Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.255 Kotor


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Keenan dan Ezra langsung keluar dari mobil, begitu mereka sampai di alamat yang dituju.


Sebuah rumah sederhana yang berada di perkampungan padat penduduk menjadi tujuan mereka saat ini.


Alvin yang sudah menunggu kedua atasannya itu, langsung menghampiri Ezra dan Keenan, begitu melihat kehadiran mereka.


“Apa yang terjadi, Vin?” tanya Ezra begitu Alvin menghampirinya.


“Mari masuk dulu, Pak. Kalian akan melihat semuanya di dalam,” jawab Alvin, sambil memberi jalan untuk kedua atasannya itu.


Ezra dan Keenan saling menatap sekilas, lalu beralih melihat rumah sederhana yang ada di depannya. Dengan langkah lebar, keduanya mulai melangkah masuk, diikuti Alvin di belakang.


Tidak ada yang aneh dengan rumah itu, di ruang depan dan tuang tengah, semuanya terlihat normal bagaikan rumah pada umumnya.


Namun, saat Alvin mengarahkan mereka ke dalam salah satu ruangan yang mirip seperti sebuah kamar. Baik Ezra maupun Keenan, langsung melebarkan matanya, melihat pemandangan berbeda dan terlihat mengerikan di pandang mata.


Di kamar itu, dipenuhi oleh foto Riska semenjak masa sekolah hingga yang terbaru. Dari yang berukuran besar seperti sebuah poster, sampai yang berukuran kecil dan tergantung di hampir semua sisi kamar itu.


Hampir semua aktivitas Riska, terekam jelas, melalui setiap foto yang tersusun rapi, membuat sebuah cerita tertentu.


Namun, dari semua foto yang ada di sana, ada beberapa foto yang terlihat dipotong dan ditambahkan dengan sosok laki-laki yang memiliki kamar itu. Bahkan ada beberapa foto Riska yang harusnya ada Keenan di sana, di ganti menjadi foto laki-laki lain.


Keenan mengepalkan tangannya dengan wajah yang memerah menahan rasa marah dan hati yang panas, saat melihat semua karya gil* yang dibuat oleh seseorang yang terobsesi pada istrinya.


Di sana juga terdapat beberapa tulisan yang menggambarkan betapa pemilik kamar itu, begitu memuja sosok Riska. Mulai dari puisi romantis, berbagai macam pujian dan ungkapan cinta terlihat memenuhi ruang yang kosong.


Semua itu, tentu semakin membuat Keenan merasa geram pada seseorang yang memiliki tempat itu.


Cahaya temaram dari lampu berwarna jingga terlihat lebih menambah kesan menyeramkan, dan seram.


“Brengsek! Siapa dia, kenapa dia bisa berbuat seperti ini kepada Riska?” tanya Keenan, dengan sorot mata penuh amarah.


“Coba jelaskan, siapa dia sebenarnya, Vin,” perintah Ezra pada asistennya itu.


“Dia adalah salah satu teman sekolah Bu Riska, dia sudah memendam perasaannya sejak sekolah, lebih tepatnya di saat Bu Riska menolongnya ketika dirinya mendapatkan perlakuan buruk, dari salah satu teman sebayanya. Semua itu tertulis jelas di sini,” jelas Alvin, sambil memberikan sebuah buku catatan pada Ezra.


Ezra menerima catatan itu, dia pun membukanya dan membacanya dengan perlahan.


Setelah selesai, dia akhirnya menyerahkannya pada Keenan, setelah selesai melihat setiap bagian penting di buku itu.

__ADS_1


Keenan semakin terbakar api amarah, melihat semua ungkapan cinta yang tertulis di sana, apa lagi banyak cerita tentang kebersamaan keduanya, walau itu belum tentu benar adanya.


“Kamu sudah tau keberadaan orang itu sekarang?” tanya Keenan, lebih seperti menggeram.


“Beberapa anak buah kita sedang mencoba mencari di beberapa tempat, yang kemungkinan menjadi tempat dia membawa Bu Riska,” ujar Alvin.


Ya, setelah beberapa saat yang lalu, dia mencari informasi pada tetangga di sekitar rumah itu, ada beberapa tempat yang sering didatangi oleh laki-laki itu.


Alvin pun langsung menyuruh beberapa anak buah Ezra untuk mengecek ke sana.


.


.


Suara ketukkan pintu, membuat Toni menghentikan aktivitasnya. Juga, membuat Riska bisa bernapas sedikit lega. Walau itu hanya untuk kali ini.


Toni pun kembali menegakkan tubuhnya dan mempersilahkan orang di luar untuk masuk ke dalam.


Riska kembali membuka mata, saat tangan yang hampir saja menjamah tubuhnya akhirnya menjauh. Dia pun melihat seorang laki-laki bertubuh kekar, masuk ke dalam dengan membawa nampan berisi menu sarapan.


