Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.68 Kempes ban


__ADS_3


...Happy Reading...


Hari ini Ayu sudah kembali ke butik, ia sudah sangat jenuh, karena hampir seminggu dirinya di kurung di rumah, tanpa bisa ke mana-mana.


Tak ada jalan keluar untuknya, selain menuruti semua aturan yang di buat oleh Ansel dan Ezra tentunya.


Mereka berdua bersekongkol untuk membuat dirinya tetap di rumah, bahkan untuk membeli makanan yang lewat di depan rumah saja, terasa sangat sulit.


Ayu merasa, dirinya hampir hilang akal, menghadapi sikap posesif dua lelaki itu.


Namun di balik rasa kesalnya, ada perasaan hangat yang tanpa sadar masuk memenuhi ruang hatinya.


Merasa di perhatikan dan di lindungi oleh orang lain ternyata terasa sangat menyenangkan, walaupun dia juga merasa kesal.


Di perjalanan tiba-tiba ada yang terasa aneh di mobil yang ia kendarai.


"Ada apa ini?" tanya Ayu, mengerutkan keningnya dalam.


Keluar dari mobil, matanya mengedar memeriksa tanda kerusakan di mobil kesayangannya itu.


"Akh, pantas saja. Ternyata bannya kempes!" gumam Ayu lebih kepada dirinya sendiri.


"Bagaimana ini? Kalau tau akan mogok, tadi aku gak nolak waktu Kakak ngajak bareng." gerutu Ayu.


Matanya mengedar ke setiap sudut jalan itu, mencari keberadaan tempat tambal ban. Tetapi, dia tidak menemukan satu pun bengkel di daerah itu.


"Kenapa harus mogok di tempat begini sih!" Ayu menyandarkan tubuhnya pada kap depan mobil.


Meraih ponsel yang berada di tasnya.


"Assalamualaikum, Kak?" Ayu langsung berkata saat mendengar suara Ansel.


"Ada apa, Dek?" Ansel yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit masih bersikap santai.


"Ban mobil aku bocor kak, Kakak bisa jemput aku gak?"


"Yah, Kakak ada operasi mendadak di RS. Biar nanti Kakak minta tolong Ezra saja ya, yang jemput kamu ke sana?"


"Eh, gak usah kak! Aku bisa naik taksi aja." ucap Ayu, langsung menolak bantuan dari Ansel.


'Kenapa juga harus dia, emang gak ada yang lain gitu?' gerutu Ayu dalam hati.


"Tidak bisa, share lokasi kami sekarang! Tunggu di saja, jangan ke mana-mana, oke!" perintah Ansel tegas, tanpa mau di bantah.


"Hem," malas Ayu, langsung mematikan sambungan teleponnya.


Ayu menyadarkan tubuhnya di samping pintu. Sudut matanya menajam saat merasakan ada seseorang yang sedang mengawasinya.


Gelagatnya sangat santai, tak ada terlihat seperti orang yang sedang ketakutan atau mencurigai sesuatu.


Namun, tanpa terlihat dari luar, dia menajamkan semua indranya, merasakan setiap pergerakan yang ada di sekitarnya.


'Siapa lagi ini?' gumam Ayu.


Di arah seberang jalan, sebuah mobil berhenti dengan sepasang mata, mengawasi seseorang.


"Kenapa?" tanya Ezra.

__ADS_1


Ayu menolehkan kepalanya, mentap lelaki yang selalu saja berpakaian rapih. Tetapi masih terlihat santai, dengan lengan kemeja yang di gulung sampai siku dan celana bahannya.


"Tuh, ban mobilku kempes." Ayu menunjuk ban mobil bagian belakang.


Ezra mengikuti arah telunjuk Ayu. Lalu pandangannya mengedar mencari keberadaan bengkel di sekitar sana.


"Kamu bawa Ban serep?" tanya Ezra.


"Gak tau," geleng Ayu.


Dia memang jarang memperhatikan kelengkapan mobilnya.


Saat wanita itu kembali ingin melihat sesuatu yang menurutnya mencurigakan, ternyata di sana sudah tidak ada apa-apa.


'Kemana dia?' gumam Ayu.


"Tidak ada. Kamu itu ceroboh sekali, bawa mobil tapi tidak bawa perlengkapan!" gerutu Ezra.


Ayu hanya mengedikan bahunya, pikirannya masih tertuju pada masalah tadi.


"Ya udah, tinggalkan saja mobilnya di sini, biar nanti karyawanku yang mengambilnya. Kamu biar aku yang antar," ucap Ezra.


