Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.283 Seorang suami


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Keenan terlihat sedang duduk di restoran tidak jauh dari apartemen miliknya. Tidak lama kemudian seorang laki-laki datang menghampirinya.


"Selamat siang, Ken?" sapa Aryo, sambil berjabat tangan dengan Keenan.


"Siang. Silahkan duduk," jawab Keenan.


Keduanya kembali duduk di kursi masing-masing.


"Akhirnya kamu bisa bertemu denganku juga, terima kasih sudah mau menyempatkan waktu," ujar Aryo membuka pembicaraan.


"Tidak perlu berlebihan seperti itu. Kebetulan istriku baru saja ke luar dari rumah sakit, dia harus mendapatkan perawatan karena kejadian itu." Keenan menjawab dengan sedikit sindiran pada Aryo di dalamnya.


Tentu saja, semua itu membuat Aryo terlihat sedikit canggung dari sebelumnya.


Keenan tersenyum miring, melihat wajah Aryo yang tampak berubah, dia kemudian menghembuskan napas kasar sebelum berucap kembali.


"Baiklah, sepertinya aku tidak mempunyai banyak waktu. Jadi, lebih baik kamu langsung to the poin saja," ujar Keenan kemudian.


Aryo tampak melihat Keenan sekilas, kemudian dia menegakkan tubuhnya, bersiap untuk berbicara pada Keenan.


"Ya, baiklah. Maaf kalau aku mengganggu waktumu. Sebenarnya aku ingin meminta maaf, untuk apa yang dilakukan oleh Alana kepada Riska." Aryo mulai berbicara tentang niatnya menemui Keenan saat ini.


Keenan mengangguk-anggukan kepala samar, mendengar permintaan maaf dari seseorang yang pernah dianggapnya sebagai teman.


Dia kemudian mengeluarkan sebuah berkas yang sengaja dibawa di balik jaketnya, dan meletakkannya di atas meja.


"Aku berharap kamu mau menerima permintaan maafku," sambung Aryo lagi.


"Aku tau apa yang dia lakukan memang sudah sangat keterlaluan. Tapi, maukah kamu mempertimbangkan nasib anak-anakku. Bagaimana mereka hidup tanpa adanya kasih sayang dari ibunya?" Aryo terus mencoba untuk membuat Keenan merasa iba.


"Coba kamu baca. Aku mau tau, apa kamu masih bisa memaafkan seseorang yang membuat istrinya seperti itu?" ujar Keenan, sambil menggeser sebuah berkas bertuliskan nama rumah sakit ke depan Aryo.


Aryo pun melihat berkas di hadapannya, keningnya berkerut membaca sebuah nama rumah sakit di sana. Dia pun kembali menatap Keenan dengan penuh tanya. "Apa ini?"


"Hasil pemeriksaan kesehatan istriku," jawab Keenan dengan nada datar.

__ADS_1


Perlahan Aryo mulai mengulurkan tangannya, mengambil berkas di atas meja. Dengan sedikit ragu dia membuka dan membaca setiap baris kata yang tertulis di kertas itu.


Beberapa saat kemudian Aryo sudah meletakkan kembali berkas itu di atas meja, dia terlihat cukup terkejut setelah membaca semua informasi ini.


Keenan tersenyum miring, sambil melihat ke sembarang arah, dia pun akhirnya menegakkan kembali tubuhnya.


"Bagaimana? Apa kamu masih bisa meminta maaf padaku untuk istrimu, setelah apa yang dia lakukan kepada istriku, hah?" tanya Keenan tajam.


Aryo tampak terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan Keenan.


"Kamu berbicara tentang anak? Lalu bagaimana dengan anakku, aku bahkan hampir saja tidak bisa melihat mereka, karena ulah istrimu. Dan, bagaimana juga dengan psikis istriku yang terganggu, apa semua itu bisa aku maafkan?"


Aryo terdian, dia pun tampak terkejut dengan semua kejadian ini.


"Tapi, istriku membantah tuntutan atas pelecehan itu, dia tidak pernah memerintahkan laki-laki itu untuk melecehkan istrimu," bantah Aryo kemudian.


"Heuh! Tapi, istrimu tau kalau laki-laki itu terobsesi pada istriku. Apa dia bisa menjamin kalau istriku akan aman, saat memerintahkan laki-laki itu untuk menculik istriku, hah?" Keenan sudah terlihat mulai kesal dengan bantahan dari Aryo.


"Istriku tidak berniat sama sekali untuk membuat istrimu terluka. Dia hanya ingin membuatmu merasakan ditinggalkan oleh orang yang kamu sayangi." Aryo masih saja membela Alana.


