
...Happy Reading...
......................
Keenan sampai di rumah mertuanya setelah hari sudah menjelang malam. Karena kejadian di rumah Ezra, dia jadi terjebak macet di jalan hingga bejam-jam.
Rio yang baru saja pulang dari masjid langsung menghampiri kakak iparnya itu, saat melihat mobil Keenan baru saja memasuki pelataran.
"Baru pulang, Kak?" tanya Rio, setelah dia sampai di samping mobil Keenan.
Keenan yang baru saja turun, langsung menoleh melihat adik iparnya itu. Sebelumnya dia sama sekali belum sadar akan keberadaan Rio.
"Iya, kamu juga baru pulang dari masjid ya?" tanya Keenan.
"Iya. Yuk masuk, Kak Riska pasti udah nunggin, Kakak," ajak Rio.
Keenan mengangguk, dia mengambil paper bag dari Ayu, lalu berjalan beriringan dengan Rio menuju ke rumah.
"Gimana tadi, apa Riska ada takut sama laki-laki lagi?" tanya Keenan pada Rio.
"Setelah kejadian sama tukang ojek langganan ibu, sepertinya gak ada lagi. Cuman tadi, waktu di warung kakak masih suka agak takut kalau ada pembeli laki-laki," jelas Rio.
"Tapi, setiap ada laki-laki yang terlihat mau ke warung, Kak Riska langsung menggenggam tangan aku," sambung Rio lagi.
Keenan mengangguk, dia tidak lagi menimpali tentang perkataan adik iparnya itu, mengingat mereka sudah sampai di depan rumah.
"Assalamualaikum," ujar mereka berdua serempak, sebelum membuka pintu.
"Waalaikumsalam," Terdengar suara dari dalam.
Begitu pintu terbuka, Keenan dan Rio langsung melihat Riska yang menyambut kedatangan suaminya itu.
Keenan tersenyum dia langsung menghampiri istrinya dengan wajah cerahnya, sedangkan Rio hanya berdecak sambil melanjutkan langkahnya menuju ke dalam.
"Ck, dasar bucin!" ujar Rio, sambil berjalan melewati Riska.
"Biarin," jawab Riska.
Wanita yang tengah hamil muda itu langsung mencium tangan Keenan, yang langsung dibalas dengan kecupan hangat di keningnya.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan di sini?" tanya Keenan, sambil memberikan pelukan pada istrinya.
"Aku baik, Bang. Di sini kan ada Rio sama Ibu yang jagain aku," jawab Riska, santai.
Keenan tersenyum, mendengar jawaban Riska. Dia tau kalau hari ini istrinya banyak melakukan kesenangan bersama dengan Rio.
__ADS_1
"Nih, ada titipan dari Kak Nindi buat kamu." Keenan memberikan paper bag di tangannya.
"Wah, Abang, habis dari rumah, Mba Nindi?" tanya Riska dengan mata yang berbinar melihat kue di dalam paper bag.
"Iya, tadi waktu aku mau pulang, Kak Ezra telepon, nyuruh aku datang ke rumahnya," jawab Keenan.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah, Riksa menaruh paper bag itu di atas meja sebelum masuk ke kamar.
"Abang, pasti capek. Mau istirahat dulu atau langsung mandi aja?" tanya Riska, setelah keduanya sampai di kamar.
"Langsung mandi aja, takut keburu malam," jawab Keenan.
"Ya udah, aku siapin airnya dulu ya," ujar Riska sambil hendak melangkah kembali ke luar dari kamar.
Namun, tangan Keenan langsung menahan pergerakannya."Gak usah, aku mandi pakai air dingin aja."
Keenan berucap sambil memeluk istrinya lagi. Dia tidak mau kalau sampai istrinya melakukan hal berat seperti itu, mengingat di sini tidak ada pemanas air.
Makanya bila Riska mau menyiapkan air hangat untuk Keenan mandi, dia harus. memasak air terlebih dahulu.
"Tapi, Bang. Ini sudah malam, gak bagus kalau mandi pakai air dingin," ujar Riska, sambil menatap khawatir suaminya.
"Gak apa-apa, sesekali aja, gak mungkin bikin aku sakit kan?" Keenan menatap istrinya dalam, berusaha meyakinkan kalau dirinya tidak apa-apa bila mandi menggunakan air dingin.