“Ke mari, biar aku yang memberinya makan,” ujar Toni, sambil mengulurkan tangannya untuk menerima makanan itu.


“Pergilah, aku bisa melakukannya sendiri,” perintahnya lagi, pada laki-laki itu, setelah dia mendapatkan makanan untuk Riska.


Riska kembali merasa takut, saat melihat pintu kamar kembali tertutup rapat. Entah apa yang akan terjadi padanya saat ini, setelah dia kembali berada di dalam satu ruangan dengan laki-laki itu.


“Makan dulu, aku tidak mau kamu sampai sakit,” ujar Toni, sambil menyiapkan makanan untuk Riska.


Nada suaranya kini sudah kembali lembut, dan sikapnya pun terlihat normal dan biasa saja.


Dia menyodorkan satu sendok makanan di depan bibir Riska. Agar Riska dengan mudah memakan sarapannya.


Namun, Riska mengatupkan bibirnya dengan wajah yang berpaling, menghindari makanan yang disodorkan oleh Tomi. Dia tidak mau menerima makanan dari laki-laki seperti Toni.


Rasanya saat ini, Riska lebih baik mati kelaparan, daripada harus menerima satu butir nasi yang disiapkan oleh Toni.


Semua penolakan Riska pun, membuat laki-laki itu kembali menggeram kesal.


"Ayolah, Riska. Kali ini saja menurut padaku," ujar Toni, masih berusaha sabar.


Namun, sikap Riska yang keras kepala dan masih terus menolak makanan dari tangannya, membuat kesabaran Toni mulai menipis kembali.


“Makan dulu, Riska. Atau kamu mau aku memaksa kamu, hah?!” Tomi sedikit memaksa.

__ADS_1


Riska masih saja mengatupkan bibirnya, dia masih saja tidak mau menerima makanan dari laki-laki di depannya itu.


“Riska! Buka mulutmu, atau aku akan memaksamu!” bentak Toni, sambil mencengkeram kembali wajah Riska dan berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut wanita itu.


"Eummh!" Riska tetap menolak, dia menggelangkan kepala berusaha menghindari tangan Toni.


Marah, kesal, takut dan kotor, semua perasaan itu kini membuat Riska seakan tidak peduli dengan rasa lapar lagi, semua napsu makannya sudah hilang, sejak beberapa saat yang lalu.


“Ffrrtt ....” Riska menyembur makanan yang sudah hampir saja masuk ke dalam mulutnya.


“Aku tidak akan mau memakan makanan dari orang seperti kamu. Aku lebih baik mati kelaparan, daripada harus makan makanan dari kamu!” teriak Riska sambil menggelengkan mulutnya cepat, menghindari tangan Toni.


“Hah, dasar keras kepala. Baiklah, sepertinya kamu memang lebih suka aku paksa,” ujar Toni, menarik rambut bagian belakang Riska.


“Arggh!” Riska menggeram, menahan sakit, di bagian belakang, hingga kepala mendongak karena tertarik ke belakang.


Dengan gerakan kasar Toni berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut Riska, hingga makanan itu terlihat berserakan di sekitar Riska. Karena tercecer saat Tomi memaksanya.


Riska merasakan perih di bibir dan pipinya, dia yakin kini pasti ada luka lecet di sana, akibat perlakuan kasar Toni padanya.


“Akh! Terserah kamu mau bagaimana!" Toni melepaskan rambut Riska dengan gerakan kasar, hingga kini Riska benar-benar jatuh tertidur di ranjang dengan makanan di tubuh dan sekitarnya.


"Asal kamu tau, semakin lemah tubuh kamu, maka semakin mudah aku memilikimu!” teriak Toni, sambil beranjak dari tempat tidur dengan emosi memuncak.


Dia membanting piring berisi makanan ke lantai, hingga suara piring yang terdengar nyaring, membuat Riska memejamkan mata menahan rasa takut dan ngeri.


Sisa makanan berserakan bercampur dengan pecahan piring yang berserakan di sekitar tempat tidur.


Toni beranjak dari ranjang dan berjalan cepat meninggalkan Riska. Menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.


Riska meringkuk menahan rasa takut dan sakit di setuju tubuhnya, air matanya yang sejak tadi dia tahan, kini keluar deras tak dapat lagi ia bendung.


Semua rasa yang bercampur aduk di dalam dada, membuat dirinya tak dapat lagi menahan isak tangisnya.


"Maafkan aku, Bang. Aku sudah kotor sekarang. Aku sudah tidak pantas lagi untuk, Abang perjuangkan," lirih Riska, dengan air mata yang berderai.


...🌿...


Maaf, karena akhir ini aku gak up tepat waktu. Susah ngatur waktu buat nulis kalau di kampung🙏🥺


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2