
Pagi ini Radit berencana untuk memberi tau tentang penurunan jabatan yang di alami oleh dirinya.
Saat ini suami istri itu, sedang sarapan bersama, dengan menu roti yang di oles slai coklat.
Mala adalah seorang model, jadi dia tak bisa masuk ke dalam dapur. Profesinya melarang keras hal itu.
Bagi seorang model, kulit adalah aset berharga, sehingga tidak boleh ada luka sedikitpun.
Maka, Radit harus menerima, sarapan hanya dengan roti dan kopi buatan dari istri keduanya itu.
"Sayang, aku mau bicara serius sama kamu," ucap Radit, menatap Mala yang akan beranjak dari kursinya.
"Apa itu Mas?" tanya Mala, kembali duduk dengan tegap menghadap sang suami.
Radit nampak sedikit ragu, namun ia berusaha untuk memantapkan kepercayaannya pada wanita yang sedang mengandung benihnya itu.
"khem ..." Radit berdehem, untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Tatapan Mala, semakin menelisik pada setiap perubahan mimik wajah suaminya.
"Aku ... Aku di turunkan jabatan!" ucap Radit dengan sekali tarikan napas.
"Hah ..! Apa..? Kamu bilang apa, Mas?" Mala masih belum bisa mencerna ucapan Radit.
"Maaf sayang, tapi aku akan berusaha untuk lebih giat lagi bekerja, untuk mempersiapkan kelahiran anak kita." Radit berusaha tidak membuat Mala merasa kecewa padanya.
"Kok bisa sih, Mas? Kenapa? Sejak kapan?" tatapan Mala berubah tajam dengan intonasi yang mulai naik.
"Sejak ... Sejak ... Aku mabuk tempo hari," ucap gagap Radit.
"Jadi kamu datang kepadanya karena semua ini? Dia bahkan lebih dulu tau di bandingkan dengan aku?!" Mala berdiri, mentap Radit kecewa.
"Sayang, bukan begitu. Aku menemuinya hanya karena ingin melampiaskan rasa kesalku padanya," Radit memegang tangan Mala dengan tatapan memelas.
"Kenapa kamu bisa turun jabatan, Mas?" tanya Mala lagi.
Radit tampak ragu untuk mengatakan alasan dirinya di turunkan dari jabatan manajernya.
"Masalah kemarin membuat aku kacau dan kehilangan konsentrasi kerja, hingga aku melakukan beberapa kesalahan,"
"Oh, jadi semua ini karena istri pertamamu itu?!" sarkas Mala, memandang Radit tajam.
"Bukan begitu-"
"Kamu masih berani beliau dia, hah!" Mala langsung memotong ucapan Radit.
"Pokoknya aku mau buat perhitungan sama dia, karena udah buat kamu yirun jabatan." putus Mala, dengan wajah yang sudah memerah menahan emosi yang sudah ingin meluap.
"Mala, ini semua kesalahan aku" Radit berdiri dan bersiap untuk segera berangkat ke kantor.
"Iya, ini memang salah kamu. Tapi ini juga salah dia." Mala masih saja memendam emosi.
Radit hanya menghembuskan napas kasar.
Susah memang membujuk istri pertamanya itu.
Radit lebih memilih segera berangkat ke kantor, dari pada terus mendengar ocehan dari wanita hamil itu.
...❤...
__ADS_1
Braak...
Seluruh orang yang ada di dalam Clarissa boutique itu langsung mengalihkan perhatiannya, pada kedatangan seorang wanita yang mendorong pintu dengan sangat kencang, hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.
Mala berdiri dengan napas memburu dan wajah yang sudah memerah, menahan amarah.
Berjalan cepat memasuki butik, tanpa menghiraukan tatapan aneh dari para pengunjung dan pegawai butik.
"Eh, Mba Mala mau kemana?" Riska yang baru saja keluar dari belakang langsung menegur wanita yang sekarang menjadi istri kedua Radit itu.
Mala menghentikan langkahnya yang hanya berjarak beberapa meter lagi dari pintu ruangan kerja Ayu.
"Bos kamu ada di dalam?" tanyanya sinis, melihat tajam asisten dari mantan sahabatnya.
"Enggak ada, Mba Ayu lagi keluar," jawab Riska menggeleng ribut.
"Jangan bohong kamu!" tuding Mala menunjuk wajah orang di hadapannya.
"Buat apa aku bohong, memangnya mau apa Mba carai Mba Ayu?"
"Bukan urusan kamu!" Mala berjalan meninggalkan Riska.
"Eh, Mba mau ke mana? Kan aku udah bilang kalian Mba Ayu gak ada!" Riska sedikit berteriak sambil berjalan cepat menyusul Mala yang sudah sampai di depan pintu ruangan kerja Ayu.
"Akh mau tunggu di dalam, katanya Ayu lagi keluar kan?" sombong Mala dengan wajah yang sudah terlihat kesal.
