Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.82 Mengungkapkan


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Ayu menyandarkan tubuhnya ke samping, menatap jauh ke luar. Pikirannya belum juga bisa tenang, ia masih bimbang dengan keputusannya melaporkan Arumi ke kantor polisi.


Namun, perkataan Ezra juga menjadi pertimbangan wanita itu saat ini.


"Kamu gak kasian sama Melati, bagaimana perasaannya, saat melihat ibu kandungnya di penjara dan itu semua karena Papah dan Kakaknya sendiri!"


"Pikirkan bagaimana jika kamu menjadi Melati, hah!"


Ucapan yang di katakan oleh Arumi saat akan di bawa ke kantor polisi, membuat pikirannya benar-benar kacau.


"Jangan di pikirin terus, biarkan semuanya berjalan bagaimana seharusnya, hem," Ezra menoleh sekilas kepada wanita yang kini tengah memendangnya. Memberikan senyum hangat sebagai penyemangat untuk Ayu.


Ayu menundukan kepalanya, meremas ujung jilbab yang tengah ia pakai.


"Aku takut, ini semua bisa membuat keretakan di keluarga itu. Mungkin sejak awal seharusnya aku tidak bertemu dengan mereka," gumam lirih wanita itu.


Dia pernah merasakan sakitnya hidup sendiri, dan ia tidak mau kalau karena masalahnya saat ini Melati juga merasakan apa yang ia rasakan dulu.


Ezra menghentikan laju mobilnya, di pinggir jalan yang terasa lengang.


"Aku tau kamu memiliki hati yang sangat lembut dan tulus. Tapi, jangan jadikan kelembutan hatimu, menjadi kelemahan. Kita belum tau ke depannya akan seperti apa, jangan selalu berpikir berlebihan,"


Ezra memandang lekat wajah cantik yang kini terlihat sangat lelah.Bibir pucat dengan mata berkaca-kaca, kini menghiasi wanita di hadapnnya.


Bagaimana tidak, tadi malam wanita itu berkendara sendiri selama delapan jam lebih dari kampung ke kota, dan baru saja tiba menjelang subuh.


Setelah itu langsung bergegas menuju rumah Larry, dan sampai sekarang waktu menujukan hampir malam, bahkan sebutir nasi pun belum masuk ke dalam pencernaannya.


Sejak tadi Ezra terus mengajaknya untuk makan. Tetapi, sikap keras kepalanya membuat lelaki itu menyerah dan membiarkan Ayu menenangkan diri lebih dulu.


Ya, kemarin Ezra menghubunginya, dan mengatakan akan melakukan penangkapan Arumi. Pada saat itu, Ayu langsung bergegas untuk pulang tanpa memberi tau siapapun di kota.


Bahkan Ezra sendiri tidak tau kalau Ayu akan datang langsung dalam penangkapan Arumi.


Untuk apa dia datang kesana?


Entahlah Ayu juga tidak tau. Hanya saja kemarin hatinya merasa terdorong untuk segera pulang dan datang ke rumah Larry pagi ini.


"Sudah adzan, lebih baik kita cari masjid atau mushola dulu," ucap Ezra saat suara adzan terdengar.


Ayu mengangguk menyetujui usul lelaki di sampingnya.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di pelataran sebuah mesjid yang lumayan besar.


"Nanti kita bertemu di sini lagi ya," ucap Ezra sebelum keduanya berpisah menuju tempat ibadah masing-masing.


Setelah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, Ayu duduk sebentar, dengan tangan menengadah berdoa memohon pencerahan di hatinya, dalam mengambil setiap langkah dan keputusan.


Memuja kebesaran-Nya, dan mengadukan rasa gundah didalam hati yang masih terasa menganjal, hingga membuat dirinya tak bisa menemukan jalan keluarnya.


Air mata ikut menetes menandakan betapa berat beban yang kini tengah ia hadapi.


"Maaf, aku lama ya?" tanya Ayu, setelah sampai di depan lelaki yang sedang menunggunya.