"Benarkah? Apa kamu tidak ingat dengan kejadian di Bali yang istrimu akui sendiri di depanmu? Kalau dia bisa membayar orang untuk mencelakai kami, lalu apa aku masih percaya dengan pembelaanmu itu?" ujar Keenan lagi.


"Pikirkan jika semua ini terjadi pada istrimu, apa kamu masih bisa memaafkan orang yang melakukan dan merencanakan semua itu?" Keenan menatap tajam Aryo.


"Apa mungkin kamu juga terlibat?" tanya Keenan kemudian.


Aryo langsung menatap Keenan dengan wajah terkejutnya.


"Tidak! Aku benar-benar tidak tau dengan rencana istriku. Di sini aku hanya ingin membela istriku demi anak-anakku," bantah Aryo.


Keenan tidak membalas lagi perkataan Aryo, dia hanya menatap laki-laki itu dengan senyum tipisnya. Entah apa yang saat ini dia pikirkan, mungkin hanya dialah yang tau.


Keduanya tampak terdiam, dengan berbagai pikiran di benaknya masing-masing.


"Baiklah, kita sama-sama laki-laki dan seorang suami. Kamu seorang ayah, aku adalah seorang calon ayah. Aku tau kita sama-sama memperjuangkan kehidupan rumah tangga kita masing-masing, dan keadilan bagi istri kita." Keenan menyandarkan tubuhnya menatap wajah Aryo yang tampak sama kesalnya seperti dirinya.


Aryo mengangguk samar membenarkan perkataan Keenan.


"Tapi, untuk kali ini aku tidak bisa meringankan tuntutanku pada istrimu. Lebih dari itu, aku juga memberikanmu kesempatan untuk melawan di jalur hukum. Silahkan kamu perjuangkan hak istrimu di sana, aku janjikan sebuah proses hukum yang adil, tanpa campur tangan kekayaan di sana."

__ADS_1


"Kamu boleh memilih pengacara manapun untuk menangani kasus istrimu, sedangkan aku akan bersama dengan pengacara keluargaku, yang pasti kamu tau sendiri siapa orangnya," ujar Keenan penuh penekanan.


"Ingat, walaupun istrimu bisa keluar dari jerat hukum pelecehan. Tapi, aku tidak akan melepaskannya untuk penculikan dan kejadian di Bali," ujar Keenan lagi.


"Pesanan, Anda, Pak," ujar salah satu pelayan yang mengantarkan pesanan Keenan sebelumnya. Tanpa sengaja dia memotong pembicaraan Keenan.


Keenan mengalihkan sekilas pandangannya pada pelayan tadi.


"Terima kasih," ujarnya, saat melihat makanan yang memang dia sengaja bungkus untuk istrinya.


"Sepertinya waktuku sudah habis. Baiklah kalau begitu aku permisi," ujar Keenan lagi.


Dia mengambil berkas laporan kesehatan istrinya, sambil melihat wajah Aryo, yang tampak tertekan. Kemudian berdiri dan mengambil kantong belanja.


"Akh, dan satu lagi. Aku tidak akan menyebarkan berita ini pada media. Kamu tenang saja untuk hal itu." Keenan kemudian mengulurkan tangannya untuk mengajak Aryo bersalaman.


"Terima kasih!" jawab Aryo, sambil ikut berdiri dan menerima uluran tangan Keenan.


"Aku masih punya perasaan, setidaknya untuk kehidupan anak-anakmu ke depannya. Bersyukurlah karena kalian dilindungi oleh adanya anak-anak kalian," ujar Keenan, lalu pergi meninggalkan restoran itu.


Aryo kembali menjatuhkan tubuhnya dengan diiringi hembusan napasnya kasar, sambil melihat kepergian Keenan yang semakin menjauh darinya.


Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan perdamaian dari Keenan. Laki-laki itu malah menabuh genderang permusuhan di antara keduanya.


Dia pun tau kalau sebenarnya, dirinya juga tidak akan pernah memaafkan seseorang yang berbuat seperti itu pada istrinya.


Maka dari itu, dia tidak bisa membantah lebih jauh saat Keenan mencercanya dengan berbagai kata-kata yang memojokkan.


Apalagi, laki-laki itu sudah cukup memberinya kelonggaran untuk melawan, dan menyembunyikan kasus istrinya dari media.


Setidaknya dia bisa aman dari kemungkinan anjloknya harga saham, karena berita miring tentang istri dan keluarganya.


Aryo pun tau semua itu adalah kesalahan istrinya yang juga karena kelalaiannya, dalam mengawasi istrinya selama ini.


Hembusan napas lelah dan putus asa berulang kali terdengar, Aryo bahkan merasa lemas, saat membayangkan apa yang telah terjadi pada Riska, saat itu.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2