Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.84 Kedatangan Melati


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Di tempat dan waktu yang berbeda, Ansel dan Larry memandang nanar, mobil milik Ayu yang telah pergi meninggalkan pelataran rumah.


Sedangkan Keenan menatap takjub, kapada Ayu yang bisa mengendarai mobil secepat itu.


"Waw, pantas saja dia bisa menjerat hati kakakku!" gumam Keenan, bangga.


"Biar aku saja yang mengejarnya!" Ezra langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya dan mengejar wanita itu.


Ya, setelah kepergian Arumi bersama Kemal dan anak buahnya, Larry baru saja hendak mendekati Ayu.


Namun, reaksi wanita itu membuat semua orang terkejut, dia tidak menghiraukan bahkan menyapa ayahnya sama sekali.


Entah apa yang dipikirkan oleh Ayu. Mungkin, hanya beberapa orang yang mengerti tentang perasaannya kali ini.


"Sudah jangan di pikirkan, mungkin dia masih butuh waktu. Lebih baik kita ke kantor polisi saja, untuk melengkapi berkas laporan." Keenan berkata, kepada dua orang yang masih berdiri mematung.


Ansel dan Larry mengangguk, mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk ke kantor polisi bersama-sama.


Sepanjang perjalanan Larry tampak lebih banyak diam, pikirannya tertuju pada kedua orang anak perempuannya.


Perkataan Arumi tadi, membuat dirinya seperti sedang berada di sebuah persimpangan.


Lelaki paruh baya itu memikirkan bagaimana caranya ia memberitahukan kepada anak bungsunya, kalau Arumi di tangkap polisi karena masalahnya dengan saudara tirinya sendiri.


Menerka-nerka, bagaimana nanti reaksi Melati dan juga mertua lelakinya, jika mendengar kabar itu.


Saat ini, dia hanya berharap agar Arumi dan Melati bisa mengerti keadaan Ayu. Begitu juga dengan Ayu, dia berharap anak keduanya itu, bisa menerima Melati menjadi adiknya dan saling menyayangi selayaknya keluarga.


Sampai di kantor polisi, Keenan dan Ansel langsung bertemu dengan Kemal dan pengacara keluarga Darmendra.


Sedangkan Larry memilih untuk menemui Arumi, yang sedang berada di ruang introgasi.


Berdiri di dekat pintu masuk, menatap nanar pemandangan menyedihkan di depannya.


Di ruangan itu, Larry bisa melihat dengan jelas wanita yang sudah menjadi istrinya sejak dua puluh tahun yang lalu, kini tertunduk dengan kondisi begitu menyedihkan.


Wajah sembab, rambut dan pakaian yang terlihat berantakan, dengan isakan tangis masih terdengar lirih dari mulutnya, air mata pun sesekali jatuh dari mata yang kini tampak sayu.


Berbagai macam pertanyaan terdengar memojokan wanita paruh baya itu, yang terkadang hanya terdiam, tak bisa menjawabnya.


"Mas, tolongin aku ... aku gak mau dipenjara,"


Arumi langsung menghambur memeluk Larry, saat melihat suaminya berada di sana.


Lelaki paruh baya itu, tampak membalas kilas pelukan istrinya, kemudian kembali membawanya untuk duduk di kursi.


Walaupun, dirinya masih kecewa dengan wanita itu. Tapi, kini ada sedikit rasa kasihan di dalam hatinya, melihat kondisi menyedihkan sang istri dan membayangkan, betapa menderitanya dia saat harus masuk ke dalam penjara.


Larry meminta waktu untuk berbicara sebentar dengan istrinya itu.


"Maaf, Rum. Aku tidak mempunyai wewenang untuk itu. Ini semua di atas kendali dari keluarga Ezra dan Nindi, semua keputusan berada di tangan mereka berdua," jawab Larry.


"Bukan, ini semua pasti bukan karena kamu gak bisa 'kan? Ini pasti karena anak haram itu 'kan?!" sentak Arumi langsung menuduh Ayu.