__ADS_1


"Enggak kok, aku juga belum lama," jawab Ezra, mengembangkan senyum saat melihat wajah Ayu yang sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


"Kita cari makan dulu ya, aku lapar," ucap Ezra mengusap perutnya dengan sedikit meringis seperti orang yang sedang menahan lapar. Padahal itu semua hanya pura-pura agar Ayu mau dia ajak makan.


"Boleh," angguk Ayu sebelum masuk ke dalam mobil.


Perasaannya memang lebih tenang setelah mencurahkan segala kegundahan yang dirasa pada Yang Maha Kuasa.


"Kamu mau pesen apa?" tanya Ezra saat mereka sudah duduk di salah satu restoran kecil, tetapi terlihat cukup ramai.


"Aku, teh manis hangat aja," ucap Ayu.


"Eh, gak bisa, kamu juga harus makan. Kalau kamu gak makan ... aku juga gak mau makan!" Ezra sedikit mengancam.


Hufth ....


Ayu menghembuskan napas kesal. Matanya melihat Ezra tajam.


"Ya sudah terserah kamu saja," cebik wanita itu.


Ezra mengembangkan senyumnya, kemudian memesan beberapa menu makanan yang sekiranya wanita di depannya itu sukai.


"Kamu itu harus makan, jangan abaikan kesehatan, ingat menyelesaikan masalah juga butuh tenaga. Kalau kamu sakit siapa yang akan menyelesaikan masalah kamu, hem?" tanya Ezra panjang lebar. Tatapannya terkunci pada wajah cantik seorang wanita yang sangat ia kagumi.


"Ish, kenapa kamu cerewet sekali? Lagi pula kalau aku sakit, bukannya ada kamu yang siap untuk menyelesaikan masalahku?" kesal Ayu, balas menatap manik hitam Ezra, dengan senyum tipis menghiasi wajah cantiknya, mencoba menggoda lelaki yang terkenal dingin itu.


"Benarkah, jadi sekarang kamu sudah mengijinkan aku masuk lebih dalam di kehidupanmu, hem?" Ezra tampak bersemangat.


"Eh, Maksudku bukan seperti itu. Bukannya selama ini kamu selalu membantuku?" Ayu terlihat gugup, padahal itu semua karena permainannya sendiri.


"Ndi ... aku tau ini bukan waktu yang tepat untuk aku mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi, aku bukanlah remaja yang tidak tau apa yang aku rasakan kepadamu. Aku juga yakin kamu juga tau apa yang aku rasakan kepadamu selama ini."


Ezra meletakkan salah satu tangannya di dada, tepat di mana jantungnya terasa berdetak di saat kata terakhirnya.


Ayu menunduk dalam, ia tidak sanggup melihat wajah penuh harap dari lelaki yang selama ini selalu ada di sampingnya.


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan sabar menunggu sampai kamu siap memberikan jawaban kepadaku. Tapi, aku mohon jangan larang aku untuk memiliki rasa ini."


"Tatap aku, Ndi," ucap Ezra.


Ayu perlahan mengangkat kepalanya, menatap dalam mata yang tampak berkaca-kaca.


"Kamu sudah menarik hatiku sejak awal kita bertemu ... perlahan perasaan itu berkembang, kini aku menyayangimu. Aku menginginkanmu lebih dari seorang teman, maupun adik. Aku mau kamu menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku."


Ekhm ....


Ezra berdehem untuk melegakan tenggorokannya yang terasa tercekik. Menegakan tubuh sebelum berucap kembali.


Tangannya mencari sesuatu yang selalu ia bawa di dalam saku celananya.


"Ayunindia Clarissa, maukah kamu menikah denganku?" tanya Ezra, dengan sura tegas dan mantap tanpa ada keraguan sedikitpun yang terdengar. Tatapan lurus pada manik indah wanita di depannya.


Tangannya memegang sebuah cincin emas, dengan ukiran unik di atasnya dan beberapa permata yang menambah indah cincin itu. Di dalamnya terdapat ukiran nama Ezra dan Ayu.



Ayu menatap nanar, cincin yang entah kapan di siapkan oleh Ezra.


"A-aku tidak pantas untuk bersanding dengamu. Aku hanyalah wanita yang tidak bisa mempunyai anak, hingga suami dan mertuaku membuangku begitu saja."

