
... Happy Reading...
...❤...
Ezra terus mengelus kepala Ayu yang berada di sampingnya, wanita itu baru saja terlelap setelah ia memaksanya untuk beristirahat.
Ada kekhawatiran dalam dirinya saat melihat wajah Ayu yang pucat, ia merasa bersalah, karena masalahnya kesehatan Ayu jadi menurun.
Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu saat ia bertemu dengan Edo– asisten dari Agra.
“Mereka bersembunyi di daerah XX di sana ada sebuah bangunan terbengkalai yang dia gunakan sebagai markas, untuk menampung para wanita yang akan dia penjual belikan.” Edo berucap langsung tanpa basa-basi, ketika Ezra membaca laporan yang ia berikan.
“Kamu harus mempersiapkan ini dengan matang, Lucas bukanlah orang yang bisa kamu lawan sendiri, dia adalah mafia yang sangat licik dan penuh tipu muslihat.”
Ezra menatap wajah lelaki di depannya, setelah kembali menutup amplop itu. Terdiam sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Apa aku bisa meminta bantuan anak buahmu untuk ikut bersama denganku?” tanya Ezra.
Edo menyunggingkan sebelah ujung bibirnya, ia tahu kalau Ezra bukanlah orang yang kejam, dia hanya akan menyerahkan setiap kasus pada polisi tanpa mau memberikan hukuman langsung.
“Apa aku tidak salah dengar? Akan cukup beresiko kalau kamu meminta bantuan anak buahku, bisa saja terjadi korban di sana.”
Ezra mengangguk tegas, ia sudah tidak bisa mengandalkan polisi untuk menangani kasus ini, pelepasan Arumi sudah cukup membuatnya kecewa.
“Baiklah. Kalau begitu, kapan kita akan memulai penyerangan?” tanya Edo menyetujui, lelaki itu tahu hubungan baik Agra dengan Ezra, jadi dia bisa mengambil keputusan tanpa bertanya dulu pada tuannya itu.
“Malam ini, aku tidak mau mereka sampai berbuat lebih jauh lagi, bila kita terus mengulur waktu!” ucap Tegas Ezra.
Mereka berdua pun berlanjut membahas tentang rencana penyerangan nanti malam.
“Maaf karena aku tidak bisa membantumu secara langsung, karena ada urusan yang harus aku selesaikan. Nanti aku akan mengirim Max untuk membantumu,” ucap Edo sebelum mereka berpisah.
“Tidak apa, itu saja sudah sangat membatu ... terima kasih.”
Mereka berdua langsung memisahkan diri, saat sudah keluar dari ruangan VIP tersebut.
“Aku sudah mendapatkan data tentang wanita itu, kita bertemu di lokasi, aku share sekarang!”
“Baik kak!”
Ezra langsung menutup sambungan teleponnya saat sudah mendapatkan jawaban dari Keenan.
Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang terletak di luar kota. Ezra menahan emosinya yang sepertinya sudah sampai di ubun-ubun. Ternyata dugaannya selama ini benar, Arumi hanya berpura-pura baik pada Ayu, untuk membuat dia dan Larry lengah.
“Sialan, dasar wanita tua brengsek!” umpat Ezra.
“Kali ini aku tidak akan mengampunimu!”
Tatapan tajam Ezra dengan rahang yang mengeras tampak sangat mengerikan, ia sudah tidak bisa lagi memberikan toleransi bagi orang seperti Arumi.
Peduli setan dengan statusnya sebagai ibu tiri Ayu dan istri dari Lary, biarkan itu menjadi urusan nanti. Toh, ia yakin kalau Sari belum pernah menghubungi Larry sejak dia keluar dari penjara.
Biarkan saja ia menghilang ditelan bumi, tanpa ada yang tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Satu setengah jam berkendara, Ezra menghentikan mobilnya di jalanan yang sangat sepi, dari sini ia bisa melihat bangunan yang terlihat sangat usang dan tidak terawat.
Beberapa saat menunggu dua mobil lainnya datang dan berhenti tepat di belakangnya.
Ezra keluar dan menemui orang yang tak lain adalah Keenan dan juga Max.
Setelah berembuk tentang rencana yang akan mereka laksanakan, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pengintaian terlebih dahulu, selama para ahli IT di Black Eagle sedang meretas CCTV.
Max juga sudah menyebarkan anak buahnya di beberapa tempat, untuk mengawasi pergerakan mereka, juga bersiap jika ada intruksi untuk menyerang darinya, nanti.
Ezra akhirnya mengalah dan membiarkan Max dengan rencananya, ia tahu kalau otak mafia seperti mereka lebih teliti dan cerdik dalam menyerang musuh. Dia tidak mau ceroboh dalam mengambil keputusan.
Cukup lama mereka menunggu, hingga ponsel Max berdering, ia menerima laporan dari anak buahnya secara terperinci, bersama dengan video suasana di dalam.