"Arumi! Sudah cukup kamu menyalahkan Nindi, dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita. Bahkan dia adalah korban dari semua perbuatan orang tuaku dan juga kamu."


"Kalian sudah membuat dia terpisah dariku, ayahnya sendiri ... sejak kecil. Kamu memisahkan aku dengan keluargaku yang sesungguhnya, wanita yang sangat aku cintai dan anak perempuanku! Lalu kenapa sekarang kamu menyalahkan anak tidak berdosa itu atas semua penderitaanmu?" ucap Larry panjang lebar.


Dia sudah cukup muak dengan semua ucapan kasar Arumi kepada Ayu. Di sini, yang seharusnya di salahkan itu adalah dirinya sendiri dan semua keserakahannya, bukanlah Ayu.


"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, begitupun dengan Ansel. Menurutku sebagai seorang remaja yang di pisahkan secara paksa dengan ibu dan juga adiknya, dia termasuk anak yang baik. Karena, masih bisa menghormati kamu dan menerima kehadiran Melati."


"Seharusnya kamu bersyukur karena aku dan Ansel tidak pernah mengungkit bahkan menyalahkan kamu atas perpisahan Aku dan Puspa!"


Larry terus berbicara, tanpa memberi waktu untuk Arumi menyangkal ataupun membuka mulutnya.


Wanita paruh baya itu menunduk dalam, merasa tertohok dengan semua perkataan suaminya.


Iya, semua yang di katakan suaminya adalah kebenaran. Perpisahan antara Larry dan Puspa adalah skenario dirinya dan kedua mertuanya. Kini dialah yang harus menanggung semua perbuatannya dulu.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu meminta maaf kepada Nindi dan mengakui semua kesalahanmu. Dia anak baik, semoga dia bisa memaafkan segala kesalahanmu dan menerima kalian berdua sebagai keluarganya."


"Aku pergi dulu, sepertinya Ansel dan Keenan sudah selesai."


Setelah mengucapkan semua itu, Larry berdiri dan melangkah menuju pintu keluar, setelah berterima kasih dan berpamitan pada petugas polisi wanita yang ada di sana.


Namun, sebelum keluar ia menghentikan langkahnya, saat mengingat sesuatu yang belum ia bicarakan kepada Arumi.


"Pikirkan perkataanku barusan. Aku harap setelah semua ini, kamu bisa berubah dan sadar akan kesalahanmu selama ini," ucapnya sebelum berbalik dan benar-benar pergi untuk menemui Ansel dan Keenan.


........................


Lima hari sudah berlalu dari waktu penangkapan Arumi.


Hari ini adalah hari kedatangan Melati, untuk menghadiri acara ulang tahun Naura. Sampai sekarang, belum ada yang mengabarinya tentang kondisi Arumi.


Larri hanya memberi alasan, kalau istrinya sedaang liburan bersama teman arisannya ke sebuah desa di pedalaman, maka dari itu susah untuk di hubungi.


Walau ada perasaan bersalah karena sudah membohongi anaknya sendiri. Tetapi, itu semua demi kebaikan semuanya.


Kondisi ayah mertuanya yang mulai sakit-sakitan, akan semakin memburuk jika sampai kabar ini terdengar oleh lelaki tua itu.


Ditambah tidak akan ada yang menenangkan Melati bila dia menerima kabar ini di sana.


''Papah, Kak Ansel, kok tumben kalian yang jemput aku?'' tanya Melati saat dia sampai di hadapan kedua pria itu.


Alisnya sedikit bertaut karena bingung dengan apa yang terjadi saat ini.


Selama ini mereka berdua tidak pernah menjemputnya di bandara karena alasan kesibukan.


Namun, saat ini kenapa mereka tiba-tiba menjemput dirinya, dan kemana ibunya, kenapa dia tidak terlihat.


Melati mengedarkan pandangannya mencari sosok yang selalu memberinya cinta dan kasih sayang itu.