__ADS_1


Wanita itu berucap lirih, dengan air mata yang telah menetes membasahi pipinya, ingatannya kembali pada saat ia di acuhkan oleh Radit dan di benci oleh Sari, karena alasan tidak mampu memberi keturunan.


Ternyata kejadian itu cukup membuat Ayu mengalami trauma. Ketakutan akan mengalami hal yang sama dari keluarga barunya, membuat dia ragu untuk memulai kembali.


Ezra menggeleng, "Aku sudah mempunyai Naura, keturunan tidak akan menjadi penghalang untukku, begitu juga dengan keluargaku. Kamu hanya perlu yakin kepadaku, dan melihat aku seorang. Jangan penudikan orang lain, meskipun itu keluarga kita sendiri."


Lelaki itu terus meyakinkan wanita di hadapnnya, bahwa dirinya dan keluarganya tidak sama seperti suami dan juga mertuanya yang dulu.


Ayu terdiam dengan pikiran bingung juga terkejut, ia tidak pernah menyangka kalau Ezra akan mengungkapkan perasaannya secepat ini.


Dia tidak menyangkal dengan perasaan yang ia miliki untuk lelaki di depannya. Tetapi, perasaan ragu dan takut masih menyelimuti hatinya.


"Begini saja, kamu pegang cincin ini. Seminggu lagi adalah acara ulang tahun Naura, jika kamu terima aku, maka pakai cincin ini di jarimu. Tapi, bila kamu menolakku jangan pakai cincinnya." Ezra menaruh cincin di tangannya pada telapak tangan Ayu.


"Satu yang harus kamu ingat, bahwa apapun jawabanmu nanti. Aku harap hubungan kita akan tetap seperti ini, jangan ada yang berubah di antara kita, terutama Naura."


Ayu menganggukan kepala, dengan tangan menggenggam cincin yang di letakan oleh Ezra.


Mereka berdua kembali menegakan tubuhnya dan bersikap biasa saja, ketika pelayan mengantarkan makanan pesanan Ezra.


"Sebaiknya kamu makan dulu, aku sengaja memesan sup biar perutmu terasa hangat. Aku tau kamu pasti belum makan dari pagi 'kan?" cerocos Ezra sambil mulai menyiapkan makanan untuknya.


Ayu hanya menatap sendu, lelaki yang kini sedang sibuk menata piring di atas meja.


Entah mengapa malam itu, makanan terasa sulit untuk melewati tenggorokannya.


Melihat sikap Ezra yang masih seperti biasa, tetapi ada harapan yang memancar dari manik hitam lelaki di hadapannya, setiap kali mereka bertemu pandang.


Malam itu, mereka berpisah setelah hari cukup larut. Ezra mengantarkan Ayu sampai ke rumahnya, benar saja, mobil miliknya sudah terparkir dengan rapih di garasi.


"Terima kasih," ucap Ayu, sebelum keluar dari mobil Ezra.


"Istirahat yang cukup, jangan memikirkan masalah Tante Arumi, biarkan itu menjadi urusanku, hem?"


Ayu mengangguk samar, dengan senyum tipis meghias wajahnya.


"Ka-kamu juga, jangan lupa istiraha ... hati-hati di jalan," ucap Ayu sedikit gugup.


"Assalamualaikum."


Ayu langsung keluar dari mobil, setelah mengucapkan salam.


Entah mengapa dia merasa malu, mengucapkan perkataan tadi.


"Waalikumsalam," gumam Ezra dengan senyum tertahan, mentap geli punggung Ayu yang sudah berjalan masuk ke dalam halaman rumah.


Semua sikap Ayu selalu bisa membuat hatinya menghangat dan tenang.


Walaupun mereka belum terikat dengan status apapun, tetapi, setidaknya sekarang dirinya sudah merasa sedikit lega, karena sudah mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam.


Kini dia tinggal menunggu jawaban dari wanita itu, satu minggu lagi.


Ezra baru menjalankan mobilnya saat Ayu sudah masuk ke dalam rumah.


Di dalam, Ayu menatap mobil lelaki itu, dari jendela kamarnya.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2