringat terlihat sudah membasahi hampir seluruh tubuhnya, Ayu berusah mengatur napas di saat keinginan mengejan itu mereda.


Tangannya terus menggenggam erat tanga Ezra, sebagai pegangan saat tekanan di dalam perutnya itu kembali memaksanya untuk mengerahkan seluruh tenanga yang ia miliki saat ini.


"Hengggg!" Ayu mengangkat kepalanya saat keinginan kuat itu kembali menyerangnya.


Tenaga yang sudah hampir terkuras habis itu, tak mneyurutkan semangat Ayu untuk melahirkan kehidupan baru ke dunia. Napasnya yang sudah terasa semakin menipis tak membuat ia menyerah untuk terus berjuang.


Sudah tiga puluh menit Ayu berjuang untuk melahirkan sang anak. Akan tetapi, sepertinya dia harus terus berjuang dengan sisa teaga yang yang masih ia miliki.


Ezra sudah hampir kehilangan kesabaran, saat ia merasa sudah tak kuat melihat istrinya itu begitu tersiksa. Berbagai macam doa sudah ia panjatkan dalam hati, untuk kelancaran proses kelahiran sang anaknya.


"Ya Allah, sekali lagi aku memohon pada--Mu untuk kelancaran proses persalinan istriku, jangna Engkau buat dia terlalau lama tersiksa seperti ini, aku mohon," gumamnya di atas puncak kepala istrinya.


'Bila memang bisa, berikan saja rasa sakit yang diderita oleh istriku kepadaku, Ya Allah' sambungnya di dalam hati.


"Sayang, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku, aku mohon, teruslah berjuang untuk aku dan anak-anak kita," bisik Ezra setelah memberikan ciuman di kening istrinya yang terasa basah oleh keringat.


Rasa takut dan trauma akan istri pertamanya kini mulai kembali merasuk ke dalam pikiran Ezra. Hingga ia tak bisa lagi menahan kata-kata itu.


'Ya Allah, maafkan segala dosa-dosaku, bila memang ini aan menjadi jalan untukku menghadap padamu, aku ikhlas, asalkan Engkau selamatkan anakku' gumam Ayu dalam hati, saat dia merasakan kesadarannya sudah mulai menipis.


"Satu dorongan lagi, ayo semangat, Nindi," ujar Dokter Ranti mengarahkan Ayu.


Ayu memaksa kesadarannya untuk mendengarkan arahan dari dokter Ranti.


"Tarik napas panjang lalu keluarkan, kali ini coba mngejan dengan cukup lama," sambung Dokter Ranti lagi, yang langsung di angguki oleh Ayu.


'Ibu, maafkan aku' guamamnya lagi, dengan bayangan wajah cantik dengan senyum meneduhkan di dalam matanya.


Ayu bersiap saat rasa sakit itu kembali menyerangnya, menuntunnya untuk kembali berusaha mengeluarkan anaknya.


"Mas, maafkan aku," ujarnya, dengan menatap wajah Ezra yang berada di atasnya, sebelum mulai mengejan kembali.


"Henggggggggheh!"


Oek ... oek ... oek!


Tangis bayi langsung menggema di seluruh ruang berslin itu, di isringi dengan napas lega dari semua orang yang berada di sana.


...🌿...


Huftt Hehh! Aku jadi ikutan tarik napas dan hembuskan. Gimana nih, udah lega belum, sama kelahiran Ezra junior? Komen👍


...🌿...

__ADS_1


__ADS_2