"Enggak bisa, Mba tunggu di depan aja" protes Riska.
"Ngapain nunggu di depan? Biasanya juga aku nunggu di dalam,"
Perdebatan antara Mala dan Riska terus terjadi tanpa ada yang melerai. Sekar dan Wanda sedang sibuk di depan, untuk melayani pelanggan yang selalu saja ramai.
.
Di depan butik, Ayu baru saja turun bersama dengan Naura. Setelah mengantarkan Elena pulang, karena mobilnya yang tiba-tiba saja mogok, Naira malah mau ikut ke butik dan tidak mau pulang ke rumah.
"Nenek pergi sama Kakek, Papa kerja. Nanti naura sama siapa kalau pulang?" itulah rengekan manja dari boleh kecil yang selalu membuat Ayu tidak tega.
Akhirnya Ayu memutuskan untuk mengajak Naura ke butik, setelah meminta ijin dulu pada Ezra.
"Iya, tidak apa-apa, kalau memang kamu enggak keberatan." itulah jawaban dari Ezra, saat dirinya meminta ijin tadi.
"Maaf ya, merepotkan kamu terus," perkataan itu terdengar sangat tulus di telinga Ayu.
Ayu tersenyum samar.
"Ternyata lelaki kaku itu bisa bersikap lembut juga" pikirnya.
"Tidak apa-apa Pak, aku tidak merasa di repotkan" Ayu menjawab dengan gelengan halus kepalanya.
"Baiklah, nanti sore aku jemput ke butik, titip Naura, aku percaya padamu."
Ayu tersenyum samar, saat membayangkan percakapan dirinya dan Ezra di dalam sambungan telepon tadi.
"Aunty" Naura menarik-narik baju gaamis yang di pakai oleh Ayu.
"Ya, Sayang?" Ayu langsung menundukan kepalanya, melihat anak kecil yang semakin hari, semakin dekat dengan dirinya.
"Rara mau beli itu" tunjuknya pada pedagang gulali yang sedang beristirahat di bawah pohon.
__ADS_1
Ayu mengikuti arah telunjuk Naura.
"Boleh, tapi jangan banyak-banyak ya, janji nanti setelah makan gulali langsung sikat gigi, oke?" lembut Ayu.
"Iya, Rara janji, langsung sikat gig," wajahnya langsung berbinar ceria, dengan sedikit melompat-lompat.
Mereka berdua akhirnya berbalik menuju tukang gulali di kawasan depan pertokoan itu.
Setelah mendapatkan apa yang di inginkan bocah kecil itu, mereka berdua langsung memasuki butik.
Ayu menyempatkan diri menyapa pelanggan yang datang, dan berbincang sebentar.
"Ada apa ini?" tanya Ayu yang mendapati dua orang perempuan sedang beradu mulut di depan ruangannya.
Menarik Naura ke belakang tubuhnya, agar tak melihat sesuatu yang belum pantas di lihat oleh anak kecil.
Atensi kedua orang itu langsung beralih pada kedatangannya.
Mala yang sudah tersulut emosinya oleh Riska, langsung menghampiri Ayu, dengan tatapan nyalang.
Plak...
"Aunty!"
Tanpa ada aba-aba, tangan kanan Mala terangkat dan langsung menampar pipi Ayu dengan cukup keras, hingga membuat Ayu menoleh.
Rasa panas dan sedikit perih mulai menjalar di pipi sebelah kiri Ayu yang sudah mulai memerah.
"Naura, bisa Aunty minta tolong?" bukannya membalas Mala, Ayu malah berbalik dan berjongkok di hadapan anak kecil, yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Naura menganguk, tatapannya tertuju pada pipi Ayu yang mulai memerah.
"Naura pergi ke mini market sama Kak Riska, tolong beliin Aunty air minum, tadi Aunty lupa beli," Ayu beralasan.
"Eum" angguk Naura.
Ayu melirik Riska, memberikan kode dari matanya.
Riska mengangguk dan langsung mengajak Naura keluar dari butik.
"Mau apa kamu datang ke tempatku?" tajam Ayu, setelah melihat Naura dan Riska sudah pergi.
"Dasar wanita pembawa sial, gara-gara kamu, Mas Radit di turunkan dari jabatannya!" Mala berucap sedikit berteriak, matanya melotot, tidak terima.
"Eh, kenapa aku?" kaget Ayu, menunjuk dirinya sendiri.
"Suami kamu yang turun jabatan, lalu apa hubungannya sama aku hem?" Ayu berucap dingin, tatapannya menajam, seakan siap untuk berdebat dengan mantan sahabatnya ini.
Sikap Mala yang selalu tidak mau kalah, membuat Ayu sudah bisa menebak semua ini.
Mala pasti akan menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi di dalam rumah tangga mereka. Apa lagi kalau Radit masih bertemu dengannya.
Maka dari itu, sebisa mungkin Ayu selalu menghindar dari lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1
...🙏😊🥰...