''Mama mana, Pah ... Kak?'' tanyanya saat tak juga menemukan orang yang ia cari.


''Iya kebetulan kakak lagi senggang dan Papah ada rapat di sekitar sini. jadi sekalian saja jemput kamu ke sini,'' jawab Ansel, mencoba menetralkan raut wajahnya.


Sebenarnya itu semua hanyalah alasan, mereka hanya merasa bertanggung jawab dengan semua yang terjadi pada Arumi, dan ingin memastikan kalau tidak akan terjadi apa pun pada gadis itu.


Memang cukup aneh, karena biasanya Arumi lah yang paling semangat menyambut kedatangnnya. Tetapi, sekarang, bahkan suaranya saja sudah tak terdengar di manapun.


''Nanti siang Kita ketemu sama mama ya, sekarang lebih baik kamu istirahat dulu saja.'' Ansel berusaha membujuk adik bungsunya.


Dengan berbagai bujuk rayu, akhirnya Melayu mau pergi ke kamar untuk beristirahat


''Mama! Kenapa mama bisa ada di sini?'' Melati lngsung menghambur kedalam pelukan ibunya saat Ansel dan Larry membawanya ke kantor polisi.


Isak tangis dari kedua ibu dan anak itu, terdengar sangat menyayat hati.


Lari dan Ansel memandang nanar wanita yang dua puluh tahun ini telah menjadi keluarga mereka.


''Mama tidak apa-apa, sayang. Ini semua memang pantas mama terima, karena mama sudah berbuat jahat kepada orang yang tidak bersalah.''


Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia walau ia matanya terus keluar, membanjiri wajahnya, ia merasa malu kepada anak gadisnya.


''Sebenarnya ada apa ini, kenapa Mama bisa masuk penjara? Siapa yang telah melporkan Mama?!'' tanya Melati, mengedarkan pandangannya pada tiga orang dewasa yang berada di sana.


"Sejak kapan Mama berada di sini? Kenapa Papah dan Kakak gak kasih tau aku?!"


Larry dan Ansel saling pandang, mereka memang belum menjelaskan apa pun pada Melati.


Keduanya merasa tidak pantas melakukan itu, karena yang lebih pantas adalah Arumi sendiri.


"Tenang dulu, sayang. Jangan salahkan mereka, hem. Papah dan Kakakmu gak salah, mereka hanya menuruti apa kemauan Mamah."


Arumi memeluk erat tubuh bergetar anak gadisnya.


''Jadi selama ini aku mempunyai kakak yang lain yang belum pernah aku temui sebelumnya?'' tanya Melati dengan alis bertaut dalam, setelah mendengar semua penjelasan dari orang tua dan kakaknya.


Ketiganya mengangguk, mengiyakan pertanyaan gadis itu.


''Maafkan Mama, sayang. Mamah hanya ingin kebahagiaan untuk kamu, tapi Mama menggunakana cara yang salah. Sekarang Mama sudah sadar, dan menerima hukuman di sini,'' ucap Arumi, menunduk dalam menyembunyikan derai air mata membanjiri wajahnya.


''Assalamualaikum.''

__ADS_1


Ke empat orang yang sedang berada di sana, langsung mengalihkan perhatiannya kepada dua orang yang baru saja sampai di sana.


Arumi menatap nannar wajah orang yang selama ini menjadi bahan pelampiasannya atas kesalaha yang ia perbuatnnya.


''Nindi?''


''Kamu?''


Ucap mereka bersamaan. Melati yang masih mengingat pertemuannya dengan Ayu saat di mall dan di ulang tahun Bian, mengernyitkan keningnya, melihat kedatangan wanita itu bersama Ezra.


Ya, Ayu memang meminta tolong kepada lelaki itu untuk menenemaninya menjenguk ibu tirinya itu.


Selama beberapa malam ini Ayu selalu memikirkan perkataan Ansel beberapa hari lalu, saat menemuinya di rumah.