__ADS_1
Ternyata saat ini Lucas dan Arumi sedang tidak ada di sana, mereka akan kembali malam nanti.
Dengan berat hati, Ezra mengundur rencananya sampai kedatangan dua orang yang menjadi target mereka saat ini.
Memilih untuk mengirim pesan pada istrinya agar ia tak menunggunya pulang.
Maaf, sayang ... aku ada pekerjaan mendadak ke luar kota. kamu baik-baik ya di rumah. Aku langsung berangkat nanti malam. Titip Naura selama aku pergi.
Itulah pesan yang ia tuliskan untuk istrinya sebelum mematikan ponselnya.
Hingga, menjelang tengah malam ia bisa melihat dua mobil datang dan berhenti tepat di depan pintu masuk.
“Itu mereka, kita bisa memulai rencana yang sudah kita susun sebelumnya,” ucap Max.
“Bawa ini, untuk berjaga-jaga.” Max melemparkan dua senjata api yang dilengkapi oleh peredam, pada Ezra dan Keenan, sebelum melangkah menuju bangunan itu.
Jarak mereka dengan tempat itu mungkin hanya lima ratus meter, hingga mereka tidak bisa lagi menggunakan mobil untuk mendekat, karena takut suaranya akan terdengar ke dalam gedung. Ditambah mereka juga melihat beberapa penjaga yang bersiap di luar.
Melewati padang rumput ilalang yang cukup tinggi membuat mereka cukup diuntungkan karena bisa tak terlihat oleh penjaga.
“Kita berpencar di sini,” ucap Max, setelah mereka berada cukup dekat dengan gedung.
Max akan mencoba menyelinap lewat pintu depan dan Ezra akan masuk lewat pintu samping, sedangkan Keenan lewat pintu belakang.
Ezra berjalan mengendap-endap, matanya melihat awas pada sekelilingnya. Memastikan berapa orang penjaga yang harus ia taklukan untuk masuk ke dalam.
Ternyata penjagaan di setiap pintu masuk lumayan ketat, Ezra setidaknya melihat ada lima orang bertubuh kekar yang berlalu lalang di sekitar pintu.
Menyelipkan senjata api pemberian Max, di sekitar pinggang, ia mulai melangkah menuju salah satu penjaga yang memisahkan diri.
Bugh ...
Krakh ...
Ezra memberikan pukulan di tengkuk dan mematahkan leher lelaki itu dengan sekali gerakan.
Membawa tubuh yang sudah tidak bernyawa itu, agar tidak terlihat oleh para temannya, ia kembali bersembunyi mencari celah agar bis menyerang tanpa menimbulkan keributan.
Matanya tampak terbelalak saat melihat penampakan ruangan di dalam bangunan yang terlihat tidak terawat dari luar itu.
Ternyata di dalamnya terlihat cukup layak untuk ditinggali, bahkan itu seperti rumah mewah, dengan segala perabot dan hiasan bernilai ratusan juta rupiah.
“Kalian aman?” tanyanya pada aerphone yang ia pakai.
“Aman.”
“Aman.”
Terdengar sahutan dari Max dan Keenan.
Ia melanjutkan langkahnya, sesekali bersembunyi jika ada seseorang yang melintas.
Semakin ia masuk ke dalam, semakin ia dibuat tercengang oleh aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di sana.
Ia bahkan bisa melihat ruangan besar dengan banyak laki-laki yang sedang melakukan pesta *** bersama para perempuan penggoda.
Perhatiannya teralihkan saat mendengar suara ribut dari ruang depan, ternyata di sana Max memilih untuk menyerang langsung, karena para anak buahnya sudah bergabung.
Adu tembak pun tidak bisa terhindarkan.
“Aku ke atas,” ucapnya, setelah melihat Max berhasil mengecoh para penjaga untuk fokus padanya.
Keenan tampak ikut menyerang bersama dengan Max, setelah berhasil masuk.
Ezra melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang diyakini ada Arumi dan Lucas di dalamnya.
“Terkunci,” gumamnya saat mendapati ruangan itu tidak bisa dibuka.
Berpikir keras, agar ia bisa masuk ke dalam, tiba-tiba ia melihat ada sebuah jendela kaca di sisi lain ruangan itu.
Berjalan mendekat, ia mencoba melihat suasana di dalam sana dari celah gorden yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Matanya memicing, ketika ia bisa melihat kegiatan panas kedua orang paruh baya itu di atas ranjang.
Tangannya sibuk untuk mencoba membuka jendela yang ternyata tidak dikunci.
Ia melemparkan sebuah benda kecil ke arah dalam, hingga beberapa saat kemudian ruangan itu terlihat dipenuhi oleh asap.
Ezra memakai masker yang tadi diberikan oleh Max sebelum masuk, masuk ke dalam dengan langkah senyap, tanpa suara.
Mengerinyai penuh ketika dia bisa menemukan dua orang yang masih menempel satu sama lain telah tergeletak dengan posisi saling bertindih.