"Hem," Ayu beranjak mengambil tas dan barang yang ingin dia bawa ke butik, lalu berjalan menuju mobil Ezra.


"Terima kasih," ucap Ayu, saat Ezra membukakan pintu mobil untuknya.


Ezra mengangguk, menutup pintu dan berjalan mengelilingi mobil untuk mencapai pintu kemudi.


Di sela langkahnya ia menangkap seseorang yang dia kenal, orang itu terlihat memberikan isyarat padanya, Ezra mengangguk samar, menanggapinya.


Di dalam perjalanan Ayu hanya diam, dengan tatapan kosong.


"Hah, memangnya ada apa?" Ayu terlihat linglung.


"Sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan, kalau gak keberatan ... kamu bisa cerita sama aku." Ezra berbicara dengan nada yang sangat lembut, di tambah senyum tipis yang menghiasi wajahnya.


Ayu membalas senyum itu, menunduk lalu menggeleng pelan.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya rindu saja dengan butik. Sudah lama gak ke sana," ucap Ayu, yang di tanggapi anggukan samar dari lelaki itu.


"Baiklah, aku mengerti," kata Ezra ambigu.


Perjalanan itu, kembali di isi dengan keheningan. Hingga beberapa saat kemudian mobil Ezra sudah sampai di parkiran Clarissa boutique.


"Terima kasih, maaf selalu merepotkan," ucap Ayu setelah mobil memasuki area parkir.


"Tidak da yang merasa di repotkan." jawab Ezra, tentu dengan senyum yang tak pernah pudar.


Entah mengapa, bila di dekat wanita itu, dirinya tak bisa bersikap dingin sama sekali.


"Maaf, aku tidak bisa mampir. Ada pekerjaan yang harus segera aku kerjakan," ucap Ezra.


"Idih, Geer! Siapa juga yang ngajak mampir."


"Ish, gak peka banget sih! Kan mau gitu di tawarin mapir," ucap Ezra, sedikit menggoda Ayu.


"Kan tadi, Bapak sendiri yang bilang, ada urusan." Ayu membuka sabuk pengaman lalu mengambil barang di atas pangkuannya.


"Ish, aku bukan Bapak kamu ya!" kesal Ezra.

__ADS_1


"Tapi kan udah bapak-bapak," kekehan kecil mengiringi perkataan Ayu.


Tangannya meraih handle pintu, dan segera keluar dengan senyum mengembang.


Ezra menggeleng gemas, melihat tingkah Ayu yang selalu membuat dirinya kesal.


Namun, senyuman itu tak pudar dari wajah tampannya, ternyata sedikit menggoda wanita itu, berhasil membuat Ayu tidak lagi memikirkan penguntit tadi.


Ya, Ezra memang mengetahui tentang seseorang yang mengikuti Ayu sejak wanita itu keluar dari rumahnya.


"Bagaimana?" ucapnya menempelkan saat teleponnya tersambung.


"Sudah ada di tempat biasa, Bang!" ucap seseorang yang tak lain adalah Keenan.


"Bagus, jangan sampai Ansel tau tentang semua ini," perintah Ezra.


"Baik, Bang." sambungan telepon pun berakhir begitu saja.


Ezra kembali melajukan mobilnya menuju kantor.


Ayu melangkah masuk ke dalam butik, setelah hampir dua minggu ini ia tinggalkan.


Di sana, semua pegawai butik menyambutnya dengan penuh suka cita.


Tidak lama kemudian seseorang kembali masuk ke dalam butik itu.


"Ayu ada?" tanyanya pada Riska, yang sedang menjaga kasir.


Kembali melanjutkan langkahnya, saat Riska sudah memberikan jawaban.


Tok ... tok ... tok ....


Ayu yang baru saja duduk dengan membawa berkas laporan butik selama dua minggu ini, berdiri tegak kembali.


Berjalan menuju pintu.


Cklek


"Assalamualaikum!"


Ayu mengembangkan senyumnya, saat melihat sosok lelaki yang berdiri tegak di hadapannya.


"Bang Galang!" Ayu sedikit meninggikan suaranya.


"Kapan Abang pulang dari luar kota?" tanya Ayu.


Ya, saat terakhir kali mereka bertemu, saat itu Galang pamit untuk pergi menjadi relawan ke luar kota bersama dengan Rea.


" Kemarin sore, jadi pagi ini Abang langsung kesini buat nemuin kamu." jawab Galang sambil melangkah masuk.


Kedatangan kakak angkatnya membuat Ayu semakin melupakan kejadian tadi pagi.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Sampai sini dulu ya, terima kasih semuanya🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2