''Aku tau semua yang di lakukan oleh Bu Arumi memang sangat keterlaluan, aku sebagai kakak saja merasa sangat kecewa, dan marah padanya atas semua yang dia lakukan kepadamu, Ndi. Tapi, coba kamu ingat lagi kepada Melati. Dia tidak bersalah, apa kamu tega melihat gadis itu mengalmi nasib yang sama sepertimu?''


''Kamu sendiri sangat tau rasanya, bagaimana memendam rasa kecewa kepada keluarga sendiri, lalu bagaimana nanti perasaan anak itu, jika tau Ibunya di penjarakan oleh kakaknya sendri?''


itulah perkataan yang selalu menghantui perasaannya selama ini, hinga memunculkan berbagai macam pertanyaan di dalam hati.


Apakah dia terlalu jahat karena membuat seorang ibu, masuk ke dalam penjara?


Apakah semua ini sangat keterlaluan dan tidak pantas, untuk di rasakan oleh orang seperti Arumi?


Mau bagimana pun bukankah dia hanya ingin memberi hukuman untuk orang yang bebuat jahat kepadanya? Lalu apa salahnya?


Namun, bila dia mengingat kembali apa yang di katakan oleh Arumi. Wanita itu juga hanya sedang berjuang meraih kebahagiaannya, walau dengan cara yang salah.


Tetapi itu semua bukan berarti wanita itu penjahat, hingga pantas berada di tempat seperti penjara.


Setelah beberapa hari ini dia mengalami perang batin, maka sekarang dia memutuskan untuk berkunjung.


Wanita itu tesenyum hangat sambil menghampiri orang yang lebih dulu berada di sana, menyalami Larry, Agra dan Arumi lalu melemparkan senyum hangat kepada Melati.


Menyimpan paper bag yang ia bawa di atas meja.


''Aku bawa sedikit makan siang untuk Ibu, semoga suka ya,''


Lembut, suara Ayu begitu lembut dan sopan. Tak ada yang bisa membuka mulutnya, mereka hanya menatap setiap gerakan yang ayu lakukan, tanpa berkata apapun.


Ezra masih berdiri di ambang pintu, memperhatikan wanita yang selalu membuatnya takjub atas kebaikan dan ketulusan hatinya.


Ya, tadi pagi, dirinya tiba-tiba saja mendapat telepon dari wanita itu, dan memintanya untuk datang ke rumah, karena ada sesuatu yang harus di bicarakan.


''Hari ini ada waktu luang gak? Bisa datang ke rumah, aku mau bicara sesuatu?''


Itulah kata yang ia dengar dari telpon yang ia genggam. Dengan rasa penasarannya, lelaki itu langsung menyetujui permintaan Ayu.


''Baiklah, aku ke sana sekarang!'' menutup telepon lalu bergegas memutar balik kendaraannya.


Sebenaranya saat ini dirinya sudah dalam perjalanan, menuju ke perusahaannya.


Namun, begitu mendengar permintaan dari pujaan hatinya, ia langsung bergegas menemui wanita itu.


Lagi pula sudah beberpa hari dia tak bisa meliahat Ayu karena kesibukannya, membuatnya cukup merasa rindu pada wanita itu.


Di saat itulah, Ayu bertanya tentang penyelidikannya tentang Arumi dan Melati, juga menyamakannya dengan apa yang dia temukan sendiri.


Di tambah laporan dari Kemal yang memantau terus keadaan Arumi di dalam sel tahanan.


Semua itu cukup membuat keduanya puas, dengan perubahan wanita paruh baya itu.


Hingga akhirnya Ayu memutuskan untuk menemuinya siang ini, dan sekarang di sinilah mereka, di ruang jenguk tahanan.


Mereka berdua tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Larry, Agra dan Melati.


Namun apa mau di kata, ketika sekarang ternyata semuanya berkumpul di tempat itu.


...🌿...


...🌿...


......Bersambung......


Waah hampir dua ribu😂 Baiklah, untuk sekarang segini dulu ya. Sampai jumpa di bab berikutnya👋👋🙏🙏🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2