“Manjijikan,” gumam Ezra, saat melihat tubuh tanpa busana Arumi dan Lucas.
“Aku berhasil,” ucapnya, memberikan informasi.
Beranjak membuka kunci pintu, agar anak buah Max bisa masuk dan membawa kedua orang itu ke luar dari bangunan itu.
Tak menunggu lama, Ezra bisa melihat kedatangan anak buah Max. Tanpa disuruh lagi, mereka sudah tahu apa tugasnya.
Membungkus kedua orang itu menggunakan kain, dan membawanya menuju mobil yang sudah bersiap di depan.
Sementara itu Ezra masuk kembali ke bagian depan untuk membantu Max dan Keenan.
Melihat kedatangan Ezra, Max melemparkan benda yang sama dengan yang ia berikan pada Ezra, lalu memberikan kode kepada semua anak buahnya untuk segera mundur dan keluar dari bangunan itu, begitu juga dengan dirinya, Ezra dan keenan.
Saking sibuknya di dalam, mereka sampai tak menyadari kalau matahari sudah menunjukkan dirinya, dan waktu sudah bergulir menjadi pagi, ketika mereka keluar dari sana.
Mereka menganggap semua ya sudah selesai, hingga akhirnya Keenan melilih memisahkan diri dan kembali menuju apartemen untuk beristirahat.
Sedangkan Ezra memilih untuk ikut bersama Max, menuju markas besar Black Eagle.
Ezra begitu ingin melihat wajah Arumi dan Lucar saat mereka sadar nanti, sambil berdiskusi dengan Max tentang rencana kedepannya mengenai nasib wanita tua itu dan kekasihnya.
"Aku akan menyerahkan mereka pada kalian. Terserah kamu mau apakan dia aku sudah tidak perduli, hanya satu yang aku inginkan, jangan sampai ia kembali dan mengusik kehidupan rumah tanggaku!" ucap Ezra menatap, saat mereka sudah sampai di ruangan Max.
Ezra mengngguk-anggukan kepalanya. "Kamu sudah pasti tau, bagaimana cara kami menghukum para pengkhianat bukan? Jadi jangan sampai terkejut bila nanti dia akan menghilang ditelan bumi."
Ezra mengangguk pasti, menyetujui ucapan Max. Lelaki itu sudah tahu kalau Agra dan seluruh anak buahnya sangat tidak suka basa-basi, hingga Max langsung berbicara pada intinya.
Setelah melihat Arumi dan Lucas sudah berada di penjara, Ezra kembali berbincang dengan Max. Ia baru saja keluar dari markas Black Eagle, setelah langit sudah mulai gelap kembali.
Memutuskan untuk menuju apartemen di mana Keenan beristirahat, untuk melihat keadaan adiknya, karena tadi ia dapat melihat ada beberapa luka lebam di wajahnya.
Apa lagi memang apartemen itu terlewati oleh jalan menuju rumahnya, jadi dia tidak perlu mengambil arah lain.
Begitu sampai di apartemen Keenan, ia langsung masuk dan mencari keberadaan adiknya. Menautkan aslisnya saat ia tak menemukan Keenan di mana pun.
"Apa mungkin dia langsung ke rumah?" gumamnya. Memilih untuk mengaktifkan ponsel dan menghubungi rumahnya, untuk menanyakan keberadaan Keenan.
Ezra baru saja akan menekan nomor telepon rumahnya, saat sebuah nomor tak dikenal menghubunginya.
"Siapa?" gumamnya kembali, menatap nomor tak dikenal itu sebentar sebuah memutuskan untuk mengangkatnya.
"Bebaskan Lucas dan Arumi, jika kamu mau adikmu selamat!"
Belum sempat Ezra berbicara, sambungan telepon itu sudah terputus. Menatap nanar ponselnya dengan perasaan campur aduk, hingga sebuah pesan singkat berisi gambar Keenan yang tidak sadarkan diri, dengan beberapa luka lebam tambahan di tubuhnya, mampu langsung membuatnya menjadi panik.
"Datang sendiri dengan membawa Lukas dan Arumi ke lamat ini, kita lakukan pertukaran di sana. Ingat hanya sendiri, atau adikmu tidak akan selamat!"
Pesan singkat itu kembali masuk ke dalam ponselnya.
Ezra langsung berjalan keluar, ia sama sekali tidak peduli dengan tubuhnya yang sudah lelah dan butuh istirahat. Sejak kemarin ia sama sekali belum tidur, bahkan perutnya belum terisi kembali, sejak pertemuannya dengan Edo.
Kali ini pikirannya terus tertuju pada adiknya. Sedikit heran karena Keenan bukanlah orang yang mudah diculik ataupun ditaklukan. Dia mempunyai ilmu bela diri yang sangat cukup untuk melawan jika memang diserang.
"Max aku membutuhkan bantuanmu kembali!" ucapnya pada sambungan telepon, saat ia sudah duduk lagi di kursi kemudi.
.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...