Riska lama terdiam, dia tidak tega bila membiarkan suaminya mandi dengan air dingin, di hari yang sudah malam seperti ini.
Riska mengangguk, walau di dalam hati masih meragu. "Sini, aku bantu lepas bajunya," ujar Riska sambil mulai melepaskan satu per satu kancing kemeja suaminya.
Keenan tersenyum, dia membiarkan istrinya melakukan apa yang dia inginkan. Toh, semua itu juga membuat dirinya senang.
Setelah itu, Riska mengambilkan handuk untuk Keenan. Mereka berdua ke luar kamar bersama-sama.
Keenan pergi ke kamar mandi, sedangkan Riska mengambil paper bag lalu membawanya ke dapur.
Dia memotong kue yang diberikan oleh Ayu, lalu menaruhnya di piring.
"Kamu lagi ngapain, Ris?" tanya Ibu yang baru saja ke luar dari kamarnya.
Riska menoleh sekilas pada ibunya, lalu duduk di kursi yang berada di dapur.
"Ini, Bu. Bang Keenan, bawa kue buatan Mba Ayu. Sini, Bu, cobain," ujar Riska, sambil mengambil satu potong kue lalu di taruh di piring kecil.
Dia menyerahkannya terlebih dahulu pada ibunya, baru dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Ibu tersenyum, dia kemudian ikut duduk di dekat anak perempuannya itu.
__ADS_1
"Ini buat kamu saja, Ibu nanti saja," ujar Ibu, sambil menggeserkan piring berisi kue itu ke depan Riska.
"Jangan lupa siapkan makan malam buat suami kamu juga," nasihat Ibu.
"Iya, Bu. Setelah ini aku langsung siapin makan buat, Abang," ujar Riska.
Ya, tadi sore Riska tiba-tiba memanggil tukang bakso yang lewat ke depan warung. Karena semua itu Ibu dan Rio pun ikut makan bakso gerobak itu. Hingga sekarang, tinggal Keenan yang belum makan malam.
"Ibu, ke depan dulu ya," pamit Ibu, setelah mendengar acara favoritnya di televisi sudah mulai.
Riska hanya mengangguk, dia sudah tau kalau ibunya mau menonton televisi.
Beberapa saat kemudian Keenan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar. Riska yang baru saja menghabiskan dua potong kue, langsung berdiri dan menghampiri suaminya.
"Dingin banget, ya?" tanya Riska, sambil mengambil handuk kecil di tangan Keenan.
"Lumayan. Tapi, seger kok," jawab Keenan.
Riska meraskan tubuh Keenan yang terasa dingin. Ada rasa bersalah saat melihat Keenan berusaha terlihat baik-baik saja di depannya.
"Ayo, buruan ganti baju, nanti keburu masuk angin." Riska menggandeng tangan Keenan untuk segera masuk ke dalam kamar.
Sampai di kamar, Keenan langsung memeluk istrinya, dia memejamkan mata merasakan hangatnya tubuh Riska.
"Bang, pakai baju dulu," ujar Riska, walau dirinya juga tidak menolak perlakuan suaminya.
"Nanti dulu, aku mau kayak gini aja sama kamu, sayang," ujar Keenan.
"Dingin kan? Tadi juga kan aku sudah bilang, kalau mandi pakai air hangat aja," omel Riska, walau tangannya langsung membalas pelukan suaminya.
Lumayan juga mandi pakai air dingin malam-malam begini. Jadi bisa dapetin perhatian berlebihan dari Riska, batin Keenan tersenyum senang.
"Dingin, sedikit. Tapi, karena ada kamu, jadi aku gak perlu khawatir kedinginan," ujar Keenan.
"Abang, apaan sih?!" Riska memukul pelan punggung Keenan, walau senyum di bibirnya tampak nyata terlihat.
Keenan terkekeh, dia semakin mengeratkan pelukan pada Riska. "Gak ngapa-ngapin kok, cuman kayak gini aja."
Riska semakin dibuat malu dengan perkataan suaminya itu. Ya, sewaktu memeriksakan kehamilan, mereka berdua memang disarankan untuk tidak terlalu sering berhubungan suami istri, mengingat kejadian pada Riska sebelumnya.
...🌿...
Ish, Bang Ken, cari kesempatan aja😂
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...